Bagaimana Menyikapi Tempat Yang Keramat?

Posted on 30/12/2018 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/bagaimana-menyikapi-tempat-yang-keramat.jpg Bagaimana Menyikapi Tempat Yang Keramat?

Sebagai warga negara Indonesia kita sudah terbiasa dengan beragam tempat keramat (atau yang dianggap keramat). Ada pantai, rumah, sumur atau pohon tertentu yang dikeramatkan. Berbagai kisah mistis pun beredar luas seputar situs-situs tersebut.

Situasi ini bahkan dimanfaatkan oleh beberapa stasiun televisi untuk mengadakan acara uji nyali. Berbagai program yang sama dengan nama berbeda pun diluncurkan. Durasi episode yang lama dan kemunculan beragam program sejenis menunjukkan bahwa animo pendengar di Indonesia sangat tinggi terhadap acara-acara seperti ini.

Bagaimana orang Kristen seharusnya menyikapi tempat-tempat keramat? Haruskah kita takut? Bolehkah kita meremehkan?

Ada beberapa pedoman dan batasan yang kita perlu perhatikan.

Pertama, kita tidak perlu membuktikan apapun. Kekuasaan Allah atas roh-roh jahat merupakan hal yang pasti dan mutlak. Tidak perlu dibuktikan. Pencipta selalu lebih hebat daripada ciptaan. Segala kuasa di sorga dan di bumi berada di tangan Kristus (Mat. 28:18). Semua roh jahat tunduk dan takut kepada-Nya (Mrk. 3:11; 5:13).

Kedua, kita tidak perlu takut. Setiap orang percaya adalah milik Allah. Mereka dimeteraikan dengan Roh Kudus (2Kor. 1:22; Ef. 1:13-14). Dengan demikian setiap orang percaya tidak usah takut terhadap roh manapun, sebagai Alkitab sudah menjanjikan: “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1Yoh. 4:4b). Secara khusus, Yesus Kristus bahkan sudah memberikan kuasa kepada kita untuk mengusir roh-roh jahat (Mrk. 3:14-15; Luk. 10:19-20).

Ketiga, kita tidak boleh gegabah. Allah yang kita percayai memang berkuasa atas segala sesuatu. Kita memang sudah diberi kuasa atas roh-roh jahat. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kita boleh bertindak gegabah. Jika tidak ada situasi khusus yang benar-benar diperlukan bagi penyebaran Injil, kita tidak usah menunjukkan kuasa tersebut. Bukankah setiap pekerjaan ajaib dimaksudkan sebagai alat pelayanan (1Kor. 12:4-7, 11), bukan alat untuk pameran atau tontonan?

Keempat, kita harus menghargai keyakinan orang lain. Kita boleh berbeda pendapat dengan orang lain. Kita boleh tidak mempercayai apa yang mereka percayai. Walaupun demikian, kita tetap wajib menghargai kepercayaan orang lain. Jangan melakukan hal-hal tertentu yang dapat dipersepsi sebagai penghinaan atau penistaan terhadap keyakinan mereka.

Kelima, kita perlu bersandar pada pimpinan Roh Kudus. Situasi berbeda menuntut sikap yang berbeda pula. Bagaimana jika seorang kepala suku atau dukun-dukun ternama di suatu suku pedalaman menantang kita secara tertbuka untuk menunjukkan kuasa yang ada di dalam kita? Bagaimana jika kita menghadapi seorang yang kerasukan roh jahat dan membutuhkan pertolongan? Bagaimana jika di suatu tempat keramat sering terjadi hal-hal negatif yang meresahkan masyarakat? Bagaimana jika….? Bagaimana jika….? Deretan pertanyaan seperti ini masih bisa diperpanjang. Tidak ada panduan yang baku dan kaku untuk setiap situasi. Banyak faktor perlu dipertimbangkan. Intinya adalah persandaran pada Roh Kudus. Jika Dia mendorong kita untuk melakukannya, janganlah ragu dan takut untuk mengikuti pimpinan itu. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community