Be Aware of Fake Salvation (Ibrani 6:1-8)

Posted on 10/08/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Be-Aware-of-Fake-Salvation-(Ibrani-6-1-8).jpg Be Aware of Fake Salvation (Ibrani 6:1-8)

Dalam sebulan terakhir kita sudah berkali-kali belajar bahwa keselamatan kita merupakan sesuatu yang pasti, karena dijamin oleh Allah. Tidak ada orang Kristen yang sungguh-sungguh yang pada akhirnya meninggalkan Tuhan secara total dan final. Dalam anugerah dan kekuataan-Nya yang menakjubkan, Allah memampukan kita untuk menaati Dia di tengah beragam pencobaan di dunia ini.

Salah satu teks yang sering diajukan untuk menentang doktrin di atas adalah Ibrani 6:1-8. Teks ini sekilas memang mengajarkan bahwa orang Kristen yang sejati dapat murtad sehingga tidak mungkin untuk ditobatkan kembali. Apakah benar demikian?

Untuk memahami seluruh teks ini dengan baik, kita pertama-tama akan mengupas apakah orang-orang yang dimaksud di ayat 4-8 adalah mereka yang sudah diselamatkan di dalam Kristus dan yang murtad di kemudian hari. Sesudah itu kita akan mempelajari mengapa penulis Surat Ibrani perlu membahas tentang hal ini (ayat 1-3).

Identitas sejati: bukan orang-orang Kristen sejati (ayat 4-8)

Jika kita membaca teks ini secara sekilas kita mungkin akan mengira bahwa orang-orang di bagian ini adalah orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh. Mereka tampaknya telah menikmati pengalaman-pengalaman rohani yang menakjubkan, misalnya diterangi hatinya, mengecap karunia surgawi, mendapat bagian dalam Roh Kudus, dsb (ayat 4-5). Bukan hanya itu. Kegagalan mereka disebut murtad (ayat 6a). Mereka tidak mungkin bertobat lagi (ayat 6). Mereka menyalibkan lagi Anak Allah (ayat 6c).

Penyelidikan yang lebih teliti ternyata menunjukkan sebaliknya. Orang-orang tersebut bukan orang-orang Kristen sejati. Ada beberapa dukungan untuk penafsiran ini.

Beragam pengalaman rohani yang disebutkan di ayat 4-6 tidak secara konklusif mengarah pada pengalaman pertobatan yang sejati

Beberapa kosa kata yang ada di bagian tersebut bisa merujuk pada pengalaman orang Kristen yang sejati maupun yang tidak sungguh-sungguh. Maksudnya, semua orang Kristen yang sejati pasti pernah mengalami berkat-berkat rohani tersebut, tetapi tidak semua orang yang pernah mengalami hal-hal itu pada akhirnya menjadi orang Kristen yang sejati.

Pertama, “pernah diterangi hatinya (hapax phōtisthentas)”. Dalam teks Yunani sebenarnya tidak ada kata ‘hatinya’. Kata dasar ‘menerangi’ (phōtizō) secara figuratif bisa merujuk pada beragam hal: pengalaman rohani yang berkaitan dengan pertobatan (Ibr 10:32; 1 Kor 4:5), pengalaman rohani sesudah pertobatan (Ef 1:18), maupun pencerahan bagi semua orang tanpa terkecuali (Yoh 1:9). Arti mana yang tepat harus ditentukan oleh konteks.

Sebagian penafsir menggarisbawahi kata hapax (‘pernah’) dan menerjemahkannya sebagai pengalaman yang terjadi sekali untuk seterusnya (Ibr 9:26-28), sehingga dengan demikian hapax phōtisthentas mengarah pada pertobatan (conversion). Penafsiran seperti ini kurang tepat. Kata hapax juga digunakan untuk tindakan yang dilakukan lebih dari sekali (Ibr 9:7; Flp 4:16). Jadi, sekali lagi, kita perlu memperhatikan konteks untuk menentukan arti yang sebenarnya dari kata ini.

Kedua, “mengecap karunia surgawi” (geusamenous te tēs dōreas tēs epouraniou). Kata ‘mengecap’ (geuomai) memang merujuk pada pengalaman yang nyata, misalnya Yesus mengecap kematian (Ibr 2:9). Walaupun demikian, arti yang dipentingkan bukan terletak pada nyata/tidak, melainkan sementara/terus-menerus. Yesus hanya sebentar berada dalam kematian!. Contoh lain adalah peristiwa di kayu salib. Sesudah mengecap anggur bercampur empedu, Yesus tidak mau minum anggur itu lagi (Mat 27:34). Sejarahwan Yahudi kuno yang bernama Yosefus juga mencatat tentang sebagian orang yang pernah mengecap ajaran sekte Essenes, tetapi mereka lalu meninggalkan ajaran itu (J.W. 2.158).

