Adoption: The Real Face of God”s Children (Roma 8:12-17)

Posted on 08/06/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Adoption-The-Real-Face-of-God-Children-(Roma-8-12-17).jpg Adoption: The Real Face of God”s Children (Roma 8:12-17)

Di kalangan orang-orang Kristen tertentu sebutan sebagai anak-anak Allah seringkali dibatasi pada hal-hal yang bersifat sementara dan menyenangkan secara jasmani. Misalnya, sebagai anak-anak Allah kita akan menjadi kaya raya dan sukses. Roma 8:12-17 ternyata memberikan gambaran yang berbeda.

Menjadi anak-anak Allah mengandung sebuah kewajiban besar. Kata sambung ‘karena itu’ (ara oun, LA:TB ‘Jadi’) di 8:12 menyiratkan bahwa poin teologis di 8:1-11 bukan sekadar konsep yang abstrak maupun teoritis. Ada konsekuensi dari setiap kebenaran doktrinal. Konsekuensi ini bahkan bersifat mengikat, sebagaimana tersirat dari kata ‘orang berhutang’ (opheiletai, 8:12).

Menjadi anak-anak Allah juga tidak dapat dipisahkan dari penderitaan (8:17b). Kita hidup dalam sebuah dunia dan zaman yang rusak oleh dosa. Semua makhluk merasakan dampak negatif dari semua ini (8:20, 22), termasuk anak-anak Allah (8:23). Pandangan populer yang mengatakan bahwa anak-anak Allah tidak akan mengalami kesukaran di dunia merupakan kekeliruan yang fatal.

Bagaimana wajah asli anak-anak Allah? Apa tanda-tandanya? Bagaimana peranan Roh Kudus dalam semuanya ini? Apakah Ia berperan penting sebagaimana dalam proses sebelumnya 8:1-11)?

Kita berhutang kepada Roh (ayat 12-13)

Penggunaan kata ganti ‘kita’ dan sapaan ‘saudara-saudara’ menunjukkan kesamaan dan solidaritas antara Paulus (rasul) dan jemaat di Roma (seluruh orang percaya). Dalam kekristenan mula-mula sebutan ‘saudara’ bermakna spiritual (kita semua adalah anak-anak Allah, karena itu kita adalah saudara di dalam Tuhan, bdk. 8:15-16, 23). Sebagai contoh, pada waktu Paulus menyebut semua orang Yahudi sebagai ‘saudara’, ia cepat-cepat menambahkan ‘kaum sebangsaku secara jasmani’ (9:3).

Dalam teks Yunani, frase ‘kita adalah orang-orang berhutang’ menggunakan opheiletai esmen. Kata opheiletai (orang-orang yang berhutang’) mengandung sebuah keharusan (1:14; 15:27). Kata esmen (‘kita adalah’) berbentuk kekinian, sehingga mengindikasikan posisi yang terus –menerus.

Berhutang kepada siapa? Paulus tidak secara langsung dan eksplisit menyebutkan. Ia hanya mengatakan ‘bukan kepada daging supaya hidup menurut daging’. Analisa konteks yang teliti menunjukkan bahwa kita berhutang kepada Roh. Daging biasanya dikontraskan dengan Roh (8:4, 5, 6, 9). Sebagaimana hutang kepada daging membawa konsekuensi hidup menurut daging (8:12b), demikian pula hutang kepada Roh berarti hidup oleh Roh (8:13b). Selain itu, di 8:1-11 Paulus sudah menjelaskan betapa penting karya Roh dalam kehidupan orang Kristen: memerdekakan (8:2), memberi arah pikiran yang baru yang lebih baik (8:5-6), dan akan membangkitkan tubuh kita (8:11).

Hutang kepada Roh harus dibayar dalam bentuk pembunuhan terhadap perbuatan-perbuatan tubuh. Bentuk kekinian pada kata kerja ‘mematikan’ (thanatoute, 8:13) mengindikasikan sebuah proses yang terus-menerus. Proses ini seringkali berat, melelahkan, dan panjang. Tetapi, kita tidak perlu cemas, karena kuncinya terletak pada Roh (8:13 ‘oleh Roh’, pneumati). Walaupun demikian, bukan berarti kita hanya pasif saja. Kemauan dan kekuatan disediakan oleh Roh (Flp 2:13), namun kita harus aktif mematikan perbuatan-perbuatan daging.

Sebagaimana cara hidup menurut daging dan Roh tidak dapat dikombinasikan (8:5-8), demikianlah hasil dari masing-masing cara hidup (8:13). Hidup menurut daging membawa suatu akibat: ‘kalian akan mati’ (mellete apothnēskein), sedangkan hidup menurut Roh berakibat: ‘kalian akan hidup’ (zēsesthe). Kata ‘mati’ di sini pasti bukan secara fisik, karena semua orang – termasuk orang-orang yang percaya kepada Kristus – juga akan mengalami kematian fisik (8:10-11). Kematian ini bersifat spiritual.

