Eksposisi Filipi 2:12-13

Posted on 27/09/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/eksposisi-filipi-2-12-13.jpg Eksposisi Filipi 2:12-13

Jika kita mengamati sejarah gereja kita akan mendapati bahwa gereja Tuhan seringkali ditarik pada dua ekstrim: legalisme dan antinomianisme. Legalisme mengajarkan bahwa keselamatan dan berkat Tuhan ditentukan oleh usaha manusia. Kesalehan manusia menjadi kunci untuk memperoleh semua berkat rohani ini. Di sisi lain, antinomianisme meyakini bahwa orang-orang Kristen tidak lagi terikat pada hukum Taurat. Di dalam Kristus kita telah menerima semua berkat rohani, karena itu kita bebas berbuat apa saja.

Bagaimana kita seharusnya memahami isu ini? Apakah kita memiliki andil dalam keselamatan? Jika iya, seberapa jauh andil tersebut? Jika tidak, apakah itu berarti kita tidak perlu berbuat baik? Intinya, bagaimana kita memahami kedaulatan dan kasih karunia Allah dalam kaitan dengan tanggung-jawab manusia.

Teks kita hari ini merupakan salah satu teks yang paling eksplisit menyinggung tentang ketegangan tadi. Paulus menasihati jemaat Filipi untuk mengerjakan keselamatan mereka melalui ketaatan (ayat 12), tetapi dia juga menegaskan bahwa semua usaha itu merupakan pekerjaan Allah dalam diri mereka (ayat 13). Jadi, bagaimana kita memahami keduanya?

 

Ketaatan manusia (ayat 12)

Penerjemah LAI:TB meletakkan kata sambung “karena itu” (hōste) di bagian tengah, sedangkan hampir semua versi Inggris meletakkannya di bagian paling awal. Dari sisi sintaks Yunani, pilihan mayoritas versi memang lebih tepat dan bermanfaat. Bagian ini memang berkaitan dengan bagian sebelumnya (ayat 5-11). Poin keterkaitan terletak pada ide tentang “ketaatan” (2:8, 12). Ketaatan membawa kita pada ujung yang manis. Akhir dari ketaatan Yesus Kristus adalah pemuliaan oleh Bapa (2:9-11). Akhir dari ketaatan kita adalah keselamatan kita (2:12).

Pernyataan di atas tentu saja tidak berarti bahwa ketaatan kita mengandung agenda tersembunyi untuk kepentingan kita. Bukan berarti bahwa motivasi ketaatan adalah berkat Tuhan. Poin yang ingin disampaikan adalah ini: ketaatan tidak pernah berhenti pada dirinya sendiri. Di dalam kedaulatan dan anugerah-Nya Allah merespon ketaatan kita dengan kebaikan-Nya. Ketaatan tidak pernah berjalan sendirian atau berhenti pada dirinya sendiri.

Ketaatan merupakan bagian dari “mengerjakan” (katergazomai) keselamatan. Mayoritas versi Inggris dengan tepat menerjemahkan kata ini dengan “work out,” bukan “work for”. Ketaatan kita bukan syarat untuk dibenarkan maupun diselamatkan. Kebenaran dan jaminan keselamatan sudah diberikan di awal. Kesempurnaan karya penebusan Kristuslah yang menjadi landasan.

Kebenaran di atas tentu saja tidak bermaksud untuk mengerdilkan partisipasi manusia dalam pengudusan. Melalui ketaatan, kita “mencapai atau mendapatkan” (katergazomai) keselamatan yang penuh. Peranan manusia tidak ditiadakan. Jadi, walaupun keselamatan merupakan anugerah Allah dari awal sampai akhir, tetapi hal itu tidak berarti bahwa manusia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Anugerah Allah juga terlihat dari cara-Nya melibatkan manusia dalam kepastian keselamatan.

Ketaatan seperti apa yang diharapkan oleh Allah di bagian ini? Paulus menyediakan tiga penjelasan untuk ketaatan di sini.

