A New Orientation of Life (Filipi 1:19-24)

Posted on 09/03/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/A-New-Orientation-of-Life-(Filipi-1-19-24).jpg A New Orientation of Life (Filipi 1:19-24)

Minggu yang lalu kita sudah belajar dari firman Tuhan bahwa kesalehan dimulai dari kelahiran kembali oleh Roh, bukan sekadar tuntutan moral atau hasil pembinaan. Tidak ada kesalehan tanpa perubahan radikal dari dalam. Hari ini kita akan melihat bahwa perubahan internal tidak hanya mengubah kebiasaan dan perbuatan kita, melainkan mengarahkan keseluruhan nilai dan tujuan hidup kita pada sebuah orientasi yang baru, yaitu Kristus. Kekristenan bukan hanya masalah perubahan perilaku, tetapi arah hidup.

Itulah yang diajarkan Paulus di Filipi 1:18-24. Setiap orang Kristen harus memiliki cara pandang terhadap kehidupan yang berbeda dengan perspektif duniam karena kehidupan kita berpusat pada Kristus. Dengan pemikiran semacam ini Paulus mampu menghadapi kesulitan hidupnya dengan optimis. Walaupun ia sedang berada di dalam penjara (1:12-13) dan menunggu keputusan pengadilan apakah ia akan dihukum mati atau dibebaskan (1:20-24), Paulus tidak menampakkan nuansa pesimisme atau kesedihan sama sekali. Di tengah momen yang krusial seperti ini, tidak ada kesan ketakutan, kekuatiran, atau penyesalan. Yang ada hanyalah perasaan sukacita (1:18, 25).

Kepastian pengharapan di dalam Kristus (ayat 18b-20)

Para penerjemah dan penafsir Alkitab berbeda pendapat tentang struktur kalimat dan alur berpikir Paulus di bagian ini. Sebagian menganggap ‘bersukacita’ di ayat 18a mengakhiri pembahasan di bagian sebelumnya dan ‘bersukacita’ di ayat 18b sebagai pembukaan dari bagian yang baru (NIV; ESV; NRSV). Penerjemah RSV bahkan meletakkan ‘bersukacita’ yang kedua di ayat 19. Sebagian yang lain menilai pengulangan ‘bersukacita’ sebagai penekanan belaka, sehingga ayat 18 merupakan satu kesatuan teks yang menjadi pendahuluan bagi ayat-ayat sesudahnya (KJV). Khotbah hari ini didasarkan pada alternatif yang pertama. Dengan kata lain, ayat 19-24 merupakan alasan tambahan mengapa Paulus tetap bersukacita sekalipun ia berada di penjara dan beberapa orang berusaha memperberat bebannya di penjara melalui pemberitaan injil yang tidak tulus (1:12-13, 17).

Sebagaimana kita ketahui, ide tentang bersukacita sangat mendominasi surat Filipi. Kata kerja ‘bersukacita’ (chairō) muncul 9 kali (1:18; 2:17, 18, 28; 3:1; 4:4, 10), sedangkan kata benda ‘sukacita’ (chara) muncul 5 kali (1:4, 25; 2:2, 29; 4:1). Perasaan ini bukan sugesti psikologis atau penyangkalan realita, melainkan didasarkan pada sebuah fakta/kebenaran. Dalam hal ini Paulus mendasarkan sukacitanya pada keselamatan dan pengharapan di dalam Kristus (ayat 19-20).

Kata ‘keselamatan’ (sōtēria) di ayat 19 seringkali dipahami sebagai rujukan pada kelepasan Paulus dari penjara (RSV/NASB/NIV/ESV ‘deliverance’, lihat juga 1:25), namun Paulus tampaknya memikirkan keselamatan secara rohani (KJV ‘salvation’). Ayat 21-24 menunjukkan bahwa optimisme Paulus tidak tergantung pada kehidupan (kelepasan dari penjara): kematian pun merupakan sumber sukacita bagi dia (1:21, 23). Dia juga mengaitkan kata sōtēria dengan kata elpis (‘pengharapan’) yang biasanya digunakan dalam konteks keselamatan secara rohani. Dukungan lain adalah dari kemiripan kosa kata dan ide antara ayat ini dengan Ayub 13:13-18 (LXX) yang menunjukkan keyakinan Ayub, terlepas dari kematian yang mungkin akan ia hadapi (terutama ayat 15-16).