Yang lebih penting bukan kata ‘mengecap’ tetapi ‘karunia surgawi’. Apakah tēs dōreas tēs epouraniou merujuk pada pengalaman keselamatan? Dalam hal ini kita sulit menentukan, karena frase ini hanya muncul sekali. Kemungkinan besar frase ini merujuk pada pekerjaan-pekerjaan Roh Kudus tertentu, karena kata dōrea beberapa kali dikaitkan dengan Roh Kudus (Kis 2:38; 8:20; 10:45; 11:17). Karunia ini mungkin berbentuk kesembuhan (Luk 4:14, 40; 1 Kor 12:9) atau pengusiran roh-roh jahat (Mat 12:28), namun belum tentu bersifat menyelamatkan. Banyak orang yang menyaksikan perbuatan Roh Kudus tetapi tetap menghujat Dia (Mat 12:31) atau menentang Dia (Kis 7:51).

Ketiga, “mendapat bagian dalam Roh Kudus” (metochous genēthentas pneumatos hagiou). Kata dasar metochos (lit. ‘partisipan’) bisa mengandung arti sebuah keikutsertaan yang intim/substansial (Ibr 3:14, lit. “kita telah menjadi  partisipan Kristus”) atau sekadar kebersamaan biasa (Ibr 1:9). Arti mana yang lebih tepat harus ditentukan oleh konteks.

Keempat, “mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dari dunia yang akan datang” (kalon geusamenous theou rhēma dynameis te mellontos aiōnos). Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, penekanan pada kata ‘mengecap’ adalah kesementaraan. Beberapa orang mungkin memang menerima firman Tuhan dengan sukacita, tetapi mereka tidak berakar di dalam firman sehingga tidak bertahan lama (Mar 4:16-17). Berkaitan dengan “kuasa-kuasa dari dunia yang sedang datang” (kontra LAI:TB ‘karunia-karunia dunia yang akan datang’), kita perlu memahami bahwa mellontos aiōnos di sini tidak merujuk pada kekekalan, tetapi pada zaman Roh Kudus tatkala Kerajaan Allah dinyatakan melalui kuasa (Ibr 2:4-5; bdk. Mat 12:28). Beberapa orang dalam komunitas Kristen – bahkan nabi-nabi palsu sekali pun – dapat bernubuat dan mengusir roh-roh jahat demi nama Tuhan (Mat 7:22-23, bdk. ayat 15-20), tetapi hal itu tidak berarti bahwa mereka pernah mengalami pengalaman pertobatan yang sejati!

Kelima, “tidak mungkin diperbarui sekali lagi sedemikian sehingga mereka bertobat” (palin anakainizein eis metanoian). Kunci untuk memahami frase ini terletak pada arti ‘pertobatan’ (metanoia). Kata ini ternyata tidak selalu menyiratkan sebuah pertobatan yang melibatkan iman yang sejati. Ibrani 6:1 membedakan antara dasar pertobatan (dari perbuatan-perbuatan jahat) dan dasar kepercayaan (iman yang sejati kepada Allah). Maksudnya, orang yang menyesali dosa-dosanya belum tentu pada akhirnya mempercayakan diri kepada Allah. Penulis Surat Ibrani menampilkan Esau sebagai contoh konkrit (Ibr 12:16-17). Kita juga dapat menambahkan Yudas Iskariot sebagai contoh lain (Mat 27:3-5; Yoh 6:70-71; 13:27; Kis 1:16-20). Walaupun penyesalan dapat menjadi dukacita yang menghasilkan pertobatan sejati (2 Kor 7:10), tetapi tidak semua metanoia (dalam arti ‘penyesalan’) memimpin kepada hidup (bdk. Kis 11:18). Itulah sebabnya para penulis Alkitab kadangkala perlu menambahkan penjelasan tertentu untuk kata metanoia yang merujuk pada pertobatan sejati, misalnya pertobatan yang membawa keselamatan (2 Kor 7:10, metanoia eis sōtērian) atau pertobatan yang memimpin pada hidup (Kis 11:18 , tēn metanoian eis zōēn).

