Justification By Faith 2: Not A New Idea (Roma 4:1-17)

Posted on 11/05/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Justification-By-Faith-2-Not-A-New-Idea-(Roma-4-1-17).jpg Justification By Faith 2: Not A New Idea (Roma 4:1-17)

Sejarah gereja mencatat beberapa tendensi dari sebagian orang Kristen untuk membedakan cara kerja Allah di PL dan PB. Sebagai contoh adalah Marcionisme. Dalam pengaruh Gnostisisme yang kental, bidat Marcionisme bahkan menganggap bahwa Allah PL berbeda dengan Allah di PB. Sebagian orang Kristen modern juga berpikir bahwa beberapa cara keselamatan di PL telah gagal, karena itu Allah mencoba keselamatan yang baru di PB, yaitu pembenaran oleh iman. Beberapa bahkan memandang bahwa pembenaran oleh iman hanyalah sebuah warisan dari zaman reformasi.

Benarkah doktrin ini adalah ide yang baru pada zaman reformasi atau pada zaman PB? Apakah Allah berubah-ubah dalam rencana-Nya?

Abraham dibenarkan karena iman, bukan karena perbuatan (ayat 1-8)

Bagi kita yang tidak mengetahui seberapa penting tokoh Abraham dalam keagamaan Yahudi pada zaman Paulus mungkin merasa agak heran mengapa Paulus perlu menyebut nama Abraham dalam konteks ini (kata sambung ‘jadi’ menghubungkan pasal 4 dengan 3:21-31). Apa kaitan antara Abraham dengan topik pembenaran adalah melalui iman kepada Kristus (3:21-26) yang berlaku untuk semua orang (3:27-31)? Mengapa ia perlu menegaskan bahwa Abraham pun tidak boleh memegahkan diri di hadapan Allah, karena ia tidak dibenarkan melalui perbuatannya (4:2)?

Dalam pemikiran orang Yahudi, Abraham dianggap sebagai simbol ketaatan yang sempurna. Beragam tulisan Yahudi kuno mengekspresikan penghargaan yang sangat tinggi kepada Abraham. 1 Makabe 2:52 menampilkan Abraham sebagai orang yang dibenarkan Allah karena lulus dalam ujian. Sirakh 44:19-21 menerangkan bahwa Abraham dibenarkan karena melakukan Taurat dan memegang perjanjian dengan cara yang istimewa sehingga ia diberi janji menjadi berkat bagi semua bangsa. Yobel 23:10 “Karena Abraham adalah sempurna dalam semua tindakannya bersama Allah dan berkenan [kepada Allah] melalui kebenaram sepanjang hidupnya”.

Beragam kutipan di atas tidak berarti bahwa tidak ada ruang bagi anugerah Allah maupun hidup dalam kehidupan Abraham. Orang-orang Yahudi tetap meyakini bahwa Abraham mendapatkan anugerah Allah dan imannya memegang peranan penting pula. Permasalahannya, mereka berpendapat bahwa kebenaran diperoleh Abraham secara sinergis (anugerah Allah dan usaha manusia). Begitu pula dalam hal iman. Mereka mengajarkan bahwa iman termasuk dalam kategori ‘perbuatan baik’ di hadapan Allah. Dua kesalahan inilah yang sedang dikritisi oleh Paulus di Roma 4.

Paulus pertama-tama menunjukkan bahwa dasar pembenaran Abraham adalah iman. Untuk mendukung pernyataan ini, Paulus di ayat 3 mengutip Kejadian 15:6. Menariknya, para penulis Yahudi kuno juga merujuk pada teks ini pada saat mereka mendiskusikan kesalehan Abraham. Di mata Paulus, iman Abraham di Kejadian 15:6 tidak boleh dinilai sebagai sebuah perbuatan (Rom 4:4-5). Kebenaran yang diperhitungkan kepada seseorang berdasarkan imannya bukanlah sebuah upah atau hak, melainkan sebagai hadiah (ayat 4).

Mengapa pembenaran melalui iman adalah hadiah? Karena yang dilakukan Abraham bukan bekerja, melainkan percaya (ayat 5). Di Kejadian 15:2-3 Allah datang untuk menguatkan keyakinan Abraham yang mulai pudar. Dalam hal ini Abraham pasti tidak membayangkan bahwa ia akan menggenapi janji Allah dengan usahanya sendiri. Ia sudah sangat lanjut usia (bdk. Rom 4:17-21). Yang ia perbuat hanyalah beriman. Jadi, iman dalam konteks ini tidak layak disebut sebagai perbuatan.  

Mengapa pembenaran melalui iman adalah hadiah? Karena pembenaran ini diberikan kepada orang durhaka (asebēs, ayat 5). Penyebutan Allah sebagai ‘Dia yang membenarkan orang durhaka’ mengekspresikan penilaian Paulus bahwa Abraham adalah orang berdosa. Kata asebēs juga digunakan untuk kita sebelum kita dibenarkan di dalam Kristus (5:6 ‘kita orang-orang durhaka’). Hal ini selaras dengan konsep Paulus tentang keberdosaan semua manusia (3:9-20), termasuk Abraham.     