Walaupun Paulus mengajarkan bahwa keselamatan adalah kasih karunia Allah (1:29) melalui pembenaran di dalam Kristus (3:8-9), tetapi ia tidak membuka ruang bagi kepasifan orang percaya. Ia meyakini bahwa kepastian keselamatan akan ia peroleh melalui doa jemaat Filipi dan pertolongan Roh Kristus (1:19). Di tempat lain ia menasihati jemaat Filipi untuk tetap taat (2:12), sekalipun ia tahu bahwa kemauan dan kemampuan untuk taat berasal dari Allah (2:13). Jadi, Allah memang setia menyelesaikan pekerjaan-Nya atas kita (1:6), tetapi semua itu tidak meniadakan tanggung-jawab manusia. Kita tetap berusaha untuk menunjukkan keselamatan kita (2:12, lit. ‘work out’, bukan ‘work for’).

Paulus tidak hanya mengetahui suatu kebenaran (1:19 ‘aku tahu’), tetapi ia juga memiliki keyakinan yang selaras dengan pengetahuan tersebut. Sesuai dengan teks Yunani, ayat 20 seharusnya dimulai dengan kata sambung ‘menurut’ atau ‘sebagaimana’ (KJV/ASV/RSV/NASB), sehingga keterkaitan antara 1:19-20 menjadi lebih jelas (kontra NIV/NRSV): apa yang Paulus harapkan (ayat 20) sesuai dengan apa yang ia ketahui (ayat 19). Pemunculan kata apokaradokia (harapan yang besar/eager expectation) dan elpis (pengharapan/hope) secara bersama-sama berfungsi untuk menegaskan tingkat keyakinan Paulus. Pengharapannya bukan pengharapan di tengah ketidakpastian atau keputusasaan.

Pengharapan Paulus diungkapkan melalui dua cara. Yang pertama secara begatif, yang kedua secara positif. Dua hal ini membicarakan poin yang sama, tetapi dari sisi yang berbeda.

Pertama, ia tidak akan beroleh malu (1:20a). Secara hurufiah kata aischynthēsomai berarti ‘akan dipermalukan’ (NASB). Dalam Alkitab ungkapan ini memang seringkali dihubungkan dengan pengharapan. Bangsa Yehuda diperintahkan untuk berharap kepada Tuhan dari ancaman Babel dan mereka juga diberi janji bahwa mereka tidak akan dipermalukan (Yes 28:16). Prinsip yang sama berlaku pada pengharapan dalam konteks keselamatan secara rohani (Rom 9:33; 10:10-11). Paulus meyakini bahwa apapun yang terjadi, Allah akan memampukan dia untuk bertahan dalam keselamatan dan memberitakan keselamatan tersebut di ruang pengadilan di depan para penguasa kafir.

Kedua, Kristus dimuliakan di dalam tubuhnya (1:20b). Penggunaan kata sambung ‘melainkan’ (alla) dan kemiripan struktur antara ayat 20a dan 20b (lit. “bahwa di dalam…melainkan di dalam…”) menyiratkan kesejajaran ide. Terjemahan LAI:TB tidak menerjemah sebuah frase yang sangat penting di ayat 20b, yaitu ‘dengan segala keberanian’ (en pasē parrēsia, EVs ‘with all boldness’). Paulus sebentar lagi akan menghadapi situasi yang krusial. Ia harus membela iman dan aktivitas pemberitaan injil yang ia lakukan di depan para penguasa kafir. Salah satu konsekuensi yang mungkin muncul adalah penolakan terhadap pembelaan itu dan eksekusi hukuman mati. Dua macam situasi ini  kadangkala menimbulkan kekuatiran dan ketakutan. Tidak demikian halnya dengan Paulus. Ia meyakini bahwa Allah akan memberikan segala keberanian yang ia diperlukan.

Paulus ingin agar Kristus dimuliakan melalui tubuhnya. Berbeda dengan sebagian orang yang menjadikan tubuh mereka sebagai Tuhan (3:19), Paulus rindu mempersembahkan tubuhnya untuk Tuhan. Berbeda dengan sebagian besar orang Yunani yang menganggap tubuh itu hina dan jahat, Paulus tetap hidup di dalam daging (1:22 ‘di dunia ini [LAI:TB] = lit. ‘di dalam daging’) dan meyakini bahwa Allah sanggup mengubah tubuh ini menjadi tubuh kemuliaan (3:21). Frase ‘ baik oleh hidupku maupun oleh matiku’ menjelaskan bahwa pemuliaan Kristus melalui tubuh dapat terjadi melalui salah satu dari dua hal tersebut. Bagaimana dua hal ini – kehidupan dan kematian - dapat memuliakan Kristus akan diuraikan Paulus di bagian selanjutnya.

