Injil Yang Palsu (Galatia 1:6-10)

Posted on 06/05/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Injil-Yang-Palsu-Galatia-1-6-10.jpg Injil Yang Palsu (Galatia 1:6-10)

Barang-barang palsu banyak beredar di sekitar kita. Kita bahkan mungkin pernah tertipu karena membeli barang palsu. Kerugian yang ditimbulkan beragam: ada yang sedikit, ada pula yang banyak. Ada kerugian yang bisa ditangani, ada pula yang terlanjur parah.

Nah, apa yang terjadi apabila kita mempercayai injil yang palsu? Apakah ini sekadar kesalahan sepele dengan resiko yang kecil? Bagaimana mengenali injil yang palsu seperti ini?

 

Situasi yang sangat memprihatinkan dan genting (ayat 6-7a)

Bahaya yang sedang mengancam jemaat di Galatia, yaitu ajaran sesat atau injil palsu, sangat meresahkan Paulus. Gejolak perasaan ini terlihat jelas dalam penulisannya. Ada nuansa emosional. Ada kegentingan yang perlu segera ditangani.

Tidak ada ucapan syukur maupun doa yang mengikuti salam pembuka. Hal ini cukup menarik untuk digarisbawahi. Surat-surat kuno maupun surat-surat Paulus yang lain memang mengikuti pola penulisan seperti ini. Surat Galatia adalah sebuah perkecualian. Tidak ada ucapan syukur dan doa (harapan).

Bagi beberapa penafsir, ketidakadaan ini dipandang lazim. Orang kadang tidak mengikuti pola konvensional. Surat Galatia juga merupakan surat pertama yang ditulis. Pada waktu itu Paulus mungkin masih belum mengikuti pola tertentu.

Pandangan ini mungkin kurang tepat. Paulus pasti sudah terbiasa dengan surat-menyurat. Paling tidak, dia cukup mengenal aturannya. Kalau di bagian awal (salam pembuka) Paulus sudah mengikuti pola yang ada, kemungkinan dia juga mengetahui bagian selanjutnya dari pola itu (ucapan syukur dan doa). Jika dia tidak mengikuti, itu pasti bukan tanpa alasan. Lagipula, beberapa pilihan kata yang digunakan di 1:6-10 memang mengekspresikan gejolak emosional (lihat bagian di bawah).

Pemunculan kata “heran” (thaumazō, 1:6) juga memperkuat nuansa emosional yang ada. Kata ini di tempat lain hanya di 2 Tesalonika 1:10 (“dikagumi”). Berdasarkan hal ini kita sebaiknya menerjemahkan “heran” (thaumazō) di 1:6 dengan “tidak habis pikir”.

Keheranan ini berhubungan dengan aspek waktu. Mereka berbalik dari kebenaran terlalu cepat (LAI:TB “begitu lekas”, houtōs tacheōs). Kecepatan ini bisa berkaitan dengan jarak pertobatan ke kesesatan, jarak kedatangan guru palsu ke kesesatan jemaat, atau merujuk pada ketergesaan mereka dalam mengambil keputusan untuk meninggalkan Injil yang benar. Di antara semua opsi ini, yang pertama tampaknya lebih tepat. Kesesatan mereka terjadi hanya sekitar setahun sesudah perjalanan misi Paulus ke daerah selatan Galatia. Apa yang terjadi ini sangat mirip dengan kesesatan bangsa Israel dahulu. Baru saja mereka mengikat perjanjian dengan TUHAN di Sinai, mereka sudah jatuh ke dalam penyembahan berhala (Kel. 32:8 “Segera juga mereka menyimpang”; Ul. 9:16 “telah segera menyimpang”).

Selain terkait dengan waktu, keheranan Paulus juga perlu dilihat dari kebodohan dari kesesatan mereka. Kesesatan ini diungkapkan dalam bentuk “berbalik dari Allah” (LAI:TB) atau “meninggalkan Allah” (NASB/NIV/ESV). Kata Yunani metatithēmi kadangkala muncul dalam konteks seseorang meninggalkan suatu aliran filsafat tertentu atau bahkan meninggalkan iman (2Mak. 7:24).       

Secara tata bahasa, kata kerja metatithesthe di ayat 6 bisa berbentuk middle (sejenis kata kerja aktif tetapi untuk diri sendiri, lihat mayoritas versi) atau pasif (KJV “you are so soon removed”). Dalam hal ini pilihan mayoritas jauh lebih sesuai konteks. Paulus mengecam tindakan jemaat Galatia. Jikalau metatithesthe dipahami secara pasif (mereka dipisahkan dari Allah), dia mungkin akan bersedih, bukan mengecam.

Dengan mempercayai injil yang lain, mereka bukan hanya meninggalkan sebuah ajaran. Mereka meninggalkan Allah sendiri (ayat 6 “kamu begitu lekas berbalik dari Dia”). Dari sini terlihat bahwa antara ajaran yang benar dan Allah yang benar memang tidak terpisahkan. Meninggalkan yang satu berarti meninggalkan yang lain.

