Bukan Sekadar Simbol (Ulangan 6:6-9)

Posted on 19/02/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Bukan-Sekadar-Simbol-Ulangan-6-6-9.jpg Bukan Sekadar Simbol (Ulangan 6:6-9)

Tidak sukar untuk menemukan pernak-pernik atau dekorasi Kristiani di rumah-rumah orang Kristen: pigura dengan teks Alkitab tertentu atau doa tertentu, ornamen salib, dan sebagainya. Dari pandangan sekilas orang lain akan tahu bahwa penghuni rumah tersebut adalah orang-orang Kristen. Pertanyaannya, apakah kualitas kekristenan di rumah tersebut lebih daripada sekadar simbol? Bagaimana sebuah keluarga seharusnya menerapkan prinsip-prinsip Kristiani di dalam rumah?

Teks kita hari ini meurpakan salah satu persiapan penting sebelum bangsa Israel menaklukkan dan mendiami tanah Kanaan (6:1-3). Musa mengajarkan bagaimana bangsa Israel kelak dapat menjadi bangsa luhur dan makmur. Menariknya, persiapan ini berhubungan dengan pengajaran firman Tuhan kepada anak-anak di rumah. Dengan kata lain, pembentukan bangsa yang besar dimulai dari rumah yang kecil. Bagaimana orang tua mendidik anak-anak mereka akan menentukan bagaimana nasib suatu bangsa.

Melalui teks ini kita akan belajar bagaimana para orang tua seharusnya mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak mereka. Usaha ini membutuhkan lebih dari sekadar ornamen dan dekorasi Kristiani di dinding rumah. Dibutuhkan lebih dari sekadar deretan perintah dan larangan yang perlu ditaati oleh anak-anak.

Pertama, memiliki hati bagi TUHAN dan firman-Nya (ayat 6). Bagian ini mendahului perintah untuk mengajar anak-anak. Orang tua harus “memperhatikan” perintah-perintah TUHAN (LAI:TB). Kata Ibrani untuk “perhatikan” di sini seharusnya diterjemahkan “ada dalam hati” (semua versi Inggris).

Dalam budaya Israel, “hati” seringkali dianggap sebagai pusat kehidupan seseorang. Apa yang terpenting. Apa yang menggerakkan seluruh aspek kehidupan. Jadi, ini bukan sekadar “memperhatikan” (LAI:TB), seolah-olah ini hanyalah sebuah aktivitas visual atau intelektual. Ini tentang meletakkan sesuatu yang terpenting (firman TUHAN) di tempat yang terpenting (hati manusia).

Apa yang seharusnya ada dalam hati para orang tua? Semua perkataan TUHAN yang diperintahkan pada hari itu! Di antara semuanya, yang terpenting dicantumkan di ayat 4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Nilai penting dari dua teks ini bagi bangsa Israel tidak terbantahkan. Setiap hari mereka mengucapkan ayat 4 dalam doa mereka. Inti seluruh perintah Allah termaktub dalam ayat 5 (Mat. 22:35-40).

Dua ayat di atas dapat diringkas menjadi satu kalimat: keesaan dan keutamaan TUHAN merupakan pondasi bagi hubungan kerohanian yang benar. Tanpa mengetahui dan mengakui keesaan dan keutamaan TUHAN, kita tidak akan mau dan mampu mengasihi Dia dengan segala totalitas kehidupan kita. Kita tidak menyisakan apapun dalam upaya kita untuk mencintai Dia.

Kebenaran di atas seharusnya sudah ada dalam hati para orang tua sebelum mereka mengajarkan firman TUHAN kepada anak-anak mereka. Orang tua hanya bisa memberikan apa yang mereka sudah miliki. Jikalau orang tua sendiri tidak menganggap keesaan dan keutamaan TUHAN sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan, bagaimana mereka dapat mengajar anak-anak mereka untuk melakukan sebaliknya?

Kedua, mengajar dengan penuh kerajinan (ayat 7). Musa tidak mengajar anak-anak. Bukan karena dia tidak mau melakukan hal itu. Hanya saja, hal itu bukan menjadi tanggung-jawab utamanya. Mengajarkan kebenaran kepada anak-anak merupakan tanggung-jawab setiap orang tua. Merekalah yang berada di barisan terdepan dalam pendidikan anak. Beban pengajaran ada di pundak mereka.

Sekilas tidak ada yang menarik dari perintah ini. Setiap orang tua pasti pernah mengajarkan kebenaran kepada anak mereka. Kalau begitu, apa yang perlu diperhatikan di ayat ini? Kata “berulang-ulang” (LAI:TB)! Sebagian besar versi Inggris memberi terjemahan “dengan rajin” (KJV/ASV/RSV/ESV). Tambahan kata “dengan rajin” atau “berulang-ulang” di sini sangat penting, sebab tidak banyak orang tua yang rajin melakukannya.

Bagian selanjutnya dari ayat 7 menerangkan aspek kerajinan ini. Rajin mengajar berarti mengoptimalkan setiap momen: pada waktu duduk, berbaring, bangun maupun di tengah perjalanan. Setiap momen adalah momen pengajaran. Jangan sampai satu momen pun terlewatkan.

Apakah hal ini berarti bahwa setiap orang tua harus menjadi seorang pengkhotbah di rumah? Sama sekali tidak! Anak-anak bukan mahasiswa theologi yang setiap hari bergelut dengan Alkitab dan theologi. Perintah ini tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah, seolah-olah tidak ada aktivitas lain yang perlu dilakukan di luar pengajaran kepada anak-anak. Maksud dari semuanya ini adalah kehidupan sebagai sarana pembelajaran. Orang tua bertugas untuk mengaitkan kebenaran firman Tuhan dengan setiap aspek kehidupan. Intinya, bagaimana menjalani kehidupan seturut dengan kebenaran firman Tuhan.

