Eksposisi 1 Korintus 13:4-7 (Bagian 3)

Posted on 25/01/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Eksposisi 1 Korintus 13:4-7 (Bagian 3)

Dalam khotbah sebelumnya sudah disinggung bahwa daftar karakteristik kasih di 13:4-7 kemungkinan diperoleh Paulus dari sumber lain, namun sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keadaan jemaat Korintus. Berdasarkan hal ini, penafsiran detil terhadap tiap karakteristik harus memperhatikan persoalan apa yang sedang terjadi di jemaat Korintus.

 

Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain (ou logizetai to kakon)

Frase ou logizetai to kakon diterjemahkan secara berlainan di berbagai versi. Ada yang menerjemahkan “tidak memikirkan yang jahat” (KJV), “tidak mencatat kesalahan-kesalahan” (NIV), “tidak [menyimpan] kepahitan” (RSV/NRSV/ESV), atau “tidak menyimpan kesalahan orang lain” (LAI:TB). Variasi terjemahan ini sangat bisa dipahami. Kata dasar logizomai mempunyai beragam arti: berpikir, menilai, meyakini, dsb.

Untuk mengetahui arti mana yang dimaksud, kita perlu memperhatikan konteks pemunculan kata logizomai. Jika dikaitkan dengan pelanggaran, kesalahan, atau kejahatan orang lain – seperti di 1 Korintus 13:5 - kata logizomai sebaiknya diterjemahkan “memperhitungkan”. Kata ini juga pernah muncul dalam konteks yang sama di tulisan Paulus yang lain (2 Kor 5:19; Rom 4:3-9; ASV/NASB). Dalam dua teks ini, logizomai berarti “memperhitungkan”. Jadi, sama seperti Allah di dalam Kristus Yesus tidak memperhitungkan kesalahan dan pelanggaran kita, demikian pula kita berbuat hal yang sama kepada orang lain yang bersalah kepada kita. Bukankah setiap kali kita memohon ampun kepada Allah, maka Ia melupakan dosa kita dan membuangnya jauh-jauh (Mzm 103:12; 130:3; Yes 43:25)?

Paulus tidak hanya memberikan nasihat. Ia juga mempraktekkan karakteristik kasih ini. Tatkala beberapa jemaat Korintus berbuat salah kepada dia dan jemaat lain, dia memerintahkan untuk memberikan kasih dan pengampunan (2 Kor 2:8-10).

Bagaimana kita bisa mengampuni kesalahan orang lain? Kunci untuk mengampuni orang lain adalah membandingkan kesalahan orang kepada kita dan dosa kita kepada Allah. Pada waktu Petrus menanyakan tentang batasan pengampunan (berapa kali pengampunan harus diberikan), Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang hutang 10 ribu talenta (sekitar 60 juta dinar) dan 300 dinar (Mat 18:21-35). Kalau dosa kita kepada Allah sebesar 10 ribu talenta sudah diampuni, tidak ada alasan bagi kita untuk tetap memperhitungkan kesalahan orang lain kepada kita yang hanya sebesar 300 dinar. Setiap kesalahan orang lain adalah kesalahan baru dan pertama, karena yang lama sudah tidak kita perhitungkan.

 

Kasih itu tidak bersukacita karena ketidakadilan (ou chairei epi tē adikia)

Karakteristik ini sangat berhubungan dengan poin sebelumnya. Pada saat kita terus memperhitungkan kesalahan orang lain, kita akan berusaha untuk membalas orang tersebut. Pada saat pembalasan kita lakukan, kita seringkali melakukan ketidakadilan. Pembalasan kita tidak jarang justru lebih kejam daripada kesalahan orang lain kepada kita. Karena itu Alkitab mengajarkan agar kita menyerahkan pembalasan kepada Allah yang adil (Rm 12:19; Ibr 10:30). Tuhan Yesus pun melakukan hal yang sama. 1 Petrus 2:23 berkata: “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”. Jangankan mengharapkan orang lain menerima sesuatu yang buruk (ketidakdilan), Tuhan Yesus bahkan tidak ingin keadilan (hukuman) Allah ditimpakan pada orang-orang yang menyalibkan Dia. Di atas kayu salib Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Karakteristik kasih semacam ini juga ditunjukkan oleh Paulus kepada jemaat Korintus. Walaupun sebagian jemaat menghakimi Paulus (4:1-5), ia tidak mau memberikan teguran yang mempermalukan mereka (4:14). Ia tetap memposisikan diri sebagai bapa rohani yang menginginkan hal-hal baik untuk anak-anaknya (4:15).

