Grave Is Not His Place (Kisah Para Rasul 2:22-32)

Posted on 20/04/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Grave-Is-Not-His-Place-(Kisah-Para-Rasul-2-22-32).jpg Grave Is Not His Place (Kisah Para Rasul 2:22-32)

Secara tata bahasa ayat 22 kurang memiliki kaitan yang dekat dengan bagian sebelumnya, namun secara konsep keduanya sangat terkait. Untuk memudahkan pembacanya melihat keterkaitan konseptual tersebut, penerjemah LAI:TB telah menambahkan frase “Yang aku maksudkan ialah”. Penambahan ini sangat bijaksana, karena apa yang akan dikhotbahkan oleh Petrus di ayat 22-36 memang berfungsi untuk menjelaskan identitas ‘Tuhan’ yang kepada-Nya bangsa Israel harus berseru dan diselamatkan (ayat 21). ‘TUHAN’ di ayat 21 (dikutip dari Yoel 2:32) tidak lain adalah Yesus (ayat 36 “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus”).

Untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, Petrus menjelaskan tiap aspek dari karya keselamatan yang telah dilakukan Kristus: pelayanan-Nya yang disertai berbagai tanda heran (ayat 22), kematian-Nya yang sesuai dengan rencana kekal Allah (ayat 23), kebangkitan-Nya yang dibuktikan melalui kitab suci maupun pengalaman pribadi para rasul (ayat 24-32), dan kenaikan-Nya ke sorga (ayat 33-35). Hari ini kita hanya akan memfokuskan pembahasan dari ayat 22-32. Jika Tuhan berkehendak, bulan depan kita akan mengupas ayat 33-35 pada saat perayaan kenaikan Tuhan Yesus ke surga.

Sebelum mendekati teks kita dengan lebih seksama, kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa dari perspektif orang Yahudi, kematian Kristus di kayu salib merupakan sebuah batu sandungan (bdk. 1 Kor 1:22-23). Bagaimana mungkin seorang yang tergantung di kayu salib (di mata orang Yahudi hal itu mengindikasikan kutukan ilahi, bdk. Ul 21:23; Gal 3:13) bisa menjadi juru selamat? Terhadap kendala kultural-teologis seperti ini, Petrus berusaha memberikan pembelaan sesuai dengan cara berpikir mereka sendiri.

Pelayanan yang diteguhkan oleh Allah (ayat 22)

Dalam konteks berpikir bangsa Yahudi, keberadaan mujizat merupakan hal yang sangat esensial untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar utusan Allah. Bagi orang modern, keyakinan seperti ini terkesan mengandung resiko, karena beberapa nabi tidak melakukan mujizat atau, sebaliknya, nabi-nabi palsu justru mampu melakukan hal-hal ajaib (Ul 13:1-3; Mat 24:24). Terlepas dari hal ini, bangsa Yahudi memang terbiasa dengan pendekatan pragmatis terhadap kesejatian seorang utusan Allah. Panggilan untuk Musa perlu diteguhkan dengan mujizat (Kel 4). Pada waktu pelayanan Yesus di bumi pun mereka berkali-kali menuntut tanda (Yoh 2:18; 6:30). Hal yang sama berlaku pada zaman para rasul (Kis 4:7). Semua ini bersumber dari keyakinan bahwa mujizat hanya dilakukan oleh orang yang diperkenan oleh Allah (Yoh 9:16, 31, 33).

