Apakah Cukup Kalau Orang Kristen Berbuat Baik Saja?

Posted on 16/08/2020 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/apakah-cukup-kalau-orang-kristen-berbuat-baik-saja.jpg Apakah Cukup Kalau Orang Kristen Berbuat Baik Saja?

Fokus dalam pertanyaan di atas bukanlah “berbuat baik”. Setiap orang Kristen pasti setuju bahwa kita harus berbuat baik kepada semua orang. Bahkan para musuh pun patut dikasihi.

Pertanyaan di atas berfokus pada kata “saja”. Dalam konteks interaksi dengan orang-orang di luar kekristenan, pertanyaan di atas memang kadangkala dimunculkan. Ada yang berpendapat bahwa tugas orang Kristen hanyalah berbuat baik, bukan memberitakan Injil. Berbuat baik saja. Itu sudah lebih daripada cukup.

Benarkah demikian?

Pertama-tama kita perlu mengiyakan kekuatan dari sebuah kebaikan. Kesalehan seseorang bisa membuat orang lain tertarik dengan keyakinan orang yang saleh tersebut. Alkitab juga meneguhkan hal ini. Ketika orang lain menyaksikan perbuatan baik kita, Allah bisa menjadikan itu sebagai sarana kemuliaan-Nya (Mat. 5:16). Seorang isteri yang saleh bisa menarik suaminya pada pertobatan (1Pet. 3:1). Intinya, perbuatan baik bisa menjadi jembatan yang baik bagi pertobatan orang lain (1Pet. 2:12).

Walaupun demikian, berbuat baik saja tidaklah cukup. Orang-orang Kristen juga perlu mengungkapkan keyakinannya secara verbal. Orang lain perlu mendengar (kebenaran firman Tuhan) dan melihat (kesalehan anak-anak Tuhan).

Pertama, Alkitab dengan tegas dan konsisten menggabungkan pemberitaan Injil secara verbal dan non-verbal. Murid-murid Yesus dilatih untuk memberitakan Injil kerajaan Allah sekaligus memberikan pertolongan bagi yang membutuhkan (Mat. 10:5-8). Rasul Petrus yang sangat menekankan kesalehan sebagai jembatan penginjilan (1Pet. 2:12; 3:1) juga menasihati orang-orang Kristen untuk memberikan jawaban tentang pengharapan bagi siapa saja yang menanyakannya (1Pet. 3:15-16). Dia menggabungkan penjelasan lisan (memberi jawab) dan kesalehan (dengan lemah lembut, hormat dan hati nurani yang murni).

Kedua, “perbuatan baik saja” bisa menyampaikan pesan yang kabur. Banyak agama dan keyakinan mengajarkan perbuatan baik. Bahkan mereka yang tidak beragama juga menunjukkan kebaikan yang luar biasa. Dari luar apa yang dilakukan terlihat sama. Persoalannya, baik atau tidaknya suatu tindakan juga harus diukur dari konsep yang melandasi dan dan motivasi yang menggerakkan. Jika konsepnya keliru maka tindakan baik itu menjadi salah. Jika konsepnya benar tetapi motivasi keliru maka tindakan itu juga turut menjadi keliru.

Sebagai contoh, menolong orang miskin yang sedang mengalami kesulitan adalah hal yang baik. Hampir semua orang akan mengamini pernyataan ini. Namun, bagaimana jika seseorang melakukan itu dengan konsep bahwa perbuatan baik yang dilakukan bisa menyelamatkan dia dari siksa neraka? Bukankah tindakan ini terkesan egois (memanfaatkan orang lain untuk kepentingan sendiri)? Bagaimana jika seorang berbuat baik dengan konsep yang benar (ucapan syukur kepada Allah), tetapi dia memiliki motivasi tambahan supaya disukai banyak orang atau dianggap hebat? Dari pertanyaan-pertanyaan ini terlihat dengan jelas bahwa perbuatan baik saja tidaklah memadai.

Ketiga, pertobatan didasarkan pada kebenaran, bukan keteladanan. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa keselamatan diberikan melalui keyakinan dan pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan yang bangkit dari antara orang-orang mati (Rm. 10:9-10). Kalaupun ada kebaikan yang ingin dijadikan dasar pertobatan, kebaikan itu haruslah kebaikan Yesus Kristus. Allah yang mulia rela menjadi manusia untuk menyelamatkan orang-orang yang berdosa. Itulah berita Injil!

Jika seseorang bertobat hanya gara-gara tertarik dengan kesalehan orang-orang Kristen, “pertobatan itu” tidak kokoh. Bagaimana seandainya di kemudian hari dia dikhianati oleh orang Kristen yang lain? Bagaimana jika dia mendapati kebobrokan moral di kalangan orang-orang Kristen tertentu? Bagaimana pula jika dia berjumpa dengan penganut agama lain yang terlihat lebih saleh?

Yang bisa menyelamatkan hanyalah Injil. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Rm. 1:16-17). Tidak peduli seberapa baik seorang Kristen, kesalehan itu tidak akan membawa pada pertobatan jika tidak disertai dengan penjelasan Injil.

Sebagai klarifikasi, saya tidak sedang mengajarkan bahwa setiap perbuatan baik yang kita lakukan semata-mata sebagai jembatan penginjilan. Bukan itu maksud saya. Kita patut bergandengan tangan dengan semua orang untuk menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik untuk didiami. Tidak selalu harus ada agenda pemberitaan Injil di dalamnya. Namun, saya meyakini bahwa perbuatan baik baru akan bermanfaat bagi keselamatan seseorang jika disertai dengan pemberitaan Injil. Dengan kata lain, tidak cukup bagi kita untuk melakukan perbuatan baik saja. Menghidupi Injil dan memberitakan Injil tidak boleh diceraikan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community