Dari Kematian Kepada Kehidupan (Efesus 2:1-5)

Posted on 29/03/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/dari-kematian-kepada-kehidupan-efesus-2-1-5.jpg Dari Kematian Kepada Kehidupan (Efesus 2:1-5)

Hampir semua orang yang relijius menyadari bahwa dunia bukanlah tempat yang sempurna. Ada yang salah dengan dunia ini. Manusia memerlukan solusi atas persoalan ini. Walaupun sama-sama mengakui ada masalah, tidak semua memberi diagnosa yang sama terhadap masalah tersebut. Jika akar masalah dipersepsi berbeda, tidak heran solusi yang ditawarkan juga berbeda.

Di antara mereka yang meyakini bahwa dosa adalah persoalannya, tidak semua memahami keseriusan dosa dengan cara yang sama. Ada yang menganggap dosa sebagai ketidaktahuan. Solusinya ya diberi pengetahuan. Ada yang menganggap dosa hanya sebagai ketidaktaatan atau ketidaktundukan. Solusinya ya diberi berbagai aturan yang detil. Kekristenan yang Alkitab melihat dosa secara lebih serius. Persoalan manusia bukan tidak tahu, tetapi tidak mau tahu. Bukan ketidakmauan, tetapi sekaligus ketidakmampuan. Sangat serius. Sangat memprihatinkan.

Seberapa dalamkah keadaan manusia di dalam dosa? Apakah manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri? Ataukah mereka memang benar-benar membutuhkan Juruselamat?

 

Keadaan manusia di dalam dosa (ayat 1-3)

Apa yang ditulis di bagian ini berlaku atas semua manusia. Bukan hanya penerima surat ini yang sebagian besar adalah orang-orang Yunani (ayat 1-2 “kamu”, lit. “kalian”), tetapi juga Paulus sebagai perwakilan orang Yahudi (ayat 3b “kami juga”) dan semua manusia yang lain (“sama seperti mereka yang lain”; ESV “like the rest of mankind”). Jadi, ini adalah kondisi universal. Tanpa perkecualian.

Paulus menggambarkan keadaan manusia di luar Kristus dengan “mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”. Ungkapan ini menunjukkan keadaan yang enar-benar serius. Istilah “mati” menunjukkan ketidakberdayaan. Bukan hanya pingsan atau lemah. Semua manusia tidak berdaya. Keadaan ini nanti akan disebutkan lai di ayat 5b.

Kata “pelanggaran” (paraptōma) menyiratkan tindakan yang melampaui suatu batas atau keluar dari jalur yang lurus. Kata “dosa” (hamartia) mengandung arti “tidak mengenai sasaran”. Jika digabungkan, keduanya mengandung aspek aktif (melanggar sesuatu) dan pasif (tidak mencapai sesuatu). Manusia tidak melakukan apa yang harus dilakukan (perintah) sekaligus melakukan apa yang tidak boleh dilakukan (larangan).

Bentuk jamak yang digunakan untuk dua kata ini (tois para ptōmasin kai tais hamartiais) menyiratkan jumlah kesalahan yang banyak. Bukan sesekali. Bukan beberapa kali. Berkali-kali. Setiap kali.

Paulus selanjutnya menerangkan keadaan ini di ayat 2-3. Orang yang mati rohani adalah orang yang hidup di dalam dosa (ayat 2a lit. “kalian berjalan di dalamnya”; LAI:TB “kamu hidup di dalamnya”). Manusia tidak berdaya melawan kuasa dosa sehingga mereka dengan penuh semangat melayani dosa.

Paulus mengaitkan keadaan di atas - kematian rohani yang membuat orang hidup berbuat dosa - dengan tiga hal: dunia ini (ayat 2a), Iblis (ayat 2b), dan kedagingan (ayat 3). Dua yang pertama diindikasikan dengan kata “karena” (ayat 2, LAI:TB). Dalam teks Yunani dipakai frasa kata depan kata + bentuk akusatif (kata ton aiōna tou kosmou toutou dan kata ton archonta tÄ“s exousias tou aeros).  

