Anak-anak Rohani (1 Tesalonika 2:10-12)

Posted on 19/04/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/anak-anak-rohani-1-tesalonika-2-10-12.jpg Anak-anak Rohani (1 Tesalonika 2:10-12)

Pertumbuhan spiritual bersifat personal dan komunal. Personal, karena pertumbuhan ini harus dialami oleh setiap individu. Komunal, karena proses ke arah sana membutuhkan bantuan banyak orang. Tidak ada orang yang mampu bertumbuh sendirian. Jika ada yang menganggap dirinya mampu bertumbuh sendirian, itu pasti bukan pertumbuhan tetapi kesombongan.

Secara lebih khusus, setiap orang membutuhkan orang lain sebagai mentor (pembimbing rohani). Ada orang yang dijadikan teladan dan sumber kebijaksanaan. Bagaimanapun, kehebatan seorang mentor tidak akan berarti apa-apa jika yang dibimbing tidak melakukan bagiannya. Pada akhirnya, semuanya harus berpusat pada Allah yang benar.

Bagaimana menjadi mentor yang baik bagi orang lain? Apa yang harus dilakukan oleh orang yang dibimbing? Dalam teks kita hari ini Paulus akan menjelaskan hal tersebut dengan menggunakan metafora relasi bapa dan anak. Mentor adalah bapa rohani. Orang yang dibimbing adalah anak-anak rohani. Masing-masing perlu memainkan peranannya sendiri-sendiri.

 

Karakteristik mentor yang baik (ayat 10-12a)

Ada beragam gambaran untuk menjelaskan relasi mentor dan anak bimbingan. Salah satu yang sering digunakan oleh Paulus adalah relasi bapa dan anak (2:10-12a). Ini jelas bukan satu-satunya metafora, karena di beberapa ayat sebelumnya Paulus sudah menggambarkan dirinya sebagai ibu juga (2:7-8). Masing-masing metafora mempunyai titik penekanan yang berbeda. Yang jelas, metafora bapa-anak cukup sering digunakan oleh Paulus dalam surat-suratnya (1Kor. 4:14-15, 17; Flp. 2:22; Flm. 1:10; 1Tim. 1:2).

Aspek apa saja yang ingin disampaikan oleh Paulus melalui metafora relasi bapa – anak? Tanpa konteks tertentu, jawabannya jelas sangat beragam. Metafora bisa ditafsirkan dalam banyak sisi. Namun, jika dibatasi pada konteks 1 Tesalonika 2:10-12, poin yang ingin disampaikan hanya ada tiga.

Pertama, otentisitas (ayat 10a, 11a). Istilah “otentisitas” berarti apa adanya. Di luar dan di dalam sama. Tidak ada pencitraan, apalagi pencarian panggung sosial.

Poin ini sangat relevan bagi situasi Paulus pada saat menulis surat 1 Tesalonika. Dia sedang difitnah mencari keuntungan materi dari pemberitaan Injil (2:3-6). Doktrin anugerah berdasarkan kasih karunia sering disalahpahami sebagai modus Paulus untuk menyenangkan banyak orang demi meraup keuntungan. Dia dianggap bermulut manis untuk mengambil hati orang lain.

Itulah sebabnya di pasal 2 ini dia berkali-kali menggunakan frasa “kamu [sendiri] tahu” (2:1, 2, 5, 11) atau “kamu masih ingat” (2:9) atau “kamu adalah saksi” (2:10). Dia tidak perlu membalas fitnahan dengan kecaman atau serangan lainnya. Yang dia fokuskan adalah jemaat, bukan pembuat fitnah. Yang paling penting adalah orang-orang yang di dekatnya tahu apa yang sebenarnya terjadi.  

Lebih jauh, Paulus juga memanggil Allah sebagai saksi. Ini adalah untuk kedua kalinya dia memanggil Allah sebagai saksi (2:5). Kita tahu bahwa Paulus sangat jarang memanggil Allah sebagai saksi. Di sini dia melakukannya dua kali! Memanggil Allah sebagai saksi berarti penegasan dari Paulus bahwa apa yang dia tampilkan di luar (di depan jemaat Tesalonika) persis sama dengan hatinya. Otentik. Apa adanya. Tidak maksud tersembunyi. Tidak ada pencitraan diri.

