Di manakah Allah ketika wabah melanda dunia? (Bagian 2)

Posted on 15/03/2020 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/macau-photo-agency--xrAADPPU4M-unsplash.jpg Di manakah Allah ketika wabah melanda dunia? (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 8 Maret 2020)

Buktinya sekarang semua orang mulai membicarakan. Kematian seolah-olah mulai lebih dekat daripada biasanya.

Melalui wabah ini Allah juga ingin menyadarkan manusia tentang kerapuhan mereka. Banyak hal berada di luar kontrol manusia. Hal kecil saja bisa berakibat besar. Entah berapa banyak acara besar harus dibatalkan. Entah berapa banyak jumlah kerugian yang diakibatkan virus ini. Tidak ada satu areapun yang tidak tersentuh.

Pelbagai nasihat, peringatan dan tips diberikan. Banyak orang menjaga diri sedemikian rupa, beberapa bahkan terlihat begitu ekstrim. Persoalannya, tidak ada satu orangpun yang mampu menjamin dirinya sendiri. Bahkan Menteri Kesehatan Inggris (Nadine Dorris) saja terpapar virus Corona. Virus ini bisa menjalar melalui banyak cara.

Ketiga, wabah tidak boleh dijadikan dalih untuk menyangkali keberadaan Allah. Serangan semacam ini dikenal dengan istilah “the problem of evil” (persoalan kejahatan). Namun, banyak orang melupakan sisi sebaliknya. Masih banyak kebaikan dalam dunia ini. Ini adalah “the problem of good” (persoalan kebaikan) bagi mereka yang menolak Allah.     

Melalui wabah ini kita justru belajar untuk melihat kehidupan di dunia ini sebagai sebuah sistem kehidupan yang besar dan saling bersentuhan. Jika ada sesuatu yang keliru, dampaknya bisa menjadi begitu global. Yang satu tidak terpisahkan dari yang lain. Selama ini kita cenderung menganggapnya sebagai hal yang biasa. Kita bahkan tidak pernah memikirkannya secara serius.

Melalui wabah yang global kedaulatan Allah justru terlihat lebih kental. Dia ingin mengingatkan manusia untuk mengapresiasi kebaikan dan keteraturan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajaran. Kalau selama ini dunia berjalan dengan lancar, pasti ada tangan besar yang mengontrol. Jika tidak, semua pasti akan berada dalam kekacauan setiap saat.

Sebagai contoh, jika dalam setahun terjadi 12 kali bencana alam besar, itu berarti ada 353 hari dunia ini tanpa bencana. Jika 12 kali dianggap cukup untuk menyangkali Allah, bukankah 353 kali seharusnya jauh lebih cukup untuk menegaskan keberadaan Allah? Jadi, wabah ini tidak boleh dijadikan sebagai pembenaran bagi ateisme. 

Terakhir, dari persepktif Kristen, kematian tidak perlu dihadapi secara pesimis. Allah sudah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dia mengalami dan mengalahkan kematian. Kematian justru menjadi pintu gerbang menuju kehidupan kekal yang penuh kebahagiaan. Apakah kematian akibat suatu wabah adalah hal yang buruk atau baik? Tergantung dari mana kita melihatnya. Dari sisi kesementaraan, kematian memang sebuah kehilangan. Sesuatu yang tidak menyenangkan. Dari sisi kekekalan, kematian justru pembebasan dari dunia yang penuh dengan kejahatan dan penderitaan. Kematian bukan hanya tidak boleh disangkali, dihindari atau ditakuti. Kematian perlu untuk dinanti. Penantian ini dilakukan dengan kepastian dan kegembiraan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community