Mempertimbangkan semua situasi ini, Petrus menegaskan validitas ilahi atas pelayanan Yesus melalui berbagai tanda yang menyertai pelayanan-Nya. Walaupun Yesus mampu melakukan perbuatan ajaib dengan kuasa-Nya sendiri, tetapi penekanan Petrus di bagian ini terletak pada pekerjaan Allah dalam diri Yesus. Penerjemah LAI:TB menggunakan dua kata kerja (‘ditentukan’ dan ‘dinyatakan’) untuk menerjemahkan satu kata Yunani, yaitu apodeiknymi. Kata ini memiliki arti dasar ‘menunjukkan’ atau ‘membuktikan’ (Kis 25:7), sehingga frase apodedeigmenon apo tou theou sebaiknya diterjemahkan ‘yang telah dibuktikan oleh Allah’ (bdk. KJV/ASV ‘approved of God’, NIV ‘accredited by God’, atau RSV/NRSV/NASB/ESV ‘attested to you by God’). Subyek dari pembuktian ini adalah Allah. Tanda-tanda itu pun ‘dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia [Yesus]’ (ayat 22b). Pendeknya, tanda-tanda ajaib dalam pelayanan Yesus merupakan bukti dari perkenanan Allah atas Yesus.

Untuk menekankan keluarbiasaan dari pelayanan Yesus, Petrus menggunakan tiga kata yang berbeda tetapi berkaitan erat (dynamis, teras, dan sēmeion, LAI:TB ‘kekuatan, mujizat, dan tanda’). Tiga kata benda ini juga muncul dalam bentuk jamak. Kata dynamis mungkin lebih menekankan pada kuasa/kekuatan sebagai wujud dari kehadiran Allah (bdk. 1:8), teras pada ketidakbiasaan dari suatu tindakan maupun respon dari orang yang melihat (versi Inggris ‘wonders’, bdk. 2:19, 43), sedangkan sēmeion pada makna di balik tindakan itu (bdk. 4:22). Bagaimanapun, kita tidak boleh terlalu membedakan ketiganya secara kaku (bdk. 3:12 ‘dynamis’). Tingkat variasi penggunaan tiga kata ini dalam tulisan Lukas mengindikasikan keterkaitan yang sulit dipisahkan (teras dan sēmeion muncul di 2:19, 43, 4:30, 5:12, 7:36, 14:3, 15:12; sēmeion dan dynamis di 8:13;  ketiganya muncul bersamaan di 6:8). Pemunculan teras dan sēmeion secara bersamaan dan berkali-kali sangat mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan antara pelayanan Yesus dan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir, karena dalam Septuaginta (LXX) pemunculan dua kata ini hampir seluruhnya merujuk pada peristiwa historis di PL tersebut.

Kematian yang dikontrol oleh Allah (ayat 23)

Berbeda dengan pandangan populer bangsa Yahudi yang menilai kematian Yesus di kayu salib sebagai bukti penolakan Allah, Petrus mengajarkan bahwa kematian seperti itu justru menggenapi kehendak Allah. Kematian Yesus terjadi bukan karena keinginan maupun kemampuan bangsa Yahudi. Dia diserahkan (ekdotos) oleh Allah.

Bukan hanya itu, penyerahan ini terjadi bukan secara kebetulan, melainkan sesuai dengan ‘maksud dan rencana’ Allah (boulē dan prognōsis). Walaupun mayoritas versi Inggris mempertahankan terjemahan hurufiah ‘pra-pengetahuan’ untuk mengekspresikan kata prognōsis, tetapi prognōsis mengandung makna yang lebih daripada sekadar antisipasi terhadap apa yang akan terjadi di depan (LAI:TB ‘rencana’). Kata prognōsis muncul bersama dengan kata boulē (bdk. pemunculan boulē di Luk 7:30; 23:51; Kis 4:28). Di samping itu, baik kata boulē dan prognōsis di ayat 23 dipertegas dengan tē hōrismenē (LAI:TB tidak menerjemahkan kata ini, bdk. RSV/NRSV/ESV ‘definite’, KJV/ASV ‘determinate’, NASB ‘predetermined’, NIV ‘set’). Kata dasar horizō memiliki arti ‘menentukan’ (Luk 22:22; Kis 10:42; 11:29; 17:26, 31).

