Dapatkah Allah Mati Di Kayu Salib?

Posted on 01/05/2016 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Dapatkah-Allah-Mati-Di-Kayu-Salib.jpg Dapatkah Allah Mati Di Kayu Salib?

Kekristenan diwarnai beberapa paradoks yang indah. Paradoks berarti dua hal yang sekilas tampak berbeda atau kontradiktif, tetapi sesudah dicermati ternyata tidak demikian. Keduanya sama-sama benar.

Salah satu paradoks dalam kekristenan adalah dwi-natur Kristus. Ia adalah Allah sejati sekaligus manusia sejati. Dua hakekat ini dapat dibedakan tetapi tidak dapat dibagi maupun dipisahkan. Dua hakekat ini menyatu dalam Satu Pribadi, yaitu Pribadi Logos, tetapi tidak boleh dicampuradukkan. Dwi-natur Kristus juga tidak berubah. Ini adalah ajaran Alkitab. Ini mencerminkan salah satu intisari dari Pengakuan Iman Chalcedon yang dirumuskan oleh para pemimpin gereja pada pertengahan abad ke-5 Masehi.

Poin teologis yang penting ini seringkali menimbulkan kebingungan pada saat dihubungkan dengan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib. Alkitab berkali-kali secara tegas menyatakan bahwa Kristus memang mati (Matius 16:21; Lukas 23:46; Yohanes 19:33-34). Persoalannya, Allah tidak dapat mati. Allah adalah “satu-satunya yang tidak takluk kepada maut” (1 Timotius 6:16). Para filsuf Yunani kuno pun mengungkapkan keyakinan yang sama. Jika keilahian dan kemanusiaan Kristus tidak terpisah, bagaimana kita menjelaskan kematian Kristus?

Beberapa istilah penting

Untuk memahami persoalan teologis ini, pertama-tama kita perlu memahami dwi-natur Kristus dengan tepat. Ada beberapa istilah yang perlu saya perjelas. Istilah pertama adalah “natur” atau “hakekat.” Istilah ini merujuk pada semua sifat dasar yang khas dan dimiliki oleh semua. Natur/hakekat insani berarti segala sesuatu yang khas dan dimiliki oleh semua manusia, misalnya tubuh, pikiran, perasaan, dsb. Natur/hakekat ilahi berarti segala sesuatu yang khas dan dimiliki oleh Pribadi-pribadi lain dalam Allah Tritunggal, misalnya kedaulatan, kekekalan, kemahatahuan, dsb.

Istilah kedua adalah “pribadi.” Makna yang terkandung dalam istilah ini adalah perwujudan spesifik dari hakekat atau natur. Semua manusia memiliki tubuh, namun tubuh seperti apa yang dimiliki berbeda-beda. Semua orang memiliki pikiran dan perasaan, tetapi apakah pikirannya cemerlang atau perasaannya halus masing-masing orang tidaklah sama. Hal-hal yang khusus ini yang dinamakan “pribadi.”

Istilah lain yang bermanfaat adalah “kepribadian theanthropik.” Theanthropik berasal dari kata theos yang berarti “Allah” dan anthrōpos yang berarti “manusia.” Istilah yang digunakan oleh William G. T. Shedd (Dogmatic Theology, halaman 613-41) ini berguna untuk menekankan bahwa hanya ada satu pribadi yang menyatukan dua hakekat Kristus.

Istilah “kepribadian theanthropik” juga memberi penekanan yang memadai bahwa natur ilahi adalah akar dari kepribadian Kristus. Theos diletakkan di depan anthrōpos. Sama seperti cabang zaitun liar yang dicangkokkan ke pohon zaitun asli dan mendapatkan kehidupan dari pohon itu, demikianlah kemanusiaan Kristus ditambahkan dan disatukan pada keilahian-Nya. Dua hakekat ini digerakkan oleh kepribadian theanthropik.

Istilah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah “jiwa” dan “tubuh.” Dua istilah ini jelas lebih berhubungan dengan hakekat insani Kristus, karena Allah adalah roh (Yohanes 4:24a). Dalam hal ini jiwa merujuk pada nyawa. Jiwa dibedakan dari tubuh.

Kematian Kristus

Berbekal istilah-istilah di atas, marilah kita sekarang mencoba menjelaskan kematian Kristus. Secara sederhana, kematian dapat dipahami dalam dua cara. Sebagian orang menganggap kematian sebagai ketidakadaan (non-existence). Alkitab jelas tidak membicarakan kematian dalam arti semacam ini. Masih ada kehidupan sesudah kematian. Sebagian yang lain melihat kematian sebagai keterpisahan antara tubuh dan jiwa, antara yang material dan non-material. Alkitab mengamini hal ini, namun keterpisahan itu hanyalah sementara.

Dua jenis kematian di atas jelas tidak dapat diterapkan pada diri Allah. Ia adalah kekal, sehingga Ia tidak mungkin tidak ada. Allah juga tidak memiliki tubuh, sehingga keterpisahan antara tubuh dan jiwa merupakan hal yang benar-benar tidak relevan untuk Allah.

Lalu apa yang terjadi pada saat kematian kematian Kristus? Pada saat di kayu salib, jiwa dan tubuh Kristus terpisah untuk sementara waktu sebelum dibangkitkan. Dengan kata lain, kematian Kristus lebih bersentuhan dengan hakekat insani-Nya. Selama tiga hari tiga malam keutuhan kemanusiaan-Nya terinterupsi (pemisahan antara jiwa dan tubuh).

Keterpisahan seperti ini tidak terjadi pada kepribadian-Nya yang theanthropik. Baik jiwa maupun tubuh Kristus tidak terpisah dari kepribadian ini. Tentang kematian-Nya, Kristus sebelumnya sudah berkata: “Aku berkuasa memberikannya, dan Aku berkuasa untuk mengambilnya kembali” (Yohanes 10:18). “Aku” di sini merujuk pada kepribadian theanthropik Kristus. Pribadi ini tidak terpisah dari kemanusiaan Kristus, baik pada saat hidup maupun mati.

Bertolak dari pemahaman bahwa natur ilahi Kristus adalah akar dari kepribadian theanthropik-Nya – seperti ditegaskan oleh Shedd – kita masih dapat mengatakan bahwa Allah mati untuk kita. Kepribadian khusus yang berakar dari natur ilahi-Nya ini tidak terpisahkan dari jiwa dan tubuh insani-Nya. Karena itu, dalam taraf tertentu, kematian-Nya tetap bisa disebut “kematian Allah,” walaupun bukan dalam arti hakekat ilahi-Nya yang mati. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community