Pertama, dunia ini (ayat 2a). Ketika seseorang mati secara spiritual dia sedang mengikuti jalan dunia ini (kata ton aiōna tou kosmou toutou). Kata “dunia” (aiōn) di sini tidak merujuk pada planet bumi (aspek tempat). Tidak pula merujuk pada Dewa Aiōn dalam mitologi kuno (aspek pribadi). Analisa konteks mendorong kita untuk menafsirkan kata ini dalam aspek waktu (kesementaraan sekarang). Paulus baru saja menggunakan kata ini di 1:21 untuk masa kesementaraan di dunia ini dibandingkan dengan masa kekekalan kelak (ayat 21b “bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang”). Nanti di 2:7 kata yang sama digunakan untuk kekekalan kelak (ayat 7a “supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita…”). Aspek waktu juga muncul lagi di 3:9, 11, 21.

Berdasarkan pertimbangan di atas, kita sebaiknya memahami “mengikuti jalan dunia ini” (kata ton aiōna tou kosmou toutou) dalam arti mengikuti prinsip atau semangat dunia ini yang hanya mengejar hal-hal yang sementara. Di dalamnya ada nilai, kebiasaan, dan sikap dunia ini yang bertabrakan dengan prinsip kekekalan. Yang dijadikan impian adalah materialisme, hedonisme, sekularisme, dsb. Dengan kata lain, “dunia” di sini berarti “keduniawian”.

Kedua, Iblis (ayat 2b). Orang-orang yang hidup di dalam dosa adalah orang-orang yang hidup bagi penguasa kerajaan angkasa. Penguasa ini sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.

Dalam pemikiran kuno, angkasa (aÄ“r) seringkali dipandang sebagai ruang pemisah antara bumi dan sorga. Di sinilah bersarang semua roh-roh jahat. Paulus meminjam konsep berpikir ini untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam dunia roh (6:12 “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara”).

Dari cara Paulus menggambarkan Iblis di 2:2, kita sebaiknya tidak boleh meremehkan penguasa angkasa ini. Iblis memiliki kuasa. Dia adalah “penguasa” (archōn). Dia memiliki otoritas (exousia, LAI:TB “kerajaan”). Dalam teks yang lain Paulus menyebutnya sebagai “illah zaman ini” yang membutakan hati dan pikiran banyak orang dari cahaya Injil (2Kor. 4:4). Yesus sendiri menyebut Iblis sebagai “penguasa dunia ini” (Yoh. 12:31). Dia sama sekali tidak boleh diremehkan.

Yang lebih menakutkan, Iblis bekerja di antara orang-orang durhaka. Kata “bekerja” (energeō) menyiratkan sebuah kuasa yang bekerja dari dalam (en = di dalam dan ergō = bekerja). Menariknya, kata kerja yang sama sebelumnya sudah digunakan oleh Paulus untuk pekerjaan Allah. Allah yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (1:11). Allah yang bekerja dengan penuh kuasa dalam kebangkitan Kristus (1:19-20).

Paulus tentu saja tidak bermaksud untuk menyamakan kuasa Allah dan Iblis. Namun, dia ingin menegaskan bahwa Iblis juga memiliki kuasa adikodrati (supernatural). Iblis memang tidak perlu ditakuti, tetapi juga tidak boleh disepelekan. Takut terhadap Iblis adalah sebuah kesalahan, namun menyepelekan Iblis adalah kesalahan yang sangat fatal.

Ketiga, kedagingan (ayat 3). Dua persoalan sebelumnya bersifat eksternal. Ada prinsip keduniawian, ada roh-roh jahat. Yang terakhir ini bersifat internal. Melekat pada diri setiap manusia.

Paulus menjelaskan bahwa ketika seseorang hidup di dalam hawa nafsu daging, dia sebenarnya sedang mengikuti kehendak dan pikiran kedagingan. Terjemahan LAI:TB sayangnya sedikit mengaburkan poin ini dengan menambahkan kata “dan” yang tidak ada dalam teks Yunani dan menjadikan “hidup di dalam hawa nafsu daging” sejajar dengan “menuruti kehendak daging dan pikiran yang jahat”. Dalam teks Yunani terlihat jelas bahwa frase kedua menjelaskan yang pertama. Maksudnya, kehidupan di dalam hawa nafsu daging berawal dari ketaatan terhadap kehendak daging dan pikiran yang jahat. Perbuatan kedagingan berasal dari kehendak dan pikiran yang dikuasai oleh kedagingan.

