Apakah roti dan anggur yang digunakan dalam perjamuan kudus adalah benar-benar tubuh dan darah Yesus ataukah hanya sekadar simbol belaka?

Posted on 22/09/2013 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Apakah roti dan anggur yang digunakan dalam perjamuan kudus adalah benar-benar tubuh dan darah Yesus ataukah hanya sekadar simbol belaka?

Pertanyaan ini sudah lama menjadi topik perdebatan antara Katholik, Lutheran, dan Reformed. Gereja Khatolik memegang teori transubstansiasi yang mengajarkan bahwa roti dan anggur adalah benar-benar tubuh dan darah Kristus. Gereja Lutheran menambahkan aspek iman dalam konsep konsubstansiasi yag mereka pegang. Mereka meyakini bahwa dengan iman roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus. Sebagian besar gereja Pentakosta dan Kharismatik juga condong pada pandangan ini. Baik transubstansiasi maupun konsubstansiasi sama-sama ditolak oleh Zwingli dan Calvin. Bagi keduanya, roti dan anggur hanyalah adalah lambang tubuh dan darah Kristus.

Dalam banyak hal pandangan terakhir ini memang dapat dibenarkan. Kta perlu memahami situasi perayaan Paskah Yahudi yang telah diubah maknanya oleh Yesus tersebut. Dalam perayaan Paskah ketika orang-orang Yahudi akan menikmati roti tidak beragi, kepala keluarga mengingatkan mereka bahwa roti tersebut adalah roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka. Pernyataan ini jelas tidak mungkin berarti bahwa roti itu sudah berusia ratusan tahun.1

Begitu pula dengan murid-murid Yesus. Ketika Yesus mengatakan bahwa “roti ini adalah tubuh-Ku yang dipecah-pecahkan bagi kamu” atau “cawan ini adalah perjanjian bar yang dimeteraikan oleh darah-Ku” murid-murid tidak mungkin memahami hal itu secara hurufiah, karena pada saat itu Yesus masih hidup di tengah-tengah mereka. Lebih jauh, orang Yahudi tidak akan makan tubuh orang maupun meminum darahnya. Semua ini hanyalah kiasan.

Pemahaman simbolis seperti ini tidak boleh dilihat sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai sakral perjamuan kudus. Sebaliknya, teori ini justru ingin menegaskan bahwa berkat rohani dalam perjamuan kudus hanya terletak pada Allah sendiri, bukan pada elemen yang dipakai dalam perjamuan tersebut. Orang Yahudi pun tidak menganggap sakral elemen-elemen yang dipakai dalam perayaan Paskah. Pikiran mereka terfokus pada Allah dan karya-Nya dalam membebaskan mereka dari perbudakan Mesir.

1 Craig S. Keener, Matthew, The IVP New Testament commentary series Volume 1 (Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1997), Mt 26:26, electronic edition.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community