Apakah Alkitab Mengandung Kekeliruan Ilmiah?

Posted on 04/02/2018 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah-Alkitab-Mengandung-Kekeliruan-Ilmiah.jpg Apakah Alkitab Mengandung Kekeliruan Ilmiah?

Sejak beberapa abad yang lalu hubungan antara theologi dan sains tidak terlalu baik. Keduanya dianggap berada di domain yang berbeda. Theologi lebih berkaitan dengan hati dan iman, sedangkan sains lebih kepada pikiran dan kenyataan. Banyak orang bahkan bukan hanya membedakan keduanya, tetapi juga mengontraskannya. Apa yang dianggap benar dalam sains seringkali bertabrakan dengan apa yang dianggap benar di theologi. Begitu pula sebaliknya.

Bagaimana kita menyikapi persoalan ini? Pada saat keduanya berkontradiksi, mana yang seharusnya diterima sebagai kebenaran? Bagaimana pula dengan beberapa teks Alkitab yang seolah-olah bertabrakan dengan penemuan ilmu alam, misalnya matahari yang berhenti bergerak (Yos. 10:12) atau ujung bumi (Ul. 13:7; Kis. 1:8)? Bukankah sains telah membuktikan dengan jelas bahwa bumilah yang bergerak mengelilingi matahari dan bahwa bumi berbentuk bulat?

Menjawab deretan pertanyaan di atas tidak mudah. Ada beragam aspek yang kita perlu pertimbangkan.

Pertama, keyakinan kepada Allah sebagai pencipta alam semesta dan pemberi firman seharusnya mendorong kita untuk melihat Alkitab dan alam semesta dalam keselarasan. Kebenaran yang ada di Alkitab tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran di alam semesta. Keduanya sama-sama ciptaan Allah.

Jika kontradiksi tetap ada, kemungkinan telah terjadi kesalahan penafsiran, baik terhadap Alkitab atau alam semesta atau dua-duanya. Kita tahu bahwa Alkitab dan alam semesta selalu benar, tetapi tidak semua orang memahami keduanya secara benar. Dengan kata lain, baik theologi (untuk memahami Alkitab) maupun sains (untuk memahami alam semesta) bisa salah. Sejarah, baik sejarah theologi maupun sains, menunjukkan poin ini tanpa bisa dibantah. Beberapa theologi yang dulu sangat populer ternyata terbukti keliru. Begitu pula dengan beberapa teori sains yang harus dikoreksi di periode berikutnya.

Kedua, keyakinan kita terhadap ketidakbersalahan Alkitab perlu dirumuskan secara lebih tepat dan jelas. Dari kacamata theologi injili (Reformed termasuk di dalamnya), ketidakbersalahan Alkitab dipahami sebagai berikut: “ketika semua fakta telah diketahui, kitab suci dalam naskah aslinya dan (jika) ditafsirkan secara memadai akan terbukti benar sepenuhnya dalam setiap hal yang mereka teguhkan, entah itu berkaitan dengan doktrin atau moralitas ilmu-ilmu sosial, fisika, maupun kehidupan” (Paul Feinberg, “The Meaning of Inerrancy,” 294). Tanpa memahami definisi ini dengan benar, kita akan terjebak pada dua kesalahan: mengklaim terlalu banyak tentang Alkitab atau membela apa yang tidak sepatutnya dipertahankan.

Marilah kita mengambil beberapa contoh yang populer. Apakah Alkitab memang mengajarkan theori geosentris (bumi sebagai pusat tata surya)? Apakah Alkitab menganggap bumi berbentuk datar? Tentu saja tidak! Kisah luar biasa di Gibeon ditulis dalam bentuk narasi. Ini sebuah cerita, bukan buku teks pedoman sains. Alkitab hanya menuliskan apa adanya, tanpa mengaitkan itu dengan sains. Ini disebut bahasa fenomenologis. Hal yang sama dapat diterapkan pada kasus “ujung-ujung bumi”. Kita tidak boleh mengambil ungkapan ini sebagai ekspresi ilmiah. Para penulis Alkitab hanya menggunakan ungkapan-ungkapan yang sudah populer pada waktu itu.

Apakah pembelaan ini mengada-ada? Sama sekali tidak! Kita pun masih sering menggunakan ungkapan yang sama. Kita seringkali berkata “matahari terbit dari timur”. Secara sains pernyataan ini jelas keliru, karena matahari hanya diam. Bumilah yang bergerak, sehingga seolah-olah matahari muncul di timur. Walaupun kita sudah tahu dan mengamini theori heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya), tetap saja kita menggunakan ungkapan tersebut. Kebiasaan ini sah-sah saja, karena kita tidak sedang berada di ruang kelas dan membahas tentang ilmu alam.

Kebiasaan yang sama sering muncul dalam kaitan dengan “ujung-ujung bumi”. Guruh Soekarno Putera pasti sudah tahu bahwa bumi berbentuk bulat. Namun, dia tetap saja mengarang sebuah lagu yang sepenggal liriknya berbunyi demikian: “walaupun ke ujung dunia pasti akan kucari”. Apakah dia melakukan kesalahan ilmiah? Saya yakin semua ilmuwan tidak akan keberatan dengan lirik lagu ini. Guruh tidak sedang mengajarkan sains. Kalimatnya ditulis dalam gaya sastra puisi.