Kedua, keteladanan (ayat 10b). Beberapa orang memang tampil apa adanya. Tidak ada yang ditutupi. Sayangnya, yang ditampilkan bukan keteladanan, tetapi batu sandungan. Gaya hidup yang berantakan.

Tidak demikian dengan Paulus. Dia membuka diri untuk dilihat apa adanya karena kehidupannya memang telah menjadi teladan. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, dia menggunakan 3 kata keterangan untuk menggambarkan gaya hidupnya: saleh (hosiōs), adil (dikaiōs) dan tak bercacat (amemptōs, ayat 10b). Secara hurufiah tiga kata ini seharusnya diterjemahkan: dengan kudus, benar, dan tak bercacat.

Walaupun terjemahan hurufiah relatif tidak terlalu sulit, tetapi membedakan arti satu kata dengan yang lainnya tidak gampang. Ada yang memahami “dengan kudus” dalam kaitan dengan Allah, sedangkan “dengan benar” dengan manusia. Ada yang melihat kata pertama sebagai rujukan pada karakter, sedangkan yang kedua pada tingkah laku. Namun, pembedaan-pembedaan semacam ini patut dipertanyakan. Jika dibedakan seperti itu, lalu bagaimana posisi kata ketiga (“dengan tak bercacat”)? Lagipula pemunculan kata sifat kudus (hosios), benar (dikaios) dan tak bercacat (amemptos) di Alkitab menunjukkan bahwa kata-kata ini bisa dikaitkan dengan Allah maupun manusia, dengan karakter maupun tingkah laku.

Kita sebaiknya tidak memaksakan perbedaan arti di antara tiga kata tersebut. Pemunculan sebanyak tiga kali dengan makna yang hampir sama mungkin dimaksudkan sebagai penekanan. Hal yang sama akan muncul di ayat 11-12a. Paulus sekadar memberi penegasan saja. Dia sedang menggarisbawahi integritas hidupnya.

Apakah penegasan tadi berarti Paulus sudah sempurna? Tentu saja tidak. Tiga kata keterangan di ayat 10 ini hanya ungkapan-ungkapan umum untuk menunjukkan integritas seseorang yang terbilang sangat baik. Sebagai contoh, Zakharia dan Elisabet disebut kudus dan tak bercacat (Luk. 1:6, dikaios dan amemptos), namun di kisah selanjutnya kita tahu bahwa dia kurang memiliki iman (Luk. 1:20). Tak bercacat juga bukan berarti tidak ada dosa. Tak bercacat merujuk pada integritas hidup yang tidak memberi celah bagi orang lain untuk menegur atau menjatuhkan (bdk. Flp. 2:15).

Ketiga, bimbingan (ayat 11-12a). Menampilkan sebuah contoh saja tidaklah selalu cukup. Banyak orang membutuhkan lebih daripada sekadar keterbukaan dan keteladanan. Mereka memerlukan bimbingan. Itulah yang disinggung oleh Paulus di ayat 11-12a.

Metafora relasi bapa – anak di sini sangat sesuai dengan budaya pada waktu itu. Kalau figur ibu merupakan simbol kasih sayang dan perhatian (2:7-8), figur ayah menyiratkan bimbingan (2:11-12a). Adalah tanggung-jawab ayah untuk membesarkan dan membimbing anak-anak. Walaupun anak-anak mungkin menghabiskan lebih banyak dengan ibu di rumah, tanggung-jawab utama tetap ada pada ayah. Setiap ayah wajib memastikan bahwa semua anaknya dalam keadaan baik-baik saja, baik secara jasmani, moral, maupun rohani.

Paulus menerangkan fungsi seorang ayah dengan tiga partisip: menasihati (parakalountes), menguatkan (paramythoumenoi) dan meminta dengan sangat (martyromenoi). Kata yang pertama (dari kata parakaleō) sering muncul dalam Alkitab (109x). Artinya beragam, tapi yang paling umum adalah “menasihati”. Kata “menguatkan” (dari kata paramytheomai) sebenarnya lebih ke arah menghibur (mayoritas versi Inggris) mereka yang sedang patah semangat (5:14) atau bersedih (Yoh. 11:19, 31). Kata “meminta dengan sangat” (dari kata martyromai) bisa berarti “bersaksi” (Kis. 20:26; 26:22; Gal. 5:3) atau “mendesak” (Ef. 4:17, NIV “insist”; LAI:TB “menegaskan”). Arti yang terakhir ini lebih cocok dengan konteks 1 Tesalonika 2:10-12. Sebagai seorang bapa, Paulus bukan sedang menasihati dan menghibur, tetapi juga mendesak mereka untuk melakukan sesuatu (LAI:TB “meminta dengan sangat”).

