Apakah Allah Menciptakan Matahari Dua Kali? (Bagian 1)

Posted on 26/04/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/apakah-allah-menciptakan-matahari-dua-kali.jpg Apakah Allah Menciptakan Matahari Dua Kali? (Bagian 1)

Ada yang menanyakan, setelah membaca artikel sebelumnya Apakah Terang di Kej 1:3 adalah Terang Matahari? (http://rec.or.id/article_753_Apakah-terang-di-Kejadian-1:3-adalah-terang-matahari?), apakah selanjutnya Allah menciptakan matahari lagi di hari ke 4? Mari kita pelajari satu persatu dengan memahami terlebih dahulu konteks Kej. 1.

Penciptaan pada hari 4 memiliki posisi yang sangat penting dalam kisah penciptaan. Kisah ini terletak persis di tengah 7 hari penciptaan. Kisah ini diceritakan secara panjang lebar dibandingkan dengan penciptaan lain, kecuali penciptaan manusia. Cerita ini juga ditandai dengan beberapa pengulangan untuk memberikan penekanan (kata ‘terang, penerang, menerangi, memisahkan, menguasai).

Semua petunjuk di atas diyakini para penafsir modern sebagai upaya penulis untuk menentang konsep kosmologis kafir yang memang sangat diwarnai oleh pemujaan terhadap benda-benda penerang di langit. Mereka menganggap matahari dan bulan sebagai dewa. Posisi bintang-bintang pun diyakini menentukan kehidupan manusia di bumi. Pendeknya, obyek penyembahan favorit pada waktu itu adalah benda-benda di langit, karena itu hal ini perlu ditentang secara lebih mendetil dibandingkan penciptaan benda yang lain.

Serangan terhadap kosmologi kafir tersebut diungkapkan oleh Kej. 1 dalam beberapa cara:

  1. keberadaan matahari dan bulan bukanlah kekal. Mereka ada di langit karena otoritas firman Allah. Konsep ini berkontradiksi dengan konsep mitologi Het yang mempercayai bahwa dewa matahari mereka sudah ada sejak kekekalan;
  2. matahari dan bulan hanya disebut sebagai “benda penerang yang besar dan yang kecil”, bukan ungkapan yang lebih umum, yaitu šemeš dan yārÄ“ah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari identifikasi dengan dewa matahari Shamash (bdk. “Bethsemes”) dan dewa bulan Yarih (bdk. “Yerikho”)
  3. fungsi matahari dan bulan hanyalah untuk memberikan terang di bumi dan mengatur musim. Fungsi ini ditekankan berkali-kali di 1:14-19 sebagai penekanan. Mereka hanyalah ciptaan yang diciptakan dan diatur Allah untuk tugas tertentu;
  4. bintang-bintang hanya disinggung sambil lalu saja, seolah-olah mereka tidak seberapa penting;
  5. urutan penyebutan adalah matahari, bulan, bintang. Dalam mitos kuno bintang mendapat prioritas dibandingkan benda langit yang lain. Sebuah mitos menceritakan bahwa Dewa Marduk mengatur musim berdasarkan bintang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa posisi bintang cenderung berdiri sendiri, sedangkan matahari dan bulan diperintahkan langsung oleh Marduk.

Salah satu persoalan krusial sehubungan dengan penciptaan matahari di hari 4 adalah keterkaitan dengan terang di hari 1. Sebagian penafsir mempercayai bahwa terang di hari 1 tidak memiliki keterkaitan apapun dengan matahari. Apabila kita menyelidiki petunjuk yang disediakan oleh teks secara lebih teliti, kita akan melihat bahwa bukti-bukti yang ada mengarah pada kesimpulan lain. Terang di hari 1 adalah terang dari matahari, walaupun matahari baru muncul di hari 4.

 

Bersambung………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community