Begitu pula dengan ungkapan-ungkapan di dalam Alkitab. Kita tidak boleh sembarangan mengutip dan menafsirkannya secara hurufiah, apalagi dikaitkan dengan area lain yang tidak dipikirkan oleh penulis Alkitab. Jika ini tetap dilakukan, kita telah menafsirkan Alkitab secara tidak memadai. Tidak heran, kita menemukan “kontradiksi” dalam Alkitab.

Contoh populer lain adalah theori evolusi. Sejak beberapa abad yang lalu theori ini sudah menjadi primadona di kalangan ilmuwan. Dalam banyak kasus, theori ini bahkan melandasi ilmu-ilmu lainnya. Banyak hal berubah sejak theori ini dimunculkan oleh Charles Darwin. Dampaknya terlihat di banyak bidang. Theori ini sudah menjadi sebuah aksiom yang dianggap pasti benar dan tidak perlu dikaji ulang.

Perkembangan sekarang sudah jauh berbeda. Perkembangan penelitian bio-genetika menunjukkan bahwa mutasi gen tidak terjadi sesederhana yang dipikirkan oleh Darwin atau (lebih tepatnya) para pendukung awal theori evolusi. Evolusi mikro memang dimungkinkan, tetapi tidak pada kasus evolusi makro.

Mereka yang menganut theori evolusi tentu saja akan melihat “kesalahan ilmiah” di dalam Alkitab. Beberapa yang ingin memegang otoritas Alkitab dan theori evolusi terpaksa mengambil jalan tengah sebagai upaya harmonisasi. Ada yang memegang deisme (Allah hanya mencipta tetapi tidak lagi berintervensi dalam dunia). Ada pula yang memegang evolusi theistik (Allah menyediakan modal dasar bagi keberlangsungan proses evolusi).   

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa apa yang dipandang sebagai “kontradiksi” atau “kesalahan ilmiah” di dalam Alkitab seringkali hanya sekadar kesalahan dalam penafsiran, baik penafsiran terhadap alam (sains) maupun firman Allah (theologi). Sebagai orang Kristen, kita perlu berhati-hati dalam memahami Alkitab. Jangan mengklaim lebih banyak daripada yang dikatakan oleh Alkitab.

Saya akan menutup artikel ini dengan sebuah kasus unik yang pernah menimpa saya. Suatu kali saya memimpin seminar di sebuah kampus tentang Alkitab dan sains. Pembicara lain adalah seorang profesor fisika. Di tengah presentasi ternyata kami berdua berbeda pendapat tentang pengertian “hari” (yom) di Kejadian 1. Si profesor menafsirkan kata ini secara hurufiah (24 jam), sedangkan saya menafsirkannya sebagai sebuah periode yang tidak tertentu (bisa super singkat, bisa sangat panjang).

Saya dulu juga memegang pandangan yang sama dengan profesor tersebut. Sesudah meneliti teks Kejadian 1 secara lebih seksama, pandangan saya justru berubah. Dari sisi semantik, konteks, logis, maupun sastra, “yom” di sini tidak mungkin diartikan 24 jam. Kata yom memang bisa merujuk pada durasi waktu tertentu yang berbeda-beda, tidak harus 24 jam. Bahkan pemunculan yom di 2:4 (LAI:TB “ketika”; lit. “pada hari”) merujuk keseluruhan proses penciptaan dari hari ke-1 sampai ke-6. Seandainya yom ditafsirkan 24 jam, bagaimana dengan hari ke-1 sampai ke-3 ketika matahari dan bulan belum ditempatkan di langit? Frasa “jadilah petang, jadilah pagi” juga tidak mengisyaratkan 24 jam.

Sesudah seminar usai, beberapa dosen berujar kepada saya: “Yang pendeta terlihat lebih ilmiah, sedangkan yang ilmuwan lebih dogmatis”. Sebuah komentar yang menarik. 

Apakah tafsiran saya disesuaikan dengan penemuan sains? Sama sekali tidak! Saya hanya mencoba memahami teks apa adanya. Saya tidak berani mengklaim lebih banyak daripada yang ada di dalam teks. Saya tidak terlalu “peduli” apakah hasil penafsiran saya selaras dengan sains atau tidak. Tugas saya hanyalah memahami teks sebaik mungkin.

Kasus-kasus lain yang bisa disinggung di sini tentu saja masih banyak. Penjelasan untuk setiap kasus juga pasti berbeda-beda. Cukuplah bagi kita untuk memiliki pemikiran yang benar. Alkitab bukan buku pegangan sains. Tidak setiap ayat harus ditafsirkan sebagai penjelasan ilmiah. Walaupun demikian, saya meyakini bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan ilmiah. Jika seorang penulis Alkitab memang memaksudkan kebenaran X dalam ranah sains, pernyataan itu pasti sesuai dengan realita. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community