Pertama, ketaatan yang konsisten. Paulus mengakui ketaatan jemaat Filipi. Dia menggunakan kata keterangan “senantaisa” (pantote, LAI:TB “senantiasa”) untuk menggambarkan ketaatan mereka. Walaupun jemaat Filipi sudah taat, Paulus tetap memberikan nasihat: “tetaplah kerjakan keselamatanmu”. Bentuk imperatif present di sini menyiratkan perintah yang harus dilakukan terus-menerus.

Ketaatan bukanlah pencitraan. Pencitraan dengan mudah hilang jika tidak ada orang. Ketaatan bukanlah keterpaksaan. Ketaatan seperti ini mudah ditinggalkan ketika tidak ada pengawasan. Ketaatan adalah sebuah gaya hidup di dalam Tuhan. Kristus bukan hanya menyelamatkan kita dari upah dosa, tetapi juga dari kuasa dosa.    

Kedua, ketaatan yang tidak bergantung pada manusia. Paulus menikmati relasi yang sangat baik dengan jemaat di Filipi. Mereka secara konsisten mendukung pelayanan Paulus (2:25-30; 4:10-18). Kedekatan seringkali berujung pada ketergantungan. Kekaguman terhadap rohaniwan dengan cepat berubah menjadi pengultusan. Hal seperti ini tidak diinginkan oleh Paulus. Dia menasihati jemaat untuk tetap taat terlepas dari dia hadir atau tidak hadir (2:12), dalam arti entah dia akhirnya dibebaskan dari penjara atau dijatuhi hukuman mati (1:12-26).

Pertumbuhan rohani memang terjadi secara komunal. Ada rekan, ada mentor yang Tuhan sediakan. Walaupun demikian, pertumbuhan spiritual yang sehat tidak boleh ditentukan oleh relasi personal yang dekat. Manusia tidak kebal terhadap dosa. Manusia bisa berubah oleh beragam keadaan. Kalaupun mereka bisa bertahan, belum tentu mereka berumur panjang. Kalaupun mereka berumur panjang, belum tentu Tuhan selalu meletakkan mereka di komunitas yang sama.

Ketiga, ketaatan yang penuh hormat. Jemaat Filipi dinasihati untuk selalu taat dengan takut dan gentar (met’ phobou kai tromou). Ungkapan ini menyiratkan perasaan dan sikap hormat. Bagaimana kita bisa sembarangan terhadap Tuhan yang memiliki nama di atas segala nama yang kepada-Nya setiap lutut bertelut dan lidah mengaku (2:9-11)? Kemuliaan-Nya yang sempurna seharusnya menjadi alasan yang cukup bagi kita untuk menghormati Dia.

Takut dan hormat di sini jelas bukan ketakutan karena hukuman atau ketaatan karena keterpaksaan. Kristus yang mulia (2:9-11) adalah Kristus yang sama yang menyediakan penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan (2:1) dan mengambil rupa seorang hamba serta merendahkan diri-Nya (2:6-8). Ada transendensi (keterpisahan)sekaligus imanensi (kedekatan) Kristus bagi kita.

Hormat berarti tidak sembarangan. Memang bukan ketakutan (karena hukuman), tetapi tetap ada keseriusan dan kesungguhan dalam ketaatan. Kita menyadari siapa dia dan siapa kita. Sebagai Pencipta dan Penebus kita, Dia layak menerima ketaatan dari ciptaan dan umat tebusan.

 

Karya Allah dalam ketaatan kita (ayat 13)

Jika kita berhenti pada ayat 12, kita mungkin akan mendapat kesan bahwa peranan manusia begitu dominan dalam keselamatan. Manusia menjadi penentu keselamatan mereka sendiri. Kesan ini tentu saja bertabrakan dengan ajaran Paulus yang konsisten tentang keselamatan sebagai anugerah Allah yang diterima melalui iman (Ef. 2:8-9; Rm. 3:21-31).

