Gereja segala bangsa (Wahyu 7:9-17)

Posted on 15/11/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/gereja-segala-bangsa-(wahyu_7_9_17).jpg Gereja segala bangsa (Wahyu 7:9-17)

Menyadarkan diri bahwa identitas kita sebagai umat Allah seharusnya akan membawa kepada pemujaan setinggi-tingginya kepada Yesus Kristus sang Anak Domba Allah, penebus kita. Melalui karya Kristus umat Allah ditebus, dikuduskan dan diselamatkan. Tidak ada lagi perseteruan antara Allah dan umat-Nya.

Status menjadi umat Allah juga sudah dijamin oleh Allah dan akan disempurnakan ketika semua orang percaya dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa berada di hadapan tahta Allah di surga. Tidak lagi ada perbedaan sebab Allah yang memilih dan mempersatukan bersama dan di dalam Dia. Di sana Allah sebagai pusat untuk dimuliakan dan disembah oleh seluruh umat dan segala yang ada di surga. Gambaran ini menunjukkan bagaimana umat Allah di surga yang seharusnya juga secara rohani menjadi patron gereja hari ini. Bagaimana gambaran Yohanes tentang umat Allah di surga?

Umat yang berada di depan tahta Anak Domba di surga (ay.9)

Yohanes menggambarkan penglihatannya tentang kondisi yang ada di surga. Dalam pasal 7 dia menjelaskan tentang keseluruhan umat Allah yang digambarkan dengan keberadaan 144.000, di mana nama Allah sebagai meterai pada dahi mereka dalam ayat 4 sebagai gambaran jumlah sempurna atau genap bagi seluruh umat Allah yang mewakili kumpulan orang banyak yang tidak terhitung banyaknya dalam ayat 9.

Orang banyak tersebut berasal dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa berada di hadapan tahta Allah dan Anak Domba sebagai pencipta dan penebus mereka. Ini adalah gambaran tentang gereja secara universal yang mencakup seluruh dan seutuhnya umat tebusan segala bangsa sampai akhir zaman seperti yang Yesus Firmankan: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Mat. 24:14). Ini juga merupakan penggenapan janji kepada Abraham dalam Kejadian 12 bahwa melalui keturunannya segala bangsa akan memperoleh berkat.

Diskripsi lebih jelas menunjukan bahwa kumpulan orang banyak tersebut mengenakan jubah putih sebagai simbol kesucian yang juga merupakan penggenapan janji Tuhan Yesus kepada jemaat di Sardis bahwa orang-orang yang setia akan dikenakan pakaian putih (3:4, 5), serta jiwa-jiwa yang berada dibawah mezbah juga diberikan pakaian putih (6:11; lihat juga 3:18; 4:4; 7:13). Mereka memegang batang daun palem di tangan mereka sebagai tanda sukacita dan kemenangan. Seolah-olah Yohanes ingin menjelaskan betapa besar sukacita dan ucapan syukur atas penebusan Kristus yang telah mereka terima  untuk selama-lamanya. Setidaknya Yohanes pernah menggambarkan sukacita yang besar dalam peristiwa ketika Tuhan Yesus memasuki Yerusalem banyak orang mengambil daun-daun palem untuk menyambut Dia (Yoh. 12:13).

Semua orang kudus, tidak terkecuali adalah sama di mata Allah. Di surga tidak ada pemisahan dan pembedaan, sebab meskipun semua orang dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa adalah umat Allah yang bersama telah mengalami karya penebusan Anak Domba untuk bersukacita merayakan kemenangan-Nya dan menyembah Allah.

Umat yang memuji Allah dan Anak Domba di surga (ay. 10-12)

Kumpulan orang banyak tersebut menaikkan pujian kepada Allah dan anak domba dengan penuh sukacita dan kegirangan. Pujian mereka mengisyaratkan sifat-sifat Allah seperti kuasa, kekuatan, memegahan, kemuliaan, keagungan, kekayaan dan kehormatan sebagai pujian ucapan syukur atas keselamatan melalui karya Anak Domba. Pujian mereka masing-masing memiliki tujuh sifat-angka kesempurnaan yang mirip dengan pujian pada pasal 5:12, di mana mereka mengatakan, “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!”. Keunikan pujian di surga tersebut terletak pada pujian yang dinaikkan secara seia sekata meskipun tentunya mereka berasal dari bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Ini sangat berkaitan dengan pusat penyembahan mereka adalah Allah dan motivasi mereka adalah memuliakan Allah. Seolah-olah, ini menghapuskan hukuman Babel atas kekacauan bahasa mereka dahulu karena ketidaktaatan.

Makhluk surgawi lainnya yaitu malaikat, tua-tua dan empat makhluk sambil tersungkur dan menyembah dihadapan tahta Allah. Susunan makhluk surgawi yang dijelaskan dalam ayat 10 adalah urutan secara terbalik dengan yang tertulis pada pasal 5, dimana urut-urutan mereka yang menyembah adalah keempat makhluk hidup itu, para tua-tua, semua malaikat, dan terakhir “segala makhluk di surga dan di bumi dan di bawah bumi dan di laut dan segala sesuatu yang berada di dalamnya (5:13).