Kebodohan spiritual ini terlihat jelas karena mereka lebih memilih injil yang palsu daripada anugerah Yesus Kristus. Dua hal ini bersifat eksklusif. Yang satu meniadakan yang lain. Di 5:4 Paulus berkata: “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia”.

Injil yang lain bukanlah injil sama sekali (ayat 7a “yang sebenarnya bukan injil”). Pernyataan ini sangat tegas. Para pengajar sesat di Galatia tidak membuang injil. Mereka masih mengakui nilai penting iman kepada Yesus Kristus dalam keselamatan. Hanya saja, mereka ingin menambahkan ketaatan kepada Hukum Taurat sebagai penyempurna keselamatan (Gal. 5:3). Di mata Paulus, tindakan ini bukan sekadar penambahan, melainkan pembuangan.

Hal ini bisa dimengerti. Keselamatan melalui iman bertentangan dengan keselamatan melalui Hukum Taurat (Gal. 3:12). Melalui iman berarti anugerah. Melalui Taurat berarti perbuatan baik. Keduanya tidak boleh dipegang secara bersamaan.

 

Mengenali ajaran sesat (ayat 7b-10)

Bagaimana kita membedakan ajaran yang benar dari yang sesat? Ada beberapa patokan yang kita bisa gunakan.

Pertama, menimbulkan kekacauan (ayat 7b). Kata yang sama muncul lagi di 5:10. Menariknya, kata yang sama juga digunakan dalam konteks kontroversi Yahudi – Yunani yang dibahas dalam konsili gereja di Kisah Para Rasul 15:24. Ada orang-orang Yahudi Kristen tertentu yang memaksa orang-orang Kristen non-Yahudi untuk bersunat memelihara Taurat (15:1-2).

Ajaran yang benar seharusnya menghasilkan gaya hidup yang benar. Ortodoksi berujung pada ortopraksi. Injil yang mendamaikan kita dengan Allah seyogyanya mendamaikan kita dengan sesama. Apa yang dihasilkan oleh para pengajar sesat di Galatia hanyalah kekacauan. Pertikaian dalam jemaat menjadi tidak terelakkan. Karena itu, Paulus memberikan nasihat: “Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan” (Gal. 5:15).

Kedua, memutarbalikkan Injil Yesus Kristus (ayat 7b). Terjemahan LAI:TB “memutarbalikkan” sangat tepat. Lebih tegas daripada versi-versi Inggris yang hanya memilih “membelokkan” atau “menyelewengkan”. Kata “memutarbalikkan” (metastrephō) memang menyiratkan kontras atau pertentangan, bukan hanya perbedaan. Misalnya, matahari yang begitu terang berubah menjadi gelap (metastrephō, Kis. 2:20).

Ketiga, menyandarkan pada otoritas lain (ayat 8-10). Dalam bagian ini Paulus menyinggung tentang sumber otoritas ajaran, baik dari para rasul maupun malaikat. Siapapun yang memberitakan injil yang plasu, dia akan dikutuk oleh Allah. Pemunculan kata “terkutuklah” (anathema) sebanyak dua kali menyiratkan sebuah penekanan.

Tidak terlalu jelas apa kaitan ajaran sesat ini dengan para rasul atau malaikat. Apakah mereka menganggap diri mereka sebagai rasul? Apakah ini berhubungan dengan konsep mistisisme Yahudi pada waktu itu yang mengaitkan para malaikat dengan pemberian Hukum Taurat? Kita tidak bisa memastikan. Walaupun demikian, poin yang mau disampaikan mungkin bersentuhan dengan isu otoritas. Mungkin para pengajar itu berniat menggunakan “sumber otoritas tertentu”. Dengan gaya bahasa hiperbolis, Paulus mengantisipasi semua kemungkinan yang ada. Bahkan sekalipun para rasul atau malaikat yang memberitakan ajaran sesat, ajaran itu tetap saja sesat. Yang dipentingkan adalah konsep (apa), bukan pemberita (siapa).

Terakhir, menyenangkan manusia (ayat 10). Bagian ini merupakan upaya Paulus untuk membela diri. Ajaran Paulus tentang keselamatan berdasarkan anugerah Allah sering disalahmengerti. Mereka menganggap ajaran ini menawarkan kemudahan dan kenyamaman bagi manusia. Tidak perlu berbuat baik. Hanya beriman belaka. Paulus bahkan pernah difitnah mendorong orang berbuat dosa supaya memperoleh anugerah yang lebih besar (Rm. 3:8).

Semua ajaran yang benar pasti berpusat pada Allah (teosentris). Menyenangkan Allah, bukan manusia. Mendekatkan orang kepada Allah, bukan pada yang lain. Memuliakan Allah, bukan diri sendiri. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community