Eksposisi kitab Rut : Anugerah Allah dalam Keselamatan Manusia Bagian 2: Melalui Hukum Gleaning (Rut 2:1-23)

Posted on 07/07/2013 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Eksposisi-kitab-Rut--Anugerah-Allah-dalam-Keselamatan-Manusia-Bagian-2-Melalui-Hukum-Gleaning-(Rut-2-1-23).jpg Eksposisi kitab Rut : Anugerah Allah dalam Keselamatan Manusia Bagian 2: Melalui Hukum Gleaning (Rut 2:1-23)

Kisah serangkaian penderitaan yang dialami keluarga Elimelekh dalam Rut 1 diakhiri dengan sebuah gambaran kondisi yang dipaparkan di ayat 22 “Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.” Dari sudut pandang sebuah narasi, ayat 22 ini memiliki 1 fungsi. Pertama, ayat 22a (Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab) merupakan kesimpulan dari serangkaian peristiwa yang telah terjadi di pasal 1. Sebenarnya dari ayat 19, Naomi dan Rut telah pulang dan tiba di Betlehem, namun ayat 22 seolah-olah memberi kesan bahwa mereka baru tiba di Betlehem. Kedua,  selain sebagai sebuah kesimpulan, ayat 22b (Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai) juga berfungsi sebagai sebuah pengantar ke babak baru narasi sebelumnya, yaitu pasal 2. Di sinilah dimulainya sebuah babak baru kisah Naomi dan Rut, sebuah episode baru bentuk anugerah Allah buat Naomi dan Rut.

Bagi Naomi dan Rut yang memasuki Betlehem dengan status “janda tanpa keturunan”, hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Dunia kuno saat itu sangat memandang rendah dan memberikan tempat yang kurang layak bagi seorang janda, apalagi tanpa keturunan. Sebenarnya, ada solusi untuk keluar dari status itu. Pertama, menikah kembali. Bagi Rut hal itu mungkin, namun hal itu tidak berlaku untuk Naomi (1:11-12). Kedua, balik ke rumah bapak. Ada kemungkinan bagi Naomi untuk kembali ke rumah bapaknya (namun kitab ini tidak memiliki referensi ke sana, walaupun kemungkinan itu tetap ada), namun Rut tidak mungkin kembali ke rumah bapaknya di Moab karena dia telah berkomitmen untuk mengikuti Naomi (1:8 bdg. Kej. 38:11). Ketiga, memiliki warisan suami. Hal ini kembali dimungkinkan untuk dimiliki Naomi, namun tidak demikian dengan Rut karena dia kawin dengan Mahlon di Moab (Mahlon tidak mungkin memiliki harta benda di negeri asing) dan dari perkawinan mereka tidak dihasilkan seorang keturunan. Namun baik Naomi maupun Ruth memiliki kesamaan dengan status ‘janda tanpa keturunan’ yang mereka sandang, yaitu setelah kembali di Betlehem, mereka tidak tahu bagaimana seharusnya melanjutkan hidup mereka, setidaknya untuk makan, karena mereka tidak memiliki apa-apa. Apalagi Rut yang kerap muncul dengan status “perempuan Moab” (1:4,22; 2:2,6,21; 4:5,10) karena bagaimanapun ada banyak sejarah pahit yang menghubungkan Israel dan Moab (Kej. 19:30-38; Ul. 23:3-6; Bil. 22-24; Bil. 25:1-3; Ul. 4:3-4; Yos. 22:17; Maz. 106:28; Hos. 9:10). Dengan demikian, bagaimana cara mereka bertahan dan melanjutkan hidup mereka?

Anugerah Allah dalam bentuk providensia-Nya dinyatakan dalam pasal 2 ini. Setidaknya untuk bertahan dan melanjutkan hidup Naomi dan Rut, Allah bekerja via 2 cara providensiaNya, yaitu yang tidak terlihat (invisible) maupun yang terlihat langsung (visible). Di sinilah letak keunikan kitab Rut; dalam kitab ini Allah seakan-akan diam tak bekerja dengan cara yang ajaib mencarikan jalan keluar buat Naomi dan Rut. Allah tidak memberikan keajaiban seperti yang dilakukan kepada janda Sarfat ataupun manna kepada orang Israel di padang gurun.

