Eksposisi Filipi 1:27-28

Posted on 26/01/2020 | In Teaching | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/eksposisi-filipi-1-27-28.jpg Eksposisi Filipi 1:27-28

Banyak orang berpikir bahwa Injil hanya untuk orang-orang yang belum mengenal Kristus. Injil diperlukan untuk mendapatkan keselamatan kekal di dalam Dia. Dengan kata lain, Injil hanya dianggap sebagai instrumen keselamatan. Sesudah memasuki fase keselamatan, Injil menjadi kurang relevan.

Konsep di atas tentu saja sangat salah. Injil bukan hanya menyelamatkan, tetapi memampukan orang Kristen untuk menghidupi keselamatan tersebut. Kuasa Injil yang menyelamatkan juga menjadi kuasa yang terus-menerus mengubahkan.

Dalam teks hari ini Paulus mengajarkan salah satu wujud dari kehidupan yang digerakkan oleh Injil. Bagaimana kehidupan yang diubahkan oleh Injil? Apa saja bentuk konkritnya?

 

Hidup sesuai dengan Injil (ayat 27a)

Sesuai teks Yunani, bagian ini merupakan inti dari ayat 27-28. Paulus menasihatkan jemaat di Filipi untuk “hidup berpadanan dengan Injil Kristus” (LAI:TB).

Kata kerja “hidup” (politeuomai) dalam konteks ini kemungkinan besar menyiratkan gaya hidup sebagai seorang warga negara surga. Di 3:20 Paulus menggunakan kata benda politeuma dalam kaitan dengan status jemaat Filipi sebagai warga surga. Sama seperti setiap penduduk suatu negara memiliki gaya hidup tertentu, demikian pula dengan warga surga.

Gaya hidup yang dimaksud adalah “berpadanan dengan Injil” (axiōs tou euangeliou tou Christou). Secara hurufiah bagian ini bisa diterjemahkan “layak bagi Injil”. Kemuliaan salib seyogyanya diwujudkan dalam kehidupan yang mulia pula. Jangan sampai kehidupan yang sudah diselamatkan oleh Injil ternyata justru diisi dengan perilaku yang bertabrakan dengan Injil (3:18-19).

Sebagai sebuah gaya hidup, perilaku yang diharapkan harus muncul secara konsisten. Bukan sekadar pencitraan, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Jemaat Filipi perlu secara menghidupi Injil, terlepas dari keputusan pengadilan yang dinantikan oleh Paulus (“apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar”). Yang penting bukanlah Paulus, melainkan Injil. Mereka bukan hanya meneladani Paulus, tetapi menghidupi Injil yang diberitakan oleh Paulus.

Sebagai sebuah gaya hidup, perilaku ini bukan hanya personal (dilakukan oleh seseorang atau sebagian orang). Gaya hidup ini harus komunal. Setiap anggota komunitas menunjukkan perilaku yang sama.

 

Wujud kehidupan yang layak bagi Injil (ayat 27b-28)

Injil mengubahkan setiap aspek kehidupan kita. Tidak ada satupun yang dikecualikan. Namun, dalam konteks ini Paulus hanya berfokus pada satu hal saja: kesatuan dalam roh. Jemaat Filipi dinasihati untuk “berdiri teguh dalam satu roh” (stÄ“kete en heni pneumati).

Kesatuan ini bukan hasil usaha orang-orang Kristen. Melalui Injil, Allah sudah menyediakan pelbagai kesatuan rohani: satu tubuh, iman, pengharapan, dan baptisan (Ef. 4:3-6). Kita sudah diletakkan di dalam kesatuan yang luar biasa ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah tetap berada di tempat itu. Tetap teguh berdiri di sana.

Apakah perintah ini sukar untuk dilakukan? Seharusnya tidak! Semua yang kita perlukan sudah disediakan di dalam Kristus. Paulus mengatakan bahwa di dalam Kristus “ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan” (2:1). Pengalaman kita bersama dengan Kristuslah yang menjadi modal besar bagi ketaatan kita.

Jadi, kita bukan hanya sudah diletakkan di dalam kesatuan roh, tetapi kita juga dilengkapi dengan berbagai kapasitas untuk menjaga kesatuan itu. Tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.

