Apakah teknologi CHIP merupakan tanda antikristus?

Posted on 26/10/2014 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/apakah-teknologi-chip-merupakan-tanda-antikristus.jpg Apakah teknologi CHIP merupakan tanda antikristus?

Pendahuluan

Kedatangan Kristus kedua kali (selanjutnya disingkat K4) selalu menjadi perbincangan hangat sepanjang zaman. Sejak zaman para rasul pun isu ini sudah mencuat ke permukaan. Sebagian mengira K4 segera terjadi pada zaman mereka, sedangkan sebagian yang lain justru menolak K4. Kebingungan dan kekacauan dalam jemaat Tesalonika merupakan contoh untuk kategori yang pertama (2 Tes 2:1-3; 3:6-18), sedangkan cemoohan dari para guru palsu yang ditujukan untuk jemaat penerima surat 2 Petrus merupakan contoh untuk kategori yang kedua (2 Pet 3:3-4).

Pergunjingan ini terus berlanjut sepanjang sejarah gereja. Berbagai pemberitaan yang mengatasnamakan “bisikan Roh”, “penglihatan”, maupun “perjalanan ke dunia roh” bermunculan. Hari dan tanggal tertentu untuk K4 pun tidak lupa diproklamasikan, seolah-olah tidak mempedulikan perkataan Tuhan Yesus: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri” (Mat 24:36; Mrk 13:32). Teguran Tuhan Yesus untuk para murid-murid-Nya “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditentukan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (Kis 1:6) telah diabaikan dan digantikan dengan antusiasme berlebihan terhadap K4. Lebih buruk lagi, semua nubuat yang sudah pernah dimunculkan selalu tidak tepat. Sayangnya, hal ini tetap tidak mengurangi semangat banyak orang Kristen untuk mencemplungkan diri ke dalam kubangan spekulasi-spekulasi akhir zaman yang tidak jelas.

Kita memang perlu memperhatikan tanda zaman. Alkitab sendiri memberitahukan beberapa tanda yang mendahului K4 (Mat 24; 2 Tes 2). Persoalannya, kita harus cermat dalam membaca Alkitab dan membaca keadaan zaman kita. Memfokuskan pada aspek yang pertama saja (Alkitab) akan membuat kita menjadi kurang peka terhadap arah zaman. Sebaliknya, menyoroti aspek yang kedua saja (keadaan sekarang) akan membawa kita pada beragam kebingungan, kekacauan, dan kesesatan. Keseimbangan perhatian merupakan kunci dalam menyikapi isu-isu seputar K4.

Tanda antikristus dan RFID Chips

Salah satu contoh yang selalu dimunculkan dalam pergunjingan seputar K4 adalah tanda antikristus (666). Pada saat komputer pertama kali dipopulerkan, sebagian orang Kristen menjadi gelisah, karena mereka menganggap alat ini adalah sarana bagi antikristus untuk menguasai dunia. Sekarang, ironisnya, kita justru sulit menemukan sebuah gereja yang tidak memiliki komputer. Begitu pula dengan penggunaan barcode (semacam tanda bergaris dengan angka-angka di bawahnya yang sering dijumpai pada produk-produk komersial). Tidak sedikit orang Kristen yang mengernyitkan dahi dan bersikap super-waspada tatkala teknologi ini mulai diperkenalkan. Kini hampir semua orang Kristen mendapatkan manfaat dari teknologi ini karena tidak perlu menunggu terlalu lama di depan kasir atau penjual.

Pada tahun 1992 seorang guru Agama Kristen di sekolah saya membawa sebuah buku yang berjudul New Money System. Seusai menjelaskan ringkasan dari buku itu, beliau berujar: “Saya tidak yakin dalam tiga tahun lagi kita masih bisa bertemu di dunia.” Tahun 1998 saya masih bersua dengan beliau. Tahun 2005 pun saya kembali melihat beliau. Entah berapa contoh konkrit lagi yang diperlukan untuk meyakinkan orang-orang Kristen agar tidak terlena dengan berita-berita mengacaukan semacam itu.