Poin ini tentu saja tidak merendahkan nilai penting disiplin rohani tertentu bersama anak-anak. Mezbah keluarga tetap diperlukan. Namun, pengajaran rohani di rumah melampaui batasan waktu tertentu atau aktivitas tertentu. Seluruh dinamika kehidupan dari pagi sampai malam, di rumah maupun di mana saja, merupakan sebuah latihan rohani. Seluruh anggota keluarga menemukan pimpinan TUHAN dalam setiap dinamika tersebut.

Ketiga, mengajar melalui simbol-simbol (ayat 8-9). Pengajaran di ayat 7 dilakukan secara verbal. Pengajaran di ayat 8-9 lebih ke arah visual. Keduanya penting. Yang satu tidak meniadakan yang lain. Yang satu tidak menggantikan yang lain.

Jikalau kita mengamati kehidupan bangsa Israel, anak-anak sejak kecil sudah diperkenalkan dan dikondisikan dengan nuansa relijius. Bayi laki-laki disunat pada hari ke-8. Pada perayaan-perayaan tertentu, ayah memimpin doa dan menerangkan makna di balik setiap ritual. Walaupun anak-anak mungkin tidak sepenuhnya memahami hal itu, namun kebiasaan ini tetap perlu untuk dilakukan. Pada waktu anak-anak beranjak dewasa, mereka akan memahami makna di balik setiap simbol tersebut.

Yang perlu ditekankan di sini adalah maknanya. Kata “tanda” atau “lambang” di ayat 8-9 secara eksplisit mendorong kita untuk melangkah lebih jauh daripada sekadar simbol relijius. Apa yang ditandakan, itulah yang terpenting. Sebuah tanda tidak berguna apabila tidak mengarahkan seseorang pada realita yang ditandakan.

Sayangnya, sebagian orang Yahudi telah memahami perintah ini secara hurufiah. Mereka benar-benar meletakkan kutipan firman TUHAN di dahi, lengan, intu rumah dan pintu gerbang. Tindakan ini pada dirinya sendiri memang tidak salah. Namun, jikalau tindakan ini tidak disertai dengan pemahaman yang benar dan ketaatan yang sungguh, semua itu hanyalah simbol tanpa makna.

Meletakkan firman TUHAN di tempat-tempat tertentu (tangan, dahi, pintu rumah, dan pintu gerbang) menyiratkan otoritas firman Allah pada wilayah-wilayah tersebut. Bukan sekadar ornamen yang menimbulkan kesan mistis. Bukan pula sebuah dekorasi yang memberi kesan estetika tinggi. Ini tentang pengakuan terhadap otoritas firman Allah dalam kehidupan seseorang.  

Kata “tangan” melambangkan tindakan. Kita melakukan semua aktivitas menggunakan tangan. Artinya, apapun yang kita lakukan harus mewujudkan kasih kita kepada TUHAN. Kebenaran menghasilkan kesalehan. Kitab suci menghasilkan budi pekerti.

Kata “dahi” (LAI:TB/NASB/NIV) sebenarnya kurang begitu tepat. Kata Ibrani yang digunakan lebih mengarah pada area di antara dua mata KJV/ASV/RSV/ESV). Ini berbicara tentang cara pandang. Bukan hanya apa yang sebaiknya dipandang, melainkan bagaimana kita memandang segala sesuatu. Bagaimana, bukan sekadar apa.

Meletakkan firman TUHAN di pintu rumah dan pintu gerbang menandakan sebuah pergeseran dari wilayah personal (tindakan dan penilaian) ke wilayah sosial (relasi dengan komunitas). Spiritualitas pribadi tidak pernah berhenti pada diri sendiri. Keintiman dengan TUHAN bukan pengasingan dari lingkungan. Sebaliknya, kualitas kerohanian seringkali tergambar jelas dalam kehidupan bersama orang lain.

Rumah merupakan tempat di mana ada perlindungan dan perhatian. Ada keamanan dan kasih sayang. Ada kenyamanan dan kedekatan. Semua ini bukan hanya harus ada dalam suatu keluarga, tetapi keberadaannya dinafasi oleh nilai-nilai firman Tuhan. Bukan sembarang moralitas. Bukan sekadar filantropi manusiawi.

Pintu gerbang merupakan tempat berkumpul para pemimpin kota. Para tua-tua biasanya mengambil keputusan-keputusan penting di sana. Meletakkan firman Tuhan di pintu gerbang berarti mengakui otoritas firman Tuhan dalam setiap keputusan yang diambil.

Di dalam konteks kekristenan, tidak ada yang lebih penting untuk diajarkan kepada anak-anak selain Injil Yesus Kristus yang benar dan menghidupkan. Kematian-Nya yang menyelesaikan persoalan terbesar kita, yaitu dosa. Kebangkitan-Nya yang mengalahkan ketakutan terbesar kita, yaitu kematian. Kasih Kristus yang dcurahkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita akan memampukan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap totalitas kehidupan kita. Kasih itu pula yang mendorong kita untuk mendidik anak-anak dalam kebenaran. Tanpa kuasa Roh Kudus melalui injil, anak-anak tidak akan sanggup untuk mengerti, mengakui, dan mempercayai kebenaran.

Sudahkah kita memberitakan injil secara pribadi kepada anak-anak kita? Sudah kita hidup sepadan dengan injil itu? Sudahkah setiap detil kehidupan kita – perbuatan, penilaian, perasaan, dan keputusan – dirembesi oleh nilai-nilai injil? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community