Lebih jauh, Paulus menegaskan bahwa kondisi ini merupakan bagian intrinsik dari natur manusia yang berdosa. Dia menggunakan kata “pada dasarnya” (LAI:TB). Dalam teks Yunani digunakan kata physis (baca: fu-sis) yang berarti “natur” (mayoritas versi Inggris “by nature”). Kerusakan bukan terjadi di luar, tetapi di dalam. Dosa muncul dari natur yang berdosa.

Untuk menegaskan kerusakan radikal (radix = akar) ini, Paulus menyebut mereka yang di luar Kristus sebagai “orang-orang durhaka” (LAI:TB hoi huioi tÄ“s apeitheias) dan “orang-orang yang harus dimurkai” (LAI:TB, tekna orgÄ“s). Dalam terjemahan yang lebih hurufiah, dua sebutan di atas berarti “anak-anak kedurhakaan” dan “anak-anak kemurkaan”. Penggunaan istilah “anak-anak” dalam ungkapan Ibrani ini menyiratkan sesuatu yang sudah dari awalnya begitu. Sesuatu yang sudah melekat pada natur seseorang.

Penegasan terakhir dari Paulus tentang poin ini ada di bagian terakhir ayat 3: “sama seperti mereka yang lain” (ESV “like the rest of mankind”). Kondisi buruk ini terjadi pada semua manusia. Penyebabnya pasti bukan sekadar budaya. Penyebabnya pasti bukan situasi di luar. Jika semua manusia memiliki kondisi ini berarti kondisi ini memang sudah melekat pada manusia sejak dahulu kala. Dari kejatuhan Adam (Kej. 3) semua manusia menjadi berdosa (Rm. 5:12-21). Dosa aktual berasal dari dosa asal.

 

Pengharapan di dalam Kristus (ayat 4-5)

Allah tidak membiarkan manusia berdosa tetap berada dalam keadaan tidak berdaya. Allah berintervensi untuk memberikan solusi. Itulah cara kerja Allah.

Motivasi di balik karya ilahi ini bukan terletak pada manusia. Bukan pada jasa atau talenta manusia. Ayat 4 dengan tegas mengatakan “Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar”. Di ayat 5 muncul kata “kasih karunia” yang dikontraskan dengan “kesalahan” (paraptōma, lit. “pelanggaran”, lihat ayat 1). Jika pelanggaran menyiratkan keaktifan manusia, kasih karunia menyiratkan kepasifan manusia. Ini tentang pemberian Allah, bukan usaha manusia (ayat 8-9).  

Ide tentang kebaikan Allah ini selanjutnya akan dimunculkan terus di ayat 5-8: kasih karunia dan kebaikan. Bukan sekadar disebutkan berulang kali tetapi juga diberi keterangan tentang jumlahnya: “dilimpahkan” (ayat 4), “kekayaan” (ayat 7) dan “melimpah-limpah” (ayat 7). Allah mengasihi kita bukan ala kadarnya, tetapi sepenuhnya.

Allah telah menyiapkan sebuah cara keselamatan. Bukan salah satu cara, tetapi satu-satunya cara. Cara itu adalah melalui Kristus. Orang yang mati di dalam dosa harus dibangkitkan di dalam Kristus (ayat 5). Di ayat selanjutnya Paulus menggunakan ungkapan “diciptakan di dalam Kristus Yesus” (ayat 10). Intinya adalah ada perubahan yang radikal (sampai ke akar-akarnya). Yang mati dibangkitkan, yang naturnya berdosa diciptakan kembali.

Kebenaran tersebut memang masuk akal. Bagaimana orang yang mati bisa memberi respons kepada panggilan Allah kecuali mereka dihidupkan terlebih dahulu? Bagaimana seorang yang dikuasai oleh naturnya yang berdosa bisa mengambil keputusan besar untuk melawan natur itu kecuali dia terlebih dahulu diciptakan kembali? Jadi, kekristenan bukan tentang perubahan eksternal (tingkah laku belaka), tetapi perubahan internal (kelahiran kembali di dalamKristus). Dosa tidak cukup dilawan dengan aturan. Manusia membutuhkan Juruselamat. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community