Berdua Untuk Menjaga (Pengkhotbah 4:9-12)

Posted on 06/10/2019 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/berdua-untuk-menjaga-pengkhotbah-4-9-12.jpg Berdua Untuk Menjaga (Pengkhotbah 4:9-12)

Melihat banyak orang berada di suatu tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan melakukan kegiatan yang sama adalah hal biasa. Di mana saja kita dapat menemukan mereka. Yang sulit adalah melihat banyak orang memiliki kebersamaan. Bukan sekadar disatukan oleh tempat, waktu, atau kegiatan.

Kebersamaan sejati terbentuk oleh teologi dan hati. Teologi, karena kebenaran firman Tuhan seharusnya yang memberikan dorongan dan tuntunan dalam kebersamaan. Hati, karena kasih tidak pernah hanya menjadi sebuah teori. Teologi perlu dihidupi. Untuk itu diperlukan hati.

Teks kita hari ini mengajarkan tentang nilai penting kebersamaan. Dari sisi konteks, kebersamaan di ayat 9-12 dikontraskan dengan kesendirian di ayat 7-8. Walaupun seseorang memiliki segala harta, semua itu tidak akan berguna apabila dia tidak memiliki siapa-siapa. Relasi lebih penting daripada prestasi. Kasih sayang lebih berharga daripada kekayaan. Untuk apa mempunyai apa-apa tetapi tidak mempunyai siapa-siapa? Ini adalah kesia-siaan.

Ayat 9-12 juga dikontraskan dengan kebodohan seorang raja tua di ayat 13-16. Usia tua dan jabatan raja bukan jaminan bagi sebuah kehidupan yang bijaksana. Jika dia tidak memiliki seseorang yang memberikan masukan dan peringatan atau jika dia sendiri tidak mau mengindahkan masukan dan peringatan, jabatannya tidak akan bertahan lama. Ini juga sebuah kesia-siaan.

Yang lebih penting daripada kekayaan dan jabatan adalah kebersamaan. Relasi. Yang digerakkan oleh teologi dan dihidupi dalam hati.

Apa saja hal-hal positif yang Allah sediakan melalui kebersamaan?

Pertama, hasil pekerjaan yang lebih baik (ayat 9). Ayat ini berbicara tentang kerja keras dan kerja cerdas. Kata “jerih payah” menyiratkan pekerjaan yang berat, terutama dalam bidang pertanian (agrikultural). Seorang petani tidak boleh bersantai-santai. Tanah yang tidak dirawat akan dipenuhi dengan rumput liar dan semak duri. Pertanian kuno juga sangat bergantung pada alam (baca: musim). Para petani harus mengetahui kapan waktu yang terbaik untuk menabut benih. Tidak bisa ditunda-tunda. 

Kerja keras adalah satu hal. Kerja cerdas adalah hal yang berbeda. Ayat 9 bahkan lebih menyoroti kerja cerdas daripada kerja keras.

Bagaimana cara berkeja dengan cerdas? Kebersamaan! Satu pekerjaan diselesaikan oleh beberapa orang.

Penekanan dalam teks ini bukan pembagian pekerjaan sehingga beban masing-masing orang menjadi berkurang. Kebersamaan bukan untuk menciptakan pengangguran. Bukan mengurangi tanggung-jawab seseorang.

Penekanannya terletak pada hasil yang lebih baik. Orang yang berbeda memiliki kemampuan yang berbeda pula. Masing-masing menyumbangkan kapasitas terbaiknya. Ada yang pandai menanam, ada pula yang rajin menyiram (1Kor. 3:5-9). Jika ini dilakukan, hasilnya pasti lebih menjanjikan.

Kedua, pertolongan pada waktunya (ayat 10-11). Metafora di bagian ini sedikit bergeser. Tidak lagi di bidang pertanian, tetapi perjalanan.

Dalam konteks perjalanan kuno, segala sesuatu yang buruk dan tidak terduga dapat terjadi. Jalanan dahulu tidak sebaik sekarang. Beberapa rute terkenal tidak aman, baik dari bahaya penyamun maupun bencana alam. Sistem pemberian bantuan juga sangat terbatas. Masih banyak lagi faktor lain yang turut membuat perjalanan kuno terlihat menakutkan. Itulah sebabnya orang-orang kuno suka bepergian dalam rombongan. Kebersamaan menyediakan pertolongan.