Kini sebuah isu baru menjadi polemis, yaitu penggunaan teknologi RFID CHIPS. Alat yang seukuran sebutir beras ini dimasukkan ke dalam tubuh manusia sebagai upaya deteksi posisi (tracking) dan kelancaran keperluan administrasi yang lain (pembayaran, pendataan, dsb). Pemerintah Amerika, misalnya, mengharuskan sebagian pejabat pemerintah dan penerima program ObamaCare untuk menerima chip pada tubuh mereka. Beberapa institusi pun mulai memanfaatkan alat ini. Dalam beberapa tahun mendatang semua bayi di Eropa akan dipasangi alat ini. Tidak heran, kebingungan muncul di kalangan orang-orang Kristen tertentu di seluruh dunia, karena alat ini diyakini sebagai salah satu bagian dari teori konspirasi antikristus untuk menguasai dunia dan memonitor setiap orang dalam kekuasaan mereka. Khusus di Amerika, polemis seputar chips sedikit banyak dipicu oleh penerbitan tulisan Katherine Albrecht yang berjudul Spychips: How Major Corporations and Government Plan to Track Your Every Move with RFID (versi umum) dan The Spychips Threat: Why Christians Should Resist RFID and Electronic Surveillance (versi khusus untuk orang Kristen).

Benarkah chips adalah tanda antikristus sebagaimana yang disebutkan dalam Wahyu 13:16-18 “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam”?

 

Bagaimana seharusnya sikap orang-orang Kristen terhadap teknologi ini?           

Metode penafsiran yang tepat untuk Kitab Wahyu

Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, cara terbaik untuk meresponi semua isu seputar K4 adalah dengan memperhatikan teks secara cermat. Demikian pula dengan isu seputar chips yang dianggap sebagai tanda antikristus. Kita perlu menafsirkan Wahyu 13 secara tepat. Bagaimana bentuk “tanda” dalam teks ini? Apakah yang dimaksud dengan “666”?

Sayangnya, tugas ini tidak terlalu mudah untuk dituntaskan. Perdebatan seputar Kitab Wahyu sangat variatif dan kompleks. Jangankan hasil penafsiran, cara penafsiran pun sudah menjadi bahan perdebatan sengit.

Cara terbaik untuk menyikapi persoalan ini adalah dengan memperhatikan jenis sastra (genre) dari Kitab Wahyu. Pemahaman pembaca tentang jenis sastra suatu tulisan pasti akan mempengaruhi penafsiran. Sebagai contoh, pada saat kita membaca puisi dan buku sejarah, kita pasti membaca dua tulisan itu dengan cara yang berbeda. Puisi seringkali tidak mengikuti kaidah tata bahasa yang baku dan tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah. Buku sejarah memiliki karakteristik yang berlainan. Nah, jika kita mengamati Kitab Wahyu, kita akan menemukan bahwa kitab ini memiliki jenis sastra campuran antara apokalipsis (Why 1:1), surat kiriman (Why 2-3), dan nubuat (Why 1:3; 22:7, 10, 18-19).

Apokalipsis.  Kitab Wahyu bukanlah satu-satunya kitab apokalipsis pada masa itu. Orang-orang Yahudi pada zaman dahulu sudah mengenal jenis sastra ini. Beberapa bagian Perjanjian Lama bahkan mengandung unsur apokalipsis (Kitab Daniel, Yehezkiel). Sebagai sebuah tulisan apokalipsis, Kitab Wahyu tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah. Sebagai contoh, 144.000 orang yang dimeteraikan sebagai milik Allah (Why 14:1) merujuk pada semua umat Allah di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tanpa terkecuali (Ini tentang kegenapan umat Allah). Penafsiran ini didasarkan pada makna simbolis dari 144.000: 12 x 12 x 1000. Sebagaimana kita ketahui, jumlah suku Israel dan rasul Yesus Kristus adalah dua belas. Mereka adalah perwakilan dari seluruh umat Allah (Why 21:12-14). Jika dikalikan dengan angka 1000 yang menyimbolkan kesempurnaan dalam Kitab Wahyu, 144.000 merujuk pada jumlah seluruh umat Allah.