Walaupun kematian Yesus merupakan penggenapan rencana ilahi, namun orang-orang yang menyalibkan Dia tetap harus bertanggung-jawab. Yang menyalibkan dan membunuh Yesus adalah orang-orang Yahudi dengan bantuan orang-orang kafir (ayat 23b). Ide yang sama muncul lagi 4:27-28. Penyaliban Yesus dilakukan oleh Herodes, Pilatus, dan bangsa Yahudi. Tindakan ini pun menggenapi segala sesuatu yang telah Allah tentukan (proorizō, dari pro + horizō) dari semula berdasarkan kuasa dan kehendak-Nya (boulē).

Dalam sejarah, bangsa Yahudilah yang menyerahkan Yesus kepada Pilatus (3:13), sehingga dapat dikatakan bahwa mereka yang telah membunuh Dia (5:30). Dalam kekekalan, semua itu terjadi karena kehendak Allah. Apa yang terlihat sebagai sebuah tragedi atau kecelakaan, ternyata justru muncul sebagai realisasi sempurna dari rencana Allah.

Kebangkitan yang tidak terbantahkan (ayat 24-32)

Kebangkitan Yesus terjadi atas kuasa-Nya sendiri (Yoh 2:19-22; 10:18), oleh Roh (Rom 1:4), atau oleh Bapa (Kis 3:15; 5:30). Dalam khotbah Petrus di Kisah Para Rasul 2:24-32, fokus diarahkan pada yang terakhir. Bagian ini dibuka dan ditutup dengan konsep yang sama, yaitu Allah membangkitkan Yesus (ayat 24, 32).

Di mata Petrus, kebangkitan Yesus merupakan hal yang harus terjadi. Ia menyebut kebangkitan Yesus sebagai kelepasan dari sengsara maut (ayat 24a). Kata ‘sengsara’ (ōdin) seringkali merujuk pada rasa sakit pada waktu melahirkan (Mat 24:8//Mar 13:8 di versi Inggris ‘birth pain/birth pang’; 1 Tes 5:3 ‘sakit bersalin’). Dengan kata lain, Petrus sedang menggambarkan kematian Yesus seperti proses melahirkan anak yang sangat menyakitkan, dan kebangkitan-Nya sebagai hasil tak terelakkan dari proses itu. Pada akhir persalinan, di bayi tetap akan lepas dan tidak bisa terus-menerus berada di tubuh si ibu. Begitu pula dengan kebangkitan Yesus. Walaupun kematian sempat menguasai Dia selama tiga hari, pada akhirnya Ia memang harus dibebaskan dari penderitaan itu.

Kepastian kebangkitan Yesus juga disiratkan melalui kata ‘tidak mungkin’ (ouk ēn dynaton, ayat 24b). Ia tidak mungkin terus-menerus dikuasai (bentuk infinitif present krateisthai) oleh kematian (lihat versi Inggris; LAI:TB ‘tetap berada dalam kuasa’). Bangsa Yahudi dan Pilatus dapat membunuh Yesus (ayat 23), tetapi mereka tidak bisa mengurung Yesus di dalam kematian. Allah membangkitkan Dia!

Untuk menguatkan fakta dari kebangkitan Yesus, Petrus memberikan dua bukti. Yang pertama dari kitab suci (ayat 25-31) dan pengalamannya sendiri (ayat 32). Dari cara Petrus memberikan bukti terlihat bahwa ia lebih menekankan kesaksian kitab suci daripada pengalaman manusia. Kesaksian kitab suci diletakkan di bagian awal (sikap yang sama ditunjukkan oleh Paulus di 1 Kor 15:3-8). Kesaksian kitab suci juga diberi porsi pembahasan yang lebih detil.

Pertama, kesaksian kitab suci (ayat 25-31). Kata sambung ‘sebab’ di awal ayat 25 menyiratkan alasan mengapa kebangkitan Yesus merupakan suatu peristiwa yang tidak terelakkan (ayat 24), yaitu karena hal itu sudah dinubuatkan dalam kitab suci. Petrus mengutip dari Mazmur 16 yang merayakan keindahan kehidupan di bawah pemerintahan Allah. Penyertaan Allah dan perlindungan-Nya bukan hanya menjadi jaminan bagi Daud selama kehidupannya di dunia, tetapi juga sampai ke dunia orang mati (eis hadēn, 2:27). Tubuh orang benar tidak akan dibiarkan binasa (ayat 27-28).

