Apakah Orang Kristen Boleh Berhutang?

Posted on 16/02/2014 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Apakah Orang Kristen Boleh Berhutang?

Sebagian hamba Tuhan menganggap berhutang merupakan sebuah dosa. Hal ini lebih banyak dikaitkan dengan motivasi di balik tindakan itu, yaitu tidak mau mengandalkan Allah untuk memenuhi kebutuhannya hidupnya. Benarkah orang Kristen tidak boleh berhutang?

Alkitab beberapa kali menyinggung tentang hutang. Allah mengatur agar pemberi hutang tidak membebankan bunga kepada orang lain yang miskin (Kel 22:25). Pada tahun ketujuh, hutang-hutang itu harus dihapuskan (Ul 15:1-2, 9; 31:10). Allah sendiri ‘berhutang’ kepada kita tatkala kita menaruh belas kasihan kepada orang miskin (Ams 19:17). Paulus beberapa kali menggunakan metafora hutang untuk menjelaskan beberapa aspek pelayanannya (Rom 1:14; 8:12; Flp 4:15; Flm 1:18-19). Jadi, secara umum tindakan berhutang pada dirinya sendiri tidaklah salah.

Walaupun demikian, Alkitab juga memberikan beberapa peringatan kepada orang yang berhutang. Orang yang berhutang akan dikuasai oleh si pemberi hutang (Ams 22:7). Kita dilarang untuk sembarangan menjadi penjamin hutang (Ams 22:26). Kita dilarang berhutang apa-apa kepada siapa pun, sebaliknya harus saling mengasihi (Rom 13:8).

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa berhutang bukanlah pilihan yang ideal. Kita seharusnya bekerja keras dengan tangan kita, supaya kita dapat membantu orang lain (Kis 20:34-35; 2 Tes 3:6-12). Bagaimanapun, dalam kasus-kasus tertentu yang tidak terelakkan, berkaitan dengan kebutuhan, dan melampaui kekuatan kita, berhutang tetap diperbolehkan. Misalnya, kita mengalami kecelakaan atau sakit-penyakit yang memaksa kita mengeluarkan biaya yang melebihi pendapatan kita.  Bagaimanapun, hal di atas harus tetap menjadi alternatif terakhir. Ketika seorang percaya sedang mengalami musibah, seyogyanya saudara-saudara seiman yang lain turut meringankan beban itu, sehingga orang itu tidak perlu berhutang (Rom 13:8). Dari pihak keluarga juga seharusnya berpartisipasi dalam kesulitan itu (1 Tim 5:3-5).

Poin penting dalam seluruh pembahasan di atas adalah pembedaan antara kebutuhan dan keinginan. Berhutang untuk hal-hal yang bukan merupakan kebutuhan adalah salah. Kebiasaan berhutang juga dosa. Berhutang karena tidak mau bekerja dengan sungguh-sungguh juga bukan gaya hidup Kristiani.

Sebagai penutup, pada saat kita berhutang (terutama yang mendekati atau melampaui kemampuan kita untuk membayarnya) membuat kita kehilangan beberapa kebebasan yang penting. Pertama, kebebasan untuk  memberi kepada orang lain. Jika beban hutang cukup besar untuk kita, kita sulit untuk memikirkan kebutuhan orang lain. Kedua, kebebasan untuk mengatur masa depan. Kita akan terpaku pada pelunasan hutang-hutang kita saja dan lalai dalam membuat perencanaan hidup yang lebih baik. Ketiga, kebebasan untuk menikmati kedamaian. Hutang membuat kita kehilangan sukacita hidup.

Marilah kita bertekad untuk bekerja lebih keras. Bukan hanya untuk kebutuhan kita, tetapi supaya kita bisa berbagi kepada orang lain. Berhutang adalah alternatif terakhir dalam situasi yang tidak terelakkan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community