Surat kiriman. Hal paling jelas tetapi sering dilupakan oleh pembaca modern adalah bahwa Kitab Wahyu ditulis pertama dan terutama untuk orang-orang Kristen di tujuh jemaat (Why 2-3). Terlepas dari apakah angka tujuh ini bermakna simbolis (kitab ini untuk semua gereja), poin yang diutarakan tetap sama: kitab ini ditujukan untuk orang-orang Kristen di penghujung abad ke-1 M. Para penerima Kitab Wahyu pasti cukup akrab dengan simbol-simbol yang ada dalam kitab ini, apalagi sebagian simbol itu sudah muncul di tulisan-tulisan apokalipsis Yahudi, baik di Alkitab maupun bukan. Kecenderungan sebagian orang Kristen untuk mencari padanan modern bagi setiap simbol yang ada – misalnya Gog dan Magog adalah Rusia – jelas tidak adil untuk pembaca mula-mula. Bagaimana mereka bisa mengetahui rahasia yang baru terkuak di zaman modern itu? Kalau semua simbol digenapi di zaman sekarang, untuk apa kitab ini dikirimkan kepada mereka?

Nubuat. Walaupun kata “nubuat” mengandung beragam arti dalam Alkitab, tetapi salah satu arti yang sudah jelas di Kitab Wahyu adalah prediksi tentang hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari. Beberapa peristiwa yang disinggung dalam kitab ini masih merupakan nubuat bagi pembaca mula-mula. Persoalannya, kapankah nubuat-nubuat itu digenapi? Apakah semuanya terjadi di zaman modern? Jelas tidak! Peringatan-peringatan untuk beberapa jemaat penerima Kitab Wahyu pasti (jika akhirnya digenapi) terjadi pada zaman mereka. Jadi, kita perlu jeli melihat bagian nubuat mana yang sudah digenapi pada zaman penerima mula-mula, periode sesudahnya, maupun sekarang. Memaksakan bahwa setiap bagian Kitab Wahyu adalah nubuat merupakan keliruan. Memaksakan bahwa nubuat yang ada selalu digenapi pada zaman modern adalah bentuk kekeliruan yang lain.

Penafsiran detil terhadap Wahyu 13:16-18

Berbekal penjelasan di atas, marilah kita sekarang mencoba menganalisa tanda antikristus di Wahyu 13:16-18. Hal utama yang perlu ditekankan adalah pertimbangan konteks. Inti dari Wahyu 13 adalah upaya peniruan dari pihak Iblis (naga). Seusai kegagalannya membinasakan gereja di pasal 12 (perempuan yang mengandung versus naga), Iblis tidak tinggal diam. Ia dan dua anteknya, yaitu binatang dari laut (nabi-nabi palsu, Why 13:1-10) dan binatang dari bumi (antikristus, Why 13:11-18), berusaha meniru apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Sebagaimana Allah dan Anak Domba berbagi takhta dan kuasa (Why 5:13; 7:9-10), demikian pula naga memberikan kekuatan, takhta, dan kekuasaannya pada binatang itu (Why 13:2). Binatang dari dalam laut terluka dan menjadi sembuh (Why 13:3), mengingatkan kita pada Anak Domba yang tersembelih tetapi bangkit dari kematian (Why 13:8; 5:6, 9, 12). Binatang dari dalam bumi memiliki dua tanduk seperti domba (Why 13:11). Sebagaimana Anak Domba menerima kuasa dan otoritas atas semua bangsa (Dan 7:13-14; Mat 28:18), demikian pula binatang dari dalam laut diberi kuasa dan otoritas atas bangsa-bangsa (Why 13:7).

Penjelasan tentang peniruan di atas akan sangat membantu kita dalam menafsirkan angka 666. Angka ini menyimbolkan kekalahan telak dari antikristus. Di Kitab Wahyu angka 7 adalah salah satu angka sempurna (angka yang lain adalah 3 dan 10). Bagaimanapun antikristus akan meniru Kristus (angka 7), ia hanya mampu mencapai angka 6. Itu hanya angka manusia, bukan angka Anak Manusia. Dengan demikian, Antikristus telah gagal dalam upayanya menyamai Kristus. Jika diulang sampai tiga kali (666) berarti gagal, gagal, dan gagal, alias gagal total. Itulah nasib antikristus!