Dalam pemahaman Petrus, Mazmur 16 tidak mungkin berbicara tentang Daud saja. Ia memberikan beberapa penjelasan tentang hal ini (Kis 2:29-31). Tubuh Daud mengalami kebinasaan (ayat 29). Daud akhirnya mati, dikuburkan, dan tidak pernah hidup kembali secara tubuh. Kuburan Daud di dekat Kolam Siloam (Neh 3:16; lihat juga tulisan sejarawan Yahudi yang bernama Josephus) menjadi saksi bisu tentang hal itu. Apakah ini berarti bahwa Allah tidak menepati janji-Nya kepada Daud? Tentu saja tidak ada orang Yahudi yang akan mempercayai hal tersebut (Neh 9:8; 2 Pet 3:9). Kalau demikian, penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa Mazmur 16 tidak berbicara tentang Daud sendiri, melainkan tentang Mesias yang berasal dari keturunannya (Kis 2:30-31).

Untuk memperkuat penafsirannya, Petrus juga menyinggung tentang status Daud sebagai seorang nabi (ayat 30). Kebenaran teologis ini beberapa kali ditegaskan dalam Alkitab (2 Sam 23:1-2; Kis 1:16; 4:25). Orang Yahudi pun meyakini aspek nubuatan mesianis dalam beberapa mazmur yang dikarang oleh Daud. Jadi, Petrus hanya memanfaatkan pijakan bersama yang ia dan orang-orang Yahudi percayai.

Bagaimana seorang keturunan Daud akan terus-menerus memegang tahta Daud (2 Sam 7:12-16; Mzm 89:4-5, 36-37; 132:11)? Apakah itu berarti bahwa keturunan Daud dari tiap generasi akan terus-menerus menjadi raja di Israel? Bukankah sejarah menunjukkan bahwa sejak pembuangan ke Babel tidak ada keturunan Daud yang menjadi raja di Israel? Daud telah mati, sementara keturunanya berhenti menjadi raja sejak abad ke-6 SM. Bagaimana Allah mempertahankan dan menepati janji-Nya tentang keturunan Daud ini?

Jawabannya terletak pada penafsiran mesianis terhadap beberapa mazmur yang ditulis oleh Daud dalam kapasitasnya sebagai seorang nabi atau orang yang diurapi oleh Roh Allah. Daud sebenarnya sedang membicarakan tentang Mesias. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah penggenap dari nubuat mesianis tersebut. Tubuh-Nya tidak dibiarkan binasa oleh Allah di dalam kuburan!

Kedua, kesaksian para rasul (ayat 32). Frase “kami semua adalah saksi” dalam teks Yunani menyiratkan penekanan (pantes hēmeis esmen martyres). Secara hurufiah frase ini dapat diterjemahkan “semua kami, ya kami, adalah saksi-saksi”). Para rasul bukan hanya menyaksikan kebangkitan Yesus sekali, tetapi berkali-kali selama 40 hari (1:3). Pengalaman pribadi inilah yang membuat para rasul berani mengatakan di depan para pemimpin Yahudi yang menekan mereka: “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (4:20). Seandainya kebangkitan Yesus adalah isapan jempol atau rumor belaka, untuk apa para rasul berani mempertaruhkan nyawa mereka demi kebohongan? Untuk apa Roh Kudus mengurapi mereka agar menjadi saksi (1:8; 4:31)? Seandainya kebangkitan bersifat fiktif, keuntungan apa yang didapat oleh para rasul dengan mengarang cerita seperti itu? Keberanian mereka untuk mati demi kesaksian menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus adalah sebuah fakta, bukan fiksi!

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community