Eksposisi kitab Rut : Anugerah Allah dalam Keselamatan Manusia Bagian 3 Melalui Hukum Levirate (Rut 3:1-18)

Posted on 06/10/2013 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Eksposisi-kitab-Rut-Anugerah-Allah-dalam-Keselamatan-Manusia-Bagian-3--Melalui-Hukum-Levirate-(Rut-3-1-18).jpg Eksposisi kitab Rut : Anugerah Allah dalam Keselamatan Manusia Bagian 3  Melalui Hukum Levirate (Rut 3:1-18)

Bagian ini merupakan episode baru anugerah Allah dalam hidup Naomi dan Rut. Jika pada pasal 1 anugerah Allah terkomunikasikan via serentetan penderitaan yang dialami Elimelekh dan keluarganya, pada pasal 2 via peristiwa yang seringkali dianggap sebagai “kebetulan” dalam kacamata manusia, maka pasal 3 ini Allah menyatakan via strategi-strategi yang dipakai manusia untuk mencapai tujuannya namun tetap dalam koridor yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.

Pada pasal 2:23, Alkitab memberi gambaran tentang berkat Tuhan pada Naomi dan Rut yang dapat terus melangsungkan kelanjutan hidupnya dengan ijin pemungutan jelai yang dilakukan oleh Rut di ladang Boaz. Diperkirakan untuk 2-3 bulan ke depan mereka tetap dapat memungut jelai di ladang Boaz. Naomi yang pada permulaan pasal 2 ini tampil sebagai tokoh pasif, yang hanya mengijinkan menantunya untuk memungut jelai (2:2b), tanpa adanya peringatan atau petunjuk, maka di akhir pasal 2, Naomi muncul sebagai tokoh yang cukup dominan (ay.18-20). Dan hal itu mencapai puncaknya pada pasal 3 dimana Naomi aktif berperan sebagai mertua Rut, bahkan lebih mirip seorang “sutradara” yang memegang kunci mengarahkan alur cerita dalam pasal 3 ini.  

RENCANA NAOMI (3:1-4)

Pasal 3 ini dimulai dengan Naomi yang manawarkan “tempat perlindungan” buat Rut. “Tempat perlindungan” (tempat tumpuan kaki Kej. 8:9; Ul. 28:65, tempat perhentian/sarang Yes. 34:14, tempat mendptkan ketentraman Rat. 1:3) ini merupakan istilah umum orang Israel kuno yang merujuk pada “keamanan & ketenangan yang diidamkan & diharapkan seorang wanita di Israel dengan memperoleh rumah dari seorang suami”. Tawaran Naomi ini kontras dengan status Rut sebagai janda. Tujuan dari tawaran yang dilontarkan Naomi adalah supaya Rut “berbahagia” (band : it may be well with you (NAS, (N)KJV) atau  where you will be provided for (NIV)). Istilah “bahagia” ini banyaka dipakai dalam berbagai konteks, misalnya kebahagiaan pengantin (Yer. 7:23), keamanan (Yer. 42:6), umur panjang (Kej, 12:13; Ul. 4:40; 5:16,33), kemakmuran materi (Yer. 40:9), banyak anak (Ul. 6:3), dll. Pada intinya tawaran Naomi kepada Rut adalah tawaran untuk menikah kembali setelah melewati masa jandanya.

Dari tawarannya ini, Naomi memberi 2 gambaran tentang calon suami yang diharapkan memenuhi syarat untuk memberi kebahagiaan buat Rut. Pertama, ternyata Naomi mengarahkan idenya itu pada diri seorang Boaz karena secara hukum kekerabatan, Boaz-lah yang berhak “menebus” Rut. Ide tentang “menebus” seseorang adalah sebuah bentuk hukum keluarga yang secara umum lebih diterapkan pada konteks perkawinan (levirat). Namun hukum ini mengalami perkembangan. Pada konteks kitab Kejadian (38), hukum ini diterapkan pada Er, anak Yehuda, yang kawin dengan Tamar. Er mati tanpa meninggalkan seorang anak sehingga adiknya, Onan, harus memenuhi tugas menggantikan kakaknya mengawini kakak iparnya, Tamar dengan tujuan melanjutkan nama Er melalui keturunan yang dihasilkan dari perkawinan Onan dan Tamar. Ketika akhirnya Onan juga mati tanpa meninggalkan anak, maka Yehuda seharusnya memberikan anak ketiganya, Syela, untuk menggantikan kegagalan tugas Onan. Dalam perkembangan selanjutnya, hukum levirat ini berkembang (Ul. 25:5-10) dengan membuka kemungkinan seorang adik yang menolak tugas menggantikan tugas kakaknya melalui serangkaian prosesi. Dalam kitab Rut, yang berhak menebus kematian seorang anak sulung, bukan hanya diberlakukan pada konteks saudara langsung melainkan juga diterapkan pada kerabat di luar keturunan langsung. Dengan kata lain, secara hukum kekerabatan, Naomi melihat kemungkinan Boaz menjadi penebus yang akan mengawini Rut.