Jika angka 666 mengandung makna simbolis, maka sudah sewajarnya apabila tanda antikristus yang diletakkan di dahi dan tangan juga ditafsirkan secara simbolis. Tanda itu tidak mungkin merujuk pada chips atau tanda lahiriah lainnya. Ada beberapa alasan yang mendukung poin ini.

Pertama, pengikut Allah dan Anak Domba juga memiliki tanda tertentu di dahi dan tangan mereka (Why 7:1; 14:1). Seandainya tanda antikristus ditafsirkan secara hurufiah, maka seharusnya tanda pengikut Anak Domba pun dipahami secara hurufiah. Anehnya, mereka yang meyakini chips sebagai tanda antirkistus tidak mau menafsirkan tanda pengikut Anak Domba secara hurufiah juga. Ini tidak konsisten dan tidak sesuai dengan karakteristik Kitab Wahyu.

Alkitab sudah memberikan beberapa petunjuk bahwa tanda di dahi dan tangan hanyalah sebuah simbol. Dahi berbicara tentang cara berpikir atau memandang sesuatu, sedangkan tangan merujuk pada perbuatan (Ul 6:6-9). Alternatif lain, tanda di tangan menunjukkan persetujuan (Gal 2:9).

Kedua, tanda antikristus berkaitan dengan kerelaan untuk menyembah dia. Wahyu 13:15-16 mencatat bahwa tanda antikristus baru diberikan kepada mereka yang menyembah dia. Beberapa teks lain juga menyebutkan urutan yang sama: “Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya dan pada tangannya” (Why 14:9, 11). Dalam beberapa teks yang lain, urutannya memang dibalik (Why 19:20 “mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya”; juga Why 20:4), namun poin yang ditekankan di sini tetap sama: penerimaan tanda antikristus berhubungan dengan kesediaan untuk menyembah antikristus. Jadi, tanda antikristus bukanlah hal yang dipaksakan. Penyembahan kepada antikristus memang ada yang dipaksakan (Why 13:15), tetapi penerimaan tanda hanyalah wujud dari kesediaan untuk menyembah antikristus. Penerapan chips pada semua orang tanpa tuntutan terhadap keagamaan tertentu (sekadar untuk kelancaran administrasi dan keamanan) menunjukkan bahwa chips bukan tanda antikristus. Tidak ada unsur penyembahan dalam penggunaan teknologi chips.

Ketiga, kata “semua orang” (Why 13:15-16) bersifat kategorikal, bukan merujuk pada setiap individu. Di ayat 8 ungkapan “semua orang yang akan diam di muka bumi” diterangkan sebagai “setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan dalam kitab kehidupan Anak Domba yang tersembelih.” Bahkan beberapa kategori yang disebutkan di ayat 16 (besar-kecil, kaya-miskin, merdeka-hamba) juga tidak komprehensif (tidak ada kategori pintar-bodoh, pria-wanita, saleh-fasik, dsb.). Maksudnya, walaupun pengaruh antikristus bersifat global, hal itu tidak berarti bahwa setiap orang di dunia ini pasti di bawah kekuasaan antikristus.

Keempat, boikot untuk membeli maupun menjual bagi mereka yang menolak menyembah antikristus (Why 13:17) bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, bahkan tanpa penerapan teknologi chips. Sejarah gereja mencatat bahwa orang-orang Kristen sering menderita kemiskinan dan kelaparan karena dikucilkan dan ditekan oleh para penganiaya mereka (Why 2:9; Ibr 10:32-36; Yak 5:1-6). Yang penting bagi kita adalah ketabahan dan iman (Why 13:10), bukan kecemasan dan ketakutan.

