Injil dan Kepemilikan Hidup (Roma 12:1)

Posted on 19/08/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/injil-dan-kepemilikan-hidup-roma-12-1.jpg Injil dan Kepemilikan Hidup (Roma 12:1)

Orang yang terlihat mengasihi Tuhan bisa saja ternyata hanya memanipulasi Dia. Mereka sekadar menggunakan Tuhan untuk menggenapi tujuan hidup mereka, dan bukan menggunakan hidup mereka untuk menggenapi tujuan Tuhan. Allah hanya dijadikan sarana untuk mencapai suatu tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. Doa mereka adalah supaya Tuhan menyertai dan memberkati mereka, bukan supaya Tuhan menyertakan mereka ke dalam rencana-Nya sehingga mereka mampu menjadi berkat.

Mengapa kekeliruan fatal seperti ini sering terjadi? Salah satu alasan adalah ketidaktahuan tentang kepemilikan hidup dan kemerahan-kemurahan Allah di dalamnya. Jika kita menyadari bahwa kita hidup oleh kemurahan Allah, tidak sulit bagi kita untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada Dia. Itulah yang disampaikan oleh Paulus dalam teks kita hari ini.

 

Dasar perintah

Alkitab secara konsisten mengajarkan bahwa ajaran yang benar (ortodoksi) tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang benar (ortopraksi). Bahkan sesuatu tidak mungkin disebut sebagai ortopraksi jikalau konsep atau motivasi di baliknya tidak selaras dengan ortodoksi. Doktrin berkaitan erat dengan etika.

Paulus juga sangat tegas dan konsisten mengajarkan hal ini. Nasihat praktis dilandaskan pada ajaran teologi yang benar. “Apa” didirikan di atas “mengapa”. Konsep mendahului perilaku.

Jemaat di Roma dinasihati untuk mempersembahkan tubuh mereka kepada Allah “demi kemurahan Allah” (LAI:TB, dia tōn oiktirmōn). Dalam teks Yunani, frasa ini diletakkan sebelum isi nasihat: “Karena itu aku menasihati kalian, saudara-saudara, supaya demi kemurahan-kemurahan Allah kalian mempersembahkan….” Penerjemah LAI:TB mengaitkan frasa ini lebih kepada “aku menasihatkan” daripada “persembahkanlah”. Walaupun makna di dalamnya tidak jauh berbeda dengan teks Yunani, tetapi kita sebaiknya mengaitkan frasa dia tōn oiktirmōn dengan isi nasihat. Maksudnya, kemurahan Allah merupakan alasan mengapa kita patut mempersembahkan tubuh kita kepada Allah.

Bentuk jamak “kemurahan-kemurahan” (tōn oiktirmōn) telah dimengerti secara beragam oleh para penafsir Alkitab. Sebagian mengaitkan ini dengan budaya Yahudi yang biasa menggunakan bentuk-bentuk jamak untuk hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Dengan kata lain, bentuk jamak ini tidak lain hanyalah sebuah kebiasaan sastra belaka. Sebagian memahami ini sebagai rujukan pada jumlah kemurahan Allah yang melimpah atau kualitasnya yang luar biasa. Allah bukan hanya memberikan satu, namun begitu banyak kemurahan. Kemurahan ini juga begitu berharga.

Memilih di antara dua opsi ini memang tidak mudah. Secara pribadi saya sendiri lebih condong pada opsi pertama. Walaupun demikian, hal ini tidak berarti bahwa kemurahan Allah di sini kehilangan kelimpahan atau keberhargaannya. Roma 1-11 sudah menerangkan begitu jelas bagaimana orang-orang percaya hidup oleh kemurahan Allah. Kita dahulu adalah orang-orang berdosa dan berada di bawah murka Allah (1:18-3:20). Oleh anugerah-Nya di dalam Kristus Yesus Allah membenarkan kita melalui iman (3:21-4:25). Sejak saat itu kita hidup di dalam damai sejahtera, kasih karunia, dan pengharapan (5:1-8:39). Dosa tidak lagi berkuasa atas kita (pasal 6-7). Roh Kudus senantiasa menyertai kita pada akhirnya (8:1-30) sehingga tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus (8:31-39). Walaupun kita hanyalah cabang-cabang zaitun yang liar, tetapi kita dicangkokkan kepada pokok zaitun yang memberi kehidupan, yaitu Yesus Kristus yang mati dan bangkit bagi kita (pasal 9-11). Semua inilah yang dimaksud dengan “kemurahan-kemurahan Allah” di 12:1.

