Bagaimana Menang Atas Godaan Masturbasi?

Posted on 19/03/2017 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Bagaimana-Menang-Atas-Godaan-Masturbasi.jpg Bagaimana Menang Atas Godaan Masturbasi?

Pergumulan melawan godaan seksual merupakan pertarungan yang tidak mudah. Banyak orang tidak berdaya. Namun, hal ini bukan berarti pertarungan ini tidak dapat dimenangkan.

Yusuf adalah tokoh panutan di bidang ini. Dia memiliki semua alasan dan kesempatan untuk berzinah dengan istri Potifar: hidup jauh dari keluarganya, sangat muda, berpenampilan menarik, setiap hari digoda, rumah dalam keadaan sepi, yang mengajak adalah majikannya (Kejadian 39). Di tengah semua tekanan yang berat ini, dia tetap menolak ajakan istri tuannya (ayat 8-9).

Untuk mengalahkan godaan bermasturbasi, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan dan dilakukan. Oleh anugerah Tuhan, jika semua ini dengan setia dipraktikkan, kemenangan akan menjadi milik setiap orang percaya.

Milikilah pandangan yang benar tentang masturbasi. Peperangan melawan masturbasi dimulai dengan kesadaran bahwa tindakan ini merupakan sebuah dosa. Tanpa langkah ini, semua tips lain tidak akan berguna. Yusuf dapat menampik ajakan istri Potifar karena ia mengetahui perzinahan adalah dosa yang serius di mata TUHAN. Ia berkata: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9b).

Yakinilah kemenangan atas dosa melalui karya Kristus. Pergumulan melawan dosa sebaiknya diletakkan pada perspetif yang lebih luas, yaitu kemenangan Kristus atas dosa melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Peperangan sudah dimenangkan secara mutlak oleh Kristus. Orang-orang Kristen hanya perlu menuntaskan pertempuran-pertempuran yang masih berlangsung. The war has been won, the battles are still going on. Poin ini sangat ditekankan oleh Paulus di Roma 6:1-14. Di ayat 6 ia menulis: “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa”. Selanjutnya ia menambahkan: “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (ayat 14).

Keyakinan di atas perlu untuk dimiliki dan dipupuk. Pergulatan melawan masturbasi seringkali tidak mudah. Pada saat seseorang berkali-kali kalah, ia cenderung berpikir bahwa dosa ini memang tidak dapat dikalahkan. Tidak ada gunanya untuk terus melawan. Pikiran semacam ini berasal dari Iblis, dan perlu dilawan terus-menerus.

Mendekatlah kepada Tuhan. Kunci kemenangan Yusuf tidak terletak pada apa yang ia lakukan, melainkan pada apa yang Allah lakukan bagi dia. Berkali-kali di Kejadian 39 dicatat bahwa TUHAN menyertai Yusuf (ayat 2, 3, 5, 21, 23).

Prinsip yang sama berlaku atas setiap orang percaya. Relasi yang intim dengan Tuhan merupakan rahasia kemenangan atas Iblis (Yakobus 4:7-8a). Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk berdoa dan berjaga-jaga supaya mereka tidak jatuh ke dalam pencobaan (Matius 26:41). Dalam Doa Bapa Kami diajarkan untuk memohon agar Bapa melepaskan kita dari pencobaan (Matius 6:13).

Pikirkanlah hal-hal yang memuliakan Tuhan. Arena pertarungan seksual yang berbahaya terletak di pikiran. Pandangan yang tidak pantas tertancap dalam pikiran yang najis. Bahkan tanpa rangsangan dari penglihatan pun, pikiran manusia seringkali berfantasi secara liar tanpa terkendali. Untuk mengalahkan ini diperlukan disiplin diri yang kuat dalam bentuk “menawan segala pikiran dan menaklukkan kepada Kristus” (2 Korintus 10:5b).

Menaklukkan pikiran kepada Kristus berarti mengisinya dengan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8). Merenungkan firman TUHAN setiap hari merupakan kunci kehidupan yang berkemenangan (Mazmur 1:1-3). Orang yang selalu menaruh perkataan dan perintah TUHAN akan menjadi orang yang bijaksana (Mazmur 119:99-100). Pikiran yang terbiasa terisi dengan hal-hal yang memuliakan Allah pasti tidak memberi ruang bagi hal-hal lain yang sebaliknya.

