Adam, what have you done to us? (Roma 5:12-21)

Posted on 05/01/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Adam,-what-have-you-done-to-us-(Roma-5-12-21).jpg Adam, what have you done to us? (Roma 5:12-21)

 Pendahuluan:

Akibat berada di bawah kuasa dosa maka manusia lebih suka melakukan yang jahat, dari pada yang baik. Segala yang baik yang telah Allah sediakan bagi manusia, pada akhirnya digunakan untuk memuaskan hawa nafsunya, sehingga menghasilkan berbagai macam kekacauan dan berakhir pada kebinasaan kekal.

Berbagai dampak praktis yang terjadi akibat dikuasai oleh dosa adalah seseorang cenderung merasa diri benar dan mudah menyalahkan orang lain, atau menyalahkan keadaan ketika terjadi satu masalah. Dipihak lain, orang-orang tertentu merasa diri baik, layak, mampu, sehingga tidak membutuhkan intervensi Allah dalam hidup mereka, termasuk di dalamnya masalah keselamatan jiwanya.

Kesadaran bahwa manusia terlahir dengan kondisi terbelenggu di bawah kuasa dosa (pikiran, perasaan dan kehendak telah terdistorsi oleh dosa ), akan menolong seseorang untuk bisa menilai dirinya dengan benar sehinggamemilih untuk bersandar kepada Allah dari pada bersandar pada pengertian dan kekuatannya sendiri.

Isi:

Sekalipun diawali dengan masalah dosa, namun fokus ayat 12-21 bukanlah penjelasan tentang dosa asal. Paulus bahkan lebih tertarik dengan akibat dosa Adam (maut) daripada dengan dosa itu sendiri (band. ayat 15-18). Dalam ayat 12-21, Paulus ingin menekankan kuasa “kuasa ketaatan Kristus mengalahkan ketidaktaatan Adam.” Ide ini terlihat dari formula perbandingan yang muncul secara konsisten: “sebagaimana...demikian juga” atau “sebagaimana...lebih lagi” (ay. 12, 15-17, 18, 19, 21).

Penekanan terhadap “kuasa ketaatan Kristus mengalahkan ketidaktaatan Adam” merupakan penjelasan bagi ayat 1-11. Ayat 12-21 memberikan alasan mengapa pengharapan orang percaya begitu pasti: karena ketaatan Kristus menjamin keselamatan semua yang berada di dalam Dia. Secara lebih spesifik, ayat 12-21 menjelaskan bagaimana pembenaran, pendamaian dan keselamatan orang percaya  terkait dengan Yesus Kristus (ay. 9-10).

Struktur ayat 12-21:

Dosa sebagai akibat ketidaktaatan Adam(ay. 12-14)

Hasil ketaatan Kristus mengalahkan ketidaktaatan Adam (ay. 15-17)

Inti perbandingan dinyatakan ulang (ay. 18-19)

Antisipasi: posisi Taurat (ay. 20-21)

Pernyataan Paulus bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang dan melalui dosa maut juga menyebar ke semua orang merupakan kebenaran yang juga diyakini oleh orang Yahudi (Kej 2-3). Maut di sini sebaiknya dimengerti sebagai kematian fisik dan spiritual. Kematian fisik merupakan manifestasi eksternal, sedangkan kematian spiritual merupakan manifestasi internal, tetapi keduanya berujung pada kematian kekal.

Apa artinya “semua berdosa” dalam ayat 12? Apakah semua orang berdosa pada dirinya sendiri? Hanya meniru dosa Adam? Atau ada relasi khusus antara dosa Adam dan keberdosaan semua manusia? Ayat 18-19 jelas menunjukkan adanya kaitan antara dosa Adam dan dosa semua orang. Kaitan ini lebih daripada sekedar proses imitasi. Beberapa sarjana melihat kaitan dosa Adam dan keberdosaan semua manusia pada tahap kerusakan natur saja. Natur manusia yang sudah rusak akibat dosa menyebabkan manusia pada akhirnya juga berdosa. Dosa Adam bukanlah penyebab langsung dari keberdosaan manusia. Pandangan ini benar, tetapi belum cukup untuk menggambarkan pandangan Paulus di ayat 12-21. Pembahasan  di ayat 12-21 langsung mengaitkan dosa Adam dengan kematian/penghukuman semua orang. Dosa Adam identik dengan dosa semua manusia, karena semua manusia telah berdosa di dalam dan dengan Adam.Dasar argumentasi ini berakar pada konsep Yahudi tentang corporate solidarity: apa yang dilakukan satu orang mempengaruhi kelompok yang diwakilinya, begitu juga sebaliknya (bdk: Yos 7). Dengan kata lain, dosa Adam mempengaruhi status dan natur keberdosaan semua manusia.

