Apakah kejatuhan Adam ke dalam dosa sudah ditetapkan Allah sebelumnya?

Posted on 21/04/2013 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Apakah kejatuhan Adam ke dalam dosa sudah ditetapkan Allah sebelumnya?

            Persoalan ini menjadi pergumulan banyak orang. Sebagian ateis menjadikan isu ini sebagai salah satu alasan untuk menolak keberadaan Allah. Maksudnya, jikalau memang ada Allah yang kudus, baik, dan berkuasa, maka seharusnya tidak ada dosa dalam dunia. Pihak Arminian yang teis juga menyangkal kebenaran ini. Yang lebih menarik, beberapa orang yang menyatakan diri sebagai “Reformed” mentah-mentah menolak doktrin penetapan Allah atas dosa. Yang memegang doktrin ini dipandang sebagai hyper-Calvinis.

            Jadi, benarkah Allah menetapkan dosa (terutama dosa Adam)? Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan menggunakan beberapa strategi yang berbeda. Kepada orang-orang “Reformed” yang menyangkali doktrin ini, saya akan memberikan beberapa kutipan penting dari pengakuan iman dan tulisan pemikir Reformed. Kepada kelompok Arminian, saya akan membahas beberapa teks utama yang menyiratkan (bahkan membuktikan) bahwa Allah memang menetapkan dosa. Kepada para ateis, saya akan mencoba memberikan penjelasan secara logis dan filosofis. Mengingat isu ini sangat kompleks, saya tidak mengkalim bahwa jawaban saya akan menuntaskan semua keberatan dan keraguan.

Banyak orang berpikir bahwa inti persoalan dalam pertanyaan di atas adalah kata kerja “menetapkan”. Seandainya Allah hanya sekadar “mengetahui” saja, maka persoalannya akan menjadi lebih mudah: Allah tidak menetapkan, tetapi Ia memang mengetahui bahwa manusia akan jatuh ke dalam dosa. Jawaban yang “agak lembut” ini ternyata tidak memudahkan persoalan yang ada. Sebagaimana kita ketahui bersama, pengetahuan Allah bersifat pasti (apa yang Ia tahu akan terjadi pasti akan terjadi), sehingga tindakan-Nya untuk menciptakan manusia yang Ia tahu secara pasti akan jatuh ke dalam dosa tetap menimbulkan pertanyaan besar: “Kalau Ia tahu sebelumnya tentang keberdosaan manusia, mengapa Ia tetap menciptakan mereka?” Jadi, baik konsep tentang Allah yang menetapkan atau yang mengetahui sebelumnya keduanya tetap menyisakan persoalan yang sama peliknya. 

Bukan hanya itu. Konsep tentang Allah yang “hanya mengetahui saja” justru menimbulkan masalah lain. Konsep ini memposisikan Allah sebagai seorang penonton yang memiliki wewenang hanya untuk membiarkan atau mencegah sesuatu yang akan terjadi. Persoalannya, kuasa apa yang bekerja di balik “segala sesuatu” yang dilihat Allah tersebut? Atau, apakah semua itu bergerak secara acak (kebetulan)? Memegang pandangan ini justru menampilkan Allah sebagai Pribadi yang tidak bebas dan berdaulat secara mutlak: Allah tidak punya rencana sejak awal. Apa yang Ia lakukan hanyalah respons terhadap beragam kemungkinan yang terjadi di luar kedaulatan-Nya.

            Jawaban paling tepat adalah “Allah menetapkan untuk menciptakan manusia dengan kehendak bebas, dan sebagai salah satu konsekuensi tak terelakkan dari hal itu adalah manusia akan menggunakan kebebasan tersebut untuk berdosa”. Sekarang mari kita pelajari kalimat ini secara lebih seksama. Untuk memudahkan pemahaman, saya akan menguraikan isu pelik ini melalui beberapa pertanyaan.

Pertama, apakah salah kalau Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas? Tentu saja tidak. Allah menciptakan manusia untuk memuliakan Dia (Ini bukan sesuatu yang salah juga!). Seandainya manusia tidak diberi kehendak bebas, maka pujian dan pengagungan mereka kepada Allah tidak bersumber dari hati mereka yang terdalam. Mereka hanyalah robot-robot pemuji. Allah tentu saja berhak menerima kemuliaan yang lebih baik daripada hal ini.

            Kedua, apakah memberikan kehendak bebas kepada manusia identik dengan menyebabkan mereka berdosa? Sama sekali tidak. Untuk menjelaskan poin ini saya biasanya menggunakan dua istilah yang berbeda: kemungkinan (possibility) dan kemampuan (potency). Pemberian kehendak bebas kepada manusia tidak identik dengan memberi mereka kemampuan untuk berdosa, walaupun kemungkinan ke arah sana memang tetap ada (dalam perspektif Allah kemungkinan ini bahkan bersifat pasti). Sebagai contoh: orang tua yang memerintahkan anaknya untuk belajar naik sepeda. Apakah anak itu kemungkinan besar (bahkan pasti) akan jatuh selama berlatih? Ya. Apakah hal itu berarti bahwa orang tuanya telah memberikan potensi untuk jatuh? Tidak. Dalam kasus ini orang tua baru dapat disalahkan apabila anak itu masih terlalu kecil atau memiliki keterbatasan fisik yang tidak memungkinkan dia untuk naik sepeda. Selama kemungkinan untuk jatuh dan bisa mengendara sepeda tetap sama-sama ada, tindakan orang tua tetap dapat dibenarkan.