Mengapa pembenaran melalui iman adalah hadiah? Karena pembenaran merupakan hasil dari tindakan memperhitungkan. Bentuk pasif ‘diperhitungkan’ (logizetai) menyiratkan Allah sebagai aktor utama (juga 4:4, 5, 6; 9:8). Pemilihan kata logizomai juga penting. Kata logizomai (4:3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 22, 23, 24) merujuk pada sesuatu yang bukan berada atau berasal dalam diri seseorang (inherent) tetapi diperhitungkan kepada orang itu. Dengan kata lain, kebenaran tidak ‘diperoleh’ oleh Abraham atau tidak berada pada dirinya secara natural, tetapi ‘diperhitungkan’ oleh Allah.

Untuk memperjelas konsep di atas – bahwa kebenaran diperhitungkan atas orang berdosa – Paulus di ayat 6-8 mengutip teks lain dari PL, yaitu Mazmur 32:1-2. Walaupun Daud memiliki sejumlah pelanggaran (anomia) dan dosa (hamartia), namun TUHAN mengampuni dan tidak memperhitungkan semua itu kepadanya. Pemunculan ide tentang pengampunan dosa dalam konteks pembenaran menunjukkan bahwa pembenaran oleh Allah mencakup pelanggaran yang diampuni, dosa yang ditutupi, dan dosa yang tidak diperhitungkan. Bukan berarti bahwa kita tanpa dosa, tetapi Allah tidak memperhitungkan hal itu. Sebaliknya, Ia justru memperhitungkan kebenaran Kristus di kayu salib bagi kita.

Orang yang menerima pembenaran semacam ini pasti ‘berbahagia’ (ayat 8 LAI:TB). Sesuai konteks dan kata Yunani yang digunakan, kita seyogyanya menerjemahkan makarios di ayat 8 dengan ‘diberkatilah’ (mayoritas versi Inggris ‘blessed is...’). Walaupun kata ini bisa berarti ‘bahagia’, tetapi pemunculan kata benda makarismos di ayat 4 (lit. ‘Daud menyebut berkat’) dan ayat 9 (lit. ‘apakah berkat ini...’) bertentangan dengan kemungkinan tersebut, karena makarismos berarti ‘berkat’, bukan sekadar ‘kebahagiaan’. Begitulah cara pandang kita terhadap pembenaran. Ini adalah pemberian atau berkat dari Allah, bukan upah atau hak kita.

Abraham dibenarkan bukan karena sunat (ayat 9-12)

Kisah hidup Abraham bukan hanya ditampilkan untuk mendukung gagasan teologis tentang pembenaran oleh iman. Paulus menarik sebuah implikasi penting yang ia sudah uraikan di 3:27-31, yaitu pembenaran melalui iman untuk semua bangsa. Dengan dibenarkan melalui iman, Abraham berdiri sebagai bapa bagi semua orang, baik yang bersunat maupun yang tidak bersunat. Semua mendapat akses yang sama kepada Allah. Poin ini perlu dijelaskan, karena bangsa Yahudi mungkin memahami ucapan Daud di 4:7-8 hanya berlaku bagi umat perjanjian. Bangsa-bangsa lain yang tidak bersunat tidak mendapatkan hak istimewa ini.

Sehubungan dengan hal ini, Paulus memaparkan dua poin penting. Pertama, sunat bukan dasar dari kebenaran yang diterima Abraham (4:10). Argumen yang dipakai Paulus adalah dari sisi kronologis. Ia menunjukkan bahwa pembenaran sudah diperhitungkan kepada Abraham sebelum ia disunat (Abraham dibenarkan di Kejadian 15, sedangkan ia disunat di Kejadian 17). Sunat tidak menyebabkan Abraham dibenarkan.

Kedua, sunat hanyalah tanda dan meterai kebenaran berdasarkan iman (4:11). Penggunaan kata ‘tanda’ (sēmeion) dan ‘meterai’ (sphragis) secara bersamaan dimaksudkan untuk mempertegas aspek eksternal dari sunat. Yang paling penting adalah apa yang ditandakan, bukan tanda itu sendiri. Sunat hanya bukti pengesahan dari sesuatu. Dengan cara yang sama, kebenaran telah diperhitungkan kepada Abraham melalui imannya tatkala ia belum bersunat.

Jika Abraham dibenarkan melalui iman dan sebelum ia bersunat, maka ia dapat menjadi bapa bagi orang-orang tak bersunat dan mereka yang bersunat (4:11b-12). Sebagai keturunan Abraham, mereka semua mendapatkan akses yang sama seperti Abraham, yaitu melalui iman.