Selanjutnya diayat 13-14, ide tentang perbandingan antara Adam dan Kristus disisipin  dengan penjelasan tentang adanya dosa, sebelum adanya Taurat. Mengapa Paulus menyinggung masalah Taurat? Paulus tampaknya mengantisipasi pertanyaan yang mungkin muncul dalam relasi antara dosa dan Taurat. Paulus sebelumnya telah menjelaskan bahwa orang mengenal dosa melalui Taurat (3:19-20) dan tanpa Taurat tidak akan ada pelanggaran (4:15). Dua teks di atas bisa menimbulkan kesalahpahaman bahwa sebelum Taurat dosa tidak ada. Untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahpahaman orang Yahudi tentang relasi tersebut, Paulus menjelaskan tiga kebenaran yang saling terkait:

Sebelum Taurat diberikan melalui Musa, dosa telah menguasai semua manusia (ay. 13a).

Tanpa Taurat dosa tidak akan diperhitungkan (ay. 13b).

Kata dasar evlloge,w dalam PB hanya muncul di ayat 13, 14 dan Fil 1:18. Kata ini diambil dari istilah perdagangan yang merujuk pada tindakan yang spesifik dan teliti dalam pembukuan. Berdasarkan arti ini, ayat 13b tidak mengajarkan bahwa dosa baru dianggap dosa setelah ada Taurat. Sebaliknya, ayat ini mengajarkan bahwa dosa baru bisa diperhitungkan secara detail dan eksplisit pada setiap orang ketika seseorang secara sadar dan tahu telah melanggar suatu perintah khusus. Eksistensi Taurat merupakan tolak ukur tingkah laku manusia dan justifikasi hukuman Allah atas dosa manusia, tetapi hal itu tidak berarti bahwa sebelum Taurat tidak ada dosa.

Maut telah menguasai manusia sebelum ada Taurat.... (ay. 14). Ayat ini berfungsi sebagai buktibagi ayat 13a (maut sebagai upah dosa, bdk: Kej. 2:17; Rom 3:2;)  sekaligus antisipasi terhadap kesalahpahaman yang mungkin timbul dari ayat 13b (tidak diperhitungkan tidak berarti tidak dihukum). Untuk mempertegas hal tersebut Paulus menjelaskan bahwa maut juga memerintah atas mereka yang berdosa dengan cara yang berbeda dengan Adam. Frase ini berguna untuk menunjukkan bahwa orang lain yang tidak mendapat perintah langsung dari Allah seperti Adam (bdk: Kej 2:17-18) juga menerima hukuman atas dosa mereka.

Dalam bagian selanjutnya (ay. 15-17), Paulus kembali melanjutkan perbandingan (kontras) antara Adam dan Kristus. Ungkapan “tidak seperti” dan “lebih lagi” di ayat 15-17 mengindikasikan superioritas Kristus atas Adam.

Inti kontras terletak pada hasil tindakan Adam dan Kristus: anugerah Allah sebagai hasil ketaatan Kristus tidak sebanding dengan maut sebagai hasil ketidaktaatan Adam (ay. 15). Di ayat 16-17 Paulus selanjutnya menjelaskan mengapa anugerah Allah tidak berimbangan dengan maut.

Tindakan Adam menghasilkan sesuatu penghukuman, sebaliknya tindakan Kristus menghasilkan pembenaran (ay. 16).

Jumlah dosa yang diperhitungkan dalam penghukuman adalah satu (dosa Adam), sedangkan pembenaran Kristus mencakup akumulasi dosa seluruh masa (ay. 16).

3. Hasil tindakan Kristus {hidup}telah membalikkan hasil tindakan Adam {maut} (ay. at 17).

Poin dalam bagian ini adalah sebagaimana maut merupakan kepastian bagi mereka yang berada dalam Adam, terlebih lagi pembenaran merupakan sesuatu yang pasti bagi mereka yang berada dalam Kristus (peneguhan untuk ayat 1-11).

Ayat 18-19 bisa disebut sebagai inti atau rangkuman dari ayat 12-17. Isu utama dalam bagian ini terletak pada aplikasi jangkauan pembenaran. Bagian ini tampaknya mengajarkan universalitas pembenaran Kristus (bdk: “semua orang” di ayat 18-19). Jika pembenaran memang universal, hal itu akan berkontradiksi dengan pernyataan Paulus di tempat lain yang mengajarkan bahwa pembenaran hanya atas mereka yang beriman. Apakah Paulus mengajarkan Universalisme?Jawabannya adalah Tidak. Pembenaran Kristus tidak diperuntukkan bagi semua orang. Bagaimana memahami arti kata “semua” dalam bagian ini?

