INJIL: Yesus, Tuhan Bangkit Dari Kematian (Roma 10:9-10)

Posted on 21/01/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/INJIL-Yesus-Tuhan-Bangkit-Dari-Kematian-Roma-10-9-10.jpg INJIL: Yesus, Tuhan Bangkit Dari Kematian (Roma 10:9-10)

Ini adalah khotbah ke-3 dari Seri “Apakah Injil Itu?” yang mengawali tahun 2018. Pada khotbah ke-1 dari Roma 1:16-17 kita sudah belajar bahwa injil tidak terpisahkan dari iman kepada karya keselamatan oleh Allah. Dalam khotbah ke-2 dari Roma 1:2-4 kita mengetahui bahwa injil berfokus pada Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia dan bangkit dari kematian. Sebagai rangkuman untuk dua khotbah sebelumnya, kita dapat mengatakan: injil adalah kabar baik tentang kematian dan kebangkitan Anak Allah yang diterima melalui iman.

Khotbah hari ini juga merupakan rangkuman dari dua khotbah sebelumnya. Roma 10:9-10 berbicara tentang iman dan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Itulah intisari injil!

Untuk memudahkan pemahaman, khotbah hari ini akan dibagi menjadi dua bagian besar. Yang pertama berbicara tentang iman sebagai sarana keselamatan. Yang kedua tentang isi pokok dari iman tersebut. Bagaimana kita percaya (bagian ke-1) dan apa yang kita percayai (bagian ke-2) sama-sama penting. Tanpa salah satu (atau keduanya), tidak akan ada keselamatan.

Iman sebagai sarana keselamatan

Kata “mengaku” dan “percaya” muncul beberapa kali di ayat 9-10. Penekanan seperti ini selaras dengan pokok pembahasan di pasal 10. Paulus sedang membandingkan kebenaran karena ketaatan kepada Hukum Taurat (10:5) dan kebenaran karena iman (10:6-7). Yang pertama adalah kebenaran manusia, sedangkan yang terakhir adalah kebenaran Allah (10:3). Kebenaran Allah melalui iman merupakan ciri khas kekristenan.

Persoalannya, banyak orang memahami istilah “iman” secara berlainan. Apa yang disebut “iman” oleh beberapa orang belum tentu benar-benar “iman” menurut Alkitab. Jadi, kita perlu bertanya: “Iman seperti apa yang diharapkan dari kita?” Hari ini kita akan mempelajari tiga karakteristik sejati dari iman yang benar.

Pertama, bersifat internal. Dalam teks ini Paulus mengaitkan “percaya” dengan “hati”. Dua kali dia mengatakannya di ayat 9-10. Dia ingin mengajarkan kepada kita bahwa iman sejati dimulai dari hati.

Tidak sulit untuk melihat signifikansi poin ini. Alkitab mencatat beberapa orang yang terlihat “beriman” tetapi hatinya tidak demikian. Simon, penyihir dari Samaria, tampak sangat antusias dengan imannya, namun Petrus mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. Hatinya tidak lurus, menjadi pahit, dan terjerat dalam kejahatan (Kis. 8:21-23). Orang-orang Farisi terlihat sangat saleh dengan ritual dan tradisi mereka, tetapi kenyataannya ibadah mereka cuma di bibir, tidak di dalam hati (Mat. 15:7-9). Iman yang bukan bersumber dari hati tidak lebih dari sekadar kemunafikan yang menipu diri sendiri dan orang lain.

Kedua, bersifat publik. Paulus tidak hanya menyinggung tentang percaya dalam hati, tetapi juga mengaku dengan mulut. Poin ini cukup menarik. Iman bukan hanya personal, melainkan komunal. Iman bukan hanya tentang hati kita di hadapan Allah, tetapi juga pengakuan kita di hadapan orang lain.

Dalam konteks abad ke-1 Masehi, karakteristik ini sangat relevan dan penting untuk ditandaskan. Orang-orang Kristen merupakan kelompok minoritas yang sering ditekan dan dianiaya. Di tengah situasi seperti ini, godaan untuk menutupi (atau bahkan menyangkali) imanselalu menghadang di tengah jalan. Ada harga mahal yang harus dibayar. Ada kemungkinan sebagian orang malu untuk mengakui Yesus Kristus di depan umum (Mrk. 8:38). Ada kemungkinan yang lain malu untuk memberitakan injil (2Tim. 1:8; 2;15). Semua ketakutan ini bukan ciri khas iman yang sejati. Penderitaan tidak akan menggentarkan iman yang benar.

Ketiga, bersandar pada karya Allah. Ayat 9-10 tidak terpisah dari bagian sebelumnya (lihat kata sambung “sebab” di awal ayat 9). Di ayat 5-7 Paulus mengutip Ulangan 30:11-14. Bangsa Israel tidak perlu bersusah-payah naik ke surga atau menyeberangi lautan untuk menemukan Hukum Taurat. Allah yang memberikan semua itu kepada mereka. Firman TUHAN itu “sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (30:14). Persoalannya, manusia berdosa tidak sanggup untuk menaati firman tersebut. Karena itu TUHAN memberikan sebuah janji: “Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup” (30:6). Ketaatan dimulai dari hati yang diubahkan oleh TUHAN. Hati yang mengasihi TUHAN merupakan pondasi ketaatan.

Janji di atas digenapi secara sempurna di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus dalam hati kita. Korban Kristus yang sempurna di atas kayu salib menyucikan hati nurani kita dari segala kejahatan (Ibr. 9:14). Roh Kudus mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita” (Rm. 5:5). Apa yang tampaknya mustahil sekarang menjadi mudah. Kita tidak perlu ke surga untuk membawa Yesus ke dunia maupun turun ke jurang maut untuk membawa Yesus naik dari sana (Rm. 10:6-7). Allah yang melakukan semua itu, sehingga keselamatan menjadi begitu dekat pada kita, yaitu di dalam mulut dan hati kita (Rm. 10:8).  

