Eksposisi 1 Korintus 15:9-10

Posted on 22/01/2017 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Eksposisi-1-Korintus-15-9-10.jpg Eksposisi 1 Korintus 15:9-10

Dalam khotbah-khotbah sebelumnya kita sudah belajar bahwa kebangkitan Kristus dari antara orang mati diteguhkan melalui kitab suci (15:3-4), para saksi mata (15:5-6), dan transformasi hidup dari saksi-saksi tersebut (15:7-8). Salah satu saksi mata yang mengalami perubahan hidup adalah Paulus sendiri. Teks yang akan kita kupas hari ini menerangkan lebih jauh tentang transformasi ini.

Kasih karunia Allah

Walaupun bagian ini bertutur tentang kehidupan Paulus, para pembaca tidak akan keliru satu hal: aktor utama tetaplah Allah. Kata “kasih karunia” (charis) muncul tiga kali di ayat 10. Bagian akhir ayat ini “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” benar-benar tidak memberi ruang sedikit pun bagi pembaca untuk membanggakan Paulus.

Melalui teks ini Paulus ingin mengajarkan bahwa kasih karunia Allah bukan hanya tidak boleh dilupakan, melainkan juga harus diletakkan di depan. Ketika kesaksian hidup kita memberi kesan lebih kuat kepada orang lain tentang betapa hebatnya kepandaian dan perjuangan kita, kesaksian itu telah merampas posisi kasih karunia. Kesan terdalam yang seharusnya menancap pada pikiran orang lain adalah tentang kehebatan Allah dalam mengasihi kita.

Banyak orang memahami kasih karunia hanya sebatas pemberian dari Allah. Anugerah adalah apa yang diberikan oleh Allah. Pemahaman seperti ini memberi kesan pasif pada kasih karunia. Kasih karunia adalah objek yang diberikan.

Tidak demikian halnya dengan Paulus. Di mata Paulus, kasih karunia Allah tampak lebih aktif. Kasih karunia adalah sarana perubahan (lit. “oleh kasih karunia”; LAI:TB “karena kasih karunia”). Kasih karunia yang melakukan sesuatu melalui Paulus (“tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”).

Jika seseorang memahami kasih karunia secara terbatas - hanya sebagai sesuatu yang pasif – ia mungkin akan berpikir bahwa kasih karunia Allah dapat ditolak atau dibatalkan oleh manusia. Kasih karunia hanya dinilai sebagai sebuah tawaran atau pilihan. Semua bergantung pada manusia, entah ia bersedia menerima atau menolak tawaran ilahi itu.

Konsep semacam ini tidak ada dalam pikiran Paulus. Kasih karunia bersifat menentukan. Ia mengatakan bahwa kasih karunia Allah kepadanya tidak sia-sia (ou kenē egenēthē, lit. “tidak dijadikan kosong”). Subyek dari kalimat pasif ini adalah Allah (pasif ilahi). Allah memastikan bahwa kasih karunia-Nya akan sampai pada tujuan. Pilihan ilahi yang Allah sudah tetapkan bagi Paulus sejak ia dalam kandungan (Gal 1:15) pada akhirnya digenapi.

Dalam kasus pertobatan dan pelayanan Paulus, kasih karunia itu bahkan datang pada saat yang tidak disangka-sangka. Di mata Paulus, kedatangan kasih karunia tersebut malah terlalu cepat, yang digambarkan dengan kelahiran seorang bayi prematur (ayat 8). Semua terjadi seperti yang direncanakan oleh Allah.

Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa kasih karunia bekerja menabrak kehendak seseorang. Kasih karunia justru memampukan seseorang untuk merengkuhnya secara sukarela. Kasih karunia tidak menuntut respons, melainkan menumbuhkan respons. Di sinilah kehendak bebas manusia diselaraskan dengan kehendak kekal dan berdaulat milik Allah.

Apa yang dikerjakan oleh kasih karunia Allah?

Seperti sudah disinggung secara sekilas di atas, sebagian orang memandang kasih karunia hanya sebatas objek (pemberian dari Allah). Pasif, bukan aktif. Kasih karunia dilihat sebagai hasil dari suatu tindakan.

Konsep seperti ini tidak tepat. Keseluruhan proses dari awal sampai akhir hanya dimungkinkan oleh kasih karunia Allah. Allah tidak hanya memulai sesuatu yang baik dalam diri manusia, lalu membiarkan proses selanjutnya di tangan mereka. Allah yang kita sembah adalah Allah yang memulai dan menyempurnakan (Flp 1:6). Poin inilah yang diajarkan oleh Paulus di 1 Korintus 15:9-10. Kasih karunia bekerja tanpa jeda. Ia tidak pernah rehat maupun tamat. Senantiasa ada, selalu bekerja.

Kasih karunia menumbuhkan kesadaran tentang ketidaklayakan (ayat 9). Paulus mengakui bahwa dia bukan hanya yang terakhir (ayat 8), tetapi juga terkecil (ayat 9a). Ungkapan populer “the last but not the least” (yang terakhir tetapi bukan yang terkecil) tampaknya tidak berlaku dalam kasus ini. Pengakuan ini bahkan diucapkan oleh Paulus dengan penekanan: ia menambahkan subjek eksplisit egō, dan meletakkannya di awal kalimat. Kata kerja present tense yang digunakan (versi Inggris “I am the least of the apostles”) menunjukkan bahwa kesadaran ini bukan hanya ada di masa lalu, tetapi terus-menerus ada. Di antara semua rasul yang ada, Paulus selalu merasa diri sebagai yang terkecil.

