Bagaimana Membedakan Suara Tuhan dan Suara Hati?

Posted on 17/11/2019 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/bagaimana-membedakan-suara-tuhan-dan-suara-hati.jpg Bagaimana Membedakan Suara Tuhan dan Suara Hati?

Salah satu pencarian yang penting dalam kehidupan adalah menemukan kehendak Tuhan. Sebagai Pencipta, Dia yang mengatur rencana bagi kita untuk kemuliaan-Nya. Persoalannya, mencari kehendak Tuhan yang eksplisit dan spesifik tidak selalu mudah.

Dalam kasus-kasus tertentu kita mengalami keraguan. Pikiran dan perasaan berseberangan. Hati tidak mau ambil posisi yang pasti. Keputusan mana yang harus diambil? Bagaimana membedakan apakah sebuah dorongan itu berasal dari Allah atau hanya suara hati belaka? Situasi seperti ini pasti sering terjadi.

Suara hati dan suara Tuhan sebenarnya tidak selalu berseberangan. Allah kadangkala menyentuh hati seseorang dan memampukan orang itu untuk mengerti dan menuruti kehendak-Nya. Namun, pertimbangan hati memang seringkali menyesatkan. Seluruh elemen dalam diri manusia sudah tercemar oleh dosa. Dosa membutakan pikiran dan menumpulkan perasaan (Ef. 4:17-19; Rm. 3:10-18; 2Kor. 4:4). Pimpinan Roh Kudus sangat diperlukan untuk mengarahkan seluruh pertimbangan dan keputusan kita kepada Tuhan.

Berikut ini adalah beberapa pengujian yang perlu dilakukan untuk menemukan suara Tuhan secara benar. Pertama, sesuai dengan Alkitab. Seluruh tulisan Alkitab diilhamkan oleh Allah (2Tim. 3:16 lit. “dinafaskan oleh Allah). Seluruh nubuat muncul dari dorongan Roh Kudus (2Pet. 1:20-21). Apa yang diucapkan Allah dahulu melalui kitab suci tidak mungkin bertabrakan dengan apa yang Dia ingin katakan sekarang kepada masing-masing orang. Setiap pertimbangan yang tidak sejalan dengan Alkitab pasti hanyalah dorongan yang tidak suci.

Kedua, sejalan dengan akal budi Kristiani. Transformasi akal budi merupakan kunci untuk memahami kehendak Allah (Rm. 12:2). Tanpa proses ini, kita akan terseret oleh pemikiran duniawi (ayat 2a “janganlah menjadi serupa dengan dunia ini”). Apakah ada ambisi tidak kudus yang mendorong kita pada suatu keputusan? Apakah cara-cara yang kita mau lakukan bukan cara-cara duniawi? Apakah tujuan dari semua ini adalah untuk kemuliaan?

Ketiga, selaras dengan konfirmasi orang lain. Allah seringkali menggerakkan beberapa orang sekaligus untuk menangkap kehendak-Nya. Jika tidak demikian, mereka mungkin akan mengalami kesulitan untuk diyakinkan. Paulus dan Barnabas diutus secara khusus dalam sebuah pertemuan ibadah (Kis. 13:1-3). Petrus dan Kornelius sama-sama diarahkan dengan cara ilahi sehingga pertemuan mereka bisa terlaksana (Kis. 10). Jika Allah sedang membawa kita pada sebuah rencana-Nya, Dia biasanya juga berbicara kepada orang-orang lain yang berkepentingan atau dekat dengan kita.

Keempat, sesuai dengan tanda khusus dari Tuhan. Dalam keterbatasan dan kelemahan kita, Allah kadangkala berkenan untuk memberikan tanda yang khusus. Kitapun boleh meminta tanda seperti itu. Hamba Abraham dituntun dengan tanda yang jelas dalam upayanya mencarikan jodoh bagi Ishak (Kej. 24). Paulus diberikan sebuah mimpi sebagai petunjuk menuju Makedonia (Kis. 16:6-10).

Terakhir, sesuai dengan fakta yang ada. Kita perlu langsung menguji suara hati atau suara Tuhan. Sebagai contoh, saya pernah digerakkan untuk mengirimkan sms/chat kepada seorang jemaat tanpa tahu persoalan apa yang sedang dia hadapi. Saya lakukan saja. Entah itu dari Tuhan atau bukan toh tidak akan melanggar Alkitab. Pada waktu menerima sms/chat itu dia biasa-biasa saja. Beberapa jam kemudian terjadi peristiwa yang sangat mengagetkan tentang kelakuan anaknya di sekolah. Sms-chat tersebut menyiapkan hatinya untuk menghadapi peristiwa buruk tersebut. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community