Apa Saja 5 (Lima) Kesalahpahaman Terpopuler Tentang Predestinasi?

Posted on 04/10/2020 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah-Saja-Kesalahpahaman-Populer-Tentang-Predestinasi.jpg Apa Saja 5 (Lima) Kesalahpahaman Terpopuler Tentang Predestinasi?

Bagi mereka yang suka dengan teologi, istilah “predestinasi” pasti tidak asing lagi. Sayangnya, tidak semua memahami istilah ini dengan seragam dan benar. Kebingungan dan kesalahpahaman tentang doktrin ini dengan mudah dapat ditemukan.

Nah, apa saja pandangan populer yang keliru tentang istilah ini?

Pertama, istilah ini dipahami secara sempit. Banyak orang menyamakan “predestinasi” (predestination) dengan pemilihan kekal yang berkaitan dengan keselamatan seseorang (election). Walaupun dua istilah tersebut tidak dapat dipisahkan, kita perlu membedakannya. Pemilihan kekal merupakan bagian dari predestinasi. Dengan kata lain, predestinasi lebih luas daripada pemilihan kekal. Predestinasi merujuk pada segala sesuatu dalam hidup kita, sedangkan pemilihan kekal terbatas pada keselamatan kita.

Pembedaan di antara dua istilah tadi mendapat dukungan dari kitab suci. Pemilihan kekal selalu bernada positif (Mat. 24:31; Tit. 1:1; Rm. 8:29-30, 33). Predestinasi kadangkala dikaitkan dengan tindakan yang negatif, misalnya tindakan Herodes dan Pilatus menggenapkan apa yang sudah ditentukan sejak semula oleh Allah (RSN/NASB/ESV “had predestined”). Catatan: dalam artikel ini dua istilah ini kadangkala digunakan bergantian.

Kedua, predestinasi adalah inti Teologi Reformed. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa predestinasi adalah topik utama dalam Teologi Reformed. Tidak heran, ketika banyak orang mendengar istilah “predestinasi” mereka langsung memikirkan Teologi Reformed.

Anggapan populer di atas jelas keliru. Seperti kita telah lihat sebelumnya, istilah “predestinasi” juga muncul di beberapa versi Bahasa Inggris (Kis. 4:28; Rm. 8:29-30; Ef. 1:5, 11, ESV). Setiap orang Kristen yang menerima otoritas Alkitab pasti mengajarkan predestinasi. Yang membedakan di antara semua aliran teologi adalah cakupan dan alasan predestinasi. Reformed meyakini bahwa predestinasi mencakup segala sesuatu dan tindakan itu didasarkan pada kedaulatan Allah. Jadi, yang mengajarkan predestinasi bukan hanya orang-orang Reformed.

Di samping itu, dalam berbagai buku teologi sistematika (doktrin) Reformed tidak ada yang meletakkan predestinasi di tempat pertama seolah-olah topik ini merupakan yang terpenting atau yang melandasi bagian-bagian lain. Contoh yang paling jelas adalah tulisan magnum opus Calvin yang berjudul Institutes of the Christian Religion (Institutio). Dalam edisi buku ini topik predestinasi (dalam arti pemilihan sejak kekal) bahkan tidak dibahas sama sekali.

Ketiga, predestinasi mematikan penginjilan. Ini adalah salah satu sanggahan paling populer. Jika Allah sudah memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan, untuk apa kita masih perlu memberitakan Injil? Begitu pikiran sebagian orang.

Konsep di atas menunjukkan bahwa yang mengucapkan kurang memahami predestinasi versi Reformed dengan baik. Yang ditetapkan sejak kekekalan bukan hanya hasil akhir (keselamatan), melainkan juga seluruh rangkaian proses yang menuju ke sana (lihat Roma 8:29-30, pemilihan à penentuan à pemanggilan à pembenaran à pemuliaan). Bagaimana orang pilihan bisa bertobat kalau tidak pernah mendengarkan Injil (Rm. 10:14)?

Doktrin pemilihan kekal justru mendorong kita untuk memberitakan Injil dengan penuh semangat dan keyakinan. Pelayanan Paulus adalah contohnya. Ketika dia mengalami tekanan yang besar di Korintus, Allah menghibur dia dengan doktrin pemilihan. Allah berkata: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini” (Kis. 18:9-10). Waktu itu orang-orang Kristen masih belum banyak, tetapi Allah meyakinkan Paulus bahwa ada banyak orang-orang pilihan yang perlu mendengarkan Injil dari Paulus dan diselamatkan. Pengalaman ini yang membuat Paulus begitu berani menderita dalam pemberitaan Injil. Dia memiliki keyakinan: “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (2Tim. 2:10).