Dengan cara yang tak terlihat Allah membawa Rut menjadi sarana bagi dirinya sendiri maupun Naomi, mertuanya untuk melanjutkan hidup mereka. Mungkin Naomi dan Rut tidak melihat bahwa waktu kedatangan mereka, hukum gleaning serta lokasi tempat Rut mencari bulir jelai, semuanya itu merupakan cara Allah memelihara mereka.  

Waktu yang Tepat

Ketika Naomi dan Rut memasuki Betlehem (1:22), penduduk Betlehem sedang mengalami masa kesukaan dengan akan dimulainya panen jelai. Hal ini mengingatkan Naomi pada peristiwa beberapa tahun sebelumnya ketika keluarganya meninggalkan Betlehem  dan pindah ke Moab, mereka berada dalam kondisi kelaparan. Namun kali ini Naomi memasuki Betlehem dengan suasana baru yaitu panen jelai.

Panen jelai merupakan panen pertama dalam siklus kalender orang Israel (Ima 23:4-22) yang ditandai dengan perayaan hari raya Paskah. Jelai merupakan makanan pokok orang Israel yang harganya sangat terjangkau (lebih murah dari gandum), mudah ditanam di berbagai jenis tanah serta waktu penanaman hingga penuaian tidak terlalu jauh (3-4 bulan).

 Sistim yang Tepat

Masuknya Naomi dan Rut ke Betlehem bersamaan dengan dimulainya panen jelai seakan menyiratkan harapan baru bahwa setidaknya mereka tidak akan menderita kelaparan lagi. Namun harapan itu akan menjadi sebuah keraguan mengingat Naomi dan Rut tidak memiliki ladang ataupun mata pencaharian yang akan pasti.

Bersyukurlah, Allah telah lebih dahulu memberlakukan hukum ‘gleaning’ pada orang Israel. Hukum gleaning adalah hukum yang mewajibkan para tuan tanah untuk tidak memetik hasil panen dengan sengaja sampai benar-benar habis dan memberikan hak kepada orang miskin, janda, orang asing untuk memungut ceceran hasil panen yang entah tersisa/terjatuh (Ima 19:9-10; 23:22; Ul. 24:19-21). Dasar pemikiran Allah memberikan hukum ini adalah bahwa Allah-lah pemilik tanah, bukan tuan tanah (Ima 25:23). Manusia (dalam hal ini tuan tanah) adalah penatalayan dari tanah yang dimiliki Allah dan predikat ini hanya berlaku selama manusia respek pada hukum Allah. Orang laya memiliki tanggung jawab moral terhadap orang miskin.

Orang yang Tepat

Dalam usahanya melanjutkan hidup bagi dirinya sendiri serta Naomi, mertuanya, Rut mencari ladang tempat dia dapat memungut bulir jelai yang jatuh. Alkitab memakai satu kata yang menarik, ‘kebetulan’ (miqreh) ketika Rut masuk ke salah satu ladang yang ternyata milik Boaz. Kata ini mencakup tindakan atau peristiwa yang terjadi tanpa diketahui & disengaja oleh orang yang terlibat di dalamnya. Dengan kata lain masuknya Rut ke sebuah ladang yang tidak diketahuinya merupakan sebuah skenario tersembunyi dari Allah yang mengatur semuanya.

‘Kebetulan’ tersebut mencakup masuknya Rut ke ladang milik Boaz yang ternyata (tidak diketahui oleh Rut) adalah kerabat (saudara jauh) Elimelekh, mertua laki-lakinya. Boaz digambarkan sebagai orang yang kaya raya (gibbor hayil) dalam 2:1. Kata gibbor hayil dapat dikenakan pada pahlawan perang (Yos. 6:2-3; Hak. 6:12), orang yg berkuasa (1 Sam 9:1; 1 Raja 11:28), orang kaya (2 raja 15:20). Dengan kata lain, Boaz adalah orang yang sangat berpengaruh di Betlehem. 

Semua detil-detil tersebut tidak diketahui ataupun disadari (invisible) oleh Rut yang bertindak semacam pelaku utama bagian ini. Namun justru sebenarlah Allahlah aktor utama di pasal ini yang bekerja untuk memelihara umat-Nya dalam kitab Rut. Allah yang dari pasal 1 kelihatannya diam, tidak memberikan solusi justru bekerja dengan cara yang tidak disadari oleh manusia. Di bagian berikut cara pemeliharaan Allah terhadap Naomi dan Rut dapat dilihat secara nyata (visible) oleh mereka.