Kombinasi dari tiga tindakan tadi – menasihati, menghibur dan mendesak – sangat diperlukan untuk pertumbuhan rohani anak-anak. Sebagian ayah terjebak pada rangkaian nasihat belaka tanpa berani memberikan dorongan ekstra bagi anak-anak. Yang lain justru terlalu keras memberikan desakan tapi kurang bisa menghibur anak-anak yang takut atau gagal. Ada juga yang selalu hadir di tengah kegagalan anak-anak, tetapi tidak bisa memberikan nasihat atau dorongan.

 

Tanggung-jawab anak rohani (ayat 12b)

Paulus sudah melakukan bagiannya. Dia memiliki kehidupan yang otentik. Dia menunjukkan keteladanan. Dia pun tidak lupa memberikan bimbingan.

Bagaimanapun indahnya kehidupan dan pentingnya peranan Paulus di atas, semua itu hanyalah sarana. Turut mempengaruhi, tetapi tidak selalu menentukan. Ada tanggung-jawab yang wajib ditunaikan oleh jemaat. Mentoring tidak pernah satu arah, baik dalam hal impartasi maupun aplikasi.

Setiap anak rohani harus memahami tujuan dari mentoring. Bukan sekadar membangun kedekatan. Bukan hanya berbagi pengalaman. Yang dituju adalah kehidupan yang “sesuai dengan kehendak Allah”.

Apa arti dari frasa ini? Dalam teks Yunani frasa “sesuai dengan kehendak Allah” secara hurufiah berarti “layak [bagi] Allah” (axiōs tou theou). Penggunaan kata “layak” (axiōs) menyiratkan sebuah standar yang perlu dipenuhi. Ada kesesuaian atau kesepadanan dengan standar tersebut. Sebagai contoh, jemaat harus hidup layak bagi panggilan ilahi (Ef. 4:1; LAI:TB “berpadanan”) atau layak bagi Injil (Flp. 1:27; LAI:TB “berpadanan”).

Standar apa yang sedang dipikirkan oleh Paulus ketika dia menggunakan frasa “layak bagi Allah”? Kita mendapatkan sebuah petunjuk berharga dari tulisan Paulus yang lain. Kolose 1:10 juga menyinggung tentang kehidupan yang layak bagi Tuhan, dan kehidupan seperti ini ditandai dengan adanya buah dalam segala pekerjaan baik dan peningkatan pengetahuan tentang Allah (KJV “That ye might walk worthy of the Lord unto all pleasing, being fruitful in every good work, and increasing in the knowledge of God”). Dengan kata lain, hidup yang layak bagi Allah ditandai dengan dua hal: kesalehan dan pengetahuan. Kesalehan yang nyata dan dapat dinikmati oleh orang lain. Pengetahuan yang benar tentang Allah. Dua hal ini tidak boleh dipisahkan. Kesalehan tanpa pengetahuan yang benar akan menghasilkan kesombongan spiritual. Sebaliknya, pengetahuan yang benar tanpa kesalehan akan menciptakan kesombongan intelektual.

Jika memang kehidupan yang layak bagi Allah tidak terpisahkan dari pengetahuan yang benar tentang Allah, tidaklah mengherankan apabila Paulus lalu menjelaskan siapa Allah yang kepadanya hidup kita harus layak. Ayat 12b mengatakan: “yang memanggil kamu ke dalam kerajaan dan kemuliaan-Nya”. Panggilan ini telah diteguhkan melalui pertobatan jemaat Tesalonika (1:4-6). Panggilan ini juga memberikan penghiburan bagi jemaat ketika mereka memasuki proses memberi kehidupan yang layak bagi Allah sebab “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (5:24).

Kita tidak dipanggil bagi sesuatu yang lemah atau hina. Kita dipanggil ke dalam kerajaan dan kemuliaan-Nya. Tujuan dari panggilan kita begitu indah.

Ini adalah penghiburan yang tak terkira. Setiap kali kita merasa lelah dalam perjalanan karena besarnya tantangan yang menghadang, marilah melihat ke depan; kepada kerajaan dan kemuliaan yang Allah janjikan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community