Penggunaan kata mellete sebelum kata apothnēskein menyiratkan penekanan: kepastian atau keseriusan. Hal ini tidak berarti bahwa orang-orang yang percaya pada akhirnya bisa binasa (8:1 ‘Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus’). Kita perlu menyadari bahwa tidak semua orang yang mengaku diri sebagai orang Kristen adalah benar-benar sudah di dalam Kristus. Tanda kepemilikan Kristus atas seseorang adalah ketundukan pada Roh dan perlawanan terhadap daging (8:8-9). 

Kita dipimpin oleh Roh (ayat 14)

Di ayat 13 Paulus sudah mengajarkan bahwa hidup menurut Roh berarti mematikan perbuatan-perbuatan daging, dan kita akan hidup. Bagaimana hidup menurut Roh itu? Hidup yang dipimpin oleh Roh!

Ada beberapa poin menarik tentang pimpinan Roh. Pertama, pimpinan Roh merupakan sarana untuk memastikan hidup kekal kita. Kata sambung ‘sebab’ (gar) di awal ayat 14 menunjukkan bahwa ayat ini merupakan penjelasan tentang hidup oleh Roh yang membawa kemenangan atas daging dan menghasilkan kehidupan (ayat 13b). Kristus sudah menggantikan hukuman kita di kayu salib dengan sempurna (8:3-4), namun itu bukan titik akhir. Allah ingin memastikan keselamatan itu melalui pimpinan Roh-Nya.

Kedua, pimpinan Roh bersifat inklusif. Pemunculan kata hosoi (lit. ‘sebanyak yang’; KJV/ASV ‘as many as’) menyiratkan ketidakadaan perkecualian (mayoritas versi Inggris ‘all who’). Berbeda dengan pandangan modern yang berfokus pada pengalaman-pengalaman yang spektakuler dan eksklusif bersama Roh (penglihatan, perjalanan di dunia Roh, bisikan Roh, dsb.), Paulus justru menekankan karya Roh yang dapat dialami dan dilihat oleh banyak orang.

Ketiga, pimpinan Roh adalah tanda, bukan syarat menjadi anak-anak Allah. Penggunaan kata ‘adalah’ (eisin) perlu digarisbawahi. Paulus tidak mengatakan: “semua yang dipimpin oleh Roh Allah akan menjadi (genēsontai) anak-anak Allah”. Status sebagai anak bukan hasil usaha kita, melainkan pemberian Allah. Tugas kita adalah hidup menurut status tersebut.

Keempat, pimpinan Roh bukanlah paksaan atau beban yang berat. Pimpinan Roh di sini dikontraskan dengan roh perbudakan (8:15). Di Galatia 5:18 hidup yang dipimpin oleh Roh dikontraskan dengan hidup di dalam Taurat. Berbeda dengan hidup dalam perbudakan dan Taurat yang bersifat menekan, pimpinan Roh justru menyenangkan karena berhubungan dengan kehidupan dan damai sejahtera (8:6). Roh akan memimpin kita pada segala kebenaran (Yoh 16:13).

Kita menerima roh pengangkatan anak (ayat 15-16)

Untuk kesekian kalinya kita menemukan kata sambung ‘sebab’ di awal kalimat (8:13, 14, 15). Kata ‘sebab’ di ayat 15 menerangkan status kita sebagai anak-anak Allah di ayat 14. Status ini bukan usaha kita, tetapi pemberian Allah. Kita hanya menerima (ayat 15), bukan pengupayakan.

Di ayat ini Paulus mengontraskan roh perbudakan (pneuma douleias) dan roh pengangkatan anak (pneuma huiothesias; LAI:TB ‘Roh yang menjadikan kamu anak Allah’). Para teolog berbeda pendapat tentang dua istilah ini. Sebagian menganggap pneuma yang terakhir sebagai Roh Allah (KJV/NIV/ESV), sedangkan yang lain memilih roh manusia (ASV/NASB/RSV). Sebagian lagi meyakini bahwa dua kata pneuma di ayat ini merujuk pada dua aspek yang berbeda dari pekerjaan Roh Kudus: Ia meyakinkan orang tentang keberdosaan mereka (roh perbudakan yang berujung ketakutan) dan meyakinkan mereka sebagai anak-anak Allah (roh pengangkatan adopsi).

Kita sebaiknya memahami penggunaan pneuma di ayat ini secara retoris (1 Kor 2:12 ‘kita tidak menerima roh dunia’; 2 Tim 1:7 ‘sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan’). Maksudnya, dua kata itu tidak merujuk pada sebuah entitas atau pribadi, namun sekadar dua gambaran tentang dua keadaan. Kehidupan yang lama di dalam dosa disamakan dengan kehidupan dalam perbudakan yang membawa ketakutan terhadap hukuman. Sebaliknya, kehidupan yang baru di dalam Kristus telah mengubah situasi perbudakan di bawah dosa kepada status yang baru sebagai anak-anak Allah. Galatia 4:7a “Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak”.    