Mempertimbangkan semuanya ini, apakah berlebihan jikalau Paulus menasihatkan kita untuk mempersembahan tubuh kita kepada Allah? Tentu saja tidak! Allah sudah memberikan diri-Nya bagi kita, sebagaimana dikatakan oleh Paulus di 8:31b “Jikalau Allah adalah untuk kita” (semua versi Inggris; kontra LAI:TB “Jikalau Allah di pihak kita”).

Persembahan tubuh kepada Allah merupakan “ibadahmu yang sejati” (LAI:TB, tēn logikēn latreian hymōn). Mayoritas versi Inggris menerjemahkan logikos di sini dengan “spiritual”. Alternatif lain adalah “masuk akal” (KJV “reasonable service”). Dari sisi lexical (arti kata), logikos memang bisa berarti “spiritual” atau “masuk akal”. Bagaimanapun, dari sisi konteks, opsi terakhir tampaknya lebih bisa diterima. Paulus memang sedang berbicara tentang cara berpikir Kristiani. Dia menjadikan kemurahan-kemurahan Allah sebagai alasan di balik persembahan tubuh. Lagipula, di ayat 2 dia menyinggung tentang transformasi akal budi.

Jadi, sekali lagi, kekristenan bukan sekadar kumpulan aturan atau petuah-petuah moral. Dalam kekristenan, kebaikan tidak mungkin diceraikan dari kebenaran. Perilaku dari konsep. Injil Yesus Kristus – kematian dan kebangkitan-Nya – merupakan poros yang menggerakkan seluruh kehidupan kita.

 

Isi perintah

Jikalau kita hidup oleh kemurahan-kemurahan Allah, mempersembahkan hidup kepada Allah seharusnya menjadi hal yang mudah. Allah memiliki kita. Sebagai Pencipta, Dia berhak atas tubuh kita. Sebagai Penebus, Dia pun sudah membayar kita dengan hidup-Nya supaya kita menjadi milik-Nya.

Yang kita persembahkan adalah tubuh kita. Istilah “tubuh” (sōma) di sini sebaiknya tidak dibatasi pada bagian material (badan atau aspek jasmaniah). Tubuh merupakan perwakilan dari seluruh kehidupan. Paulus membicarakan tentang totalitas kehidupan. Totalitas ini diwakili oleh tubuh (ayat 1, aspek jasmaniah) dan akal budi (ayat 2, aspek batiniah).

Gambaran tentang persembahan (atau korban) mengingatkan kita pada ritual Perjanjian Lama. Korban merupakan simbol penyerahan sesuatu, entah dosa-dosa maupun ungkapan syukur kita. Kesempurnaan darah Kristus membuat persembahan binatang untuk penebusan dosa menjadi tidak berlaku lagi (Ibr. 10:12). Yang tersisa adalah korban ungkapan syukur atas korban Kristus yang sempurna. Namun, ungkapan syukur bukan sekadar ucapan syukur. Ada yang lebih daripada sekadar ucapan, yaitu seluruh kehidupan.

Seluruh kehidupan harus diberikan sebagai persembahan yang hidup (sōsan), kudus (hagian), dan berkenan (euarestos) kepada Allah. Paulus tidak sedang memikirkan tiga jenis persembahan. Dia memikirkan satu persembahan dengan tiga karakteristik.

Hidup. Sebagian penafsir cenderung mengontraskan “hidup” dengan korban binatang yang mati. Kalau dulu korban hanya sekali dipersembahkan lalu mati, sekarang kita terus-menerus mempersembahkan korban yang hidup. Dengan kata lain, kontras yang dimunculkan adalah antara “korban yang hanya sekali” atau “korban yang terus-menerus”.