Orang-orang yang pernah berada dalam komunitas orang percaya dan merasakan beragam pengalaman rohani tetapi akhirnya murtad tidak mungkin bisa dibarui lagi. Mengapa? Mereka menyalibkan lagi Anak Allah di depan umum (Ibr 6:6b). Dalam hal ini kata ‘menyalibkan lagi’ (anastaurountas) perlu digarisbawahi. Artinya, mereka secara hakekat sama seperti orang-orang Yahudi yang sudah pernah melihat dan merasakan mujizat Tuhan Yesus tetapi tetap memilih untuk menentang dan mempermalukan Dia melalui salib (kerusakan hakiki ini akan dijelaskan melalui metafora tanah di ayat 7-8). Orang-orang luar yang tidak paham pasti akan menghujat nama Tuhan Yesus tatkala mereka menyaksikan orang-orang Kristen palsu di ayat 4-6 meninggalkan kekristenan dan hidup secara duniawi lagi. Anak Allah kembali dipermalukan di depan umum!

Metafora di ayat 7-8 menunjukkan dua kelompok orang yang secara hakiki berbeda

Kata sambung ‘sebab’ (gar) mengindikasikan sebuah alasan atau penjelasan bagi ayat 4-6. Jadi, kita perlu membandingkan metafora ini dengan apa yang sudah dijabarkan di ayat-ayat sebelumnya. Hujan yang sering turun jelas mengarah pada berbagai pengalaman rohani di ayat 4-5. Sebagaimana hujan turun ke atas berbagai jenis tanah, demikian pula pengalaman rohani di ayat 4-5 dapat dicurahkan kepada berbagai macam orang.

Yang membedakan adalah apa yang terjadi sesudah hujan itu berkali-kali turun. Tanah yang baik akan menghasilkan sayuran dan buah-buahan (ayat 7a). Tanah yang buruk akan menghasilkan semak dan duri (ayat 8a). Tanah yang baik akan menerima berkat dari Allah (ayat 7b), sedangkan tanah yang buruk akan dibakar (ayat 8b).

Orang-orang yang berada dalam komunitas Kristen sama-sama mendapatkan hujan berupa pengalaman-pengalaman rohani yang indah. Mereka semua mungkin menyaksikan atau mengalami mujizat. Mereka semua mungkin mendengarkan firman Tuhan yang baik. Walaupun demikian, hanya orang-orang tertentu yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus yang mampu untuk menghasilkan buah. Orang-orang lain hanya akan menumbuhkan semak dan duri, karena pada hakekatnya mereka memang adalah tanah yang buruk. Sama seperti pohon yang baik/buruk akan menghasilkan buah sesuai dengan jenisnya (Mat 7:15-20), demikian pula tanah yang baik/buruk dapat dikenal melalui jenis tanaman yang dihasilkan (Ibr 6:7-8). Jadi, kemurtadan tidak membuktikan bahwa keselamatan dapat hilang. Sebaliknya, hal itu justru menunjukkan bahwa orang yang murtad memang dari awal tidak pernah bertobat (bdk. 1 Yoh 2:19). Seperti pepatah kuno mengatakan: “Anjing kembali ke muntahnya, babi kepada kubangannya” (2 Pet 2:22).

Pengalaman-pengalaman rohani di ayat 4-6 tidak mengandung keselamatan

Inti metafora di ayat 7-8 diteguhkan oleh ayat 9: para penerima surat berbeda dengan orang-orang yang dimaksudkan di ayat 4-6. Sebelumnya menjelaskan hal ini, saya ingin mengoreksi terjemahan LAI:TB di ayat 9. Penerjemah LAI:TB secara keliru telah mengaitkan ‘tentang kamu’ (peri hymōn) dengan frase “sekalipun kami berkata demikian”, seolah-olah penerima surat identik dengan orang-orang di ayat 4-6. Dalam teks Yunani, ‘tentang kamu’ justru diletakkan persis sesudah kata ‘kami yakin’ (pepeismetha). Frase “sekalipun kami berkata demikian” terletak di bagian akhir kalimat dan tidak diberi tambahan apapun. Jadi, secara hurufiah ayat 9 seharusnya diterjemahkan: “tetapi kami yakin tentang kalian, [saudara-saudara] yang kami kasihi, [bahwa] kalian memiliki hal-hal yang lebih baik, yaitu yang menyertai/memiliki keselamatan”.

