God of All Nations (Kejadian 10:1-32)

Posted on 10/05/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/god-loved-the-world.jpg God of All Nations (Kejadian 10:1-32)

Bagi banyak orang Kristen, silsilah adalah salah satu bagian Alkitab yang paling sulit dan paling membosankan untuk dibaca. Tidak terkecuali dengan Kejadian 10. Apa tujuan silsilah ini diberikan? Apa kaitan dengan tema kita minggu ini, yaitu “Allah Dari Semua Bangsa”?

Untuk memahami pertanyaan di atas, kita pertama-tama perlu menyadari bahwa silsilah ini tidak mencantumkan setiap nama. Dengan kata lain, silsilah ini bersifat selektif. Yang paling jelas, silsilah ini hanya membicarakan keturunan laki-laki (10:1). Di antara tujuh anak Yafet hanya keturunan dari Gomer dan Yawan yang dipaparkan (10:2-4). Dari empat anak Ham (10:6), hanya keturunan Put yang tidak dicantumkan. Bahkan di antara tiga anak Nuh, yang mendapatkan porsi pembahasan paling banyak adalah keturunan Ham (10:6-20). Yafet mendapat perhatian paling sedikit (10:2-5). Masih ada beberapa petunjuk lain tentang penyeleksian dan peredaksian dalam silsilah ini.

Cara penulisan semacam ini tidak bermaksud untuk membohongi pembaca. Silsilah kuno memang ditulis dengan tujuan tertentu. Tidak semua nama adalah penting dan relevan untuk disebutkan. Dengan mengamati cara penyeleksian dan peredaksian semacam ini, pembaca dapat menangkap maksud penulis. 

Ada beragam maksud penulis dalam Kejadian 10. Berkaitan dengan tema kita hari ini, kita hanya akan memfokuskan pada beberapa hal saja.

Semua bangsa adalah satu

Kesatuan semua umat manusia dalam pasal ini ditunjukkan melalui dua cara. Yang pertama adalah jumlah total bangsa yang mencapai 70. Mempertimbangkan bahwa silsilah ini bersifat selektif, angka 70 ini pasti memiliki makna simbolis. Angka ini menyiratkan kesempurnaan atau kegenapan. Dengan kata lain, walaupun tidak mencantumkan semua keturunan Nuh, silsilah ini tetap dimaksudkan sebagai sebuah perwakilan bagi semua manusia.

Makna di atas didukung oleh pengulangan angka 7 di beberapa bagian, terutama di bagian awal sampai pertengahan silsilah. Jumlah anak Yafet adalah 7 (10:2). Jumlah keturunan Yafet dari Gomer dan Yawan juga 7 (10:3-4). Jumlah keturunan Kush juga 7 (10:6-8), demikian pula jumlah kota yang didirikan atau dikalahkan oleh Nimrod (10:10-12). Angka yang sama muncul pada jumlah keturunan Misraim (10:13-14). Pola angka tujuh ini mulai tidak konsisten sesudah keturunan Kanaan. 

Cara kedua untuk menyiratkan kesatuan seluruh umat manusia ditemukan di awal dan akhir silsilah ini (10:1, 32). Di dua bagian ini muncul frasa “anak-anak Nuh” dan “setelah air bah itu”. Keterangan ini dimaksudkan sebagai pengingat bahwa terlepas dari keragaman suku-suku bangsa di dunia ini, semua berasal dari garis keturunan yang sama, yaitu keturunan Nuh. Semua orang tidak hanya terikat pada Adam, tetapi juga pada Nuh.

Betapa mudahnya kita melupakan kebenaran ini. Fenomena rasisme, stereotipe kultural, diskriminasi rasial, dan superioritas etnis telah menjadi coretan kelam dalam sejarah manusia di berbagai belahan dunia. Pembentukan pandangan umum yang negatif terhadap suku tertentu. Perbedaan sikap yang ditujukan pada suku-suku yang berbeda. Perbudakan yang disangkut-pautkan dengan warna kulit. Pembasmian suku bangsa tertentu yang dipicu oleh prasangka superioritas suatu etnis.