Survival

Dari awal pasal 2 ini telah dipaparkan bahwa apa yang dibutuhkan Naomi dan Rut setiba mereka di Betlehem adalah makanan untuk melanjutkan hidup mereka serta perlindungan sehubungan dengan status mereka yang adalah seorang janda tanpa keturunan.

Makanan untuk Bertahan Hidup

Ketika Rut memasuki ladang tertentu yang ternyata adalah adalah ladang Boaz, Rut meminta ijin kepada mandor ladang untuk bukan sekedar hanya memungut bulir jelai tetapi juga mengumpulkannya (ay. 7). Kemungkinan mandor tersebut tidak mengijinkan dan itulah sebabnya Rut berdiri (LAI: datang dan terus sibuk) menunggu pemilik ladang (ay. 7). Itulah sebabnya Boaz dengan langsung bertanya “Darimakah perempuan ini?” (ay. 5) karena memang posisinya yang mencolok perhatian orang lain. Dalam peraturan hukum gleaning telah ditetapkan bahwa para pemungut hanya boleh memungut bulir gandum yang biasanya telah diikat oleh pengerja perempuan, bukan mengumpulkan bulir jelai yang langsung dituai oleh pekerja laki-laki. Namun Rut mendapatkan ijin dari Boaz untuk melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan orang saat itu yaitu memungut dan mengumpulkan bulir jelai (ay. 8). Bahkan Rut boleh melakukan pemungutan jelai di ladang Boaz hingga akhir musim panen (ay. 8, 23) yang kira-kira berlangsung 2-3 bulan. Selain itu Boaz memberikan hak istimewa kepada Rut untuk bergabung makan dan minum dengan para pekerjanya pada jam istirahat kerja (ay. 14). Begitu berlimpahnya makanan yang diberikan hingga Rut dapat makan sampai kenyang bahkan ada sisanya (ay. 14) yang diberikannya kepada Naomi. Boaz juga memberikan perintah khusus kepada para pekerjanya untuk dengan sengaja menjatuhkan bulir jelai untuk Rut (ay. 15-16). Tidak mengherankan ketika Rut pulang kepada Naomi, di ay. 17 dikatakan bahwa dia membawa sekitar 1 efa jelai (1 efa = 10 gomer; 1 gomer adalah ukuran kebutuhan seseorang makan dalam sehari, bdg.  Kel. 16:16). Dengan kata lain, hasil 1 efa jelai yang dibawa Rut setidaknya dapat mencukupi kebutuhan makan Rut sendiri dan Naomi untuk 5 hari ke depannya.

Perlindungan dari Gangguan Pekerja Laki-laki

Selain fasilitas makanan yang diberikan oleh Boaz untuk Rut, Boaz juga memberikan jaminan perlindungan buat Rut selama dia memungut jelai di ladangnya, yaitu para pekerja laki-lakinya tidak akan mengganggu Rut. Boaz memperingatkan para pekerjanya (ay. 15-16) dan memberitahukan jaminan perlindungannya kepada Rut (ay. 8-9). Memang gangguan terhadap para wanita, utamanya janda, banyak terjadi. Naomi juga memperingatkan Rut (ay, 22). Alkitab pun mencatat bentuk eksploitasi terhadap kaum lemah (Ayub 24:21; Maz. 94:6; Yes. 1:23; 10:2; Mal. 3:5) walaupun hukum perlindungan terhadap kaum lemah telah jelas dicatat (Kel. 22;21-24; Ul. 10:17-19; 14:28-29; 27:19).

Aplikasi dari Rut 2

Melihat cara kerja Allah pada Naomi dan Rut di pasal ini seharusnya membuat manusia terkagum dengan variasi cara Allah memelihara umat-Nya (providensia Allah). Allah bekerja dengan cara yang kreatif, tidak monoton, tidak terlihat untuk membawa kebaikan bagi rencana-Nya. Di sisi lain providensia Allah ini membuat manusia merasa aman bahwa di tengah teriakan dan seruan manusia atas ‘kediaman’ Allah, Dia tetap bekerja dengan caraNya sendiri. Providensia Allah ini juga seharusnya membuat manusia semakin peka untuk dapat mengenali kreatifitas bentuk pertolonganNya.

Allah bekerja dengan cara yang teratur, penuh pasti namun juga kreatif.  Amin. 

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community