Abraham mendapatkan realisasi janji bukan karena Taurat (ayat 13-17)

Dalam bagian ini Paulus banyak membicarakan tentang janji (epangelia, ayat 13, 14, 16, 20). Janji yang dimaksud adalah Abraham ‘akan memiliki dunia’ (ayat 13) dan ‘akan menjadi bapa banyak bangsa’ (ayat 17). Janji sebagai ‘bapa segala bangsa’ merupakan kutipan dari Kejadian 17:5. Janji tentang kepemilikan dunia sedikit kesulitan bagi kita karena tidak ada teks PL eksplisit yang dikutip. Dalam PL hanya disebutkan tiga janji kepada Abraham: keturunan (Kej 12:2; 13:16; 15:5; 17:4-6, 16-20; 18:18; 22:17), tanah Kanaan (Kej 12:7; 13:14-17; 15:7, 18-21; 17:8), dan berkat untuk semua bangsa (Kej 12:3; 18:18; 22:18).

Dalam hal ini kita perlu memahami bahwa di periode selanjutnya ide tentang universalitas berkat ilahi melalui bangsa Yahudi semakin populer. Banyak teks PL yang memberi rujukan pada hal ini (Mzm 2:7-12; 22:27-28; Yes 2:1-4; 19:18-25; 49:6-7; Am 9:11-12; Zef 3:9-10; Zak 14:9). Banyak tulisan Yahudi di luar Alkitab menyuarakan keyakinan yang sama (Sir 44:21; Yob 22:14; 32:19; 2 Bar 14:13; 51:3; 1 Hen 5:7). Beberapa bahkan lebih jelas menerangkan berkat Abraham sebagai kepemilikan seluruh dunia (Yob 22:14; 32:19).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa Paulus berbagi konsep dan keyakinan dengan orang Yahudi lain. Mereka sama-sama meyakini universalitas realisasi janji ilahi melalui Abraham secara khusus atau melalui bangsa Israel secara umum. Perbedaannya, Paulus menganggap bahwa inklusi bangsa-bangsa non-Yahudi ke dalam gereja sebagai pemenuhan dari janji itu. Tatkala semua bangsa akhirnya menjadi keturunan Abraham melalui iman, hal itu menjadi wujud penggenapan dari janji Allah kepada Abraham. Ia akhirnya memiliki bumi dengan cara menjadi bapa bagi banyak bangsa.

Bagaimana janji di atas dipenuhi dalam hidup Abraham? Apakah berdasarkan ketaatan kepada Taurat atau iman Abraham? Jawabannya adalah ‘iman’.

Kata sambung ‘sebab’ (gar) di awal ayat 14 menyiratkan alasan mengapa janji Allah di ayat 13 diberikan kepada Abraham bukan melalui perbuatan melainkan berdasarkan iman. Paulus menerangkan ini melalui pengandaian. Jika realisasi janji ditentukan oleh ketaatan kepada Taurat, maka dua hal akan terjadi: iman menjadi sia-sia (kekenōtai, lit. ‘dikosongkan’) dan janji menjadi batal (katērgētai). Artinya, jika ketaatan kepada Taurat bersifat menentukan (decisive), maka iman dan janji kehilangan peranannya. Di sini Paulus kembali mengontraskan perbuatan dan iman. Keduanya bersifat eksklusif (yang satu meniadakan yang lain, bdk. 3:27-31; 4:1-8).

Pemunculan kata ‘sebab’ (gar) di ayat 15 menerangkan alasan mengapa janji Allah tidak mungkin diberikan berdasarkan perbuatan. Hukum Taurat tidak membawa berkat, tetapi murka Allah. Dalam bahasa Paulus, “di mana tidak ada Hukum Taurat, di situ tidak ada pelanggaran (parabasis)” (4:15b). Hal ini tidak berarti bahwa Taurat sendiri adalah salah (bdk. 7:12). Kesalahan terletak pada kegagalan bangsa Yahudi dalam menaatinya (2:17-24; 3:19-20).

Ucapan Paulus di atas tidak boleh ditafsirkan seolah-olah dosa baru muncul sesudah Taurat diberikan. Roma 5:13 menjelaskan bahwa dosa dan kematian sudah ada sebelum Taurat. Roma 2:12-16 pun menegaskan bahwa hukuman Allah berlaku atas mereka yang tidak memiliki Taurat. Kunci untuk memahami pernyataan Paulus terletak pada kata parabasis, yang merupakan istilah teknis bagi pelanggaran terhadap peraturan atau perintah yang spesifik dan tertulis. Dengan kata lain, semua pelanggaran adalah dosa, tetapi tidak semua dosa adalah pelanggaran. Tatkala peraturan sudah diberikan secara gamblang dan orang tetap melanggar, maka hal itu menuntut pertanggungjawaban yang lebih besar.

Semua penjelasan di atas mengajarkan kepada kita bahwa Allah hanya memiliki satu rencana. Ia tidak perlu mengganti rencana-Nya, karena tidak ada satu pun yang dapat digagalkan oleh manusia (Ay 42:2). Pembenaran oleh iman yang kita dengar melalui Injil Yesus Kristus sudah dijanjikan sebelumnya (Rom 1:2-4; 3:21-22). Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community