Apakah Rasul Paulus Pernah Menikah Lalu Bercerai?

Posted on 05/07/2020 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/apakah-rasul-paulus-pernah-menikah-lalu-bercerai.jpg Apakah Rasul Paulus Pernah Menikah Lalu Bercerai?

Bagian sebagian orang, pertanyaan ini hanya sekadar pemuas rasa ingin tahu. Hanya berhenti pada pergumulan intelektual belaka. Namun, bagi sebagian yang lain, pertanyaan ini lebih personal. Saya sendiri sudah beberapa kali menjumpai orang-orang Kristen yang mencoba menggunakan opini “Paulus pernah menikah lalu bercerai dengan isterinya” sebagai alasan untuk mempertimbangkan perceraian. Logikanya begini: Jika Paulus pernah menceraikan isterinya berarti batasan alasan untuk perceraian tidak sesempit yang dipikirkan banyak orang. Ada ruang untuk perceraian yang lebih besar dalam kekristenan.

Dalam artikel ini saya tidak akan membahas tentang perceraian secara umum. Saya hanya akan fokus pada dua hal saja: Apakah Paulus pernah menikah lalu bercerai dengan isterinya? Apakah jawaban terhadap terhadap pertanyaan ini dapat dijadikan alasan untuk membuka ruang lebih lebar bagi perceraian?

 

Status pernikahan Paulus: duda atau single?

Pertanyaan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan orang Kristen. Di satu sisi ada yang meyakini bahwa Paulus pernah menikah (status pernikahannya adalah duda). Mereka bahkan melangkah lebih jauh dengan memberikan dugaan bahwa Paulus bercerai dengan isterinya. Bukan tanpa alasan jika pandangan ini dipegang oleh cukup banyak orang.

Pertama, sebagai orang Yahudi yang sangat relijius, Paulus pasti mementingkan apa yang dianggap penting dalam keagamaan Yahudi. Nah, pernikahan merupakan salah satu tugas relijius yang sangat dijunjung tinggi oleh orang Yahudi. Sangat janggal apabila ada seorang Yahudi yang begitu taat beragama ternyata tidak pernah menikah. Dengan kata lain, selibasi (tidak menikah) bukanlah ciri khas seorang yang relijius menurut perspektif pada waktu itu.

Kedua, sebagai anggota Sanhedrin, Paulus pasti pernah menikah, karena itu merupakan persyaratan sebagai anggota Sanhedrin. Istilah “Sanhedrin” merujuk pada kumpulan petinggi Yahudi dari berbagai partai dan kelompok yang diberi otoritas legal terbatas oleh penguasa Romawi untuk menentukan masalah-masalah domestik di antara bangsa Yahudi. Jika Paulus adalah anggota Sanhedrin dan salah satu persyaratan menjadi anggota Sanhedrin adalah pernikahan, dia pasti pernah menikah. Sukar dibayangkan bahwa ada anggota Sanhedrin yang tidak pernah menikah.

Ketiga, sebagai seorang yang ahli dalam urusan pernikahan dan keluarga, Paulus pasti pernah mengalami seluk-beluk pernikahan. Nasihat-nasihat yang dia berikan tentang pernikahan terlihat begitu jelas dan mengena. Kemampuan itu tidak mungkin dimiliki oleh seseorang yang tidak pernah menikah sama sekali.

Keempat, Alkitab memberi petunjuk tentang isteri Paulus. Salah satu teks yang sering dijadikan dukungan adalah 1 Korintus 9:5 “Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?” Jika Paulus tidak memiliki isteri, untuk apa dia menyinggung tentang hal ini?

Sekilas semua argumen di atas terlihat sangat meyakinkan. Tidak heran banyak orang Kristen menerimanya sebagai sebuah kebenaran. Mereka bahkan menjadikan ini sebagai dukungan bagi perceraian mereka.

Di sisi lain, ada orang-orang Kristen (dan para teolog) tertentu yang meyakini bahwa Paulus tidak pernah menikah. Mereka meyakini bahwa Paulus memiliki karunia selibat. Alasan yang diajukan? Tentu saja tidak lain adalah 1 Korintus 7:7-8 “Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku”. Istilah “tidak kawin” (agamos) di sini dipahami sebagai mereka yang sama sekali belum pernah menikah.

Gaya hidup selibat yang diadopsi oleh Paulus dipandang sesuai dengan catatan pelayanan Paulus. Dia tidak pernah membawa isteri dalam pelayanan. Dia bahkan tidak pernah menyinggungnya sama sekali. Jika dia pernah menikah, bukankah dia mungkin akan menyinggung hal itu dalam surat-suratnya?

Pandangan di atas juga tidak kalah menarik. Dukungan yang diberikan terlihat sangat alkitabiah sekali. Ada teks khusus sebagai pendukung.

