Gereja Di Atas Batu Karang (Matius 16:13-20)

Posted on 08/03/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/3.jpg Gereja Di Atas Batu Karang (Matius 16:13-20)

Gereja terus-menerus menghadapi beragam serangan, baik ajaran sesat, penganiayaan, maupun keberdosaan di dalam gereja. Dari sejak gereja mula-mula ada, semua halangan ini sudah menerpa gereja Tuhan (Kis 4:1-22; 5:1-11; 6:1-7). Walaupun demikian, gereja tetap berdiri, bahkan berkembang sampai ke ujung bumi. Apa rahasia di balik pergerakan yang hebat ini? Allah, di dalam hikmat, kesetiaan, dan kedaulatan-Nya, telah menetapkan untuk mendirikan gereja-Nya di atas batu karang yang teguh.

Pengakuan yang benar (ayat 13-17)

Peristiwa ini terjadi pada momen yang krusial. Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem di propinsi Yudea (bdk. 19:1) untuk menggenapi rencana keselamatan. Ia sebentar lagi akan menghadapi penolakan dan penyaliban dari pihak orang-orang Yahudi (13:21). Di tengah situasi ini Ia ingin memastikan bahwa murid-murid-Nya benar-benar mengetahui siapa Dia dan (16:13-20) dan sejauh mana mereka harus berkomitmen (16:21-28).

Perjalanan dari Galilea ke Yudea kali ini menyediakan waktu yang berharga bagi murid-murid. Orang banyak tidak mengikuti Yesus. Hanya murid-murid dan guru mereka. Pengajaran bisa lebih intensif diberikan.

Di ayat 13-17 Tuhan Yesus mengajarkan beberapa hal penting tentang pengakuan iman. Pertama, pengakuan harus bersifat pribadi. Pada awal pembicaraan Yesus menanyakan pendapat publik tentang diri-Nya (ayat 13 “kata orang siapakah Aku ini?”). Dari informasi yang didengar murid-murid-Nya, pandangan publik tentang Yesus sangat beragam (ayat 14). Yesus lalu memberikan pertanyaan yang lebih pribadi: “tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 15). Dalam teks Yunani, kata “kamu” (lit. “kalian”) diberi penekanan dengan cara dimunculkan secara eksplisit dan diletakkan di bagian depan. Ini menyiratkan bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan pentingnya pengakuan secara pribadi.

Kedua, pengakuan harus benar. Pandangan banyak orang menyiratkan kerancuan konsep bangsa Yahudi tentang Mesias dan/atau akhir zaman. Herodes berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit dari kematian (14:1). Sebagian menduga bahwa Yesus adalah Elia yang akan datang (16:14) seperti dinubuatkan oleh Maleakhi (Mal 4:5; bdk. Yoh 1:19-21), padahal sebelumnya Yesus memberitahu bahwa Elia yang akan datang adalah Yohanes Pembaptis (11:14). Yang lain mengira Yesus sebagai Yeremia, karena beberapa aspek pelayanan keduanya mirip dan dalam salah satu tulisan kuno Yahudi disebutkan bahwa Yeremia dan Yesaya akan datang kembali sebelum akhir zaman (2 Esdras 2:18). Masih ada orang-orang lain yang menduga Yesus adalah salah seorang nabi yang akan muncul di akhir zaman (16:14).

Walaupun pandangan-pandangan ini tidak ada yang negatif terhadap Yesus, tetapi Yesus tidak hanya mencari sikap positif. Walaupun Yesus disamakan dengan tokoh-tokoh Alkitab yang ternama, tetapi Ia seharusnya bukan dalam deretan manusia. Ia adalah Anak Allah. Walaupun Yesus dalam taraf tertentu adalah nabi (13:57), tetapi Ia lebih daripada sekadar nabi. Kalau Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan bagi diri-Nya saja sudah “lebih daripada nabi” (11:9) dan “nabi terbesar” (11:11, 13), apalagi Yesus sendiri yang kepada-Nya Yohanes mempersiapkan jalan! Hanya pengakuan kepada Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah yang membawa keselamatan (Yoh 20:30-31).

Ketiga, pengakuan yang benar hanya dimungkinkan oleh Allah. Petrus bukan hanya sebagai orang yang “beruntung” atau “pandai” karena tebakannya tentang Yesus tepat. Ia “berbahagia” (ayat 17, LAI:TB). Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “diberkati”. Bahagia adalah tentang perasaan. Diberkati adalah kenyataan. Kebahagiaan sejati muncul dari kenyataan yang benar.

