Bagaimana kita tahu bahwa hidup memiliki tujuan yang teosentris?

Posted on 13/10/2013 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Bagaimana kita tahu bahwa hidup memiliki tujuan yang teosentris?

                 Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang paling penting yang seharusnya diutarakan oleh manusia. Dari mana kita tahu bahwa hidup memiliki tujuan? Bagaimana kita tahu bahwa tujuan itu bersifat rohani dan mengarah pada Allah?

                 Untuk menjawab pertanyaan fundamental ini kita pertama-tama harus merenungkan sebuah pertanyaan lain: Apakah segala sesuatu ada dengan sendirinya sebagai hasil dari proses alamiah yang kebetulan atau semua itu diciptakan oleh Allah? Jika kemungkinan pertama benar, maka hidup tidak memiliki tujuan apapun yang rohani. Semua adalah tentang bertahan hidup dan berusaha berkembang menjadi spesies yang lebih kuat. Jika kemungkinan kedua adalah benar, maka hidup bukan hanya memiliki tujuan, tetapi tujuan itu juga ditentukan oleh Allah.

Dalam edisi sebelumnya kita sudah mempelajari argumen-argumen bagi keberadaan Allah. Kita juga sudah membahas bahwa naturalisme gagal memberikan jawaban memuaskan tentang asal-usul alam semesta. Kita tidak akan mengulangi pembahasan yang sama. Sebaliknya, kita akan mencoba mendekati isu yang sama dengan cara yang sedikit berbeda. Ada tiga pertanyaan penting yang perlu direnungkan.

Pertama, mengapa ada sesuatu dan bukan tidak ada apa-apa? (Why is there something rather than nothing?). Ketidakadaan tidak menuntut penjelasan. Keberadaan selalu menyulut rasa ingin tahu tentang penyebab dan tujuan dari keberadaan itu. Manusia ada di dalam dunia. Ini sebuah fakta yang membutuhkan penjelasan. Pertanyaannya bukan “bagaimana manusia ada?” tetapi “mengapa manusia ada?” Naturalisme menjawab: “tidak ada alasan apapun; semua terjadi begitu saja”. Theisme menjawab: “karena Allah menciptakan mereka untuk suatu tujua tertentu”. Secara filosofis, jawaban theisme lebih rasional. Why is there something rather than nothing?

Kedua, apakah rasional untuk menafsirkan keteraturan alam semesta yang kompleks sebagai hasil proses alamiah yang acak? Kita mengenal berbagai macam keteraturan, dari yang sangat sederhana (misalnya penataan buku yang rapi) sampai yang kompleks (misalnya desain sebuah mesin). Pernahkah dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan pola teratur yang muncul secara tiba-tiba dan kebetulan? Jawaban yang jujur adalah “tidak pernah”. Semakin tinggi tingkat keteraturan yang ada semakin kecil kemungkinan hal itu merupakan hasil proses acak. Nah, keteraturan alam semesta dan tubuh kita jauh lebih kompleks daripada penemuan manusia apapun. Kompleksitas keteraturan bukan hanya menyiratkan rancangan, tetapi juga tujuan.

Ketiga, mana yang lebih bernilai: materi atau rohani? Coba pikirkan beberapa pertanyaan berikut ini. Maukah kita jika kamu diberi seluruh kekayaan dunia tetapi kita tinggal sendirian di bumi ini? Maukah kita diberi jabatan yang tertinggi tetapi tidak ada satu orang pun yang mencintai kita? Maukah kita diberi tubuh yang sempurna, namun tidak ada satu orang pun yang tertarik dengan kelebihan itu? Kita tentu tidak mau menerima tawaran seperti ini. Mengapa? Karena di dalam lubuk hati yang paling dalam kita sadar bahwa hidup bukan hanya tentang materi. Hidup adalah tentang relasi, kasih, penerimaan, dan makna.

Praktek bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang terkenal yang secara materi sukses merupakan bukti tak terbantahkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang materi. Ada hal-hal tertentu yang lebih fundamental daripada materi. Hidup adalah tentang relasi dengan Pencipta. Jiwa manusia tidak akan pernah tenang sampai jiwa itu berdiam di dalam Pencipta-Nya.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community