Jadi, pandangan mana yang benar? Penjelasan saya di bawah ini akan menunjukkan bahwa isu ini jauh lebih rumit daripada yang dipikirkan oleh banyak orang. Kita tidak mungkin bisa menentukan secara pasti apakah Paulus pernah menikah, apalagi bercerai. Ada beberapa alasan yang masuk akal sebagai dukungan.

Pertama, tingkat keagamaan seseorang tidak selalu dihubungkan secara kaku dengan status pernikahan mereka. Paulus memang seorang yang sangat relijius (Flp. 3:4-7). Dia bahkan jauh lebih unggul daripada para pembelajar Taurat di zamannya (Gal. 1:14). Dia dibimbing oleh seorang guru yang terkenal: Gamaliel (Kis. 22:3). Namun, apakah ini berarti bahwa dia pasti menikah? Belum tentu juga. Keagamaan seseorang tidak selalu diukur berdasarkan status pernikahan. Yohanes Pembaptis tidak menikah, tetapi mampu menyedot begitu banyak penggemar dan pengikut. Dia tetap dianggap relijius. Yesus Kristus menjadi tokoh relijius paling berpengaruh di abad pertama walaupun Dia tidak pernah menikah. Sebagian teolog juga berpendapat bahwa masyarakat Qumran yang sangat relijius yang tinggal di dekat Laut Mati pada zaman itu semuanya tidak menikah (walaupun ini diperdebatkan). Pendeknya, seseorang tetap bisa dihargai sangat tinggi secara relijius terlepas dari status pernikahannya.

Kedua, Paulus belum tentu pernah menjadi anggota Sanhedrin. Dugaan bahwa Paulus adalah anggota Sanhedrin didasarkan pada Kisah Para Rasul 26:10 “Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati”. Dalam teks ini Paulus bukan hanya mengeksekusi keputusan Sanhedrin, tetapi dia juga terlibat dalam rapat mereka (“aku juga setuju”). Apakah ini membuktikan bahwa Paulus adalah anggota Sanhedrin? Belum tentu juga. Paulus juga setuju dengan pembunuhan Stefanus, tetapi persetujuan itu tidak menyiratkan sebuah rapat (Kis. 22:20 “Dan ketika darah Stefanus, saksi-Mu itu, ditumpahkan, aku ada di situ dan menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya”). Jadi, menyetujui keputusan Sanhedrin di Kisah Para Rasul 26:10 tidak selalu menyiratkan keikutsertaan dalam rapat, apalagi sebagai anggota Sanhedrin.

Ketiga, pernah menikah belum tentu menjadi syarat mutlak bagi anggota Sanhedrin pada waktu itu. Sampai sekarang tidak ada seorang teolog yang mampu menunjukkan bukti konkrit dari tulisan kuno Yahudi yang mengatakan bahwa seorang anggota Sanhedrin harus (pernah) menikah. Dalam tulisan para rabi Yahudi pernah disinggung tentang persyaratan untuk menjadi anggota Sanhedrin, tetapi status pernikahan tidak disinggung sama sekali di sana. Kalaupun di kemudian hari ditemukan rujukan kuno yang mengarah ke sana, kita tetap tidak bisa tahu sejauh mana kriteria ini diberlakukan, karena menjadi anggota Sanhedrin lebih ditentukan oleh faktor politis dan kedekatan dengan kekuasaan.

Keempat, kemahiran Paulus dalam memberikan nasihat-nasihat tentang pernikahan tidak harus menyiratkan status pernikahannya. Paulus adalah orang yang sangat terpelajar dalam banyak hal. Lebih jauh, setiap tulisan Alkitab memang diinspirasikan oleh Roh Kudus sendiri untuk kesalehan kita (2Tim. 3:15-16). Ada intervensi ilahi dalam setiap tulisan Paulus. Tuhan Yesus juga menyinggung tentang pernikahan (Mat. 19) walaupun Dia tidak pernah menikah. Pengetahuan seseorang tidak harus diperoleh secara empiris.

Kelima, ucapan Paulus di 1 Korintus 9:5 belum tentu membuktikan bahwa dia memiliki isteri. Kata ganti “kami” di ayat ini menyiratkan bahwa Paulus berbicara bukan hanya tentang dirinya. Dia mungkin memikirkan Barnabas (ayat 6) atau bahkan rasul-rasul lain di luar 12 murid Tuhan Yesus yang pernah menyertai dia dalam pelayanan. Jika ini benar, dia bisa saja sedang memikirkan pasangan suami-isteri Andronikus dan Yunias yang pernah dipenjara bersama-sama dengan dia (Rm. 16:7). Jadi, dia mewakili rasul-rasul lain yang menyertai pelayanannya, tanpa bermaksud menyiratkan bahwa dia sendiri pernah menikah.

