INJIL: Yesus Sebagai Anak Allah (Roma 1:2-4)

Posted on 14/01/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/injil-yesus-sebagai-anak-Allah.jpg INJIL: Yesus Sebagai Anak Allah (Roma 1:2-4)

Teks hari ini merupakan bagian dari pendahuluan surat. Sesudah menyebut dirinya sebagai rasul dan dikhususkan untuk memberitakan injil milik Allah (1:1), Paulus lantas menerangkan ringkasan injil yang dia beritakan tersebut (1:2-4). Jika dibandingkan dengan pendahuluan di surat-suratnya yang lain, hal ini jelas terlihat sangat berbeda.

Apa yang mendorong Paulus untuk melakukan hal yang tidak lazim ini? Ada beragam dugaan yang mungkin saling berkaitan. Ada yang mengaitkan dengan fakta bahwa Paulus bukanlah perintis jemaat di Roma (1:13), dan dia sekarang ingin mengunjungi mereka untuk meminta dukungan bagi pelayanannya ke Spanyol (15:24, 28). Untuk keperluan ini, jemaat di Roma perlu mengetahui ajaran Paulus dengan jelas. Secara khusus mereka membutuhkan informasi tentang injil seperti apa yang diberitakan oleh Paulus.

Kebutuhan di atas menjadi lebih kentara apabila dikaitkan dengan fakta bahwa Paulus memang seringkali disalahpahami. Tidak jarang dia difitnah sebagai pengajar sesat (3:8 “Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: ‘Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya’”). Dia dituduh membawa ajaran yang hanya menyenangan manusia belaka (Gal. 1:10). Tidak tertutup kemungkinan, sebagian jemaat di Roma sudah pernah mendengar fitnahan dan kesalahpahaman seperti ini. Karena itu, Paulus perlu menjelaskan secara langsung apa yang dia percayai dan beritakan.

Jikalau 1:2-4 adalah sebuah himne atau pengakuan iman kuno – seperti yang diduga oleh sebagian penafsir Alkitab – kita bisa melihat kejeniusan dan kebijaksanaan Paulus. Dia ingin menunjukkan bahwa injil yang dia beritakan adalah sama dengan yang selama ini dipercayai oleh banyak gereja di abad ke-1. Dia tidak mengajarkan sesuatu yang baru. Dia hanya meneruskan sebuah tradisi. Tuduhan yang dialamatkan kepadanya sama sekali tidak berdasar. Jemaat di Roma tidak perlu meragukan ajaran Paulus.

Nah, bagaimana Paulus menerangkan injil? Injil seperti apa yang dia percayai dan beritakan? Ada dua poin penting.

Injil adalah penggenapan janji-janji Allah dalam kitab suci (ayat 2)

Di akhir ayat 1 Paulus menggunakan frasa “injil Allah”. Kata “Allah” (dalam teks Yunani berkasus genitif, theou) bisa mempunyai beragam arti. Berdasarkan penjelasan di ayat 2, kita sebaiknya memahami genitif theou sebagai subjektif genitif. Artinya, injil adalah tentang apa yang dilakukan oleh Allah. Injil adalah tindakan Allah.

Mengapa injil merupakan tindakan Allah? Karena injil merupakan pengenapan dari janji-janji Allah di masa-masa sebelumnya (1:2)! Allah yang menjanjikan kabar baik kepada umat-Nya yang berdosa. Allah pula yang menepati janji itu melalui Yesus Kristus (1:3).

Dengan menunjukkan bahwa injil adalah penggenapan janji-janji Allah di Perjanjian Lama, Paulus ingin mengajarkan bahwa injil bukanlah sebuah ajaran yang baru. Injil bersumber dari Allah dan sudah dijanjikan jauh sebelumnya. Paulus bukan pencetus injil, seperti yang sering dituduhkan oleh para theolog liberal dan penganut agama lain. Injil adalah berita yang sangat tua sekali. Jauh lebih tua dari semua agama dan ajaran lain di dunia ini.

 Paulus sekaligus ingin mengajarkan bahwa injil tidak berkontradiksi dengan Perjanjian Lama. Injil adalah peneguhan dan penggenapan dari Hukum Taurat (3:31; 8:4). Injil disaksikan oleh Kitab Taurat dan para nabi (3:21). Pembenaran melalui iman dilandaskan pada kehidupan Abraham, bapa orang beriman (Rm. 4). Apa yang selama ini dinanti-nantikan oleh bangsa Yahudi sebenarnya sudah digenapi oleh Allah melalui Yesus Kristus.

Dengan demikian, setiap kali injil diberitakan, kita diingatkan tentang kesetiaan Allah dalam menggenapi janji-janji-Nya. Dia Allah yang tidak berubah. Perkataan-perkataan-Nya layak untuk dipegang. Ribuan tahun berlalu sejak Dia mengucapkan janji-Nya yang pertama, tetapi semua itu tidak menghalangi Dia untuk menepati perkataan-Nya. Dia adalah Allah yang setia.