Kedua, untuk mewujudkan harapannya ini, Naomi memiliki strategi tersendiri. Entah dengan cara bagaimana, Naomi memiliki informasi tentang kegiatan dan keberadaan Boaz pada malam itu, yaitu bahwa Boaz akan menampi jelai di pengirikan. Malam itu, Rut disuruh pergi ke tempat pengirikan, mengarahkan pandangannya ke tempat Boaz berada, dan pada malam setelah Boaz makan, minum dan bergembiran, Boaz akan tidur. Ketika Boaz benar-benar telah tidur pulas, Rut harus menyingkapkan selimut Boaz dan tidur di bawah kaki Boaz. Begitulah informasi yang didapatkan, dibagikan dan diperintahkan kepada Rut untuk dilakukan. Untuk kelangsungan peristiwa selanjutnya, Naomi menyerahkannya kepada Boaz karena menurutnya Boaz tahu apa yang harus dilakukan (ay. 4).

RESPON RUT (3:5)

Dengan segala kepatuhannya, Rut mengatakan, “Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan”. Hal ini mengingatkan pada komitmen awalnya terhadap Naomi, Metuanya (1:10, 16-17)

AKTUALISASI RENCANA NAOMI (3:6-15)

Dari apa yang diperintahkan Naomi, Rut melakukannya dengan taat (ay. 6-7). Boaz, sendiri, pada waktu tengah malam, “dengan terkejut terjaga” dan “meraba’raba”. Frase ini seringkali dipahami secara negatif padahal maksud 2 frase itu adalah sebagai berikut: “Tengah malam merupakan kondisi udara yang sangat dingin di pengirikan. Hal ini lumrah mengingat pengirikan selalu terletak di luar kota dan lokasinya selalu berada pada posisi yang rendah karena menunggu angin yang bertiup untuk membantu proses pengirikan. Ketika Rut menarik selimut dan tidur di kaki boaz, tentunya ada bagian terbuka yang memungkinkan masuknya angin via kaki Boaz. Hal itulah, yaitu kedinginan, yang membuat Boaz terbangun dan meraba posisi selimut yang terbuka tersebut.” Ketika terbangun itulah Boaz samar melihat seorang wanita di kakinya, dia tidak mengetahui jika wanita itu adalah Rut karena dia bertanya “siapakah engkau ini?” (ay. 9). Hal ini menjadi jelas karena Boaz biasanya menyapa Rut dengan “anakku” (2:8) dan setelah mengetahui bahwa itu adalah Rut, kembali Boaz memanggil Rut dengan “anakku” (3:10).

Pertanyaan Boaz itu dijawab Rut dengan memperkenalkan identitasnya “Rut, hambamu” dan sekaligus menyampaikan permintaannya “kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini” (ay. 9. Istilah “kembangkan sayap” merupakan frase yang mengandung arti meminta untuk dinikahi (bdg. Yeh. 16:8). Permintaan Rut ini diakhiri dengan alasan dia  mengajukan permintaan tersebut, yaitu karena Boaz adalah “penebus” Rut, yaitu pihak yang mempunyai hak (dalam sistim hukum kekerabatan) untuk mengawini Rut.