Untuk menghindari kesalahpahaman seperti di atas, Paulus dengan cepat menerangkan kepada jemaat Filipi: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (2:13). Penekanan terhadap peranan Allah di sini dinyatakan dalam beberapa cara. Dalam teks Yunani kata “Allah” (theos) muncul di bagian paling awal. Paulus juga tidak hanya mengatakan: “Allah mengerjakan”. Dia memberi penekanan: Adalah Allah yang mengerjakan itu di dalam diri jemaat Filipi. Paulus tidak ingin jemaat Filipi merasa diri berjasa dalam keselamatan. Di balik ketaatan mereka (2:12) ada Pribadi lain yang mengerjakan semuanya, yaitu Allah (2:13).

Konsep ini sebenarnya bukan baru muncul sekali ini di sini. Di awal surat Paulus sudah mengajarkannya. Dia memuji persekutuan (baca: partisipasi) jemaat Filipi dalam pemberitaan Injil (1:5). Bagaimanapun, objek ucapan syukur Paulus tetap Allah (1:5a “Aku mengucap syukur kepada Allahku”). Dia juga tidak lupa menegaskan bahwa: “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (1:6). Jadi, di balik partisipasi jemaat Filipi ada partisipasi Allah. Allah yang memulai, meneruskan dan menyelesaikannya.

Bagaimana keterlibatan Allah dalam ketaatan jemaat Filipi (2:13)? Yang terutama, keterlibatan ini bersifat personal. Paulus memberi penekanan pada “Allah,” bukan hanya kuasa-Nya. Dia bisa saja mengatakan: “karena kuasa Allah diberikan kepada kita” atau sejenisnya. Sebaliknya, Paulus menegaskan: “Adalah Allah yang mengerjakan…” Walaupun pribadi dan kuasa Allah tidak boleh dipisahkan, kita perlu membedakan keduanya. Adalah lebih penting bagi kita untuk mendapatkan pribadi-Nya daripada kuasa-Nya.

Keterlibatan Allah juga tidak terbatas pada kemampuan, tetapi juga kemauan (LAI:TB “kemauan maupun pekerjaan”). Peranan yang luas ini seharusnya tidak terlalu mengagetkan. Kelahiran baru terjadi karena kehendak Allah, bukan manusia (Yoh. 1:13). Pertobatan terjadi karena Allah membuka hati orang berdosa (Kis. 16:14). Pemberian belas kasihan dan kemurahan juga ditentukan oleh kehendak Allah (Rm. 9:16). Jikalau fase awal keselamatan ditentukan oleh kehendak Allah, berlebihankah jika Allah mengondisikan hati anak-anak-Nya untuk menaati Dia? Tentu saja tidak.

Poin terakhir, keterlibatan Allah bersumber dari kebaikan-Nya. Allah mengerjakan kemauan dan kemampuan dalam diri kita berdasarkan kerelaan-Nya (LAI:TB, eudokia). Terjemahan LAI:TB untuk eudokia di sini kurang begitu kuat. Kata ini mengandung unsur kebaikan (eu-). Bukan sekadar kerelaan, kehendak atau tujuan, tetapi maksud yang baik. Kata yang sama sudah muncul sebelumnya ketika Paulus membandingkan para pemberita Injil yang digerakkan oleh kedengkian dan perselisihan dengan yang digerakkan oleh “maksud baik” (eudokia, 1:15).

Ketaatan bukanlah perbudakan. Perintah dan larangan dari Tuhan muncul dari maksud Allah yang baik bagi kita. Aturan Tuhan bukan belenggu bagi kebebasan dan kebahagiaan. Sebaliknya, ketaatan merupakan jalan menuju kebebasan dan kebahagiaan yang sejati. Ketika kita memuliakan Allah, kita akan menikmati Dia. Allah tidak anti terhadap kebahagiaan manusia. Di dalam Dia ada kenikmatan yang sungguh dan penuh. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community