Predestinasi juga tidak akan melemahkan semangat penginjilan karena kita tidak pernah siapa yang dipilih oleh Allah. Kita baru mengetahui kalau orang itu sudah percaya sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus. Tanpa pemilihan tidak mungkin muncul iman. Bagi yang terus-menerus menolak juga belum tentu tidak dipilih. Siapa tahu di masa tua atau akhir hidupnya dia membuka hati untuk Injil. Dalam ketidaktahuan ini, kita harus setia memberitakan Injil kepada siapa saja.

Keempat, doktrin pemilihan sejak kekal menunjukkan ketidakadilan Allah. Mereka yang melontarkan keberatan ini beranggapan bahwa keadilan identik dengan kesamarataan. Jika Allah mau memilih ya Dia harus memilih semua orang.

Kekeliruan dalam pandangan populer ini cukup beragam. Secara filosofis, adil tidak berarti sama rata. Dengan kata lain, keadilan tidak selalu distributif. Seorang direktur mendapatkan gaji ratusan juta sebulan, sedangkan seorang tukang becak hanya ratusan ribu. Apakah penghasilan mereka dalam sehari sama? Tidak! Apakah itu adil? Ya!

Inti keadilan adalah memberikan apa yang menjadi hak masing-masing pihak. Ada orang yang memang berhak mendapatkan lebih daripada yang lain. Ini normal. Tidak ada orang yang sama persis. Selama hak seseorang tidak dilanggar, keadilan tetap ditegakkan.

Dalam konteks pemilihan sejak kekal, semua orang berdosa dan patut dihukum. Doktrin pemilihan didirikan di atas keberdosaan semua manusia. Tidak ada satu orangpun yang layak untuk diselamatkan. Jika Allah tidak melakukan apapun, semua orang akan mendapatkan keadilan, yaitu hukuman. Dalam anugerah-Nya Allah memberikan keselamatan kepada sebagian orang. Yang dipilih mendapatkan kasih karunia, yang dibiarkan (tidak dipilih) memperoleh keadilan.

Jika kita mengharuskan Allah untuk memilih semua, kita justru merampas hak Allah. Sebagai Pencipta, Dia memiliki kebebasan untuk berbuat apa saja, selama hal itu tidak menabrak sifat-sifat-Nya. Mengharuskan Allah untuk memilih semua justru merupakan ketidakadilan terhadap Allah. Jika kita mengharuskan Allah untuk tidak memilih satu orangpun, kita menunjukkan sisi kejam dalam diri kita.

Terakhir, predestinasi membuat manusia seperti robot atau malah terjebak fatalisme. Bagi sebagian orang, doktrin predestinasi hanya berdampak negatif bagi manusia dalam kaitan dengan tanggung-jawab mereka. Jika semua terjadi sesuai ketetapan kekal Allah, manusia tidak benar-benar memiliki kehendak bebas. Manusia juga bisa bertindak sembarangan dengan asumsi bahwa toh pada akhirnya semua terjadi sesuai kehendak kekal Allah (fatalisme).

Untuk menyikapi kesalahpahaman ini kita perlu membedakan antara ekses dan substansi dari suatu ajaran. Apakah ada kemungkinan bahwa doktrin predestinasi disalahgunakan? Iya. Begitu pula dengan semua ajaran yang baik lainnya!

Yang perlu untuk diteliti adalah substansinya. Alkitab yang sama mengajarkan predestinasi dan tanggung-jawab manusia. Kedaulatan Allah dan kebebasan manusia bukanlah kontradiksi. Ada ketegangan, tetapi bukan pertentangan. Manusia tidak pernah tahu apa yang sudah ditetapkan oleh sejak kekekalan bagi dia. Tugasnya adalah menggumulkan setiap keputusan dan tindakan secara hati-hati bersama dengan Tuhan.

Salah satu contoh yang paling baik dalam Alkitab adalah Daud. Walaupun dia sudah diurapi sebagai raja dan disertai Tuhan begitu rupa, dia tidak sembarangan membawa dirinya dalam bahaya. Dia selalu mencari pimpinan TUHAN. Misalnya, ketika dia berada di Kehila dan mendengar bahwa Sual mengetahui keberadaannya. Daud tidak berdiam diri saja sambil beriman bahwa apapun yang terjadi TUHAN pasti akan memelihara hidupnya. Tidak! Dia mencari pimpinan Tuhan dan melangkah sesuai pimpinan itu (1Sam. 23). Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community