Hindarilah setiap sumber godaan. Pada saat istri Potifar memegang jubah Yusuf dan merayunya untuk berzinah, Yusuf tidak hanya berdiam diri sambil menantikan pertolongan TUHAN. Ia bukan hanya menyatakan bahwa perzinahan itu sebuah dosa. Yang ia lakukan adalah “meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar” (Kejadian 39:12b). Dengan kata lain, ia segera meninggalkan sumber godaan.

Paulus berkali-kali menegaskan poin yang sama. Dosa seksual maupun nafsu orang muda harus dijauhi (1 Korintus 6:18; 2 Timotius 2:22). Dalam bahasa asli Alkitab, “menjauhi” di sini artinya “melarikan diri” (lihat mayoritas versi Inggris). Bukan sekadar menghindari secara perlahan. Diperlukan langkah yang tegas dan cepat.

Situs internet yang menawarkan pornografi, pergaulan yang buruk, tempat yang sepi, dan berbagai sumber godaan lain harus segera ditinggalkan. Tidak mengakses internet di kamar adalah strategi yang baik untuk menghindari pornografi. Usahakan penggunaan internet hanya dilakukan di tempat yang terbuka.

Di samping itu, beberapa aktivitas positif juga dapat dilakukan sebagai salah satu cara menghindari godaan. Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan bisa mengurangi pikiran kotor yang bisa muncul. Berfokus pada hal yang lain juga sangat efektif untuk menggeser pikiran dari fantasi seksual. Banyak berolah raga bukan hanya menghindarkan diri dari pikiran berdosa, melainkan juga memberikan istirahat dan kesegaran bagi tubuh dan pikiran.

Temukan dan selesaikan sumber masalah. Dalam banyak kasus, masturbasi bukanlah melulu persoalan biologis. Aspek yang terkait bukan hanya seksualitas. Sebagian orang melakukan masturbasi sebagai strategi untuk menyikapi (secara keliru) sebuah persoalan lain yang lebih mendalam, misalnya penolakan dari orang lain, tekanan di kehidupan, pelecehan seksual, dan sebagainya. Dalam kalimat yang lebih sederhana, masturbasi seringkali merupakan bukti dari ketidakutuhan diri. Masturbasi adalah salah satu ekspresi dari diri yang tidak utuh.

Satu-satunya solusi bagi masalah pelik ini adalah menemukan diri di dalam Allah melalui Yesus Kristus. Bapa gereja Agustinus, seorang pemikir Kristen yang paling berpengaruh di abad ke-4, pernah mengalami hal ini. Ia mencoba segala sesuatu yang bisa membuat dirinya tenang. Seks bebas adalah salah satunya. Akhirnya ia mengakui bahwa jiwanya tidak mungkin mendapatkan ketenangan kecuali jiwanya tenang di dalam Allah Penciptanya.

Alkitab berkali-kali memberitahukan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh masa lalu atau jasa orang tersebut. Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan Allah (Roma 3:23). Tidak ada seorang pun yang dapat membuat Allah terkesan. Itulah sebabnya Allah menerima orang apa adanya. Kristus mati bagi orang-orang pilihan pada saat mereka masih lemah dan berdosa (Roma 5:5-8). Mereka dibayar dengan harga yang jauh lebih mahal daripada emas dan perak, yaitu darah Kristus yang sempurna (1 Petrus 1:18-19). Tidak peduli seberapa buruk keadaan dan masa lalu seseorang, hal itu tidak akan pernah bisa menghalangi kasih Allah bagi orang tersebut. Dia tahu kalau manusia itu hanyalah seumpama debu (Mazmur 103:14) dan cacing (Yesaya 41:14) yang sangat hina, tetapi kasih-Nya tidak pernah terbatasi oleh kehinaan tersebut.

Carilah rekan atau pembimbing yang tepat. Dalam kedaulatan-Nya Allah sudah menetapkan bahwa pertumbuhan rohani adalah produk komunitas. Orang Kristen bukanlah pejuang semata wayang. Alkitab mengajarkan bahwa berdua lebih baik daripada seorang diri, karena dapat menyediakan pertolongan dan bantuan (Pengkhotbah 4:12). Komunitas yang baik dapat menyediakan nasihat dan dorongan (Ibrani 10:24-25).

Dalam memerangi masturbasi, seseorang membutuhkan rekan atau pembimbing. Pada saat ia lelah dan kalah, orang lain dapat menguatkan dan menasihati. Orang lain juga bisa mendoakan dan memantau progres pergumulan. Jika yang menjadi rekan atau pembimbing pernah menghadapi godaan serupa namun berhasil mengalahkannya, hal ini akan semakin baik. Pertemanan yang ada akan menjadi sebuah pemuridan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community