Apakah Orang Kristen Perlu Belajar Filsafat?

Posted on 08/09/2013 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah_Orang_Kristen_Perlu_Belajar_Filsafat.jpg Apakah Orang Kristen Perlu Belajar Filsafat?

Saya bisa memahami mengapa pertanyaan ini dimunculkan. Perseteruan antara teologi dan filsafat (juga disiplin ilmu lain) sudah berlangsung lama. Upaya untuk membangun tembok dikotomi sudah dilakukan berulang-ulang. Bapa gereja Tertulianus (sekitar 160-225 M) pernah berujar: “Apa kena mengena antara Yerusalem (tempat firman TUHAN berasal) dan Athena (tempat filsafat berasal)?” Beberapa orang Kristen mengutip Kolose 2:8 sebagai alasan untuk menentang segala macam bentuk filsafat.

Dikotomi antara teologi dan filsafat merupakan situasi yang perlu disesalkan. Baik teologi maupun filsafat sama-sama memiliki perhatian terhadap kebenaran. Istilah ‘filsafat’ sendiri berasal dari kata Yunani yang menyiratkan kecintaan terhadap hikmat (philos = sahabat/pencipta dan sophia = hikmat). Jika keduanya – teologi dan filsafat - dilakukan dengan cara yang benar, maka keduanya akan menuntun kita pada kebenaran Allah, karena segala kebenaran adalah kebenaran Allah.

Apa yang ditentang oleh Tertulianus maupun Paulus bukanlah semua jenis filsafat. Mereka hanya melawan cara berpikir tertentu yang salah. Dalam khotbahnya di Athena terlihat bagaimana Paulus menguasai dan menggunakan pemikiran filosofis Stoa dan Epikuros (Kis 17:22-31, terutama ayat 25-28). Tatkala ia menegur jemaat Korintus yang tergila-gila dengan hikmat duniawi (filsafat), ia sedang menentang kesalahan di dalam filsafat itu dan kesombongan jemaat Korintus terhadap hal itu (lihat 1 Kor 1-3; 15:12, 33). Jadi, filsafat yang benar akan menghantar kita pada kebenaran ilahi. Kuncinya terletak pada kewaspadaan kita dalam berpikir filosofis.

Hal lain yang perlu kita singgung dalam kaitan dengan topik ini adalah peranan akal budi (rasio) bagi kerohanian. Allah bukan hanya tidak anti-rasio, tetapi Ia bahkan menggunakan akal budi sebagai salah satu elemen di mana transformasi rohani seharusnya terjadi (Rom 12:2). Kita mengenal kehendak Allah bukan hanya melalui doa, tetapi akal budi. Menggunakan rasio secara optimal tidak boleh disamakan dengan rasionalisme. Dalam rasionalisme rasio telah ditempatkan pada posisi yang tertinggi dan standar kebenaran. Tidak demikian halnya dengan orang percaya. Kita menggunakan rasio sebagai hamba kebenaran.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community