DIA Imam Besar Kita (Ibrani 8:1-2)

Posted on 27/03/2016 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/DIA-Imam-Besar-Kita-Ibrani-8-1-2.jpg DIA Imam Besar Kita (Ibrani 8:1-2)

Bagi orang-orang Yahudi dahulu, bait Allah merupakan bagian tak terpisahkan dari keagamaan mereka. Walaupun ada aliran sektarian tertentu yang tidak atau kurang bersimpati terhadap bait Allah (misalnya masyarakat Qumran yang tinggal di sekitar Laut Mati), secara umum dapat dikatakan bahwa bait Allah adalah salah satu pusat keagamaan Yahudi. Jika bait Allah adalah penting, maka para imam yang melayani di dalamnya juga penting, terutama imam besar. Setahun sekali imam besar akan masuk ke ruang mahakudus untuk mempersembahkan korban penghapusan dosa bagi dirinya sendiri dan seluruh umat Israel (9:7). Itu adalah hari pendamaian bagi seluruh bangsa Israel (Im 16:34). Salah satu hari terpenting bagi umat Israel.

Dengan pemikiran semacam ini, tidak mengherankan apabila orang-orang Yahudi yang sudah memeluk kekristenan masih dapat tergoda untuk meyakini nilai penting bait Allah dan imam besar di dalamnya. Melepaskan diri dari tradisi seringkali tidak mudah. Melepaskan diri dari tradisi tidak terjadi secara otomatis. Ditambah dengan penganiayaan yang mereka harus tanggung sebagai orang Kristen (10:32-39), godaan itu menjadi semakin menguat. Beberapa bahkan sudah mulai meninggalkan persekutuan Kristen (10:25). Bahaya kemurtadan sudah ada di pelupuk mata.

Untuk meresponi situasi ini, penulis Surat Ibrani mencoba menjelaskan keutamaam keimaman Yesus Kristus. Ia melebihi imam besar yang paling agung dalam sejarah keagamaan Yahudi, yaitu Imam Besar Harun. Berkali-kali ia menyinggung tentang topik ini (pasal 2-10). Apakah keunikan keimaman Yesus Kristus? Banyak sekali. Namun, dalam khotbah kali ini, kita hanya akan berfokus pada 8:1-2.

Imam besar yang duduk di sebelah kanan Allah (ayat 1)

Ungkapan “duduk di sebelah kanan Allah” sering muncul dalam Alkitab dan di berbagai macam konteks. Makna umum yang ada di balik ungkapan ini adalah berbagi kemuliaan atau kekuasaan. Penulis Surat Ibrani sangat memahami makna ini, karena itu Ia sengaja memakai sebutan “Yang Mahabesar di surga” untuk Allah (8:1).

Pada waktu ungkapan ini dihubungkan dengan keimaman Yesus Kristus, maknanya terlihat lebih mengerucut. Yang dipentingkan bukan hanya kemuliaan atau kekuasaan Yesus Kristus. Apakah nilai penting seorang imam besar yang sekarang duduk di sebelah kanan Allah?

Duduk di sebelah kanan Allah berarti Yesus Kristus adalah imam menurut peraturan Melkisedek. Ungkapan “duduk di sebelah kanan Allah” merujuk balik pada salah satu mazmur mesianis yang terkenal: “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu’” (Mzm 110:1). Penulis mazmur lantas mengaitkan ini dengan keimaman menurut Melkisedek. Beberapa ayat sesudahnya dikatakan: “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: ‘Engkau adalah imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek’” (Mzm 110:4).

Konsep keimaman seperti Melkisedek inilah yang sering diulang oleh penulis Surat Ibrani (5:6, 10; 6:20; 7:1, 2, 6, 10, 11, 15, 17). Sama seperti Melkisedek lebih besar daripada Abraham (dibuktikan melalui pemberian persepuluhan Abraham kepada Melkisedek), demikian pula Yesus Kristus lebih besar daripada keturunan Abraham, yaitu Harun (7:1-11). Sama seperti Melkisedek yang awal dan akhir dari kehidupannya tidak diketahui orang, demikian pula Yesus Kristus tidak mengenal awal dan akhir (7:3). Ia adalah imam besar agung (4:14). Sudah selayaknya jika Ia duduk di tempat yang terhormat, yaitu di sebelah kanan Allah (8:1).