Semua persoalan di atas turut mempersulit upaya-upaya pekabaran injil. Di berbagai tempat, pekabaran injil menghadapi jalan terjal karena kehormatan penduduk pribumi kurang dihargai (misalnya di sebagian besar Afrika). Beberapa pekabar injil memaksakan budaya Barat ke daerah-daerah tertentu karena dianggap lebih bermartabat daripada budaya lokal, terlepas dari apakah budaya lokal itu bertabrakan dengan prinsip Alkitab atau tidak.

Manusia lebih tertarik untuk menekankan perbedaan yang tampak dari luar, seperti warna kulit, bentuk rambut, atau bahasa. Mereka lupa bahwa semua manusia berbagi kesamaan-kesamaan lain yang jauh lebih banyak dan esensial. Penelitian medis membuktikan bahwa semua orang dari berbagai suku bangsa memiliki kesamaan DNA sekitar 99,8%. Perbedaan dari luar hanya mencakup 0,2%. Semua manusia juga memiliki kesadaran moral yang sama. Pada saat suatu bencana melanda suatu tempat atau etnis, semua orang dari berbagai negara bersatu menunjukkan solidaritas. Semua menentang ketidakadilan, kemiskinan, maupun penderitaan, terlepas dari apakah perlawanan itu sempat diwujudkan atau hanya disimpan di dalam hati. Semua membutuhkan dan mengharapkan kasih, perhatian, dan dukungan.

Allah berdaulat atas semua bangsa

Kesatuan semua manusia pada akhirnya harus terus ditelusuri sampai pada diri Allah. Dialah yang secara aktif menyerakkan semua orang ke seluruh bumi (11:6-9). Upaya manusia untuk berkumpul di suatu tempat (11:4) digagalkan oleh Allah, karena dari semula Ia menghendaki supaya manusia memenuhi bumi dan menguasainya (1:26, 28; 9:2). Allah memastikan bahwa rencana-Nya akan tergapai, tidak peduli bagaimana manusia berusaha membelokkan hal itu!

Kebenaran ini kembali ditandaskan Musa di penghujung kitabnya. Ulangan 32:8 dengan jelas menyatakan bahwa tangan TUHAN berada di balik persebaran semua manusia di muka bumi (“Jika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel”). Terlepas dari bagaimana kita seharusnya menerjemahkan bagian terakhir dari ayat ini (RSV/ESV “anak-anak Allah”; KJV/ASV/NASV/NIV “children/sons of Israel”), poin yang disampaikan tetap sama: TUHAN berdaulat atas sejarah umat manusia. Ia menjamin bahwa pertambahan umat manusia untuk memenuhi bumi akan tercapai.

Paulus pun menyuarakan kebenaran yang senada. Dalam khotbahnya di hadapan para filsuf di Athena, ia mengatakan: “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka” (Kis 17:26). Ia mengutarakan hal ini karena sebagian filsuf tersebut mengakui bahwa semua manusia memang berasal dari Allah.

Kedaulatan Allah secara khusus ditunjukkan pada keturunan Ham, yaitu Kanaan. Di Kejadian 9 disebutkan tentang kutukan Nuh kepada Ham (9:25-27). Ham dan keturunannya (Kanaan) akan menjadi hamba bagi dua saudaranya (Sem dan Yafet). Poin ini selanjutnya juga muncul pada janji Allah kepada Abraham (15:16, 18-21). Bagi bangsa Israel yang sedang bersiap-siap menaklukkan tanah Kanaan pada akhir hidup Musa, silsilah di Kejadian 10 sekaligus menjadi penyemangat dan janji ilahi. Mereka pasti akan mampu menaklukkan Kanaan. Bangsa itu telah dikutuk oleh Nuh. Bangsa itu juga sudah lama berdosa sehingga tinggal menunggu hukuman Allah. Pesan yang disampaikan cukup jelas: TUHAN berdaulat atas bangsa-bangsa, termasuk atas suku-suku bangsa yang tinggal di Kanaan!

Allah berkemurahan atas bangsa-bangsa

Allah tidak hanya menjadi sumber semua umat manusia. Dia tidak hanya menentukan pertambahan jumlah keturunan dan batasan wilayah masing-masing. TUHAN juga menunjukkan kemurahan-Nya kepada bangsa-bangsa.