Ayat 10 secara khusus menyinggung tentang sebuah kecelakaan yang bisa saja menimpa semua orang dalam sebuah perjalanan, yaitu jatuh ke dalam lubang. Ada banyak alasan mengapa hal ini bisa terjadi, misalnya lubang jebakan untuk binatang di hutan atau kondisi jalan yang memang rawan (lubang besar karena bencana alam, jalanan licin sehingga jatuh ke jurang, dsb). Jatuh ke dalam lubang pada saat bepergian sendirian jelas tidak menyenangkan dan bahkan menakutkan. Pertolongan sukar untuk didapatkan. Belum tentu dalam sehari ada orang lain yang melintasi daerah itu. Hewan-hewan liar juga perlu dipertimbangkan, terutama di tengah gelapnya malam. Jika lubang itu adalah jebakan dari para perampok, kita sudah bisa menduga apa yang akan terjadi pada orang yang terjatuh sendirian ke dalamnya.

Kebersamaan menyediakan pertolongan sepanjang waktu. Bukan hanya mengingatkan orang lain agar tidak terjatuh, tetapi juga memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah terjatuh. Pertolongan yang segera didapatkan.

Hal buruk lain yang bisa terjadi selama perjalanan adalah hawa dingin (ayat 11). Perjalanan kuno seringkali memakan waktu lebih panjang. Seseorang bisa menghabiskan beberapa malam di tengah jalan. Malam hari adalah momen yang perlu diantisipasi. Tidak semua orang dapat mencapai tempat perlindungan publik pada saat yang tepat. Seringkali mereka terpaksa bermalam di tengah hutan atau padang gurun. Jika ini yang terjadi, mereka harus bersiap menghadapi hawa dan angin dingin yang sangat ekstrim.

Bepergian seorang diri dalam kondisi seperti ini jelas sangat menyiksa. Jubah kuno tidak setebal jaket musim dingin sekarang. Sepatu khusus musim dingin juga belum ada. Satu-satunya perlindungan adalah tenda (kalau dibawa) atau gua (kalau ada). Jika bepergian dalam rombongan, mereka bisa saling menghangatkan. Orang-orang kuno sudah terbiasa tidur sambil berpelukan. Tujuannya hanya satu: menghangatkan badan.

Ketiga, perlindungan yang kokoh (ayat 12). Kita tidak bisa memastikan apakah ayat ini masih menggunakan metafora perjalanan kuno. Jika tidak, konteks perkelahian di sini mungkin lebih umum: segala macam serangan. Jika iya, konteks perkelahian di sini sangat mungkin merujuk pada perlawanan terhadap para penyamun di tengah jalan. Sebagaimana kita ketahui, serangan penyamun adalah salah satu bahaya besar dalam perjalanan (bdk. Luk. 10:30-37). 

Manapun yang benar, poin yang ditekankan tetap sama: kebersamaan akan memberikan perlindungan. Penulis Kitab Pengkhotbah tentu saja tidak sedang mengajarkan pengeroyokan (tawuran). Penekanannya bukan pada “memenangkan dengan mudah”, tetapi “tidak mudah dikalahkan”. Berarti ada serangan. Orangnya hanya bertahan.

Dugaan di atas menjadi lebih jelas apabila dikaitkan dengan pepatah kuno yang dikutip di akhir ayat 12 (“Tali tiga lembar tidak mudah diputuskan”). Sekali lagi, kata kerja yang digunakan di sini berbentuk pasif (“dipatahkan”). Berarti ada serangan dari luar. Ada orang yang berusaha mengalahkan atau menghancurkan. Kebersamaan memberikan perlindungan yang tak tergoyahkan.

Inti dari semua nasihat di ayat 9-12 adalah “persahabatan”. Ini bukan tentang mencari pertolongan pada saat menghadapi kemalangan atau kejatuhan. Itu bukan persahabatan. Itu hanya memanfaatkan orang. Yang sedang dinasihatkan adalah membangun pertemanan di segala waktu. Persahabatan tidak datang dalam sesaat. Perlu dirawat. Pada akhirnya, pertemanan yang kuat akan menyediakan pertolongan pada waktu yang tepat. Itulah inti dari ayat 9-12.

Sebagai anak-anak Alah, kita bersyukur mempunyai sahabat yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Dia sendiri yang mengatakan bahwa kita adalah sahabat-sahabat-Nya (Yoh. 15:13-15). Dia bukan hanya memberikan pertolongan dan perlindungan. Dia bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang sahabat yang mau menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Itulah yang dilakukan oleh Kristus bagi kita.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda memiliki sahabat? Maukah Anda menjadi sahabat bagi orang lain yang merasa sendirian dan tersisihkan? Maukah Anda meneladani dan mencerminkan persahabatan Kristus kepada sesama? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community