Jika murid-murid Tuhan Yesus tidak terpelajar tetapi bisa dipakai oleh Allah, mengapa hamba Tuhan sepenuh waktu perlu sekolah di seminari?

Posted on 14/06/2015 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/JesusWashingTheApostlesFeet-full.jpg Jika murid-murid Tuhan Yesus tidak terpelajar tetapi bisa dipakai oleh Allah, mengapa hamba Tuhan sepenuh waktu perlu sekolah di seminari?

Mereka yang melayani sepenuh waktu tanpa studi teologi secara formal seringkali berkilah bahwa murid-murid Tuhan Yesus pun dapat dipakai Allah luar biasa walaupun mereka tidak terpelajar dari sisi kitab suci (Kis 4:13). Berdasarkan teks ini, mereka menganggap bahwa menempuh studi teologi bukanlah sebuah keharusan. Bagaimana meresponi hal ini?

Pertama-tama kita perlu mengkaji ulang teks yang dijadikan sebagai dukungan. Istilah “tidak terpelajar” tidak identik dengan kebodohan tentang Hukum Taurat. Sebagai orang Yahudi, para murid pasti belajar Hukum Taurat di masa kecil mereka. Di samping itu, mereka pun terbiasa dengan berbagai ritual dan perayaan keagamaan yang sarat dengan sejarah dan makna teologis. Kebiasaan beribadah di synagoge dengan penekanannya pada pengajaran kitab suci pun turut menambah pengetahuan mereka tentang kitab suci. Pendeknya, mereka cukup mengenal kitab suci mereka (bdk. Timotius yang sudah mengenal iman yang benar dan pengajaran kitab suci di 2 Tim 1:5; 3:15).

“Tidak terpelajar” di Kisah Para Rasul 4:13 dikontraskan dengan para pemimpin agama Yahudi yang setiap hari berkecimpung dalam studi dan masalah keagamaan serta menempuh studi khusus di bawah rabi tertentu. Dibandingkan mereka, murid-murid Tuhan Yesus hanyalah orang-orang biasa (NIV/ESV) atau orang-orang yang tidak terlatih (NASB). Bagaimanapun, pengetahuan mereka tentang kitab suci secara umum masih jauh lebih baik daripada sebagian pengkhotbah yang tidak pernah menempuh studi teologi secara formal.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kebersamaan mereka yang intensif dengan Tuhan Yesus. Mereka menghabiskan sekitar 3,5 tahun bersama dengan Dia. Mereka tinggal bersama Dia. Setiap hari mereka mendengarkan khotbah-Nya. Khotbah itu bahkan sangat mungkin diulang berkali-kali di tempat yang berbeda. Mereka melihat langsung bagaimana kehidupan-Nya. Mereka mengetahui bagaimana kitab suci digenapi di dalam Dia. Mereka juga diutus dalam pelayanan.

Sistem pemuridan yang diterapkan oleh Tuhan Yesus secara esensial sama dengan pola pembinaan di seminari, bahkan lebih efektif, karena dilakukan secara lebih intensif dan melibatkan kedekatan pribadi. Mereka juga diampu dan dibekali oleh pengajar terbaik sepanjang zaman. Metode pengajaran secara teoritis dan praktis digabungkan. Teguran-teguran Tuhan Yesus juga pasti membantu membentuk karakter mereka.

Berdasarkan penjelasan di atas, saya secara pribadi tetap yakin bahwa pembinaan teologi di seminari adalah hal yang sangat penting. Saya meyakini bahwa secara umum mereka yang studi di seminari akan menjadi hamba Tuhan yang lebih baik daripada mereka yang melayani tanpa pembekalan secara formal. Kalaupun kita menemukan hamba-hamba Tuhan tertentu yang sangat berkualitas dalam pelayanan walaupun tanpa bekal studi di seminari, hal itu tidak boleh dijadikan sebagai pola umum. Itu adalah kasih karunia Allah yang khusus (jika memang ada). Mempersiapkan diri secara intensional, intensif, dan formal di kampus teologi merupakan pilihan terbaik bagi siapa saja yang ingin memberikan diri sepenuh waktu di pelayanan.

Soli Deo Gloria

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community