Eksposisi Filipi 1:9-11

Posted on 28/07/2019 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/eksposisi-filipi-1-9-11.jpg Eksposisi Filipi 1:9-11

Tidak setiap orang Kristen rajin berdoa. Yang rajin berdoa belum tentu rajin berdoa syafaat bagi orang lain. Yang rajin berdoa syafaat belum tentu memilih pokok doa yang tepat.

Paulus sama sekali tidak termasuk ke dalam salah satu kategori di atas. Dia rajin berdoa berdoa syafaat bagi jemaat di Filipi (1:3-4). Dia juga tahu apa yang paling mereka perlukan (1:9a). Dia pun memahami mengapa pokok doa ini sangat penting bagi mereka (1:9b-11).

 

Doa syafaat Paulus (ayat 9a)

Paulus melanjutkan ucapan syukurnya (1:3-8) dengan doa (1:9-11). Hal ini tidak terlalu mengagetkan. Hampir semua penulis surat kuno mengikuti pola semacam ini. Ucapan syukur diikuti oleh doa.

Yang berbeda adalah objek doa. Bukan kepada dewa-dewa, tetapi kepada Allah (1:3) yang dikenal melalui Yesus Kristus (1:6, 8). Perbedaan lain terletak pada isi doa. Kebanyakan doa-doa kuno hanya berkaitan dengan kesehatan, perlindungan, dan kemakmuran. Paulus berdoa agar kasih jemaat Filipi semakin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian.

Tidak ada yang lebih benar daripada mendoakan orang lain supaya memiliki hal yang terbesar, yaitu kasih (1Kor. 13:13). Jika kasih memang yang paling utama dalam kehidupan, mengapa kita tidak menjadikan ini sebagai pokok doa utama? Jika kasih memang yang paling besar dalam kehidupan, mengapa kita tidak mendoakan agar ini terlihat semakin besar di dalam hidup seseorang? Itulah yang didoakan oleh Paulus!

Secara hurufiah, ayat 9a bisa diterjemahkan sebagai berikut: “Dan aku mendoakan ini: bahwa kasih kalian menjadi melimpah bahkan lebih besar dan lebih besar lagi”. Struktur kalimat yang ada menyiratkan beberapa penekanan sekaligus. Kata keterangan eti bisa diterjemahkan “tetap, bahkan, atau terus-menerus” (LAI:TB tampaknya tidak menerjemahkan kata ini; NASB “may abound still more and more”). Kata “melimpah” (perisseuō) jelas menyiratkan jumlah yang besar. Inipun masih ditambah dengan “lebih besar dan lebih besar [lagi]” (mallon kai mallon).

Tidak cukup bagi jemaat Filipi untuk memiliki kasih yang biasa. Kasih ini harus melimpah dan tidak boleh berhenti bertambah besar. Bagi jemaat yang sedang menghadapi krisis harmoni (bdk. 4:2; 2:1-4), doa ini jelas sangat relevan. Mereka perlu memiliki dan menunjukkan kasih yang lebih besar. Semakin besar persoalan yang ada, semakin besar pula kasih yang diperlukan untuk mengalahkannya.

Bagi sebagian orang, kasih dianggap berhubungan hanya dengan perasaan. Apa yang dirasakan, apa yang ada dalam hati. Aspek emosional ini jelas penting. Namun, kasih yang benar melibatkan pengetahuan dan pengertian. Itulah sebabnya Paulus menambahkan: “dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (1:9a).

Kata “pengetahuan” (epignōsis) muncul 15 kali dalam tulisan Paulus. Hampir semua pemunculan ini dalam konteks pengetahuan/pengenalan tentang Allah (Ef. 1:17; Kol. 1:10) atau Kristus (Ef. 4:13; Kol. 2:2). Kata ini memiliki kaitan erat dengan wahyu atau hikmat (Ef. 1:17; Kol. 1:9). Pendeknya, pengetahuan ini bukan seperti pengetahuan secara umum (secara ilmiah). Ini merujuk pada pengetahuan rohani. Itulah sebabnya mungkin penerjemah LAI:TB sengaja menambahkan “pengetahuan yang benar” walaupun kata sifat “yang benar” tidak muncul dalam teks Yunani (NASB “real knowledge”).

Selain di dalam pengetahuan (epignōsis), kasih jemaat Filipi juga perlu semakin melimpah di “dalam segala pengertian” (LAI:TB, pasÄ“ aisthÄ“sei). Dalam Perjanjian Baru, kata benda aisthÄ“sis hanya muncul sekali, yaitu di ayat ini. Berdasarkan ayat 10 (lihat uraian selanjutnya) dan kedekatan artinya dengan kata aisthÄ“tÄ“rion di Ibrani 5:14 (“pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat”), para ahli cenderung memahami aisthÄ“sis sebagai kemampuan untuk membedakan atau menilai sesuatu (lihat mayoritas versi Inggris). Jika demikian, kita dapat membedakan epignōsis dengan aisthÄ“sis sebagai berikut: yang pertama lebih bersifat umum dan konseptual, sedangkan yang kedua lebih khusus dan praktikal.