Duduk di sebelah kanan Allah juga berarti Yesus Kristus sudah mempersembahkan korban yang sempurna. Berbeda dengan imam besar lain yang setiap hari dan setiap tahun harus terus-menerus mempersembahkan korban untuk dirinya dan seluruh bangsa, Yesus Kristus hanya sekali membawa korban kepada Allah (9:26-28). Sesudah mempersembahkan korban yang sempurna, Ia duduk bersama dengan Allah sebagai simbol pekerjaan-Nya telah tuntas (1:3; 10:12, 14). Ia telah masuk ke bait Allah yang sesungguhnya di surga dan terus tinggal di sana (9:11-12). Jika pekerjaan Kristus sebagai imam abesar belum sempurna tentulah Ia harus tetap tinggal di bumi. Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga membuktikan bahwa keimaman-Nya di bumi telah usai. Korban yang sempurna sudah diberikan oleh Kristus dan sudah diterima oleh Allah.

Imam besar yang melayani di kemah abadi (ayat 2)

Terjemahan LAI:TB di bagian ini lebih menekankan pada tugas (“yang melayani”), sedangkan hampir semua versi Bahasa Inggris mengedepankan status (“a minister”). Tidak ada perbedaan yang berarti dari dua macam terjemahan ini. Namun, terjemahan Inggris lebih sesuai dengan teks Yunani. Kata leitourgos berbentuk kata benda, sehingga lebih tepat diterjemahkan “seorang pelayan.”

Kata ini dapat merujuk pada beragam jenis pelayan. Pemerintah disebut leitourgos Allah (Rm 13:6). Paulus, yang gigih memberitakan injil, menyebut dirinya sebagai leitourgos Kristus Yesus (Rm 15:16). Epafroditus adalah leitourgos Paulus selama ia berada di sebuah penjara (Flp 2:25). Para malaikat pun disebut leitourgoi Allah (Ibr 1:7). Yesus Kristus adalah leitourgos di kemah Allah yang abadi di surga (Ibr 8:2). Jadi, apa yang dilakukan oleh seorang leitourgos cukup beragam, tergantung pada konteks penggunaan kata ini.

Dalam kaitan dengan keimaman Yesus Kristus di surga, pekerjaan apakah yang dilakukan oleh Yesus Kristus sebagai imam besar? Ibrani 8:2 hanya menyatakan bahwa imam besar agung kita melayani di kemah abadi. Namun, pelayanan seperti apa yang Ia lakukan sekarang bagi kita?

Ibrani 7:25b mengatakan: “Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (LAI:TB). Terjemahan “menjadi Pengantara” seharusnya “berdoa syafaat” (entynchanein, lihat semua versi Inggris). Kata Yunani yang sama juga muncul di Roma 8:34 (LAI:TB “pembela”).

Pekerjaan penebusan memang sudah selesai di kayu salib. Kurban sempurna pun sudah diterima oleh Bapa. Namun, pekerjaan Kristus tidak berhenti sampai di situ. Ia hidup senantiasa untuk berdoa syafaat bagi kita. Jika Ia hanya mati dan dikuburkan, maka Ia tidak bisa mendoakan kita senantiasa. Tugasnya akan berhenti di gua tempat Ia dibaringkan. Puji Tuhan! Ia bangkit dan hidup selamanya bagi kita. Puji Tuhan! Ia naik ke surga dan selalu berdoa bagi kita dari sana di samping tahta Allah.

Mengapa Ia senantiasa berdoa syafaat bagi kita? Ada dua alasan. Yang pertama, Iblis selalu menuntut untuk menjatuhkan orang-orang percaya, sehingga Tuhan Yesus perlu berdoa bagi mereka (Luk 22:31-32). Sekalipun kita jatuh ke dalam pencobaan, kita memiliki seorang pengantara kepada Bapa (1 Yoh 2:1). Yang kedua, Iblis selalu mendakwa orang-orang percaya siang dan malam (Why 12:10), karena itu kita memerlukan seorang Pembela di hadapan Allah (Rm 8:34).

Apakah Saudara seringkali merasa tidak layak untuk diampuni dan dikasihi oleh Allah? Apakah dosa Saudara begitu serius dan banyak sehingga Saudara berusaha menjauh dari Allah? Apakah Saudara sudah lelah berupaya keras untuk membenarkan diri melalui perbuatan baik? Datanglah kepada imam besar agung kita yang sudah memberikan kurban yang sempurna. Sempurna, berarti tidak perlu dilakukan lagi. Sempurna, berarti tidak perlu ditambah oleh apapun, termasuk perbuatan baik kita. Kita diselamatkan melalui anugerah, bukan perbuatan baik!

Apakah Saudara sedang menghadapi pencobaan yang berat? Apakah Saudara berada dalam kesulitan yang tidak terselesaikan atau kesedihan yang tidak terkatakan? Apakah Saudara sudah kehilangan pegangan untuk berharap dan menatap masa depan? Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Yesus Kristus adalah imam besar agung yang selalu berdoa syafaat bagi kita. Ia peduli dan mengerti setiap pergumulan kita. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community