 Kata “semua” dalam PB tidak selalu merujuk pada “setiap individu atau setiap hal.” “Semua” bisa dimengerti dalam kategori tertentu. Pilihan arti kata ini ditentukan oleh konteks (bdk: ay. 17; 8:32; 12:17, 18; 14:2; 16:19; Kis 2:17; 19:10; 1Tim 2:2, 4; juga Yoh 12:19).

Paulus juga menyatakan hukuman bagi mereka yang tidak percaya (2:12; 2Tes. 1:8-9).

Mengapa akibat dari tindakan Adam bersifat universal, sedangkan akibat tindakan Kristus tidak universal? Kerena proses penularan akibat tindakan Adam dan Yesus berbeda. Adam melalui jalur biologis sehingga setiap orang yang berada di bawah keturunan Adam, secara otomatismengalami dampak dari tindakan Adam. Sebaliknya penularan tindakan Kristus melalui jalur iman, sehingga tidak setiap orang bisa secara otomatis mengalami dampak dari tindakan Kristus. Pembenaran yang dikerjakan oleh Kristus hanya diperuntukan bagi mereka yang mau beriman kepada Kristus.

Ayat 20-21. Sebagaimana di ayat 13-14, Paulus di ayat 20-21 juga menyinggung relasi antara Taurat dan dosa. Kategorisasi manusia ke dalam Adam dan Kristus bagi orang Yahudi bisa menimbulkan pertanyaan, terkaitkakhususan Taurat Musa dalam sejarah keselamatanTerhadap pertanyaan ini Paulus menjawab bahwa Taurat tidak mengubah situasi manusia yang disebabkan oleh tindakan Adam. Sebaliknya, tujuan Taurat diberikan justru supaya pelanggaran bertambah banyak (ay. 20a). J.Calvin memahami frase ini dalam konteks Taurat memberikan pemahaman tentang dosa kepada manusia. Penjelasan ini belum mampu menerangkan ide “semakin banyak.” Arti yang lebih adalah dengan melihat tujuan Taurat sebagai sarana untuk mengintensifkan keseriusan dosa. Dosa menjadi semakin serius ketika Taurat diberikan, karena penerima Taurat akan dituntut lebih. Mereka telah diberi wahyu khusus tetapi tetap melanggar, sehingga pelanggaran mereka menjadi lebih serius.

Bagi Paulus, dalam kaitannya dengan dosa dan penghakiman Taurat memang tidak berguna, tetapi hal itu tidak berarti Taurat tidak memiliki manfaat sama sekali. Keseriusan dosa yang ditunjukkan melalui Taurat justru telah menjadi sarana untuk melihat anugerah Allah yang lebih besar daripada dosa tersebut (ay. 20b). Kesadaran tentang keseriusan yang telah ditumbuhkan oleh Taurat seharusnya membawa orang Yahudi semakin bisa memahami keseriusan anugerah Allah.

Aplikasi:

* Melalui kejatuhan Adam, setiap Manusia terlahir dibawah kuasa maut. Kerena itu jangan pernah merasa diri lebih suci atau lebih baik dari orang lain. Setiap kita adalah manusiaberdosa yang membutuhkan anugerah Allah. Hiduplah dengan penuh kerendahan hati di hadapan Allah dan sesama.

* Dosa seseorang bisa (walupun tidak selalu) membawa dampak kepada keluarga / komunitasnya. Karena itu, jangan bermain-main dengan dosa. Jika saudara mendapati bahwa keluargamu selalu mengalami berbagai macam kekacauan / bencana / sakit penyakit, mungkin ada dosa yang Tuhan ingin saudara bereskan dihadapannya.

* Manusia yang berdosa membutuhkan Firman Allah untuk bisa menilai diri dengan benar. Karena itu hanya melalui merenungkan firman dan melakukannya maka hidup kita bisa mengalami perubahan dari yang tidak benar menjadi semakin benar. 

* Ada Anugerah Allah yang besar bagi Manusia berdosa. Apapun beban hidup saudara, datanglah kepada Allah. Selalu ada jalan keluar bagi mereka yang mau berserah kepada Allah.

* Melalui ketaatan Kristus, manusia berdosa mendapatkan pembenaran. Jangan pernah mengandalkan perbuatan baik (amal, kurban, sumbangan, persembahan) saudara untuk mendapatkan pembenaran Allah. Hanya melalui menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat satu-satunya dalam hati, maka di hadapan Allah, status saudara sebagai orang berdosa diubah menjadi orang-orang benar

* Ketaatan Kristus harus menjadi teladan bagi orang-orang yang telah dibenarkan. Bagi kita yang telah dibenarkan di dalam Kristus, maka sebagaimana Kristus taat kepada Bapa, maka hidup kita juga harus disertai dengan ketaatan kepada Allah. Ketaatan itu bukan sebagai syarat untuk dibenarkan dan diselamatkan, tetapi sebagai bukti yang sah bahwa kita telah beriman kepada Kristus.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community