Bukan hanya itu. Ia juga merasa diri tidak layak dipanggil sebagai rasul (ayat 9b hos ouk eimi hikanos kaleisthai apostolos, lit. “bahwa aku tidak layak dipanggil sebagai rasul”). Ayat ini memberi penegasan yang lebih mendalam tentang kehinaan Paulus. Ia bukan hanya yang terkecil di antara para rasul. Ia bahkan menganggap diri tidak pantas dimasukkan dalam kategori tersebut.

Menurut segala ukuran manusiawi, perasaan tidak pantas ini memang pantas. Paulus bukanlah saksi mata kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus di dunia (bdk. Kis 1:21-22). Ia hanya bertemu dengan Yesus Kristus yang sudah bangkit (Kis 9:1-6).

Masa lalu Paulus sebagai penganiaya jemaat semakin menguatkan ketidaklayakannya (1 Kor 15:9c). Menurut keyakinannya yang lama, Kristus Yesus adalah seorang penyesat dan penghujat Allah. Dalam kenyataannya, ia disadarkan bahwa menentang orang-orang Kristen justru menentang Tuhan sendiri (Kis 9:5b “Akulah Yesus yang kau aniaya itu”). Paulus pun melihat dirinya sebagai penghujat (1 Tim 1:13). Dengan catatan masa lalu seperti ini, ia memang seyogyanya tidak layak menjadi rasul Yesus Kristus. Hanya kasih karunia Allah yang memungkinkan hal itu untuk terjadi.

Kasih karunia memberi kehidupan yang baru (ayat 10a). Pernyataan “aku adalah sebagaimana aku ada sekarang” mengungkap sebuah perubahan dan pergerakan hidup. Paulus sedang membandingkan hidupnya sekarang dengan yang lampau.

Berhenti pada perasaan ketidaklayakan (ayat 9) belum tentu membawa orang pada perubahan. Ada beberapa orang bahkan tenggelam dalam perasaan bersalah yang berlebihan, sehingga menghancurkan dirinya sendiri. Ada pula yang menangisi masa lalunya yang kelam, tetapi mereka tidak mau beranjak dari situasi tersebut. Masa lalu benar-benar menenggelamkan dan membelenggu mereka.

Tidak demikian halnya dengan perasaan bersalah dan tidak layak yang lahir dari kasih karunia Allah. Perasaan kudus ini mengarahkan seseorang pada kehidupan yang baru di dalam Kristus Yesus. Perasaan semacam ini tetap ada, namun bukan sebagai raja. Tetap teringat, namun tidak terikat.

Perubahan hidup menjadi bukti bahwa kasih karunia dalam diri seseorang tidak sia-sia (ayat 10a). Kita tidak tahu siapa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk menerima kasih karunia-Nya. Ketika seseorang sudah menjalani transformasi hidup di dalam Kristus, di situlah kita baru mengetahui bahwa ia menerima kasih karunia Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Yesus Kristus tanpa ditarik oleh Bapa (Yoh 6:37, 44). Siapa saja yang dipanggil dan dibenarkan di dalam Kristus pasti sebelumnya sudah dipilih dan ditentukan oleh Allah sejak kekekalan (Rm 8:29-30).

Kasih karunia membuat kita bekerja keras bagi Tuhan (ayat 10b). Bukti lain bahwa kasih karunia Allah bagi seseorang tidak sia-sia adalah kegigihan orang itu dalam pekerjaan Allah. Kata “bekerja keras” (kopiaō) pada dirinya sendiri sudah mengandung makna yang mencakup kesukaran. Ini bukan cuma bekerja biasa saja (4:12). Di 16:16a Paulus secara jelas mengungkapkan hal ini: “setiap orang yang turut bekerja (synergeō) dan berjerih payah (kopiaō)”. Jika ditambah keterangan “lebih daripada mereka semua” (perissoteron autōn pantōn) makna kesukaran tersebut menjadi semakin kentara.

Di bagian ini Paulus tentu saja tidak sedang menyombongkan dirinya di atas rasul-rasul yang lain. Untuk menghindari kesalahpahaman seperti ini, ia langsung menambahkan “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (ayat 10b). Ia hanya menceritakan kondisi pelayanannya secara jujur dan apa adanya. Kesukaran, penderitaan, dan bahaya memang seolah-olah selalu menyertai Paulus ke mana pun dia ada (2 Kor 11:23-28). Jadi, bukan hanya kasih karunia yang menyertai dia, tetapi juga semua derita dan bahaya.

Dari pernyataan Paulus di ayat 10b kita juga belajar bahwa kasih karunia tidak meniadakan kelemahan dan kesusahan. Hidup di dalam kasih karunia bukan berarti hidup tanpa bahaya. Sebaliknya, di dalam kelemahanlah kita menemukan kasih karunia sudah dicurahkan secara cukup bagi kita (2 Kor 12:7-10). Penderitaan bukan bukti ketidakadaan kasih karunia dalam hidup seseorang. Justru ketangguhan dan ketabahan seseorang dalam menjalani semua kesusahan itu merupakan bukti kuat bahwa kasih karunia sedang bekerja dalam dirinya.

Saudara mungkin tidak terlalu pandai berargumentasi untuk menerangkan kebangkitan Yesus Kristus secara rasional. Apologetika mungkin tampak begitu sukar bagi Saudara. Jangan berkecil hati. Kita semua dapat memberikan bukti yang kuat bagi kebangkitan Kristus, yaitu transformasi hidup kita melalui berita Injil dan kasih karunia Allah. Kesalehan kita akan sukar terbantahkan. Kegigihan kita dalam pelayanan akan menjadi bukti menawan yang sulit ditentang. Marilah kita menunjukkan kepada dunia bahwa oleh kasih karunia Allah berita injil tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah berkuasa. Dulu maupun sekarang. Soli Deo Gloria.  

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community