Ibadah Yang Benar (Yakobus 1:26-27)

Posted on 04/01/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Ibadah Yang Benar (Yakobus 1:26-27)

Salah satu serangan gencar yang dilancarkan oleh mereka yang menolak Allah adalah kekerasan atas nama agama. Mereka menyoal tentang catatan-catatan kelam peperangan atas nama agama. Pengeboman Gedung WTC di New York juga menjadi target serangan untuk mendiskriditkan agama. Semua peristiwa ini dianggap sudah cukup untuk menolak agama apapun.

Terlepas dari kesalahan dalam argumen mereka (misalnya, banyak pembunuhan juga dilakukan oleh mereka yang tidak beragama), serangan kaum atheis merupakan tantangan bagi kaum beragama untuk mengimbangi ajaran doktrinal dan praktek ritual mereka dengan perilaku yang saleh. Ada keterkaitan antara keagamaan dan kehidupan praktis yang baik. Poin inilah yang menjadi sorotan dalam Yakobus 1:26-27. Agama tidak bisa dibatasi pada hal-hal yang bersifat ritual belaka. Ibadah harus merambah aspek-aspek kehidupan praktis. Tidak ada pemisahan antara agama dan etika.

 

Apakah ibadah itu?

Kata sifat “beribadah” (thrēskos) atau kata benda “ibadah” (thrēskeia) jarang muncul dalam Perjanjian Baru. Dalam Kisah Para Rasul 26:5 kata thrēskeia merujuk pada praktek keagamaan Farisi yang sangat ketat dan fanatik. Kolose 2:18 mengaitkan kata yang sama dengan ibadah kepada para malaikat. Pemunculan dalam kitab-kitab kuno di luar Alkitab menunjukkan bahwa kata tersebut disejajarkan dengan “agama” atau “hal-hal ritual yang eksternal dari suatu agama” (Thayer lexicon).

Arti mana pun yang lebih tepat, poin yang ingin disampaikan Yakobus di 1:26-27 tetap sama. Dia sedang menegaskan keterkaitan antara agama (ibadah) dan etika. Kesalehan seseorang bukan hanya diukur dari perilaku dalam ritual tertentu, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah adalah keseluruhan hidup kita.

Hal tersebut selaras dengan bagian sebelumnya (1:19-25). Di sana Yakobus mengajarkan pentingnya orang-orang Kristen untuk mendengar dan melakukan firman Tuhan. Kebenaran bukan hanya untuk dipikirkan dan didiskusikan, namun untuk dilakukan. Pendeknya, doktrin tanpa etika adalah percuma.

Kebenaran ini sangat mendesak untuk dikumandangkan lebih keras, terutama di antara mereka yang terjebak pada spiritualitas yang dikotomis. Mereka terlihat sangat rohani dalam menjalankan ritual tertentu, tetapi sangat duniawi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka membatasi kerohanian pada hari dan tempat tertentu, padahal seluruh aspek kehidupan kita – pekerjaan, aktivitas gerejawi, sekolah, dan sebagainya – adalah area ibadah kepada Allah.

 

Bagaimana ibadah yang benar itu?

Dalam bagian ini Yakobus menyebutkan tiga tindakan konkrit yang mendemonstrasikan ibadah yang benar. Hal ini tidak berarti bahwa tiga tindakan ini menggantikan tanggung-jawab kita dalam aspek ritual. Ritual keagamaan (ibadah pada waktu-waktu tertentu) tetap memegang peranan penting. Walaupun demikian, hal itu harus disertai dengan kesalehan secara praktis.

Penyebutan tiga tindakan praktis di 1:26-27 juga tidak berarti bahwa Yakobus sudah membicarakan seluruh aspek praktis dari ibadah. Tiga tindakan ini berfungsi sebagai perwakilan saja. Yang dipentingkan adalah inti dari tindakan itu, bukan jenis tindakan. Apa saja bentuk ibadah yang benar itu?

