Identitas Gereja (1 Petrus 2:9-10)

Posted on 08/02/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Identitas Gereja (1 Petrus 2:9-10)

Dalam bagian sebelumnya (2:4-8) kita sudah melihat perbedaan antara orang-orang Kristen dan mereka yang menolak Kristus. Bagi kita Kristus adalah baru penjuru, bagi mereka adalah batu sandungan. Perbedaan ini masih dilanjutkan dan ditekankan oleh Petrus di 2:9-10, sebagaimana tersirat dari penggunaan kata sambung “tetapi” di awal ayat 9: Petrus membandingkan mereka yang tidak taat kepada firman (ayat 8) dengan mereka yang taat (ayat 9-10; bdk. 2:7).

Mengapa perbedaan ini perlu ditegaskan ulang? Hal ini tidak dapat dipisahkan dari situasi khusus yang dialami oleh penerima surat. Mereka adalah minoritas yang tinggal di tengah-tengah orang-orang lain yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus (2:11-12). Sudah sepantasnya kalau mereka menunjukkan gaya hidup yang berbeda dengan dunia.

Walaupun demikian, gaya hidup Kristiani bukanlah sekadar aksesoris yang bersifat eksternal belaka. Gaya hidup ini muncul dari status atau identitas yang berbeda. Itulah yang sedang diajarkan oleh Rasul Petrus dalam pasal 2:9-10. Status mempengaruhi tingkah laku.

Bagaimana identitas kita yang baru di dalam Kristus? Peranan apa yang seharusnya kita mainkan sesuai dengan identitas tersebut?

 

Identitas baru (ayat 9a)

Semua sebutan di ayat ini sebenarnya dahulu ditujukan pada umat Allah di Perjanjian Lama. Sama seperti umat Allah dahulu harus hidup berbeda dengan bangsa-bangsa kafir di sekeliling mereka, demikian pula kita perlu menunjukkan keunikan identitas kita melalui gaya hidup yang berbeda dengan dunia. Kesamaan ini menyiratkan bahwa umat pilihan dari dahulu sampai sekarang adalah berdasarkan pilihan ilahi (lihat sebutan pertama di ayat 9a), bukan berdasarkan keturunan biologis maupun etnis (Rom 9:6-7).

Pertama, bangsa yang terpilih (genos eklekton). Secara hurufiah sebutan ini berarti “umat pilihan” (mayoritas versi Inggris “chosen race”). Kata genos biasanya menyiratkan hubungan darah (relasi biologis), namun di teks ini kata genos diterapkan pada orang-orang Kristen karena kita semua telah dilahirkan kembali oleh Allah melalui firman-Nya yang kekal (1:23). Penambahan kata “terpilih” (eklekton) membuat sebuah kesejajaran antara Kristus dan umat-Nya: Kristus adalah batu penjuru yang terpilih (2:4, 6), kita adalah umat yang terpilih (2:9a; bdk. 1:2).

Identitas sebagai umat pilihan ini pernah dikenakan Allah pada umat Isreal di Ulangan 7:6 “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya” (juga Yes 43:20). Alasan di balik pemilihan ini adalah anugerah Allah, bukan kelebihan manusia, sebagaimana dijelaskan selanjutnya: “Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? Tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir” (Ul 7:7-8).

Prinsip pemilihan yang sama berlaku atas umat Allah di Perjanjian Baru. Kita dipilih berdasarkan rencana Allah (1:2) yang bersumber dari kasih dan kedaulatan-Nya (Ef 1:4-5, 11). Perbuatan baik bukan alasan bagi pilihan ilahi atas kita (2 Tim 1:9  “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman “). Kesadaran tentang anugerah pemilihan inilah yang seharusnya mendorong kita untuk berbuat baik. Kita sudah dipilih dari antara orang-orang berdosa yang lain, karena itu kita pun selayaknya menunjukkan gaya hidup yang berbeda.

Kedua, imamat yang rajani (basileion hierateuma). Konsep tentang keimaman orang percaya ini sudah disinggung oleh Petrus di bagian sebelumnya (2:5). Kali ini dia menambahkan kata “rajani” untuk menyiratkan sisi kemuliaan atau kehormatan dari keimaman ini. Sama seperti Kristus adalah batu penjuru yang terpilih dan berharga (2:4, 6), demikian pula semua orang percaya yang dipergunakan dalam pembangunan rumah rohani itu.