Terlepas dari seberapa jauh Petrus bisa memahami ucapannya (bdk. 16:22-23), pengakuan itu pada dirinya adalah benar dan berasal dari penyataan Bapa (ayat 17b). Manusia berdosa tidak mungkin memberi pengakuan yang benar dan sungguh-sungguh jikalau tidak ada intervensi Allah dalam diri orang itu (11:25-27). Mujizat tidak menjamin munculnya iman (11:21-24). Hanya karya Allah secara langsung dalam hati seseorang yang memampukan dia memberikan pengakuan yang benar (1 Kor 12:3; 2:13-14).

Janji Tuhan yang teguh (ayat 18-19)

Petrus sudah mengatakan sesuatu tentang Yesus. Kini giliran Yesus (ayat 18a “dan Aku berkata kepadamu”). Walaupun ucapan ini dalam bentuk tunggal (merujuk pada Petrus), namun kita tidak boleh memahami seolah-olah ucapan ini hanya berlaku bagi Petrus (apalagi bagi para pemimpin gereja yang meneruskan pelayanan Petrus di Roma), seperti yang diyakini oleh Gereja Roma Katholik. Apa yang diucapkan di sini kepada Petrus (16:19) ternyata juga berlaku untuk rasul-rasul yang lain (18:18). Ucapan Yesus “dan di atas batu karang ini” juga sangat janggal jika merujuk pada Petrus saja. Bukankah Ia lebih baik berkata: “dan di atas engkau” (bdk. ayat 18a “Engkau adalah Petrus”) jika memang cuma Petrus yang dimaksud. Selain itu, bagian Alkitab yang lain menandaskan bahwa gereja didirikan di atas dasar para nabi dan para rasul, dengan Kristus sebagai batu penjuru (Ef 2:20). Petrus hanya salah satu batu di pondasi gereja. Ia juga bukan batu penjurunya. Jadi, Petrus di sini berdiri sebagai perwakilan dari semua rasul (bdk. Why 21:14). Apa yang berlaku untuk Petrus juga berlaku bagi yang lain.

Apa saja yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus kepada gereja-Nya (dalam hal ini diwakili oleh para pemimpin rohani)? Pertama, Tuhan Yesus sendiri akan mendirikan gereja-Nya (ayat 18b “Aku akan mendirikan”). Tidak ada rasul atau manusia siapa pun yang pantas menjadi pendiri gereja. Hanya Tuhan yang berhak melakukan itu, karena gereja adalah milik-Nya (LAI:TB “jemaat-Ku’). Itulah yang Dia terus-menerus lakukan: Ia menambahkan jiwa-jiwa baru (Kis 2:47b “Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”), dan membuka hati orang pada keselamatan (Kis 16:14 “Tuhan membuka hatinya”). Pada saat Paulus menggambarkan pelayanan misinya, ia berkata: “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan” (Rom 15:18). Pelayanan misi Paulus adalah tentang apa yang Kristus kerjakan melalui dia. Hamba-hamba Tuhan hanya menanam atau menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (1 Kor 3:6).

Kedua, Tuhan Yesus akan melindungi gereja-Nya dari alam maut (ayat 18c). Dalam teks Yunani sebenarnya ada satu kata yang tidak muncul dalam terjemahan LAI:TB, yaitu kata “pintu gerbang” (pylē hadou = lit. “pintu gerbang alam maut”; ASV/NRSV/NASB/NIV “the gates of Hades”). Dalam konteks budaya kuno, terutama dalam peperangan, pintu gerbang menjadi simbol kekuatan dari suatu kota. Karena itu, beberapa kota menggunakan pintu gerbang tembaga supaya lebih kuat daripada pintu gerbang kayu. Maut memang kuat ibarat pintu gerbang sebuah kota, namun ia tetap tidak berkuasa atas gereja Tuhan.

Apa maksud dari kalimat ini? Pernyataan ini sebaiknya ditafsirkan dalam kaitan dengan perikop sesudahnya. Di 16:24-28 Tuhan Yesus memberitahu harga pemuridan, yaitu kematian (memikul salib dan kehilangan nyawa). Walaupun manusia bisa membunuh tubuh kita (10:28), namun jiwa kita tetap tidak akan pernah hilang (16:25). Kita bahkan akan menerima kualitas kehidupan kekal yang indah (16:27). Hal itu terjadi karena Kristus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16). Ia telah mengalahkan maut melalui kebangkitan-Nya (Rom 6:9). Dia memegang segala kunci kerajaan maut (Why 1:18).