 

Mengontrol lidah (ayat 26)

Beberapa versi Inggris menerjemahkan bagian awal dari ayat ini dengan “barangsiapa di antara kalian terlihat beragama” (KJV). Hal ini didorong oleh penggunaan kata dokeō yang memang bisa berarti “terlihat”. Yakobus mungkin sedang mengajarkan penerima surat untuk menilai orang lain dengan tepat.

Terjemahan di atas tampaknya tidak terlalu tepat. Mayoritas penerjemah memilih “Jika seseorang menganggap dirinya beragama” (NIV/NASB/RSV/ESV). Hal ini sesuai dengan arti lain dari kata dokeō, yaitu “berpikir”. Dari pertimbangan konteks, terjemahan ini memang lebih sesuai, karena ayat 26b berkata “ia menipu dirinya sendiri” (lit. “menipu hatinya sendiri”). Jadi, Yakobus sedang menyikapi orang-orang tertentu yang menganggap diri beribadah, tetapi kehidupannya tidak selaras dengan ibadah itu.

Di ayat 26 ini ia menyinggung tentang penggunaan lidah. Ia sedang mengajarkan bahwa kesejatian ibadah dapat dilihat dari perkataan yang benar. Orang yang beribadah harus mampu mengekang lidahnya.

Mengapa pengontrolan lidah merupakan salah satu tanda dari kesalehan? Di 3:2 Yakobus menjelaskan bahwa barangsiapa mampu mengontrol lidahnya berarti ia adalah orang yang sempurna dan mampu mengontrol seluruh hidupnya. Artinya, kalau kita berhasil menguasai sesuatu yang sangat sulit ditaklukkan (lidah), maka kita juga akan mampu menguasai hal-hal lain.    

Ada dua konsekuensi serius yang muncul apabila seseorang menganggap diri beribadah tetapi tidak menguasai perkataan mereka. Mereka menipu diri sendiri (ayat 26b). Ini adalah ketiga kalinya Yakobus memperingatkan penerima surat tentang penipuan diri sendiri (bdk. 1:16, 22, 26). Tidak ada yang lebih berbahaya daripada penipuan terhadap diri sendiri. Orang yang menipu diri sendiri sedang berada dalam bahaya namun ia tidak menyadarinya atau sengaja menyangkalinya. Ia tidak merasa perlu untuk berubah menjadi lebih baik.

Konsekuensi lain adalah ibadahnya sia-sia (ayat 26c). Penggunaan kata mataios (LAI:TB “sia-sia”) di bagian ini perlu digarisbawahi. Kata yang sama muncul berkali-kali dalam Alkitab; sebagian besar merujuk pada penyembahan berhala (Yer. 2:5; 8:9; 10:3; Kis. 14:15; Rom. 1:21; 1 Kor. 3:20; Ef. 4:17; 1 Pet. 1:18). Dengan kata lain, Yakobus ingin menegaskan bahwa ibadah tanpa penguasaan lidah tidak lebih baik daripada ibadah kepada para berhala yang bisu.

 

Kunjungan kepada orang-orang yang membutuhkan (ayat 27a)

Berbeda dengan ibadah yang sia-sia (mataios), ibadah kita harus murni dan tak bercacat (kathara kai amiantos). Dua kata ini memang sering muncul secara bersamaan, baik dalam Alkitab maupun di luar Alkitab. Keduanya menyiratkan kesucian yang mutlak.

Walaupun Yakobus secara jelas menggunakan dua kata ini dalam konteks etika (mengunjungi janda dan yatim-piatu), tetapi ia sengaja memberi tambahan “di hadapan Allah, Bapa kita” (ayat 27a). Melalui tambahan ini Yakobus mengajarkan bahwa apa yang kita lakukan di luar konteks ibadah (mengungjungi janda dan yatim-piatu) adalah sama pentingnya dengan apa yang kita lakukan dalam sebuah ritual ibadah (di hadapan Allah). Tidak ada dikotomi antara etika dan agama. Keseluruhan hidup kita berada dalam hadirat Allah (Coram Deo).