Poin ini tersirat dari cara Musa meletakkan silsilah. Secara kronologis, peletakan semacam ini terlihat tidak tepat. Persebaran manusia ke semua penjuru bumi terjadi sebagai hukuman Allah atas pemberontakan mereka dalam membangun menara Babel (11:1-9). “Keanehan” kronologis ini justru dimaksudkan untuk menekankan sisi anugerah Allah. Persebaran itu terjadi terutama karena inisiatif Allah untuk merealisasikan rencana-Nya (1:26, 28; 9:2). Hal inilah yang ditekankan oleh penulis dengan jalan meletakkan silsilah tepat sebelum kisah menara Babel. Pendeknya, dalam hukuman Allah pun terdapat anugerah-Nya (bdk. 3:15b, 21; 4:15). Bahkan, Allah lebih menekankan anugerah itu daripada hukuman-Nya.

Kemurahan Allah juga terlihat dari penutup silsilah. Pembaca yang kurang teliti mungkin akan menangkap kesan bahwa semua umat manusia memberontak terhadap Allah, termasuk keturunan Sem (10:22-30). Semua orang di silsilah ini, baik dari keturunan Yafet, Ham, maupun Sem, pada akhirnya berpartisipasi dalam proyek menara Babel. Allah terkesan tidak mampu berbuat apa-apa. Semua menentang Dia.

Kesan di atas akan sirna apabila kita membaca secara lebih seksama. Tidak semua keturunan Sem dicatat di pasal 10. Yang dituliskan adalah keturunan Sem dari Eber lalu ke Yoktan (10:25). Tidak ada daftar keturunan dari Peleg (10:25). Lebih menarik lagi, di ayat 25 dituliskan tentang pemisahan bumi. Terlepas dari apakah pemisahan ini bersifat hurufiah (bumi yang sempat terkumpul kembali seusai air bah menjadi terpisah karena suatu peristiwa alam), perpisahan ini pasti mengandung makna simbolis juga. Di pasal 11 kita mendapati bahwa Allah mengutus salah seorang keturunan Sem dari Peleg, yaitu Abraham (11:10-27, terutama ayat 18). Ternyata Abraham adalah keturunan ke-10 dari Sem (sebuah angka kesempurnaan yang lain!). Dengan menampilan Peleg sebagai nenek moyang Abraham, Musa seolah-olah ingin menyiratkan bahwa bumi tidak hanya terpisah secara geografis, melainkan juga secara spiritual. Allah telah mempersiapkan sebuah garis keturunan yang akan menjadi berkat bagi semua bangsa (12:1-3). Di tengah-tengah keberdosaan manusia, TUHAN selalu menyatakan kemurahan-Nya. Kerusakan yang besar akan segera diatasi melalui sebuah keturunan.

Yang paling menarik adalah kesamaan antara jumlah bangsa di Kejadian 10 dan jumlah keturunan Yakub yang berangkat ke Mesir. Keduanya berjumlah 70 (Kej 46:27; Kel 1:5). Kesamaan ini tentu saja bukan sebuah kebetulan. Angka ini menjadi pertanda bahwa janji TUHAN kepada Abraham untuk memberkati semua bangsa (12:1-3) dan menjadi bapa bangsa-bangsa (17:5; bdk. Rom 4:16) akan terwujud. Allah akan memberkati 70 bangsa (perwakilan semua umat manusia) melalui 70 keturunan Abraham (perwakilan dari orang percaya).

Apa yang kita pelajari hari ini melalui silsilah di Kejadian 10 seharusnya menggugah asa kita untuk memberitakan kabar baik kepada semua bangsa. Kita semua memiliki akar keturunan yang sama. Semua bangsa adalah sama dan setara. Semua membutuhkan kabar baik, yaitu keselamatan dari dosa-dosa mereka.

Pada saat kita menaati panggilan ini, kita tidak perlu kuatir. TUHAN berdaulat atas semua bangsa. Dia mengontrol dan mengarahkan sejarah tiap bangsa. Tidak ada satu pun yang berada di luar kekuasaan-Nya. Tidak ada pintu yang terlalu kuat yang tidak bisa dibuka oleh kemurahan Allah.

Kita juga sekaligus diingatkan tentang hasrat Allah yang terbesar terhadap keselamatan bangsa-bangsa. Ia tanpa henti menunjukkan kemurahan-Nya. Dia selalu menciptakan jalan untuk merengkuh orang-orang yang berdosa. Ia memakai gereja-Nya untuk memberkati semua bangsa.

Soli Deo Gloria

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community