Apakah Anak Kecil Perlu Diajarkan Apologetika?

Posted on 13/07/2014 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Apakah Anak Kecil Perlu Diajarkan Apologetika?

                 Pertanyaan yang menarik ini dilontarkan kepada saya dalam sebuah rapat di sekolah Kristen di mana saya diundang sebagai narasumber. Perlukah anak-anak belajar apologetika sejak kecil? Jawaban saya bersifat positif: anak-anak perlu belajar apologetika sejak awal. Ada beberapa alasan bagi jawaban semacam itu.

Yang terutama, anak-anak perlu diajar doktrin-doktrin yang penting. Kita perlu memfokuskan pada kebenaran-kebenaran dasar kekristenan dan keunikan kekristenan jika dibandingkan dengan agama-agama yang lain. Dalam hal ini kita perlu memahami bahwa apologetika adalah tentang menunjukkan kebenaran (showing the truth) kepada orang lain (1 Pet 3:15-16). Nah, seseorang tidak mungkin bisa menunjukkan kebenaran apabila ia tidak mengetahui kebenaran itu (knowing the truth). Keyakinan terhadap kebenaran harus dikaitkan dengan pengetahuan terhadap kebenaran itu (2 Tim 1:12 “aku tahu kepada siapa aku percaya”).

Anak-anak juga perlu dilatih untuk berpikir kritis dalam segala hal, termasuk pada saat mereka belajar kebenaran-kebenaran dasar kekristenan. Sebagian guru Kristen, baik di sekolah maupun di gereja, cenderung hanya menginformasikan kebenaran tanpa mengajak anak-anak untuk memikirkan hal itu secara kritis. Tidak ada penjelasan tentang mengapa sebuah kebenaran dapatdiandalkan secara rasional. Kecenderungan pada emosionalisme di banyak gereja sekarang telah menumpulkan akal budi Kristiani. Tatkala pemenuhan kebutuhan emosional diletakkan di depan, pemikiran kritis menjadi terabaikan. Kita perlu melatih anak-anak untuk berpikir rasional, tanpa terjebak pada rasionalisme.

 Kegagalan untuk mengajarkan doktrin kepada anak-anak secara kritis akan dibayar mahal di kemudian hari. Seiring dengan usia mereka yang bertambah, anak-anak akan mulai memikirkan banyak hal secara lebih mendalam, termasuk tentang kebenaran-kebenaran Kristen. Beragam pertanyaan kritis akan muncul tanpa bisa dikendalikan. Semakin banyak pertanyaan yang muncul dan tidak terjawab akan memberikan kesan bahwa kekristenan adalah agama yang tidak rasional. Sebaliknya, apabila mereka sudah dibimbing untuk belajar doktrin dengan kritis, mereka justru akan mampu menyaring pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Mereka tidak akan menghadapi terlalu banyak “kejutan” di luar sana.

Ini merupakan tantangan bagi orang tua, guru Kristen, maupun guru-guru Sekolah Minggu di gereja. Tiap kali kita mengajarkan sesuatu kepada anak-anak kita, biasakan untuk menyentuh dua pertanyaan berikut ini: “mengapa hal ini benar?” dan “apakah manfaat dari kebenaran ini?” Pertanyaan pertama akan menolong anak-anak untuk menemukan penjelasan rasional yang konsisten dari kebenaran Kristen. Pertanyaan kedua akan membantu mereka melihat relevansi dari kebenaran Kristen. Sebuah pernyataan kebenaran yang tidak berdasar dan tidak relevan pasti lambat laun akan ditinggalkan. Sebaliknya, kebenaran yang disertai penjelasan rasional (bukan hanya indoktrinasi) dan keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari memiliki peluang jauh lebih besar untuk tetap dipeluk dan dihidupi. Dengan melakukan dua hal ini, kita tanpa sadar telah mempersiapkan anak-anak untuk berapologetika sejak dini.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community