Bolehkah Menyapa Allah dengan Selamat Pagi, Siang, dan Malam?

Posted on 25/11/2018 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/bolehkah-menyapa-allah-dengan-selamat-pagi-siang-dan-malam.jpg Bolehkah Menyapa Allah dengan Selamat Pagi, Siang, dan Malam?

Bertahun-tahun yang lalu saya sempat mendengar pergunjingan seputar lagu “Selamat Pagi Bapa”. Beberapa orang merasa terganggu dengan ucapan “Selamat Pagi” yang ditujukan pada Allah. Mereka beranggapan bahwa kebiasaan ini merendahkan Allah, seolah-olah Allah terikat oleh waktu. Keberatan yang sama juga dimunculkan dalam kaitan dengan doa. Beberapa orang terbiasa memulai doanya dengan memberikan selamat pagi, siang, atau malam kepada Allah.

Bagaimana seorang Kristen seharusnya menyikapi hal ini? Apakah ini sebuah kesalahan? Jika iya, apakah kesalahan itu terbilang fatal?

Penyelidikan yang lebih seksama mengungkapkan bahwa kebiasaan di atas sebenarnya sah-sah saja untuk dilakukan. Menyapa Allah sesuai dengan waktu kita bukanlah sebuah persoalan bagi Allah. Ada beberapa alasan yang mendukung ke arah sana.

Pertama, Alkitab sendiri memuat beberapa nyanyian atau doa yang berisi keterangan waktu. Berkali-kali pemazmur mengatakan bahwa dia menyembah atau berdoa kepada Allah pada waktu pagi (Mzm. 5:4; 59:17; 88:13; 90:6, 14, dsb). Sebagai contoh, Mazmur 88:13 berbunyi: “Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu”. Mazmur 8 jelas dinyanyikan pada waktu ibadah malam (ayat 3 “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan”). Apakah hal ini berarti bahwa pemazmur membatasi Allah dengan waktu? Tentu saja tidak.

Kedua, Allah terbiasa mengakomodasikan diri-Nya sendiri kepada ciptaan. Allah jelas tidak mengenal pagi, siang, atau malam. Namun, Dia sendiri memilih untuk menyatakan diri dan kehendak-Nya dalam kerangka waktu. Dia tidak segan-segan untuk hidup dalam keterbatasan waktu ciptaan. Sebagai contoh, pada saat TUHAN akan membunuh semua anak sulung di Mesir, Dia berkata: “Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir” (Kel. 12:12a).

Ketiga, pencipta lagu “Selamat Pagi Bapa” atau mereka yang terbiasa mengucapkan “Selamat pagi, siang, malam” dalam doanya belum tentu secara sengaja membatasi Allah dengan waktu. Mereka bahkan sangat mungkin tidak memaksudkan kalimat mereka sejauh itu. Tidak ada maksud untuk merendahkan Allah sama sekali. Kita perlu lebih bermurah hati dalam menilai orang lain. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community