Bolehkah Berpacaran/Menikah Dengan Orang Yang Tidak Seiman? (Bagian 1)

Posted on 18/05/2014 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Bolehkah Berpacaran/Menikah Dengan Orang Yang Tidak Seiman? (Bagian 1)

Pertanyaan ini sering diajukan oleh anak-anak muda Kristen. Bagi mereka yang berada dalam komunitas gereja yang jumlah anak-anak mudanya sangat terbatas, isu ini menjadi lebih relevan. Situasi menjadi lebih buruk apabila jumlah laki-laki dan perempuan di komunitas itu tidak berimbang. Jika mereka tidak bersekolah di sekolah Kristen atau tidak bekerja di sebuah kantor/perusahaan yang cukup banyak orang Kristennya, pergumulan ini tentu saja akan semakin memuncak. Ketertarikan terhadap orang non-Kristen memiliki peluang besar untuk tercipta. Bagaimana kita meresponi hal ini?

Terlepas dari kondisi yang rumit di atas, kita tetap harus kembali pada apa yang Alkitab ajarkan. Kebenaran Alkitab seharusnya lebih menentukan daripada perasaan atau kebutuhan pragmatis kita. Alkitab memberikan petunjuk yang jelas bahwa orang Kristen hanya boleh menikah dengan yang seiman. Kepada para janda yang suaminya sudah meninggal dunia, Paulus memberi kesempatan untuk menikah lagi dengan siapa saja yang ia kehendaki, tetapi orang itu harus orang percaya (1 Kor 7:39). Kepada jemaat di Korintus secara umum ia mengatakan: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya” (2 Kor 6:14). Ayat yang terakhir ini memang tidak secara langsung berbicara tentang perpacaran atau pernikahan, namun prinsip yang diajarkan juga berlaku atas relasi semacam itu.

Mengapa perbedaan iman dalam sebuah pernikahan dilarang di dalam Alkitab? Ada beragam jawaban untuk pertanyaan ini. Yang paling utama dan esensial berkaitan dengan tujuan pernikahan. Sejak awal penciptaan dunia, pernikahan dimaksudkan sebagai sarana untuk memuliakan Allah, yaitu sarana untuk berkembang-biak, bertambah banyak, memenuhi bumi, menaklukkan, dan menguasai bumi bagi kemuliaan Allah (Kej 1:26, 28). Rancangan ideal ini sempat rusak oleh dosa. Relasi suami-isteri mulai bermasalah (Kej 3:12). Di Kejadian 3:15 dikatakan bahwa keturunan-keturunan mereka pun akan saling bermusuhan: mereka yang jahat (keturunan ular) maupun yang baik (keturunan perempuan). Seluruh Alkitab selanjutnya menguraikan bagaimana permusuhan ini berlangsung dan dimenangkan oleh Yesus Kristus sebagai keturunan perempuan yang meremukkan kepala ular. Dalam konteks permusuhan spiritual secara kosmik inilah pernikahan orang-orang percaya seharusnya memberikan kontribusi positif. Melalui pernikahan mereka Allah menghendaki adanya keturunan ilahi (Mal 2:15). Tujuan ini sangat sulit atau bahkan mustahil tercapai tanpa kesamaan iman dan pola pembinaan dalam sebuah keluarga. Allah tentu saja mampu memberikan anugerah yang cukup sehingga anak-anak dari hasil pernikahan beda iman tetap bisa memperkenankan hati-Nya, namun tidak semua orang menerima anugerah semacam itu. Orang yang bijaksana dan paham tentang kedaulatan Allah tidak akan mengambil resiko semacam ini.

Di samping itu, penebusan Kristus memberikan arah yang lebih eksplisit bagi pernikahan. Relasi Kristus dan jemaat menjadi pola ideal dan dasar pembaruan pernikahan. Isteri harus tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan (Ef 5:21) dan seperti jemaat tunduk kepada Kristus (Ef 5:24). Suami harus mengasihi isteri sama seperti Kristus mengasihi dan berkorban bagi jemaat (Ef 5:25-27). Jika bentuk relasi dan tujuan pernikahan berpusat kepada Kristus seperti ini, bagaimana seorang suami/isteri yang tidak percaya kepada Kristus dapat memenuhi tuntutan tersebut? Seorang isteri yang tidak tunduk kepada Tuhan Yesus tidak akan mau tunduk kepada suami seperti jemaat kepada Kristus. Ia tidak tahu bagaimana ketundukan jemaat kepada Tuhan! Begitu pula seorang suami yang belum mengalami kasih dan penebusan Kristus tidak akan bisa mengasihi isterinya seperti Kristus mengasihi jemaat. Ia tidak tahu bagaimana besar dan indahnya kasih penebusan!

Jika kita menyadari bahwa tujuan tertinggi dalam pernikahan adalah kemuliaan Allah (bukan kebahagiaan dan kenyamanan kita sendiri), kita pasti akan mendahulukan kebenaran firman Tuhan di atas perasaan kita. Justru tatkala kita menaati firman-Nya, ia akan memberikan kebahagiaan sejati. Kenikmatan hidup yang sejati akan muncul sesudah kita memuliakan Dia melalui hidup kita.

 

--- bersambung ---

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community