Kata pujian “amin” (sungguh benar)  yang mereka ucapkan pada bagian awal dan akhir merupakan duplikasi secara antiphonal (sebagai respon) yang berkaitan dengan nyanyian orang-orang kudus. Artinya semua malaikat dengan sepenuh hati menyatakan persetujuannya atas pujian dari kumpulan orang banyak yang tak terhitung jumlahnya tersebut atas kemuliaan dan karya Anak Domba. Karena itu kelayakan Allah untuk dipuji di surga tersebut adalah didasarkan pada sifat-sifat dan karya-Nya. Ini juga seharusnya menjadi dasar setiap orang percaya hari ini untuk memuji Allah.

Umat yang melayani Allah di surga (ay. 13-17)

Yohanes menampilkan sebuah percakapan tentang identitas orang banyak tersebut melalui pertanyaan para tua-tua. Orang banyak itu adalah orang-orang kudus yang telah mengalami kesusahan besar, yang telah membasuh jubah mereka dengan darah Anak domba dan telah membuatnya putih.

Bentuk kata kerja Yunaninya erchomenoi menjelaskan penderitaan yang sedang berlangsung (Present Participle) seakan menekankan bahwa semua orang kristen telah dan akan mengalami tekanan penganiayaan dimanapun di sepanjang sejarah sampai akhir zaman. Penderitaan tersebut juga seolah memberi kesan progresifitas dan kwalitas penderitaan bersifat universal dan kolektif yang mencakup semua orang-orang kudus sepanjang zaman. Dahulu sudah banyak orang kudus yang mati dan menderita karena iman mereka dan akan terus bertambah sampai genap jumlah dan waktu Tuhan pada akhir zaman. Ini adalah salib bagi pengikut Kristus.

Melalui penderitaan karena iman tersebut mereka telah menyucikan pakaian mereka, bukan dengan darah  mereka sendiri yang tercurah sebagai martir tetapi melalui darah Anak Domba yang telah menghapus kekotoran dosa. “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa” (Ibr. 9:22). Jadi keberadaan umat Allah bukan berasal dari penderitaan atau menjadi martir, tetapi penebusan dosa melalui karya Kristuslah yang membuat mereka memiliki iman dari status pembenaran bagi mereka sedemikian rupa hingga menghasilkan buah sampai dengan melewati berbagai penderitaan dan kematian sekalipun. Dengan demikian, kumpulan orang banyak yang memuji Allah tersebut adalah sebagai gambaran kegembiraan surgawi tak terkira setelah melewati semua tayangan yang ada.

Keberadaan orang banyak tersebut berada dihadapan tahta Allah dan mereka melayani siang dan malam di Bait Suci-Nya (ay.15). Penyembahan  yang terus menerus dari umat Allah tersebut sebagai persembahan di hadirat Allah dengan penuh sukacita yang berfokus kepada Allah. Bagian akhir kitab wahyu juga mengulangi konsep dalam ayat 15 tersebut: “Dan takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya” (22:3).

Dalam penyembahan umat yang berpusat kepada Allah tersebut, Yohanes selanjutnya menjelaskan suatu relasi timbal balik dari Allah. Dalam kalimat: “Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka”, nampak sebuah janji Ilahi bahwa Allah menjamin keamanan umatNya dengan kehadiran-Nya secara pribadi. Ini merupakan bahasa perjanjian yang mengungkapkan kerinduan Allah untuk memiliki persekutuan yang erat bersama umat-Nya dengan tinggal di tengah-tengah mereka di tempat kudus yang sama. Banyak penafsir melihat kondisi tersebut dikaitkan dengan  kondisi antara Allah dan manusia di taman Eden sebelum jatuh dalam dosa, sebab bagi mereka karya penebusan Anak Domba telah merekontruksi relasi yang sudah dirusak oleh dosa. Kondisi tersebut semakin disempurnakan dengan janji jaminan dari Allah untuk pemeliharaan umatnya baik jasmani maupun rohani seperti yang dijabarkan dalam ayat 16-17.

Keadaan di surga tersebut telah disaksikan Yohanes untuk menjadi petunjuk bagi kita hari ini melihat kesatuan dan keutuhan orang percaya dalam sebuah cakupan gereja universal, tubuh Kristus. Cakupan menyeluruh ini harus melampaui segala perbedaan tempat, waktu dan pribadi yang ditebus. Hanya ada satu yang menjadi dasar gereja yang universal, yaitu sifat-sifat Allah dan karya-Nya di dalam Kristus yang sudah menyelamatan kita. Hanya ada satu pusat penyembahan kita yaitu Dia yang bertahta di surga meskipun berbeda bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community