Cara pandang terhadap kehidupan dan kematian (ayat 21-24)

Kata sambung ‘karena’ di ayat 21 menginformasikan bahwa ayat 21-24 merupakan alasan bagi pernyataan Paulus di akhir ayat 20 (‘baik oleh hidupku maupun oleh matiku’). Bagi orang percaya, yang paling penting adalah kemuliaan Kristus, bukan kehidupan atau kematian kita. Penempatan kata ‘bagiku’ (emoi) di awal ayat 21 menyiratkan penekanan. Paulus sedang mengajarkan bagaimana ia sendiri memahami kehidupan dan kematian.

Konsep tentang kehidupan

Ada beberapa kata, ungkapan, atau frasa yang digunakan Paulus untuk menggambarkan konsepnya tentang kehidupan. Bagi dia hidup adalah Kristus. Ia tidak mengatakan ‘bagi Kristus’ atau ‘oleh Kristus’. Ia tampaknya memikirkan keterkaitan dengan Kristus secara lebih luas. Apapun di dalam hidup kita tidak dapat dipisahkan dari Kristus.

Prinsip ini membuat Paulus optimis sekalipun dalam penjara, karena persoalan tersebut telah membawa manfaat bagi Kristus, yaitu sebagai sarana penginjilan kepada para penghuni istana (1:12-13) dan motivasi bagi orang lain untuk memberitakan injil (1:13). Konsep teologis bahwa ‘hidup adalah Kristus’ juga memampukan Paulus untuk tetap bersukacita walaupun ada orang lain memperberat bebannya melalui pekabaran injil yang tidak tulus (1:17). Mengapa? Karena Kristus tetap diberitakan (1:18). Dengan kata lain Paulus rela mengesampingkan perasaannya demi Kristus. Ia tidak mau mengutamakan kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan Kristus (2:21). Di bagian lain ia pun menegaskan bahwa tujuan hidupnya adalah pengenalan tentang Kristus (3:10). Dengan tujuan hidup yang Kristosentris ini ia mampu menilai apa yang penting dan apa yang tidak penting (3:7-8).

Berkaitan dengan ‘hidup adalah Kristus,’ hidup bagi Paulus juga adalah memberi buah (1:22). ‘Buah’ yang dipikirkan Paulus di sini bukan buah pertobatan (1:11; Mat 3:8; Rom 6:22), melainkan buah pelayanan, sebagaimana dijelaskan di 1:25-26 (Rom 1:13; 15:28). Keinginan dan keyakinan Paulus bahwa ia akan dilepaskan dari penjara (1:25) didorong oleh sebuah kerinduan yang besar untuk menjadi berkat bagi orang lain, bukan untuk menghindari penderitaan dalam penjara. Ia tidak memikirkan kenyamanan dan kepentingan dirinya sendiri. Semua untuk kepentingan orang yang ia layani (1:24). Tatkala ia mengucapkan terima kasih atas bantuan dari jemaat Filipi, ia lebih mengutamakan buah dari bantuan tersebut dalam pelayanan daripada keuntungannya bagi diri Paulus sendiri (4:17). Kerinduan untuk hidup bagi orang lain adalah hal yang luar biasa, karena bagi Paulus kematian lebih baik daripada kehidupan (1:23b). Walaupun ia tahu apa yang lebih baik bagi dia, namun bagi dia yang penting adalah apa yang lebih berguna bagi orang lain.

Konsep tentang kematian

Paulus tidak hanya mempunyai konsep tentang kehidupan yang Kristosentris. Kematian pun ia pahami dalam kaitan dengan Kristus. Di mata Paulus kematian adalah keuntungan (ayat 1:21). Untuk mengetahui sesuatu adalah sebuah keuntungan diperlukan sebuah perspektif dan tolok ukur. Benda yang sama dapat dipahami sebagai keuntungan atau kerugian oleh orang yang berbeda. Hal itu juga terjadi pada Paulus. Dahulu ia menganggap bahwa latar belakang ke-Yahudiannya yang sangat ketat adalah keuntungan, namun akhirnya ia menyadari bahwa hal itu merupakan kerugian (3:7-8).