Injil adalah tentang Yesus sebagai Anak Allah (ayat 3-4)

Ayat 3-4 masih menerangkan injil di ayat 1b. Ayat 3 dimulai dengan “tentang Anak-Nya” (peri tou huiou autou). Injil tidak terpisahkan dari status Yesus sebagai Anak Allah. Tanpa pengakuan kepada Yesus sebagai Anak Allah tidak akan ada injil yang utuh. Injil bukan tentang Yesus sebagai pemberi berkat atau pembuat mujizat. Injil adalah tentang Anak Allah.

Ayat 3b dan 4 menerangkan Yesus sebagai Anak Allah. Dia adalah Anak Allah yang menjadi manusia sebagai keturunan Daud (ayat 3). Frasa “menurut daging” secara jelas merujuk pada inkarnasi Yesus sebagai manusia (8:3b “Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa”). Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah sebelum inkarnasi-Nya. Dia bukan seorang manusia yang diangkat menjadi Anak Allah.

Rujukan tentang keturunan Daud di 1:3b berhubungan dengan pengharapan mesianis bangsa Yahudi. Mereka sudah lama menantikan kedatangan seorang mesias dari keturunan Daud. Ada begitu banyak teks Perjanjian Lama yang menyinggung tentang nubuat mesianis dari keturunan Daud (misalnya 2Sam. 7:12-16; Yes. 11:1-5; Yer. 23:5-6; 30:9; 33:14-17). Sama seperti Daud adalah seorang raja, demikian pula Mesias akan menjadi raja. Bedanya, kekuasaan Yesus sebagai Mesias bersifat kekal dan universal.

Rujukan tentang keturunan Daud di 1:3b sekaligus mempertegas apa yang sudah disampaikan di ayat 2. Injil bukan ajaran baru. Injil tidak berkontradiksi dengan Perjanjian Lama. Sebaliknya, injil merupakan penggenapan dari semua janji dan nubuat di dalamnya. Salah satunya adalah janji tentang kedatangan mesias dari keturunan Daud.

Yesus bukan hanya Anak Allah yang menjadi manusia sebagai keturunan Daud. Dia juga Anak Allah yang ditetapkan sebagai Tuhan melalui kebangkitan-Nya (ayat 4). Kebangkitan tidak mengubah Yesus dari manusia menjadi Anak Allah. Dia sudah sebagai Anak Allah sebelum Dia menjadi manusia (ayat 3a). Kebangkitan membuktikan bahwa Dia adalah Anak Allah yang berkuasa.

Hal ini tentu saja harus dipahami dalam perbandingan dengan keadaan Yesus sebagai Anak Allah menurut daging (ayat 3b). Sebagai manusia sejati, Dia merasakan kelemahan-kelemahan manusia (Ibr. 4:15), misalnya kelelahan (Yoh. 4:6) dan ketakutan (Mat. 26:37). Sesudah kebangkitan-Nya, semua kelemahan manusiawi ini tidak akan ada lagi.

Tentang status Yesus sebagai Tuhan dalam kaitan dengan kebangkitan-Nya (1:4b), kita perlu memahami hal ini dalam konteks pengharapan mesianis, terutama di Mazmur 2:7 “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”. Walaupun teks ini terutama berbicara tentang penahbisan seorang raja (2:6), ayat 7 berisi penegasan oleh TUHAN bahwa mesias adalah Anak-Nya. Maksudnya, suatu ketika TUHAN sendiri akan melantik mesias sebagai raja; momen itu sekaligus sebagai penegasan tentang status mesias sebagai anak TUHAN. Jadi, status sebagai raja dan anak tidak terpisahkan.

Dalam perspektif Perjanjian Baru, momen yang ditunggu-tunggu itu digenapi melalui kebangkitan Yesus Kristus. Dalam salah satu khotbahnya, Paulus berkata: “Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini” (Kis. 13:32-33). Sesudah memberi kesaksian tentang kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, Petrus berkata: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36).

Sekali lagi, poin di atas tidak berarti bahwa Yesus baru menjadi Anak Allah, Tuhan, atau Mesias pada saat kebangkitan-Nya. Sebelum inkarnasi ke dunia, Dia adalah Anak Allah. Kebangkitan-Nya hanya merupakan demonstrasi dan deklarasi tentang status Yesus yang sebenarnya. Kebangkitan-Nya menggenapi nubuat di Mazmur 2:7: pada saat pelantikan Mesias sebagai Raja, Allah akan mendeklarasikan status Mesias sebagai Anak-Nya.

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa injil merupakan kabar baik tentang Yesus sebagai Anak Allah. Anak Allah sejak kekekalan. Anak Allah selama inkarnasi di dunia. Anak Allah yang berkuasa sesudah kebangkitan-Nya. Pendeknya, injil adalah tentang kekuasaan Anak Allah.

Setiap kali kita mendengar injil, kita diingatkan dan dikuatkan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkuasa. Tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi kuatir dan takut.  Kekuasaan-Nya tidak berubah. Soli Deo Gloria.  

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community