Respon Boaz terhadap permintaan Rut adalah sesuatu yang menakjubkan. Boaz tidak merendahkan Rut karena permintaannya itu melainkan justru memuji Rut (ay. 10). Rut dipandang Boaz telah berhasil menunjukkan kasih yang lebih dari yang dilakukannya sebelumnya (2:11) terhadap mertuanya dengan memprioritaskan kepentingan keluarga dibanding dirinya sendiri. Boaz  berjanji akan memenuhi permintaan Rut dengan alasan karena seluruh penduduk kota tahu bahwa Rut adalah ‘perempuan baik-baik’ (‘eset hayil, bdg. dengan pemaparan tentang Boaz di 2:1 gibbor hayil  LAI : kaya raya; hayil = orang yang berpengaruh, dipercaya). Hanya saja, Boaz menyampaikan sebuah rintangan, yaitu bahwa sebenarnya Boaz bukan merupakan satu-satunya kerabat yang paling berhak untuk menebus Rut; ada kerabat lain yang memiliki hak itu (ay.12). Pemahaman Boaz tentang hal ini sangat menakjubkan, dia taat pada hukum dan membiarkan Allah bekerja via kerabat dekat itu untuk menentukan mau tidaknya dia menebus Rut (ay. 13). Dan ucapan Boaz ini diakhiri dengan sumpah “demi TUHAN yang hidup” untuk menebus Rut jika memang semua berjalan dengan baik.

Bukan itu saja, Boaz masih memberikan perlindungan keamanan kepada Rut dengan menyuruhnya tetap tinggal di pengirikan, perlindungan nama baik dengan menyuruhnya untuk bermawas diri jangan sampai ada yang mengetahui jika Rut berada di pengirikan serta perlindungan jasmani berupa jelai untuk Naomi (ay. 14-15).

LAPORAN RUT (3:16-17)

Seperti halnya responnya terhadap perintah Naomi, kali ini setelah dia menyelesaikan semua perintah Naomi, kali ini Rut kembali melaporkan semua yang terjadi kepada mertuanya.

RESPON NAOMI (3:l8)

Akhirnya meresponi semua laporan Rut, Naomi mengajak Rut untuk “duduk menanti”. Frase ini memberi gambaran bahwa jika sebelumnya Naomi dan Rut harus melakukan banyak hal-hal mendetil untuk mencapai rencananya, kali ini tibalah saatnya bagi Rut (dan Naomi juga) untuk menunggu hasilnya.

APLIKASI

Dari pemaparan Rut pasal 3, setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari cara Naomi bersikap, mengambil keputusan karena memang Naomi adalah aktor utama pada pasal 3 ini. Pertama, kita belajar dari diri seorang Naomi. Kepasifannya yang nampak jelas di awal pasal 2, entah karena kekecewaan dan kepahitan hidup yang dialaminya, bukan merupakan alasan untuk terus berdiam diri. Di tengah “kediaman” Allah, anugerah-Nya terus berjalan buat Naomi dan Rut. Naomi bangkit dari keterpurukannya untuk terus melanjutkan hidup bersama menantunya. Anugerah-Nya, walaupun kita tidak dapat melihat secara langsung, merupakan alasan bagi kita untuk tetap berharap ketika tidak ada alasan untuk berharap.

Kedua, sisi lain dari diri seorang Naomi adalah kita belajar bahwa ketika mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, Naomi tetap memperhatikan 2 sisi, yaitu haknya untuk terus memanfaatkan rasio yang diberikan Allah kepadanya (melalui strateginya), tetapi juga kewajibannya untuk patuh pada hukum yang berlaku. Kedua sisi ini sangat seimbang dalam kisah ini. Keinginan Naomi agar Rut kawin lagi setelah masa jandanya berakhir, dalam hal ini kawin dengan Boaz, tetap ingin diwujudkannya bukan sekedar dengan mengandalnya strateginya, tetapi juga ketertundukannya terhadap hukum.  2 sisi ini harus beriringan dalam setiap pengambil keputusan.

Ketiga, Naomi tahu kapan harus bertindak, kapan harus berdiam. Ketika memang waktunya untuk bertindak dengan segala bentuk kelebihan, kekurangan dan rintangan yang ada, semua harus dihadapi. Namun ada saatnya ketika manusia harus berdiam diri, menunggu hasil dari setiap pekerjaannya, harapannya, dan menggantungkan hasil dari harapan tersebut kepada Tuhan. Menunggu bukanlah kegiatan yang menyenangkan. Namun ada kalanya menunggu menjadi saat dimana manusia belajar bergantung sepenuh dengan karya Tuhan dalam hidupnya, belajar percaya pada Allah yang berdaulat mengatur dan menentukan setiap langkah hidup manusia. 

SOLI DEO GRATIA.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community