Jika Tuhan Itu Baik, Mengapa Anak Saya Lahir Dalam Keadaan Cacat? (Bagian 3)

Posted on 09/09/2018 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/jika-tuhan-itu-baik-mengapa-anak-saya-lahir-dalam-keadaan-cacat.jpg Jika Tuhan Itu Baik, Mengapa Anak Saya Lahir Dalam Keadaan Cacat? (Bagian 3)

(Lanjutan tgl 2 September 2018)

Siapa yang tidak mengenal Hee Ah Lee yang dikenal dengan sebutan pianis empat jari yang tersohor itu? Siapa pula yang tidak mengagumi Nick Vujivic yang tidak memiliki tangan dan kaki tetapi mampu menjadi motivator bagi banyak orang? Bagi pecinta lagu-lagu himne, siapa yang tidak mengidolakan Fanny Crosby, sang komposer handal yang sudah kecil sejak bayi? Daftar tokoh seperti ini tentu saja masih bisa diperpanjang. Intinya, keterbatasan fisik tidak seyogyanya membatasi kontribusi seseorang bagi kerajaan Allah.

Yang perlu untuk dilakukan oleh para orang tua yang dipercayakan anak-anak berkebutuhan khusus adalah mengasihi dan menghargai mereka. Mengasihi berarti menerima dia apa adanya. Menghargai berarti menolak untuk membiarkan dia apa adanya. Keseimbangan ini perlu dijaga. Atas nama kasih, sebagian orang telah memanjakan dan memberi perlakuan khusus bagi anak-anak mereka secara berlebihan. Ini bukan kasih, melainkan belas-kasihan. Mereka meletakkan anak-anak pada posisi korban yang tidak berdaya dan selalu diterima apa adanya. Sikap ini justru akan menambah keterbatasan mereka dalam berkontribusi bagi pekerjaan Allah. Sikap yang benar seyogyanya adalah memberi tantangan dan bimbingan agar mereka bisa optimal di tengah-tengah keterbatasan mereka. Sebisa mungkin biarlah mereka menjalani kehidupan yang normal. Sebisa mungkin biarlah mereka hidup di tengah dunia nyata yang memang kadangkala kejam.

Yang terakhir (tetapi ini justru yang paling penting), para orang tua sejak dini hendaklah mengajarkan tujuan, nilai, dan makna hidup yang tepat kepada anak-anak mereka. Ini berlaku untuk semua orang tua, tidak peduli seperti apa keadaan anak-anak mereka. Jika anak-anak sudah benar-benar memahami bahwa tujuan utama kehidupan adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia (Katekismus Westminster #1), dan bahwa penghiburan satu-satunya dalam kehidupan adalah kepemilikan Kristus atas hidup kita (Katekismus Heidelberg #1), mereka niscata akan dimampukan untuk memandang kehidupan dengan sebuah perspektif yang benar.

Semua penjelasan ini jelas tidak akan memuaskan semua orang. Tidak pula menuntaskan semua pertanyaan dan persoalan. Namun, paling tidak, hal ini bisa menjadi panduan dalam perjalanan kehidupan yang panjang dan menyakitkan. Tidak memudahkan, tetapi menenangkan. Tidak mengurangi rasa sakit, tetapi mengarahkan bagaimana menyikapi rasa sakit itu. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community