Jadi, kasih bukan sekadar perasaan tetapi juga pengetahuan dan pengertian untuk membedakan banyak hal. Kasih yang besar harus dibarengi dengan pengenalan yang benar. Kasih tanpa pengetahuan adalah penipuan perasaan, sedangkan pengetahuan tanpa kasih adalah pemupukan kesombongan.

 

Tujuan doa syafaat (ayat 9b-11)

Bagian ini menjelaskan tujuan dari doa syafaat Paulus. Memiliki kasih yang dibalut dengan pengetahuan dan pengertian bukanlah tujuan akhir. Ini hanyalah sarana untuk mencapai yang lain. Ada tiga tujuan, masing-masing diletakkan secara progresif. Klimaksnya ada di bagian akhir.

Pertama, supaya dapat memilih apa yang baik (ayat 10a). Kata “memilih” (dokimazō) lebih tepat diterjemahan “membedakan” (NIV). Kata ini seringkali mengandung arti menguji atau memilih/mengetahui sesuatu melalui sebuah pengujian.

Yang dipilih adalah hal-hal yang baik (ta diapheronta, LAI:TB). Versi Inggris menggunakan terjemahan “hal-hal yang istimewa” (KJV/NASB/ESV) atau “hal-hal yang terbaik” (NIV). Secara hurufiah, kata ini merujuk pada hal-hal yang membedakan sesuatu dari yang lainnya (Rm. 2:18; 1Kor. 15:41; Gal. 2:6; 4:1). Arti yang digunakan mungkin adalah “hal-hal yang esensial”. Apa yang benar-benar penting. Apa yang benar-benar berguna.

Kedua, supaya menjadi sempurna di akhir zaman (ayat 10b-11a). Kesempurnaan ini dijelaskan dalam tiga cara: suci (eilikrinēs), tak bercacat (aproskopoi) dan penuh dengan buah kebenaran (peplērōmenoi karpon dikaiosynēs). Kata pertama lebih mengarah pada kemurnian (NIV/ESV, lihat 2Pet. 3:1), bukan kesungguhan (kontra KJV/NASB). Penggunaan kata ini di luar Alkitab merujuk pada kemurnian secara moral.

Kata “tak bercacat” (aproskopoi) dalam tulisan Paulus hanya muncul di sini dan 1 Korintus 10:32. Arti yang terkandung di dalamnya adalah “syak” atau “batu sandungan”. KJV dengan tepat memilih “without offence”. Jadi, aproskopoi bukan berarti sempurna, tetapi tanpa cela. Tidak ada ruang bagi orang lain untuk mengatakan yang buruk tentang kita.

Yang agak sukar untuk dipahami adalah “buah kebenaran”. Ada banyak cara untuk menerjemahkan frasa karpos dikaiosynÄ“: “buah, yaitu kebenaran”, “buah yang dihasilkan oleh kebenaran” atau “buah yang benar”. Kata “kebenaran” (dikaiosynÄ“) sendiri bisa merujuk pada kebenaran secara moral (kebaikan) atau legal (pembenaran/status benar di hadapan Allah). Walaupun pemunculan frasa yang sama di Septuaginta/LXX (Ams. 3:9; 11:30; Am. 6:12) mengarah pada makna moral, tetapi kebenaran tersebut tetap tidak bisa dipisahkan dari karya Yesus Kristus (dia IÄ“sou Christou, ayat 11 “oleh Yesus Kristus”). Maksudnya, perbuatan kita yang baik di mata orang lain (secara moral/etikal) didasarkan pada karya penebusan Kristus. Kita berbuat benar karena sudah dibenarkan.

Ketiga, supaya Allah dimuliakan (ayat 11b). Secara konsisten Paulus selalu melihat segala sesuatu secara teosentris (berpusat pada Allah). Kemuliaan dan pujian bagi Allah adalah tujuan ultimat. Yang lain hanyalah sarana.

Kita tidak akan mengalami kesulitan untuk mengerti mengapa Paulus perlu mengakhiri bagian ini dengan kemuliaan dan pujian kepada Allah. Jika kasih jemaat Filipi semakin melimpah dalam pengetahuan dan pengertian, hal itu terjadi sebagai jawaban doa dari Allah (ayat 9a “Dan inilah doaku”). Dialah yang mengerjakannya bagi jemaat. Di samping itu, buah kebenaran yang akan dihasilkan juga bukan hasil usaha manusia. Buah itu diperoleh melalui karya Kristus (ayat 11a). Jika Allah yang melakukan semuanya, bukankah Dia juga yang patut untuk menerima segala kemuliaan dan pujian? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community