Jadi, orang-orang Kristen tidak perlu mencemaskan penerapan teknologi chips. Tanda antikristus tidak bersifat hurufiah. Tanda ini juga hanya diberikan pada mereka yang bersedia menyembah antikristus. Chips hanyalah sarana untuk kemudahan hidup. 

Kitab penghiburan dan dorongan, bukan kecemasan dan kebingungan

Pada saat kita mendengarkan khotbah dari Kitab Wahyu atau menonton film yang didasarkan pada kitab ini, perasaan apa yang paling dominan dalam diri kita? Sebagian besar orang Kristen mungkin akan menjawab: ketakutan. Apabila ini yang berlaku pada diri kita, maka kita mungkin telah melihat Kitab Wahyu secara keliru.

Tujuan kitab ini ditulis bukan untuk membingungkan tujuh jemaat sebagai penerima mula-mula. Kitab ini tidak dimaksudkan untuk menakuti mereka. Sebaliknya, kitab ini adalah kitab penghiburan dan dorongan. Orang-orang Kristen pada waktu itu sedang mengalami dua persoalan utama: penganiayaan dan ajaran sesat. Yang mereka butuhkan bukanlah sebuah kitab yang penuh dengan teka-teki, apalagi kalau jawaban terhadap teka-teki itu harus menunggu sampai abad ke-21. Yang mereka butuhkan adalah penghiburan dan dorongan untuk bertahan dalam situasi yang sulit seperti itu.

Hal yang sama berlaku atas Wahyu 13. Kecenderungan gereja-gereja untuk bersikap cemas tidak selaras dengan maksud penulisan pasal ini. Bagian ini ditulis untuk meyakinkan para penerima kitab mula-mula bahwa upaya Iblis akan gagal. Orang-orang percaya akan tetap aman dalam kontrol Allah. Kebenaran ini didukung oleh beberapa petunjuk dalam teks.

Pertama, Allah mengontrol semua yang terjadi. Binatang dari dalam laut diperkenankan untuk melawan dan mengalahkan orang-orang kudus (Why 13:7). Siapa yang memperkenankan mereka? Dalam tata bahasa Yunani, sebuah kata kerja pasif yang tidak disertai subyek biasanya merujuk pada Allah (disebut pasif ilahi, divine passive). Konteks pun mengarah pada kesimpulan yang sama (Allah sudah muncul di ayat 6). Ayat 10 menandaskan bahwa penawanan dan pembunuhan terjadi melalui ketentuan ilahi (“Barangsiapa ditentukan untuk ditawan....ditentukan untuk dibunuh dengan pedang...”).

Kedua, kemenangan Kristus yang bersifat pasti. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, upaya Iblis dan antek-anteknya untuk meniru Kristus akan berakhir dengan kegagalan. Mereka tidak memiliki kuasa atas orang-orang pilihan Allah. Yang pada akhirnya menyembah binatang itu dan patungnya adalah mereka yang sejak awal namanya memang tidak tertulis dalam kitab kehidupan (Why 13:8). Bagi orang-orang pilihan, mereka akan diberi kekuatan yang cukup untuk bertahan, bahkan dengan membayar nyawa mereka sekalipun (Why 13:10, 15; 20:4). Tidak ada yang perlu merisaukan orang-orang pilihan.

Sejarah gereja merupakan catatan tak terbantahkan tentang kedaulatan dan kesetiaan Allah atas gereja-Nya. Antikristus sejak awal sudah bermunculan dan membahayakan gereja Tuhan (1 Yoh 2:18, 22; 4:3; 2 Yoh 1;7). Penganiayaan pun sejak dulu sudah menghiasi perjalanan gereja mula-mula (Flp 1:28-29; Ibr 10:32-36; 1 Pet 2:18-25). Walaupun demikian, gereja tetap berkembang. Bukan karena kekuatan dan kepandaian gereja dalam bertahan, tetapi karena pemeliharaan Allah yang berdaulat dan setia.

Sebagai penutup, marilah kita mendengarkan nasihat Paulus sekali lagi: “Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga!” (2 Tes 2:1-3). Di tempat lain Petrus juga mengingatkan kita: “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1 Pet 4:12-13). Soli Deo Gloria.

 

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community