Tatkala Paulus menyebut kematian sebagai keuntungan, ia pasti mempunyai perspektif dan tolok ukur sendiri. Coba bayangkan seandainya yang terpenting bagi seseorang adalah materi. Ia sudah bekerja sedemikian keras untuk mengumpulkan semua itu. Tiba-tiba ia meninggal dunia. Apakah kematian ini sebuah keuntungan bagi dia? Tentu saja tidak! Lalu, mengapa Paulus bisa menilai kematiannya sebagai keuntungan?

Jawaban terhadap pertanyaan ini harus dilihat dalam dua sisi: kematian membawa kemuliaan bagi Kristus (1:20) dan kematian sebagai kebersamaan dengan Kristus (1:23). Sehubungan dengan yang pertama, Paulus memandang penderita atau kematian bagi Kristus sebagai kasih karunia (1:29). Ia tidak keberatan mengorbankan nyawanya demi pekerjaan Kristus (2:16-17). Di tempat lain Paulus berkata: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kis 20:24). Dengan konsep seperti ini, kematian demi kemajuan injil jelas merupakan sebuah keuntungan.    

Sehubungan dengan yang kedua, kematian adalah sebuah keuntungan, karena sesuatu yang lebih baik menunggu kita, yaitu kebersamaan kekal bersama Kristus (ayat 23). Di ayat ini Paulus menggambarkan kematian sebagai ‘bersama dengan Kristus’ (syn Christō; 2 Kor 5:8 ‘menetap bersama dengan Tuhan’). Penjelasan ini melemahkan teori ‘jiwa yang tidur’ atau ‘tempat penantian’. Sebutan ‘tidur’ yang digunakan dalam PB sebagai eufimisme (majas pelembut) untuk ‘mati’ tidak boleh ditafsirkan seolah-olah orang-orang yang mati dalam keadaan tidak sadar dan sedang menunggu di suatu tempat penantian. Orang yang mati di dalam Tuhan langsung berada di surga bersama dengan Kristus (Luk 23:43 ‘Firdaus’ = surga’, bdk. 2 Kor 12:4; Why 2:7). Mereka memang masih harus menunggu kebangkitan [tubuh] di akhir zaman, tetapi kebersamaan bersama Kristus sudah mereka nikmati langsung pada saat kematian.

Kebersamaan dengan Kristus ini dinilai Paulus ‘jauh lebih baik’ (1:23). Dalam teks Yunani ungkapan yang digunakan mengandung penegasan. Paulus menggunakan dua kata sifat (pollō = banyak, kreisson = lebih baik) dan satu kata keterangan (mallon = lebih). Walaupun ungkapan seperti ini sulit untuk diekspresikan dalam terjemahan, kita tidak boleh mengabaikan penegasan yang hendak disampaikan. Kematian memang jauh lebih baik daripada kehidupan. Dalam dunia yang berdosa ini, kebahagiaan kita masih diselubungi atau – paling tidak – diselingi dengan penderitaan. Dalam rumah kita yang sebenarnya di surga (3:20 ‘kewarganegaraan kita adalah di dalam surga’) kebahagiaan kita adalah murni dan sempurna.

Penutup

Sebagian orang berada dalam posisi ‘mati segan, hidup tak mau’. Bagi mereka kehidupan dan kematian adalah sama-sama menakutkan. Yang lain hanya berani memilih salah satu. Orang yang menderita cenderung berani mati tetapi takut pada kehidupan. Orang yang sedang berbahagia biasanya takut pada kematian tetapi berani menikmati hidup.

Bagi orang-orang yang percaya kepada Kristus, kehidupan dan kematian adalah sama-sama positif. Keduanya bagaikan dua kekuatan yang mengarahkan keinginan kita (1:23). Kita bingung memilih (1:22) bukan karena keduanya tidak mengenakkan, melainkan karena semuanya adalah indah. Baik hidup maupun mati, kita selalu terkait dengan Kristus. Tatkala Kristus kita jadikan harta yang paling berharga, kehidupan dan kematian bernilai sama, asalkan keduanya memuliakan Kristus. Soli Deo Gloria.    

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community