Bagaimana wujud konkrit dari “berdiri teguh dalam satu roh”? Paulus menggunakan dua anak kalimat (partisip) untuk menjelaskan hal ini (ayat 27b-28). Dalam terjemahan LAI:TB poin gramatikal ini tidak terlihat jelas. Bahkan penambahan kata sambung “dan” di depan frase “sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil” bisa menimbulkan kesan yang keliru, seolah-olah “berdiri teguh dalam satu roh” dan “sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil” secara gramatikal sejajar, padahal tidak demikian.      

Wujud konkrit pertama dari kesatuan roh adalah “sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil” (ayat 27c). Paulus tidak menerangkan apa yang dia maksud dengan “berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil”. Mungkin dia sedang memikirkan perjuangan untuk memberitakan Injil (1:6, 12-18, 30). Mungkin dia sedang memikirkan  perjuangan untuk memertahankan iman di tengah penganiayaan yang datang (1:28-29).

Memilih di antara dua opsi tersebut tidak mudah. Petunjuk dalam teks sangat terbatas. Jika kalimat Paulus yang ambigu memang disengaja, kita mungkin sebaiknya tidak usah memilih di antara dua opsi tadi. Bisa saja Paulus memikirkan dua-duanya sekaligus. Perjuangan sama-sama diperlukan, baik untuk memertahankan iman (keteguhan iman) maupun memunculkan iman (pekabaran Injil).

Yang penting untuk ditekankan di sini adalah bagaimana perjuangan itu dilakukan. Kata “perjuangan” jelas menyiratkan usaha yang serius. Tidak ada ruang untuk main-main atau sembarangan. Usaha ini juga harus dilakukan secara terus-menerus (partisip present synathlountes). Satu lagi, usaha ini juga memerlukan keharmonisan (“sehati sejiwa”). Jangan memberi ruang untuk konflik dan kepentingan diri sendiri (bdk. para pekabar Injil di ayat 15-18 yang mempunyai motivasi bertentangan).

Wujud konkrit yang kedua dari kesatuan roh adalah “tidak digentarkan sedikitpun oleh lawan” (ayat 28). Dalam bagian ini Paulus juga tidak memberikan keterangan yang jelas tentang identitas lawan. Beberapa penafsir menduga musuh jemaat Filipi adalah para guru palsu (3:1-3). Namun, dugaan ini kurang kuat. Tidak ada indikasi bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menekan atau menganiaya jemaat di sana.

Dugaan yang lebih baik adalah pemerintah dan masyarakat Filipi yang menentang kekristenan. Sejak awal pemberitaan Injil di kota itu, Paulus sudah mendapatkan tekanan yang berat dari mereka (bdk. Kis. 16:19-24). Dia bahkan sempat dijebloskan ke dalam penjara. Situasi ini tampaknya tidak jauh berubah pada saat surat Filipi dituliskan. Penderitaan jemaat Filipi pada waktu itu disamakan dengan penderitaan Paulus dahulu pada waktu memulai pelayanan di Filipi (ayat 30a “dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku”).

Bagi para lawan, sikap jemaat Filipi yang tetap kukuh menghidupi dan membagi Injil di tengah tekanan mungkin dipandang sebagai tanda kebinasaan. Orang-orang Kristen dianggap melakukan misi bunuh diri yang konyol. Mereka tidak mungkin sanggup bertahan dalam penderitaan. Sekalipun mereka bertahan, mereka juga harus membayar harganya yang mahal.

Di mata Allah, situasi sangat berlawanan. Apa yang dianggap sebagai tanda kebinasaan justru sebagai tanda keselamatan. Apa yang membuat orang-orang Kristen berani membayar harga yang mahal untuk iman mereka? Injil Yesus Kristus! Iman mereka muncul dari Injil. Semua yang mereka lakukan adalah untuk meluaskan Injil. Keberanian mereka untuk membayar harga dalam menghidupi dan membagi Injil menunjukkan bahwa kuasa Injil sudah sedemikian menguasai mereka. Orang yang sudah diberi kehidupan baru melalui Injil pasti berani membayar harga untuk menghidupi dan membagi Injil tersebut! Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community