Bagaimana Menyikapi Film Messiah Netflix?

Posted on 26/01/2020 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/bagaimana-menyikapi-film-messiah-netflix.jpg Bagaimana Menyikapi Film Messiah Netflix?

Sejak dirilis ke publik beberapa minggu lalu, film ini sontak menerima beragam respons. Pro dan kontra bermunculan, terutama dari kelompok2 relijius tertentu. Sayangnya, banyak tanggapan terkesan sangat "relijius" dan bias.

Untuk menganalisa film ini secara lebih objektif, kita perlu melihatnya dari pelbagai sudut. Yang pertama adalah dari sisi sastra (perfilman). Menurut si produser, tujuan film ini adalah mengajak para penonton mengambil sikap sendiri2. Itu sebabnya plot & tokoh utama dibuat semisterius mungkin. Dalam sastra ini disebut "teori ambiguitas". Setiap penonton bisa mengidentifikasikan diri dengan tokoh itu, terlepas dari sudut pandang mereka. Dari persepktif sastra, film ini terbilang sukses dalam menonjolkan kemisteriusan itu. Satu2nya "kelemahan" adalah pergerakan plot yang agak lambat.

Yang kedua adalah dari sisi isi. Banyak orang lebih sibuk memberi label "mesias palsu",  "dajjal," dsb. Beberapa bahkan menilai film ini sebagai penghujatan. Potret yang ditampilkan tokoh utama memang ambigu: ada sisi2 dia mirip "Yesus" (Kristen) atau "Ah-Mahdi" (Islam), tapi ada sisi2 lain bertentangan. Ada sisi2 dia begitu manusiawi, ada sisi2 lain yang memberi kesan ilahi.
Yang saya kuatirkan dari film ini bukan bahaya mesias palsu. Mayoritas orang Kristen yang sungguh2 dengan mudah akan mengetahui bahwa figur mesias di sini berbeda dengan Yesus (tidak mengklaim diri sebagai mesias, cenderung menarik diri dari banyak orang, melakukan yoga, dsb). Tanda2 ajaib juga tidak mengherankan, karena mesias palsu di akhir zaman memang punya kuasa seperti itu (Mat. 24:23-28).

Yang membahayakan justru kesan "universalis". Dia berada di persimpangan jalan Yahudi - Kristen - Islam. Perpaduan Bahasa Ibrani dan Arab semakin menguatkan kesan ini. Bahkan secara eksplisit dia berkata: "Aku berjalan dengan semua orang" atau "Kembali kepada kitab suci tidak akan menyelamatkan kalian". Apakah mungkin ada pesan terselubung bahwa semua agama sama? Bisa saja. 

Senada dengan itu, film ini cenderung spiritual daripada relijius. Tidak ada rujukan jelas pada keyakinan tertentu. Menjadi spiritual tidak harus menganut keyakinan (agama) tertentu. Yang penting adalah pencarian spiritual untuk pemenuhan hasrat diri. Semua orang diundang ke dalamnya. Kira-kira itu intinya.
Terlepas dari kritikan di atas, film ini menyuguhkan perenungan mendalam. Di bagian awal ada perkataan: "Setiap orang pasti menyembah. Pilihannya cuma apa yang kita sembah". Seseorang yang mencoba tetap skeptis terhadap Sang Mesias berkata: "Jika ia nyata, apa yang harus kita lakukan? Meninggalkan segala sesuatu begitu saja dan mulai menyembah dia?"

Keengganan orang untuk memercayai Yesus juga seringkali dipicu oleh keberatan emosional atau sosial. Walaupun secara logis mereka mendapat kekristenan lebih rasional dibandingkan opsi-opsi lain, mereka tetap tidak mau memberi ruang bagi Tuhan. Mereka tidak siap diubah oleh Sang Kebenaran.

Akhirnya, film ini mengingatkan kita semua bahwa ada banyak masalah di dunia ini. Banyak orang menyimpan harapan. Banyak yang menunggu perubahan. Apakah kita mau menjadi agen2 transformasi dunia melalui impartasi kasih Kristus? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community