            Begitu pula dengan manusia pada waktu diciptakan Allah. Mereka diciptakan dengan sangat baik (1:31). Tidak ada kerusakan natur dalam diri mereka. Semua yang indah sudah disediakan (diciptakan sebagai gambar Allah dan kebebasan untuk menikmati dunia yang sempurna) sehingga sulit membayangkan bahwa masih ada hal lain lagi yang diinginkan manusia lebih daripada hal itu. Allah pun memberikan peringatan yang sangat keras terhadap kemungkinan keberdosaan mereka (2:16-17). Jadi, dalam diri manusia sendiri tidak ada potensi untuk berdosa. Kemungkinan memang ada (manusia dapat menggunakan kebebasannya untuk menaati atau melanggar perintah Allah), tetapi tidak ada potensi atau kecenderungan dalam diri manusia untuk memilih yang kedua.

            Ketiga, bagaimana seandainya menusia tidak diberi kehendak bebas sama sekali? Jika ini yang ditetapkan oleh Allah, manusia tidak mungkin bisa berbuat dosa. Mereka melakukan semua perintah Allah bukan karena memilih atau mencintai hal itu, tetapi karena tidak mungkin melakukan yang sebaliknya. Tidak akan ada dosa, penderitaan dan kematian dalam dunia ini.

            Walaupun demikian, situasi hipotetikal di atas menyisakan sebuah persoalan serius. Banyak hal yang dianggap baik dan luhur di dunia ini mengasumsikan kehendak bebas manusia dan sekaligus keberadaan dosa dan kejahatan. Manusia menghargai kasih, belas-kasihan, keadilan, kepercayaan, dan sebainya. Nah, semua ini tidak akan bernilai apa-apa jika manusia tidak memiliki kehendak bebas dan jika dunia tidak mengenal dosa dan kejahatan. Sebagai contoh, kasih baru benar-benar bernilai jika muncul dari kebebasan untuk mengasihi. Kasih yang terpaksa – bahkan karena tidak mengkin melakukan sebaliknya – bukanlah kasih. Begitu pula dengan belas-kasihan. Tanpa dosa dan penderitaan, tidak ada seorangpun yang membutuhkan belas-kasihan. Hal yang sama dapat dikatakan tentang keadilan, kepercayaan dan hal lainnya. Apakah mereka yang menolak ketetapan Allah atas dosa benar-benar menginginkan dunia yang seperti ini?

            Keempat, kebaikan apa yang dimunculkan melalui ketetapan ini? Manusia cenderung masih bisa memahami suatu keadaan yang buruk (kecelakaan, penderitaan, dsb) jika ada kebaikan yang besar yang muncul dari peristiwa tersebut. Ini disebut teori kebaikan lebih besar (greater good). Sebagai contoh, seorang anak menjalani latihan fisik yang super keras untuk menjadi seorang atlet yang handal. Orang tua biasanya malah mendukung situasi ini. Mereka jelas merasa kasihan, tetapi mereka menyadari bahwa hasilnya jauh melampaui siksaan yang dialami.

            Hal yang sama dapat diterapkan pada kasus ketetapan Allah atas dosa. Seandainya tidak ada dosa, kebaikan ilahi tertinggi yang dialami manusia adalah penciptaan dunia yang indah. Allah mengasihi manusia, sehingga Dia menyediakan sebuah dunia yang sangat baik. Tatkala manusia jatuh ke dalam dosa, mereka mengalami kebaikan ilahi yang lebih tinggi. Allah bukan hanya menyediakan dunia yang sempurna. Dia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal bagi kita (Yoh. 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”).

            Yang terakhir, apakah ajaran ini benar-benar Reformed? Tentu saja! Hampir semua teolog Reformed klasikal memegang pandangan ini. Begitu pula dengan berbagai pengakuan iman dan katekismus yang dipegang dalam tradisi Reformed. Sebagai contoh, Pengakuan Iman Westminster Bagian III menegaskan bahwa sejak kekekalan Allah telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi (whatsoever comes to pass). Kalimat ini segera diikuti oleh keterangan bahwa Allah bukan penyebab maupun pencipta dosa. Coba pikirkan sebentar peredaksian seperti ini. Seandainya dosa tidak termasuk dalam segala sesuatu yang ditetapkan, perumus pengakuan iman ini pasti akan menambahkan “kecuali dosa”. Kenyataan, mereka merasa perlu menjelaskan sesuatu tentang dosa. Ini menunjukkan bahwa dosa termasuk ke dalam rencana Allah. Namun, Allah bukan penyebab maupun pencipta dosa. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community