Tafsiran semacam ini jelas menarik. Poin teologis yang disampaikan pun tidak keliru. Namun, penyelidikan lebih cermat tampaknya tidak demikian. Jika hal itu yang dimaksud oleh Paulus, dia tidak perlu menambahkan kata “hidup”. Pembacanya pasti sudah menangkap maksud itu. Ini merupakan pengulangan yang tidak diperlukan (kecuali Paulus sengaja mengulang untuk memberikan penekanan). Lagipula, tafsiran seperti ini terlihat tidak adil bagi mereka yang mati syahid demi Injil. Mereka tidak bisa lagi memberikan korban yang hidup. Jadi, “hidup” di sini bukan tentang “terus-menerus hidup” (lamanya hidup), melainkan “hidup yang sudah dihidupkan oleh Kristus” (kualitas hidup).

Adalah lebih baik bagi kita untuk mengaitkan konsep “hidup” ini dengan “kehidupan di dalam Kristus”. Kita sudah mati di dalam dosa dan untuk dosa. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus kita mulai hidup untuk Allah (6:1-14). Kehidupan seperti inilah yang kita berikan kepada Allah. Bukan kehidupan lama yang masih dikalahkan oleh dosa. Jadi, kontras yang ingin ditampilkan melalui kata “hidup” di 12:1 bukan antara “sekali” versus “terus-menerus”, tetapi antara “mati dalam dosa” versus “hidup di dalam Kristus”.

Kudus. Memahami makna “kudus” di sini tidak terlalu sukar. Arti yang ditonjolkan adalah “dipisahkan dari” sekaligus “dipisahkan untuk”. Ayat 2 berbicara tentang dipisahkan dari dunia (jangan diserupakan dengan dunia), sedangkan ayat 1 tentang dipisahkan untuk (persembahkan tubuh kepada Allah). Dua-duanya harus ada. Ini ibarat dua sisi dari satu koin uang. Tidak ada gunanya apabila seseorang hanya menjauhi dunia tetapi hidup untuk dirinya sendiri. Begitu pula tidak ada gunanya apabila seseorang memberikan diri pada Allah tetapi masih ingin mencemarkan dirinya dengan hal-hal duniawi.

Secara status kita adalah orang-orang kudus (1:7). Allah telah memanggil dan menjadikan kita kudus di dalam Kristus. Yang perlu kita lakukan hanyalah tetap tinggal dalam kekudusan yang sudah disediakan oleh Kristus. Menghargai, mensyukuri, dan menikmati karya tersebut. Dengan merayakan karya pengudusan Kristus itulah kita akan dimampukan untuk terus-menerus berada di dalamnya. Jadi, menjadi kudus bukan terutama tentang apa yang kita lakukan, melainkan apa yang Kristus lakukan bagi kita. Ingat, syukuri, rayakan, dan buktikan pengudusan itu melalui perilaku kita!

Berkenan. Pemunculan kata ini sedikit membingungkan. Apakah ada aspek baru yang ditambahkan melalui kata ini (selain yang sudah dicakup dalam “hidup” dan “kudus”)? Ataukah kata ini hanya sekadar konsekuensi belaka (hidup + kudus = berkenan)? Pilihan paling bijaksana adalah yang terakhir. “Hidup” dan “kudus” merujuk pada kualitas korban, sedangkan “berkenan” merupakan hasilnya. Jikalau kita memberi korban yang hidup dan kudus, itu akan menyenangkan hati Allah.

Menyenangkan Allah seharusnya menjadi hal yang paling menyenangkan bagi orang percaya. Kita menyadari untuk apa kita hidup. Kita mengetahui siapa pemilik hidup kita yang sebenarnya. Tatkala tujuan ini kita kembalikan kepada Sang Empunya kehidupan, kita sudah menggenapi tujuan keberadaan kita yang sebenarnya. Dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah segala kemuliaan! (Roma 11:36). Amin.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community