Kematian dan penganiayaan juga tidak akan memusnahkan gereja di muak bumi ini. Itu yang terjadi dengan gereja di sepanjang abad. Tatkala gereja dibabat, gereja semakin merambat. Ketika gereja dipersukar, gereja makin mekar. Tepatlah perkataan Tertulianus, seorang pemimpin gereja di abad ke-2, bahwa “darah para martir adalah benih gereja”.

Ketiga, Tuhan Yesus memberikan kunci kerajaan sorga (ayat 19a). Pemberian kunci menyiratkan tugas penyambutan (membuka pintu bagi orang lain yang mau masuk) sekaligus otoritas (tugas ini tidak diserahkan pada sembarang orang dan orang lain tidak dapat menentang, bdk. Yes 22:20-22). Berbeda dengan orang-orang Farisi yang tidak masuk kerajaan sorga dan malah menutup pintu-pintunya di depan banyak orang (Mat 23:13), murid-murid diberi mandat untuk membawa banyak orang masuk ke dalamnya. Sebagai contoh, melalui khotbah Petrus ribuan orang dipertobatkan (Kis 2-3). Ia membawa injil sampai ke Samaria (Kis 8:20-24), bahkan sampai ke orang-orang Yunani (Kis 10:1-11:18). Di sisi lain, ia juga berhak menyatakan bahwa orang-orang tertentu tidak sungguh-sungguh dalam pengiringan mereka pada injil, misalnya Ananias dan Safira (Kis 5:1-11) dan Simon si mantan tukang sihir (Kis 8:20-23).

Keempat, Tuhan Yesus memberikan otoritas pengaturan (ayat 19b). Para rasul tidak hanya diberi otoritas untuk menyambut orang luar ke dalam gereja, melainkan juga untuk mengatur dan mengarahkan gereja. Hal ini disampaikan Tuhan Yesus melalui ungkapan “mengikat” dan “melepaskan”.

Ungkapan di atas beberapa kali digunakan dalam tulisan para rabi Yahudi. Ungkapan ini kadangkala digunakan dalam konteks menyatakan seseorang terlarang atau diizinkan masuk ke dalam sebuah komunitas rohani. Ungkapan ini juga digunakan dalam hubungan dengan sumpah (mana yang mengikat dan mana yang tidak mengikat).

Yang perlu untuk diperhatikan di sini adalah keterangan waktu yang digunakan. Terjemahan LAI:TB dan mayoritas versi Inggris “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” memberi kesan bahwa apa yang ada di sorga ditentukan oleh apa yang dilakukan para rasul di bumi. Dalam teks Yunani, bagian ini seharusnya diterjemahkan: “Apa yang kauikat di dunia ini akan sudah terikat (estai dedemenon) di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan sudah terlepas (estai lelymenon) di sorga”. Artinya, para rasul bukan bukan inisiator dan penentu. Mereka hanya memproklamasikan apa yang memang sebelumnya sudah ada di sorga. Dengan kata lain, penekanan di sini bukan terletak pada rekomendasi ilahi, melainkan bimbingan ilahi yang memampukan para rasul untuk menentukan sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan Allah sebelumnya.    

Tugas berat yang menanti gereja (ayat 20)

Pada waktu di Kaisarea Filipi Tuhan Yesus melarang murid-murid untuk memberitahukan kepada orang-orang lain bahwa Ia adalah Mesias. Mengapa? Para murid sendiri belum benar-benar memahami apa maksud kemesiasan-Nya (16:21-23). Ia juga belum memberikan bukti tentang hal itu, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya (16:20). Lagipula, banyak orang Yahudi memiliki pengharapan mesianis yang sangat rancu. Tuhan Yesus tidak ingin menambahkan kerumitan ini sebelum Ia memberikan bukti untuk kemesiasan-Nya.

Kini Tuhan Yesus sudah mati dan bangkit. Bukti-bukti yang meyakinkan bahwa Ia adalah Mesias telah diteguhkan. Kita pun semakin mengerti Mesias seperti apakah Dia. Melalui kitab suci kita benar-benar tahu bahwa Ia adalah pembebas dari dosa, bukan dari penjajahan militer atau politis kekaisaran Romawi.

Karena kita berada sesudah kebangkitan Tuhan Yesus, kita tidak boleh menyembunyikan berita gembira bahwa Yesus adalah Mesias. Sebaliknya, kita didorong untuk terus memberitakannya. Siapkah kita menjadi pemberita bagi Dia? Siapkah kita dilibatkan oleh Allah dalam pelebaran kerajaan-Nya? Relakah kita membayar harga bagi perkembangan gereja di muka bumi? Ingatlah, gereja pasti teguh, karena didasarkan pada janji Tuhan yang teguh. Soli Deo Gloria. Amen.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community