Sama seperti sebutan sebelumnya, sebutan “imamat yang rajani” dahulu juga dikenakan pada umat Allah di Perjanjian Lama. Dalam Keluaran 19:6 TUHAN berkata kepada bangsa Israel: “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus”.

Yang menarik dari sebutan “imamat rajani” adalah penggabungan ide tentang imam dan raja sekaligus (lihat Why 1:6). Hal ini pasti cukup mengagetkan bangsa Yahudi. Para imam hanya berasal dari keturunan Harun. Lebih jauh, jabatan “imam” dan “raja” tidak pernah dilekatkan pada orang yang sama. Beberapa raja yang mencoba mengambil peranan imam bahkan dihukum oleh Allah, misalnya Saul (1 Sam 13:8-14) dan Uzia (2 Taw 26:16-21).

Bagaimana kita bisa disebut sebagai raja dan imam sekaligus? Hal ini bersumber dari karya Yesus Kristus (Zak 6:13). Ia adalah imam menurut peraturan Melkisedek (Mzm 110:4; Ibr 7:17). Sama seperti Melkisedek memegang dua jabatan tersebut secara sekaligus (Kej 14:18-20), demikianlah Kristus, demikianlah kita.

Ketiga, bangsa yang kudus (ethnos hagion). Pemunculan “imamat rajani” dan “bangsa yang kudus” di ayat ini sangat mirip dengan Keluaran 19:6 (“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus”). Ide tentang kekudusan di sini pasti merujuk pada pemisahan dan pengkhususan: dipisahkan dari bangsa-bangsa lain dan dikhususkan untuk Allah (istilah Latin sacrum). Pada gilirannya pemisahan dan pengkhususan ini harus diwujudkan melalui kekudusan secara moral (istilah Latin sanctum).

Karena yang memanggil kita adalah Allah yang kudus, maka kita harus menjadi umat yang kudus bagi Dia (1 Pet 1:15 “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu”). Perintah ini sangat penting karena penerima surat ini berada di tengah-tengah bangsa kafir yang memfitnah dan menganiaya mereka (2:11-12; 3:16). Mereka tidak boleh membuka celah untuk diserang dan dijatuhkan.

Keempat, umat kepunyaan Allah (laos eis peripoiēsin). Sebutan ini pun berakar dari Perjanjian Lama. Umat Allah disebut sebagai “umat yang telah Kubentuk bagi-Ku” (Yes 43:21 LXX laon mou hon periepoiēsamen). Di tempat lain ungkapan laos periousios (lit. “umat kepunyaan/umat yang spesial” juga dikenakan pada umat Israel (Kel 19:5; Ul 7:6; 14:2; 26:18). Inti dari akar kata periousios atau peripoiēō adalah “memperoleh” (1 Tes 5:9; 2 Tes 2:14; Ibr 10:39), sehingga laos eis peripoiēsin lebih tepat diterjemahkan “umat yang diperoleh-[Nya]”). Dengan kata lain, Allah melakukan sesuatu sehingga kita bisa menjadi milik-Nya.

Bagaimana kita bisa menjadi umat kepunyaan Allah? Titus 2:14 menjelaskan bahwa semua ini karena karya Yesus Kristus: “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri (heautō laon periousion), yang rajin berbuat baik”. Gereja adalah kawanan domba Allah yang diperoleh dengan darah-Nya sendiri (Kis 20:28; LAI:TB “darah Anak-Nya sendiri”, tapi semua versi Inggris dengan tepat menerjemahkan “darah-Nya sendiri”). Efesus 1:14 juga menegaskan bahwa “penebusan yang menjadikan kita milik Allah”.

 

Peranan di dalam identitas yang baru (ayat 9b-10)

Identitas atau status yang baru di dalam Kristus tidak hanya sekadar penambahan sebutan bagi orang Kristen. Semua itu bukan gelar-gelar kosong yang tanpa makna. Semua itu juga bukan untuk kebanggaan kita belaka. Tujuan dari pemberian identitas yang baru berpusat pada Allah (theosentris).