Berbeda dengan Paulus, jemaat Korintus gagal mendemonstrasikan karakteristik kasih sejati ini. Mereka berusaha menyeret sesama orang Kristen ke pengadilan sekuler (6:1-6). Salah satu pihak merasa dirugikan dan tidak bisa menerima hal itu (6:7). Ironisnya, mereka yang tidak mau diperlakukan secara tidak adil adalah orang yang sama yang melakukan pembalasan secara tidak adil kepada pihak lain (6:8).

Walaupun kita tidak membalas, belum tentu kita memiliki kasih. Kita mungkin tidak mau membalas – karena alasan-alasan tertentu – tetapi jika kita bergembira ketika melihat orang lain diperlakukan tidak adil (13:6), kita tetap tidak mempunyai kasih. Sebaliknya, kita harus membela dan bersimpati terhadap siapa pun yang menderita ketidakadilan. Bagaimanakah respon spontan kita pada saat mendengar hal-hal negatif yang menimpa musuh kita? Respon spontan itu seringkali menyingkapkan apa yang ada di dalam hati kita.

 

Kasih itu bersukacita bersama-sama dengan kebenaran (synchairei de tē alētheia)

Sisi lain dari karakteristik “tidak bersukacita karena ketidakadilan” adalah bersukacita karena kebenaran (LAI:TB). Sebagian versi Inggris dengan tepat menerjemahkan “bersama kebenaran” (ASV/NASB/NIV/ESV; 12:26 “turut bersukacita”; juga Flp 2:17-18). Pemilihan kata synchairei di sini mungkin dimaksudkan untuk menekankan bahwa kebenaran bukan hanya sebagai alasan untuk bersukacita, namun sebagai rekan dalam bersukacita. Alternatif lain, kata synchairei hanya berfungsi untuk menegaskan kualitas sukacita.

Pilihan mana pun yang benar, poin yang ingin ditegaskan tetap sama: keterkaitan yang benar antara kasih dan kebenaran, antara sukacita dan kebenaran. Kecintaan kepada kebenaran harus mengalahkan kebencian kita terhadap orang lain. Pedoman hidup kita adalah kebenaran, bukan perasaan kita. Dasar sukacita sejati adalah penegakan kebenaran, bukan pemuasan perasaan kita. Walaupun kebenaran kadangkala mendatangkan perasaan tidak nyaman bagi kita, namun kita tetap bersukacita bersama kebenaran!

Hal yang sama ditunjukkan Paulus kepada jemaat Korintus. Terhadap beberapa jemaat yang berbuat jahat kepadanya, Paulus tetap meresponi dengan baik. Alasan di balik sikap ini adalah “Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran” (2 Kor 13:8).

Apa yang dilakukan Paulus di sini tidak berarti bahwa ia bersikap lunak terhadap kesalahan. Ia tetap menyatakan kebenaran dengan tegas, tanpa mengabaikan kasih. Ia siap bersikap keras (bukan kasar) jika itu diperlukan (4:21 “Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?”). Kepada jemaat di propinsi Galatia ia berkata: “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” (4:16). Jadi, kasih tidak menutup mata terhadap ketidakbenaran dan kesalahan.

Bagi jemaat Korintus, karakteristik kasih “bersukacita bersama kebenaran” merupakan sebuah teguran yang berat. Dalam situasi sosial-budaya yang mengedepankan proteksi dalam kelompok sosial tertentu, sebagian jemaat menggantungkan hidupnya pada kelompoknya. Apabila pemimpin atau anggota kelompok itu melakukan kesalahan, anggota lain sulit untuk memberikan teguran. Mereka tidak berani bersikap tegas terhadap orang cabul yang sudah sedemikian lama merusak gereja (5:1-2). Mereka membiarkan orang-orang kaya melakukan penghinaan terhadap orang-orang miskin pada saat sakramen perjamuan kudus (11:21-22).

 

Bukankah kita juga seringkali melakukan kesalahan yang sama seperti jemaat Korintus? Kita cenderung mengabaikan kebenaran atas nama “kasih”. Kita tidak berani menegur orang lain karena kuatir melukai perasaannya. Jalan kebohongan dan pembiaran kita tempuh untuk menyenangkan orang lain. Kita kuatir kehilangan persahabatan dengan atau penerimaan dari orang lain. Apakah ini yang disebut kasih? Sama sekali tidak!

Di sisi lain, kita juga sering menegur orang lain tapi melupakan kebenaran. Teguran disampaikan dengan motivasi dan cara yang tidak benar. Ini bersifat ironis: kita membela kebenaran tetapi dengan cara yang tidak benar. Kasih sejati menghasilkan teguran yang penuh kasih dan lemah-lembut.

Apakah kita sudah mengasihi orang-orang di sekitar kita? Kasih bukan hanya sebatas perasaan belaka. Kasih harus diwujudkan dalam tindakan tertentu. Kasih tidak mengingat kesalahan orang lain. Kasih tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi pada orang lain. Kasih mengedepankan kebenaran dengan cara yang benar. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community