Jadi, iman kita tidak dapat diperhitungkan sebagai sebuah usaha manusia. Kita tidak berjasa sedikit pun dalam keselamatan. Iman sejati justru mengakui ketidakmampuan diri. Iman yang benar bukan merengkuh Allah dengan segenap kemampuan kita, melainkan direngkuh oleh Allah dalam segala ketidakmampuan kita. 

Isi yang benar dari iman yang benar

Bagaimana kita beriman memegang peranan penting. Walaupun demikian, kita juga perlu memastikan bahwa yang kita imani memang sungguh-sungguh benar. Ketulusan saja tidak cukup. Keberanian belaka tidak memadai. Mempercayai Allah dengan benar mencakup cara (bagaimana) dan isi (apa) yang benar pula.

Dalam teks ini Paulus mengajarkan dua isi iman yang benar. Keduanya sama-sama berkaitan. Keduanya merupakan pokok keselamatan kita.

Pertama, Yesus sebagai Tuhan. Sebagian orang berusaha untuk melemahkan makna “Tuhan” (kurios) yang dilekatkan pada Yesus di sini. Ada yang memahaminya hanya sekadar sebagai sebuah sebutan penghormatan. Yesus tidak sungguh-sungguh Allah atau TUHAN dalam arti yang mutlak.

Penafsiran semacam ini tidak dapat dipertahankan. Kata Ibrani YHWH dalam Perjanjian Lama diterjemahkan dengan “Tuhan” (kurios) dalam Septuaginta (LXX), terjemahan Alkitab kuno yang digunakan oleh banyak orang Kristen abad ke-1. Lebih dari 600 kali pemunculan YHWH diterjemahkan dengan kurios. Di telinga orang-orang Kristen awal yang berlatar belakang Yahudi, sebutan kurios untuk Yesus jelas memiliki makna yang tidak biasa. Yesus Kristus memiliki natur dan sifat yang sama dengan TUHAN.

Penyelidikan konteks Roma 10:9-17 secara teliti juga mengarah pada kesimpulan yang sama. Di ayat 9 Paulus membedakan antara “Tuhan” dan “Allah”. Yesus Kristus adalah Tuhan. Allah membangkitkan Kristus dari antara orang-orang mati. Sesudah itu, Paulus secara konsisten menggunakan sebutan “Tuhan” di ayat-ayat berikutnya. Sangat disayangkan, terjemahan LAI:TB memunculkan sebutan “Allah” di ayat 12. Dalam teks Yunani sebutan yang muncul adalah “Tuhan yang sama” (ho autos kurios, bandingkan semua versi Inggris). Dengan demikian, pada saat Paulus mengutip kitab suci (ayat 11 dan 13) maupun mengambil kesimpulan theologis sendiri (ayat 12), dia sedang memikirkan Yesus Kristus sebagai YHWH di Perjanjian Lama.

Mengakui Yesus sebagai TUHAN bukan sekadar ucapan verbal maupun ungkapan perasaan. Pengakuan kepada TUHAN (UL. 6:4) harus disertai dengan kasih yang utuh kepada Dia (Ul. 6:5). Pengakuan ini juga bukan sekadar persetujuan intelektual. Roh-roh jahat pun mengenal Dia sebagai Anak Allah (bdk. Mat. 8:29).

Kebenaran ini perlu dikumandangkan lebih keras di telinga orang-orang Kristen. Tidak semua orang yang mengaku Kristen sungguh-sungguh menjadikan Kristus sebagai satu-satunya yang paling berharga dalam hidup mereka. Sebagian orang tidak sungguh-sungguh meletakkan setiap aspek kehidupannya di bawah otoritas Kristus sebagai Tuhan. Pengakuan mereka hanya ada di bibir, bukan di hati. Jika ini yang terjadi, tidak akan ada transformasi diri yang berarti.  

Kedua, Yesus telah mati dan bangkit. Beriman berarti percaya bahwa “Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (ayat 9). Jika Dia bangkit dari antara orang mati, Dia juga pasti sebelumnya telah mati.

Sebutan “Tuhan” untuk Yesus dan peristiwa kebangkitan-Nya memang tidak terpisahkan. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Anak Allah yang berkuasa (1:4). Melalui kebangkitan itu pula “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36). Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa Dia sebelumnya bukan Tuhan atau Mesias. Dia adalah Tuhan dan Mesias sejak awal, namun banyak orang masih menolak Dia. Melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Allah membuktikan dan menunjukkan bahwa tanggapan orang-orang tersebut adalah salah. Yesus sungguh-sungguh Tuhan dan Mesias.

Keyakinan kepada Yesus Kristus yang sudah mati dan bangkit seyogyanya membawa perubahan dalam diri kita. Persoalan kita yang terbesar – yaitu dosa – sudah diselesaikan melalui kematian-Nya dan ketakutan kita yang terbesar – yaitu maut – sudah dikalahkan melalui kebangkitan-Nya. Jika persoalan dan ketakutan yang terbesar saja sudah dibereskan, apalagi yang bisa mencemaskan kita? Seharusnya dengan lantang kita berkata seperti Paulus: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (8:38-39).

Sangat disayangkan apabila Anda yang mengaku percaya kepada Kristus ternyata membiarkan dirimu dikuasai oleh kekuatiran dan dikalahkan oleh ketakutan. Kuasa injil seolah-olah tidak bekerja di dalam dirimu. Sudahkah engkau beriman dengan benar? Sudahkah engkau mengimani apa yang benar? Biarlah pertanyaan-pertanyaan ini menjadi perenungan kita yang terdalam. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community