Sesuai dengan identitas yang baru di dalam Kristus, kita harus memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang besar (2:9b). Kata “memberitakan” (exangellō) dalam Perjanjian Baru hanya muncul dua kali. Pemunculan yang lain berkaitan dengan aktivitas para murid yang memberitakan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia (Mar 16:8). Dalam Perjanjian Lama (LXX) kata ini seringkali dikaitkan dengan kekaguman dan pujian terhadap sifat dan perbuatan Allah yang hebat dalam konteks ibadah (Mzm 9:15; 70:15; 73:28 (72:28); 79:13 (78:13); 107:22 (106:22); 119:13 (118:13); Sir 18:4; 39:10; 44:15). Dari penggunaan kata exangellō yang sangat luas ini, kita sebaiknya memahami aktivitas “memberitakan” (exangellō) dalam konteks kesaksian (kepada orang lain) maupun pujian (kepada Allah).

Yang kita beritakan adalah “perbuatan-perbuatan yang besar” (LAI:TB, tas aretas). Teks Perjanjian Lama yang paralel dan (sangat mungkin) menjadi sumber kutipan bagi Petrus adalah Yesaya 43:21 (“umat yang Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyuran-Ku” [tas aretas mou]). Jika Petrus memang memikirkan Yesaya 43:21, maka “memberitakan perbuatan-perbuatan Allah” mempunyai arti yang sama dengan “memuliakan Allah”, sebagaimana disiratkan dalam Yesaya 42:12: “Biarlah mereka memberi penghormatan (lit. “kemuliaan”) kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau” (tas aretas…anangelousin).

Berdasarkan hal ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa tujuan dari pemberitaan ini adalah kemuliaan Allah. Bagaimana cara kita memuliakan Allah? Rasul Petrus menyinggung tentang beberapa hal yang bisa menjadi sarana kemuliaan bagi Allah. Melalui kesalehan kita orang-orang lain bisa datang kepada Allah dan memuliakan Dia (2:12; 3:1-2). Kita juga bisa memuliakan Allah melalui pelayanan (4:11) maupun penderitaan kita sebagai orang benar (4:14, 16).

Perbuatan-perbuatan Allah yang hebat dan perlu diberitakan (tas aretas) pasti sangat banyak. Di antara semua keajaiban itu, Petrus membicarakan tentang keselamatan rohani (2:9b-10). Keselamatan ini dikiaskan dengan perubahan “dari gelap” menjadi “terang”. Allah adalah Pribadi yang memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang (2:9b). Tatkala kita dahulu berada dalam kegelapan dan belum menjadi umat Allah, kita dikuasai oleh kebodohan (1:14; 2:15), mewarisi kehidupan yang sia-sia (1:18), dan memuaskan hawa nafsu (4:3). Sekarang kita bukan hanya berada dalam terang, melainkan “terang yang ajaib” (2:9b).

Keselamatan rohani juga digambarkan dengan perubahan status dari “bukan umat” menjadi “umat Allah” (2:10). Apa yang dituliskan Petrus di sini merupakan penggenapan dari nubuat ilahi di Hosea 1:9-10 (bdk. Rom 9:25-26). Allah berkenan menjadikan kita umat-Nya, walaupun kita dahulu bukan milik-Nya (2:10). Hal ini dilakukan-Nya bukan karena kesalehan dan kebaikan kita, melainkan berdasarkan belas-kasihan-Nya semata-mata (2:10 “yang dahulu tidak dikasihi, tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan”; bdk. Hos 2:6). Dahulu kita sesat seperti domba yang tidak memiliki gembala, tetapi sekarang kita sudah bersama Gembala Agung segala domba (2:25; 5:4).

Berbeda dengan para pengkhotbah modern yang menempatkan mujizat dan berkat materi sebagai fokus pemberitaan, Petrus memilih menekankan keselamatan rohani kita. Keselamatan adalah karya Allah yang ajaib. Karya ini tidak dapat ditiru oleh Iblis. Walaupun Iblis bisa menawarkan hal-hal ajaib, kemakmuran, popularitas, keselamatan fisik, dan kesehatan, tetapi ia tidak mungkin bisa memberikan kehidupan kekal. Jadi, beritakan keselamatan itu melalui perkataan dan perbuatan kita. Amin. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community