Bagaimana menyikapi orang yang agnostik terhadap agama?

Posted on 11/09/2016 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/bagaimana-menyikapi-orang-yang-agnostik-terhadap-agama.jpg Bagaimana menyikapi orang yang agnostik terhadap agama?

Pertanyaan ini semakin sering terdengar. Saya sendiri berkali-kali menemui orang agnostis. Golongan agnostik merasa bahwa kebenaran yang pasti sukar (atau mustahil) untuk ditemukan. Karena kepastian itu sulit untuk dicapai, mereka memilih untuk bersikap acuh tak acuh. Bagaimana seharusnya kita menyikapi mereka?

Pertama-tama kita perlu mengapresiasi pandangan mereka. Semakin kita menyalahkan mereka tanpa argumen atau bukti yang memadai, semakin hal itu menguatkan agnostisisme mereka. Memahami cara berpikir mereka dan tidak menghakimi pemikiran semacam itu merupakan langkah awal yang perlu ditempuh. Mereka perlu mendapatkan kesan yang tulus bahwa kita tidak menggampangkan persoalan. Mereka perlu merasa nyaman terhadap kita karena mereka menganggap kita tidak bersikap dogmatis (menilai segala sesuatu hanya melalui dogma atau doktrin tetapi tanpa memberikan argumen yang baik).

Dalam kaitan dengan hal ini, kita perlu membiasakan diri untuk terbuka dan jujur. Kita harus mampu membedakan mana pernyataan dan mana alasan bagi pernyataan itu. Apabila suatu keyakinan yang kita pegang memang tidak memiliki bukti yang mutlak, kita perlu mengakui hal itu. Yang penting bukanlah bukti yang mutlak (absolute proof), melainkan alasan yang memadai (sufficient reason).

Langkah kedua yang tidak kalah penting adalah menerangkan bahwa keyakinan tidak selalu membutuhkan kepastian bukti secara mutlak. Dalam banyak hal setiap orang bisa (dan harus) mempercayai sesuatu walaupun bukti yang ada tidak 100%. Kita berani bepergian dengan pesawat terbang tanpa tahu secara pasti apakah para petugas teknis di bandara benar-benar berkomitmen terhadap pekerjaan mereka. Bahkan tidak ada seorang pun di antara kita yang berasa perlu untuk menanyakan nilai kelulusan pilot di sekolah penerbangannya. Kita juga memakan sajian di pesawat tanpa memusingkan apakah proses pengolahan makanan itu sudah memadai dari sisi kesehatan dan kebersihan. Contoh-contoh ini masih dapat diperpanjang tanpa batas. Setiap hari kita dikondisikan untuk mempercayai sesuatu walaupun pengetahuan kita terhadap hal itu tidak memadai. Tanpa sikap ini, kita tidak mungkin dapat menjalani kehidupan kita dengan normal. Agnostisisme yang konsisten (dalam setiap keadaan) dan komprehensif (tidak hanya menyentuh hal-hal relijius) adalah mustahil untuk dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Masih berhubungan dengan hal ini, langkah ketiga adalah menunjukkan bahwa orang agnostik seringkali tidak bersikap agnostik terhadap agnostisisme mereka sendiri. Maksudnya, mereka meyakini bahwa pandangan mereka pasti benar. Mereka merasa tidak perlu mengkaji ulang pandangan mereka maupun pandangan orang lain. Tidak jarang mereka sendiri tidak memiliki bukti yang memadai untuk membenarkan agnostisisme mereka. Pendeknya, mereka telah bersikap tidak konsisten.

Seorang agnostik sejati seharusnya terus-menerus mempelajari segala sesuatu, baik yang ia percayai maupun tolak. Apabila ia sudah merasa yakin dengan suatu pandangan, ia telah berhenti menjadi seorang agnostik.

Suatu ketika saya berbincang-bincang dengan seorang bule yang agnostik. Dia secara eksplisit menyatakan posisinya terhadap hal-hal relijius. Dia seorang agnostik. Dengan lemah-lembut dan santai saya menanyakan apakah dia mengetahui dan meyakini bahwa pandangannya pasti benar. Pertanyaan ini menyodorkan dilema bagi dia. Jika dia tahu pasti dan yakin dengan pandangannya, maka agnostisisme adalah keliru. Ada kebenaran yang dapat dicapai dan diyakini secara memadai. Jika dia tidak tahu pasti dan tidak yakin dengan pandangannya, maka dia sepatutnya mempelajari alternatif-alternatif lain yang ada. Dia tidak boleh berhenti berpikir kritis, bahkan terhadap pandangannya sendiri. Jika dia tidak bisa menyediakan bukti-bukti yang cukup untuk membenarkan agnostisismenya, mengapa dia sudah mampu meyakini sikap itu? Bukankah itu menunjukkan bahwa keyakinan tidak selalu memerlukan bukti yang 100%?