Ada beberapa kontras yang ditekankan di ayat ini. Yang paling jelas adalah kata sambung ‘tetapi’ (de). Berikutnya adalah pergantian kata ganti orang dari “mereka” (ayat 4-6) menjadi “kalian” (ayat 9). Kata ‘lebih baik’ (kreissona) jelas membandingkan dua hal yang sama-sama baik, tetapi salah satu memiliki kebaikan yang lebih tinggi. Penulis Surat Ibrani di sini jelas sedang membandingkan pengalaman-pengalaman rohani di ayat 4-6 dengan apa yang dialami oleh penerima surat. Penerima surat memiliki pengalaman rohani yang lebih baik, yaitu pengalaman rohani yang menghasilkan keselamatan. Mereka bukan hanya melihat dan mengalami pekerjaan Roh dalam bentuk mujizat tetapi kelahiran kembali yang menyelamatkan. Mereka bukan hanya bersemangat tentang firman Tuhan, tetapi juga bertumbuh di dalamnya. Mereka bukan hanya mengerti firman secara kognitif, namun juga memahami dan mempercayai firman itu.

Bagian lain dari Surat Ibrani mengajarkan kepastian keselamatan

Ada beberapa teks di surat ini yang sesuai dengan doktrin ketekunan orang-orang kudus. Mengingat keterbatasan waktu dan ruang, kita hanya akan melihat dua teks: Ibrani 3:14 (“Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula”) dan 10:14 (“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”).

Dalam teks pertama dikatakan “kita telah beroleh bagian di dalam Kristus” (lit. “kita telah menjadi partisipan [metochos] di dalam Kristus”). Bentuk lampau ‘telah’ menyiratkan bahwa partisipasi ini (3:14a) sudah terjadi sebelum kita teguh berpegang pada iman kita (3:14b). Lebih jauh, keteguhan iman justru menjadi bukti bahwa kita sudah mengambil bagian dalam Kristus.

Sehubungan dengan teks kedua, kita perlu memperhatikan kata ‘untuk selama-lamanya’ dan ‘mereka yang Ia kuduskan’. Dalam teks Yunani, ‘mereka yang Ia kuduskan’ berbentuk kekinian (tous hagiazomenous), sehingga menunjukkan sebuah proses yang sedang terjadi terus-menerus. Bagi mereka yang berada dalam proses pengudusan sejati, korban Kristus sudah cukup untuk menyempurnakan mereka. Bentuk perfek ‘menyempurnakan’ (teteleiōken) bahkan menyiratkan tindakan yang dilakukan dulu tetapi memiliki akibat sampai sekarang. Jika kurban itu menyempurnakan untuk selama-lamanya, bagaimana mungkin orang yang sedang berada dalam proses pengudusan pada akhirnya gagal di tengah jalan?

Tujuan dari peringatan (ayat 1-3)

Jika orang-orang yang digambarkan di ayat 4-8 bukanlah penerima surat dan bukan orang-orang Kristen sejati, untuk apa penulis Surat Ibrani perlu menyinggung tentang mereka? Jika orang-orang Kristen sejati tidak mungkin murtad, mengapa ayat 4-6 perlu untuk dipaparkan di bagian ini? Kita tidak mungkin menjawab pertanyaan ini tanpa mengaitkannya dengan ayat 1-3. Kata sambung ‘sebab’ (gar) di awal ayat 4 jelas menunjukkan bahwa ayat 4-8 merupakan penjelasan terhadap ayat 1-3, yaitu tentang nasihat untuk bertumbuh secara rohani.

 Penulis Surat Ibrani menasihatkan pembacanya untuk terus-menerus menuju kesempurnaan dengan cara melangkah melampaui ajaran-ajaran dasar kekristenan. Semua yang mendasar ini memang diperlukan, tetapi tidak cukup sampai di situ saja. Mereka harus terus-menerus bertumbuh. Orang yang benar-benar memiliki dasar yang teguh pasti akan bertumbuh, sedangkan mereka yang tidak memiliki dasar ini, yaitu orang-orang di ayat 4-6, akan gagal di tengah jalan. Dengan kata lain, pertumbuhan rohani menjadi alat ukur kebenaran dan kesejatian iman seseorang.

Pertumbuhan ini tidak dapat dipisahkan dari anugerah Allah. Walaupun kita harus mendorong diri untuk bertumbuh secara rohani (6:1-2), hal itu hanya terjadi seturut dengan kehendak Allah (6:3b “Jika Allah menghendakinya”). Frase ‘jika Allah menghendaki’ jelas bukan berarti ada kemungkinan Dia tidak menghendaki kita bertumbuh. Frase ini menyiratkan bahwa pertumbuhan rohani hanya dimungkinkan melalui anugerah-Nya. Di penghujung surat ini tertulis sebuah doa dan keyakinan yang indah untuk kita semua: “Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (13:20-21). Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community