Dalam hal ini karya Roh Kudus bukan menjadikan kita sebagai anak-anak Allah (kontra LAI:TB ‘Roh yang menjadikan kamu anak Allah’). Dalam tulisannya yang lain Paulus bahkan mengajarkan “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Gal 4:6). Bagian Alkitab yang lain menyatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:12).

Roh pengangkatan anak (pneuma huiothesias) menunjukkan tiga poin penting dari pekerjaan Roh Kudus. Pertama, membawa pada ketaatan dan kehidupan kekal (ayat 15a). Sebagaimana roh perbudakan berkaitan dengan ketaatan pada dosa dan menghasilkan kematian, roh pengangkatan anak berhubungan dengan ketaatan pada Roh dan menghasilkan kehidupan.

Kedua, membawa keintiman dengan Bapa (ayat 15b). Oleh Roh (en hō = ‘di dalam/melalui-Nya’) kita berseru: ‘Abba, Bapa’. Tindakan ‘berseru’ (krazomen) menyiratkan luapan emosi, sedangkan tambahan sebutan ‘Abba’ (abba) sebelum ‘Bapa’ (ho patēr) menunjukkan keintiman. Kata abba merupakan sebutan non-formal yang menyiratkan kedekatan. Atau, sebutan ini bersumber dari kebiasaan Yesus dalam menggambarkan kedekatan-Nya dengan Bapa (Mar 14:36). Mana pun yang benar, suasana emosional yang intim dalam ayat ini sulit untuk dibantah.

Ketiga, meyakinkan status kita sebagai anak-anak Allah (ayat 16). Pemakaian kata auto di depan to pneuma bersifat penegasan dan seharusnya diterjemahkan “Roh itu sendiri” (semua versi Inggris; kontra LAI:TB). Kata symmartyreō (lit. ‘turut bersaksi’) harus dipahami dalam konteks budaya Yahudi: kesaksian dua atau tiga orang saksi adalah sah. Artinya, Roh Kudus dan roh kita merupakan saksi yang valid (dua saksi) dan konsisten (bentuk kekinian symmartyrei). Kesaksian semacam ini perlu kita miliki, karena kita kadangkala meragukan status kita, entah karena perjuangan yang berat melawan dosa (6:1-7:25) maupun penderitaan di dunia ini (8:17, 18-25). Tatkala keraguan muncul, Roh Kudus akan selalu meyakinkan kita.

Kita akan mewarisi Allah bersama-sama dengan Kristus (ayat 17)

Kata ‘ahli waris’ (klēronomos) muncul tiga kali dalam ayat ini sebagai penegasan. Menariknya, kita disebut sebagai klēronomoi theou (versi Inggris ‘heirs of God’; kontra LAI:TB ‘orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah’). Kita bukan hanya menerima sesuatu dari Allah, tetapi kita menerima Allah sendiri sebagai bagian kita. Konsep semacam ini sebenarnya tidak mengagetkan. Abraham tidak hanya dijadikan tanah dan keturunan (Kej 12:1-3), tetapi juga dijanjikan TUHAN sebagai Allah bagi dia (Kej 17:7). Pemazmur dengan yakin berkata: “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mzm 73:25-26).

Kita tidak hanya ‘ahli waris Allah’ (klēronomoi theou), tetapi synklēronomoi Christou (lit. ‘orang yang sama-sama mewarisi bersama Kristus’). Ungkapan ini mengindikasikan cara bagaimana kita bisa menjadi ahli waris Allah, yaitu apabila kita disatukan dengan Kristus. Kesatuan ini dinyatakan dua kali: sama-sama menderita (sympaschomen) dan sama-sama dimuliakan (syndoxasthōmen).

Penderitaan tidak hanya akan gagal dalam mengguncangkan status kita sebagai anak-anak Allah (karena Roh turut bersaksi dalam hati kita, 8:16), namun penderitaan justru akan menjadi jalan menuju kemuliaan (8:35-39; 5:3-5; 8:28). Dalam dunia yang tercemar dosa ini setiap anak Tuhan pasti menderita (8:18-25). Kita tidak tahan dengan kehidupan semacam ini (2 Pet 2:7). Kita pun seringkali harus kehilangan banyak hal pada saat kita memilih untuk bertahan dalam kebenaran (Ibr 10:32-34). Dengan mata tertuju kepada penyataan kita yang total sebagai anak-anak Allah di akhir zaman (Rom 8:17, 19, 21, 23), marilah kita terus bertahan dalam setiap kesusahan. Penderitaan zaman ini adalah kemuliaan di zaman yang akan datang (8:18). Kiranya kekuataan Allah dianugerahkan kepada kita dengan cukup sampai kita tiba di titik akhir. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community