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi akar persoalan. Seorang yang agnostik pasti memiliki faktor atau alasan tersendiri yang membuat dia akhirnya bersikap seperti itu. Beberapa didorong oleh ketidakpercayaan mereka terhadap keberadaan Allah (atheisme). Beberapa merasa sukar melihat relevansi positif dari agama-agama yang ada. Beberapa yang lain merasa tersandung dengan orang-orang yang relijius, misalnya para jihad yang melakukan terorisme atau orang Kristen yang munafik di tempat kerja. Setiap akar persoalan ini membutuhkan pendekatan yang khusus. Dengan kata lain, kita tidak boleh menyamaratakan semua orang agnostik. Agnostisisme bukanlah alasan ultimat. Ini hanyalah akibat dari sebuah alasan yang lebih fundamental.

Apabila seorang agnostik yang kita hadapi cenderung pada atheisme, kita sebaiknya mengakui bahwa berbagai argumen yang biasanya dipaparkan untuk mendukung keberadaan Allah bersifat tidak mutlak benar. Artinya, kita tidak bisa membuktikan 100% bahwa Allah pasti ada. Argumen kita terbatas jika dibandingkan dengan realita yang sesungguhnya. Ada jarak antara keduanya.

Walaupun demikian, kita terus menggiring orang agnostik untuk membandingkan argumen kita bukan dengan realita, melainkan dengan argumen orang itu. Argumen melawan argumen. Bukan argumen melawan kepastian. Berilah dia kesempatan untuk menerangkan semua argumen dia satu per satu. Hargailah setiap argumen yang diberikan, lalu tunjukkanlah bahwa argumen kita lebih masuk akal.

Apabila dia menganggap agama sebagai hal yang primitif dan tidak relevan, tunjukkanlah kepadanya bahwa sekarang ini sedang terjadi revolusi spiritualitas. Berbagai aliran kepercayaan mengalami kebangkitan ketertarikan terhadap hal-hal non-metarial. Situasi ini dipicu oleh kekosongan hidup akibat materialisme. Kegagalan sains dalam memberikan kepuasan holistik bagi banyak orang juga mendorong banyak orang mencari pemuasan-pemuasan yang spriritual. Ramalan Friedrich Nietsche tentang “kematian Allah” (death of God) ternyata tidak terbukti. Semakin banyak orang menyadari bahwa ada aspek-aspek non-material dalam diri manusia yang perlu ditelusuri dan disentuh.

Apabila seorang agnostik merasa tersandung dengan orang-orang yang relijius, kita tidak perlu memberikan pembelaan terhadap fakta yang ia kemukakan. Banyak penganut agama yang telah berpartisipasi dalam kejahatan dan kehancuran umat manusia. Hampir setiap agama memiliki catatan kelam tersendiri.

Pada saat yang sama kita juga berusaha untuk menerangkan bahwa inti persoalan bukan terletak pada agama itu sendiri. Jumlah orang yang terbunuh di negara komunis yang tidak mempercayai Allah juga begitu besar. Kejahatan dilakukan oleh orang-orang relijius maupun yang tidak relijius. Persoalan utama terletak pada diri manusia. Ajaran yang baik dalam sebuah agama pun dapat dipersepsi dan diaplikasikan secara keliru. Dengan menunjukkan betapa bobroknya natur manusia yang berdosa, kita malah mendapatkan celah untuk memberitakan injil Yesus Kristus. Semua agama mengajarkan upaya manusia untuk berbuat baik supaya mendapatkan kelepasan, tetapi usaha ini pasti gagal. Akar persoalan justru terletak pada diri manusia itu sendiri. Jika kerusakan bersifat internal (dalam diri manusia), maka solusinya seyogyanya secara eksternal. Solusi eksternal ini tidak mungkin disediakan oleh manusia, karena manusia sendiri adalah bagian dari persoalan. Solusi paling masuk akal adalah dari Allah sendiri.

Langkah berikutnya dalam menyikapi seorang agnostik adalah mengajak dia memikirkan probabilitas kebenaran dan konsekuensinya. Kita mengajak dia untuk berandai-andai jika pandangan kita benar, konsekuensi buruk apa yang akan menimpa dia. Begitu pula sebaliknya dengan pandangan dia dan konsekuensi bagi kita. Maksudnya, jika Allah ternyata benar-benar ada, apa yang menjadi konsekuensi bagi dia. Jika Allah memang tidak ada, konsekuensi apa yang akan menimpa kita. Pendekatan yang sudah pernah diperkenalkan oleh Pascal ini akan terdengar relevan dan ramah bagi seorang agnostik, karena dia berada dalam ketidakpastian (jika ia adalah seorang agnostik yang konsisten).  

Langkah terakhir adalah mengapresiasi kesediaan orang agnostik yang mau meluangkan waktu membicarakan hal-hal yang bagi dia terdengar tidak pasti dan kurang relevan. Hargailah keberanian orang itu untuk mempertanyakan hal-hal yang fundamental dalam hidup. Pada saat yang sama, kita juga mendorong dia untuk tidak pernah berhenti mencari kebenaran. Jika dia adalah seorang agnostik yang konsisten, ia akan terus-menerus mencarinya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community