Perintah untuk memperhatikan para janda dan anak-anak yatim (orphanoi kai chērai) muncul berkali-kali dalam Alkitab (Yes. 1:10–17; Ul. 14:29; 24:17–22; Yer. 5:28; Yeh. 22:7; Zak. 7:10; Kis. 6:1–6; 1 Tim. 5:3–16). TUHAN melarang umat-Nya untuk mengambil memanfaatkan kelemahan janda dan yatim (Kel 22:22). Sebaliknya, mereka harus mengasihi mereka (Ul. 14:29; 24:17-20). TUHAN adalah ayah bagi para yatim dan pembela bagi para janda (Mzm 68:6). Siapa yang mengakui Allah sebagai Bapa (Yak 1:27a “di hadapan Allah, Bapa kita) juga wajib meneladani Dia, yaitu menjadi bapa bagi anak yatim dan pembela bagi para janda. 

Kata“mengunjungi” (episkeptomai) di ayat ini bukan hanya merujuk pada kunjungan biasa. Ini bukan hanya masalah visitasi sporadis. Kata kerja episkeptomai muncul dalam bentuk keterangan waktu kekinian (present tense episkeptesthai), yang menyiratkan tindakan terus-menerus. Di samping itu, penambahan frase “dalam kesusahan mereka” (en tē thlipsei) jelas menyiratkan tindakan yang lebih daripada sekadar kunjungan biasa. Inti yang ditekankan bukan kunjungan biasa, tetapi pemberian perhatian dan pertolongan kepada janda dan yatim.

Tanpa belas-kasihan terhadap mereka yang tidak berdaya, ibadah kita tidaklah murni dan bercacat di hadapan Allah. Para nabi pun menyuarakan teguran yang sama (Yes. 1:10-17). Tuhan Yesus juga memberikan kritikan yang sama terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat (Mat 23:23). Sudahkah hati kita dipenuhi oleh belas-kasihan terhadap mereka yang berada dalam ketidakberdayaan dan persoalan yang berat?

 

Menghindari kecemaran dunia (ayat 27b)

Pemunculan kata aspilos (“tidak dicemarkan”) di ayat 27a tidak terlalu mengagetkan. Kata ini sangat berhubungan dengan ungkapan “murni dan tak bercacat” (kathara kai amiantos). Orang yang beribadah kepada Allah harus menjaga diri supaya tidak dicemarkan oleh dunia.

Apa arti dunia (kosmos) di sini? Yakobus tampaknya lebih memandang “dunia” sebagai sebuah cara pikir yang menentang Allah. Semua pemunculan “dunia” dalam surat ini berkonotasi negatif dan lebih mengarah pada cara pandang terhadap sesuatu. Ungkapan “orang-orang miskin yang dianggap miskin oleh dunia ini” (2:5) dan “dunia kejahatan” (3:6) jelas mendukung penafsiran tersebut. Selain itu, di 4:4 Yakobus menegur mereka yang menjadi sahabat dunia, dalam arti mereka meletakkan hal-hal duniawi – materi dan pemuasan nafsu - sebagai prioritas hidup mereka (4:1-3). Jadi, kata “dunia” di 1:27b lebih mengarah pada cara berpikir yang duniawi. Dengan demikian, Yakobus sepakat dengan Paulus bahwa orang-orang Kristen perlu mengalami pembaruan akal-budi supaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2).

Peringatan yang sama perlu didengarkan oleh sebagian besar orang Kristen. Penebusan Kristus seharusnya mengubahkan cara berpikir kita. Kita melihat segala sesuatu dalam terang wawasan dunia Kristen (penciptaan – kejatuhan ke dalam dosa – penebusan Kristus – pemulihan segala sesuatu). Ini bukan hanya tentang apa yang kita pikirkan, tetapi bagaimana kita berpikir. Ini tentang perspektif hidup, bukan sekadar informasi teologis. Tanpa wawasan dunia Kristen, kita pasti dengan mudah terseret arus duniawi dan disesatkan oleh beragam filsafat dunia yang rapuh dan keliru. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community