Apakah penjelasan di atas berarti membuktikan sebaliknya, yaitu bahwa Paulus tidak pernah menikah? Belum tentu juga. Fakta bahwa Paulus tidak pernah menyinggung tentang isterinya tidak membuktikan bahwa dia hidup selibat. Bisa saja dia merasa tidak perlu untuk menyebutkannya karena tidak relevan dengan apa yang dia ingin tuliskan. Bisa saja dia pernah menikah lalu bercerai atau isterinya meninggal dunia, sehingga dia merasa tidak perlu menyinggung tentang hal itu lagi. Ada beragam kemungkinan mengapa dia tidak pernah (atau nyaris tidak pernah) membicarakannya tentang isterinya. Mungkin dia memang tidak pernah punya. Mungkin dia merasa tidak perlu menyebutkannya dengan alasan tertentu.

1 Korintus 7:7-8 belum tentu bisa dijadikan sebagai sebuah alasan yang solid untuk mendukung selibasi Paulus. Dalam Perjanjian Baru kata “tidak kawin” (agamos) hanya muncul di pasal ini (7:11, 32, 34). Di luar Alkitab kata ini muncul dalam beragam konteks dengan jangkuan arti yang cukup luas: bisa orang muda yang tidak pernah menikah sama sekali, bisa pula seorang duda. Konteks pembicaraan Paulus di 1 Korintus 7 juga menyinggung tentang dua kelompok ini, sehingga sukar ditentukan apa yang ada di pikiran Paulus pada waktu menuliskan kata agamos di ayat 7-8. Yang kita bisa pastikan hanyalah Paulus sebagai seorang agamos. Namun, dalam pengertian bagaimana dia tidak kawin? Apakah dia duda atau single? Sukar untuk dipastikan.

Jika status pernikahan Paulus saja sudah sukar untuk ditentukan secara pasti, apalagi dugaan-dugaan selanjutnya seperti mengapa dia menjadi duda: bercerai dengan isterinya atau ditinggal mati oleh isterinya? Semua ini jelas hanyalah spekulasi belaka. Alkitab (dan tulisan-tulisan kuno lain) tidak memberi petunjuk yang memadai untuk memilih salah satu spekulasi. Kita sebaiknya bersabar dan tidak menarik kesimpulan yang terburu-buru dalam kasus ini.

 

Nilai teologis dari status pernikahan Paulus

Mereka yang mendukung perceraian kadangkala menggunakan kehidupan pribadi Paulus sebagai dukungan. Jika Paulus pernah menikah dan bercerai, kita tidak boleh terlalu menghakimi orang Kristen yang bercerai. Alkitab memberi ruang yang lebih lebar untuk perceraian.

Cara berpikir seperti di atas sebenarnya patut dipertanyakan. Perceraian (dan pernikahan) merupakan sebuah keputusan besar dalam kehidupan. Pengaruhnya tidak kecil bagi banyak orang. Nah, keputusan apapun yang diambil harus benar-benar didasarkan pada kebenaran yang solid. Saya sendiri tidak terlalu memusingkan status pernikahan Paulus, apalagi menarik implikasinya bagi pernikahan orang-orang Kristen sekarang.

Kita perlu mengingat bahwa status pernikahan (dan perceraian) Paulus merupakan isu yang sangat ambigu. Ada banyak ketidakjelasan di dalamnya. Data Alkitab tidak memadai untuk menarik sebuah kesimpulan yang benar-benar valid dan pasti. Akankah kita mendasarkan sebuah keputusan penting dalam hidup kita pada dugaan-dugaan yang belum jelas kebenarannya? Apakah itu sebuah tindakan yang bijaksana? Tentu saja tidak, bukan?

Bahkan seandainya seseorang kelak berhasil memberi bukti-bukti tak terbantahkan bahwa Paulus pernah menikah lalu bercerai dengan isterinya, hal itu tetap tidak dapat dijadikan pedoman bagi kehidupan kita. Yang diilhamkan oleh Allah adalah tulisan para rasul (2Tim. 3:16 “segala tulisan”), bukan setiap perkataan atau tindakan mereka. Setiap nubuat para nabi atau rasul memang didorong oleh Roh Kudus (2Pet. 1:20-21), tetapi bukan berarti setiap perkataan nabi/rasul dalam semua kesempatan adalah firman Tuhan. Alkitab sendiri memberikan beberapa contoh yang jelas tentang kesalahan (dosa) yang dilakukan oleh para nabi atau rasul. Kita tidak perlu meniru tindakan Yunus yang melarikan diri dari panggilan Tuhan (Yun. 1). Kita tidak boleh meniru Elia yang putus asa dalam pelayanan (1Raj. 19). Petrus dan Barnabas pernah berlaku munafik dan ditegur oleh Paulus  (Gal. 2:11-14). Yakobus sendiri mengakui bahwa “kita semua bersalah dalam banyak hal” (Yak. 3:2).

Sebagai penutup, kita sebaiknya lebih memperhatikan pandangan Alkitab secara umum tentang perceraian dan penikahan kembali) daripada teks-teks tertentu yang masih diperdebatkan. Salah satu prinsip penafsiran yang sangat bijaksana adalah ini: Tafsirkan bagian-bagian Alkitab tertentu yang kurang jelas berdasarkan bagian-bagian lain yang lebih jelas. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community